|
Mengapa
Orang Belanda Sulit Memahami Max Havelaar Linawati Sidarto : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026
|
· Max Havelaar tetap menjadi bacaan
sekolah di Belanda meski banyak pelajar menganggap novel ini sulit dipahami. · Museum Multatuli di Amsterdam menjadi
sarana generasi baru mengenal Max Havelaar dan penulisnya, Eduard Douwes
Dekker. · Lebih dari 160 tahun setelah terbit,
Max Havelaar terus dikenang sebagai karya sastra yang paling berpengaruh
dalam sejarah kolonialisme Belanda. DI
Belanda, Max Havelaar terus hidup sampai sekarang. Buku ini masuk register
bacaan di sekolah menengah di Belanda. Daftar itu menjadi pedoman bagi murid
meski mereka tetap bisa memilih buku lain yang akan dibahas di kelas. Namun
ada kendala. Jacqueline Bel, guru besar sastra di Vrije Universiteit
Amsterdam, mendapati banyak pelajar enggan membaca buku yang dalam bentuk
aslinya memiliki sekitar 400 halaman tersebut, apalagi dengan bahasa yang
mereka anggap kuno. Antonia
Hammerstein, perempuan mahasiswa Vrije Universiteit Amsterdam, mendapat tugas
membaca Max Havelaar ketika duduk di sekolah menengah. “Terlalu panjang untuk
membaca bukunya, jadi saya cari rangkumannya saja secara daring,” ujar
Hammerstein. Hal
serupa dialami Arjan Onderdenwijngaard, penulis Lebak Kota Multatuli:
Terjebak antara Feodalisme Lokal dan Kolonialisme Belanda yang terbit pada
Agustus 2026. Saat duduk di sekolah menengah atas, dia merasa kesulitan
mengikuti alur novel yang pertama kali terbit pada 1860 tersebut. “Gaya
bahasanya tidak mudah. Ceritanya bercampur-campur,” tuturnya kepada Aisha
Shaidra dari Tempo. Multatuli
memang menyusun cerita dengan cara yang tidak sederhana. Ada Batavus
Droogstoppel si makelar kopi yang bercerita; Ernest Stern, asistennya; dan
Max Havelaar sebagai pencerita. Kisah
Max Havelaar sendiri muncul melalui cerita Stern, sementara Droogstoppel
menggunakan arsip atau catatan tulisan Max Havelaar. Baru pada akhir buku
Multatuli muncul dan mengungkapkan bahwa Stern, Droogstoppel, dan Havelaar
sebenarnya adalah dia sendiri. “Setelah saya dewasa dan membaca ulang, saya
berpikir, ‘Wah, cara ini memang hebat’,” kata Onderdenwijngaard. Ia juga baru
belakangan memahami satire yang terdapat dalam buku tersebut. Maka ada
cara lain untuk mengenal Max Havelaar dan pengarangnya: mengunjungi Museum
Multatuli di Amsterdam. ••• KORSJESPOORTSTEEG
adalah sebuah gang kecil bebas mobil yang tenang di tengah keramaian di pusat
Kota Amsterdam. Rumah nomor 20—sebuah bangunan sempit bertingkat empat—tidak
mencolok di antara sederet bangunan di gang yang padat penduduk sejak empat
abad silam ini. Pada
awal abad ke-19, dua lantai rumah ini ditempati pasangan Engel Douwes Dekker
dan Sietske Eeltjes Klein. Anak keempat mereka, Eduard Douwes Dekker, lahir
pada 2 Maret 1820. “Keluarga Dekker pindah ke rumah lain yang lebih besar
tidak jauh dari sini ketika Eduard berumur dua atau tiga tahun,” ujar
Jacqueline Bel kepada Tempo di Amsterdam pada Kamis, 10 September 2026. Pada
usia 39-40 tahun, Douwes Dekker menulis Max Havelaar dengan nama pena
Multatuli. Novel ini membongkar adanya penderitaan rakyat pribumi akibat
sistem tanam paksa dan mengguncang kolonialisme Belanda di Hindia Belanda.
Pada 1975, rumah kelahiran Douwes Dekker dijadikan museum, bertetangga dengan
rumah hunian, agen properti, dan studio tato. Museum
Multatuli hanya buka pada Jumat, Sabtu, dan Ahad selama lima jam per hari.
Dalam setahun, mereka kedatangan rata-rata 1.500 pengunjung. “Semua stafnya
adalah relawan,” kata Bel, yang juga Kepala Perkumpulan Multatuli, yayasan
pengelola museum itu. Meski
masih jam buka, pintu depan museum itu selalu terkunci. Tapi, begitu bel
ditekan, ada relawan yang datang untuk menyambut pengunjung dengan hangat.
“Selamat datang di rumah Multatuli,” tutur Kees van Bueren, satu dari tiga
relawan yang bertugas pada Jumat, 11 September 2026. Begitu
masuk, pengunjung merasa sedang bertamu ke rumah kerabat. “Anda mau minum
apa? Teh?” kata Van Bueren sesaat setelah Tempo duduk di meja persegi
bertaplak batik di ruang tengah museum. Satu
dinding museum itu sepenuhnya tertutup rak buku. “Ini koleksi buku Max
Havelaar dalam berbagai bahasa,” ujar Van Bueren. Sejak terbit perdana, Max
Havelaar diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa. Irene Blaauw, relawan
lain, mengatakan terjemahan terbaru adalah dalam Afrikaans, bahasa di Afrika
Selatan, yang dirilis tahun lalu. Pengelola
museum bangga akan koleksi lintas bahasa tersebut. Van Bueren mengatakan,
beberapa waktu lalu, rombongan murid sekolah menengah mengunjungi museum. “Beberapa
dari mereka fasih berbahasa asing. Jadi kami persilakan dua dari mereka
membacakan alinea pertama Max Havelaar dalam bahasa Mandarin dan Polandia,”
tuturnya. Di
ruangan sebelah, terpajang beberapa buku dalam lemari kaca, termasuk edisi
perdana Max Havelaar. Pada dinding terpampang peta Indonesia beserta sejarah
singkat kehidupan Eduard Douwes Dekker sebagai pegawai negeri sipil di
berbagai kota sejak 1839 sampai 1857. Selama bekerja itulah dia melihat
dengan mata sendiri “penyalahgunaan wewenang oleh penguasa setempat, yang
ditoleransi dan bahkan didukung oleh pemerintah Belanda”. Pengalaman
Douwes Dekker, terutama di Lebak, Banten, menjadi sumber inspirasi baginya
untuk menulis Max Havelaar of De koffiveilingen der Nederlandsche
Handelmaatschappij (Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda)
yang ia garap dalam waktu kurang dari sebulan di Brussels, Belgia, pada 1859. Saat itu
Douwes Dekker menetap di Brussels setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya
dan meninggalkan Hindia Belanda. Dia mengakhiri novelnya dengan seruan
langsung kepada Raja Willem III: “Di sana, jutaan orang diperas dan
dilecehkan atas nama Baginda!” Dia memakai nama pena Multatuli, yang dalam
bahasa Latin berarti “saya banyak menderita”. Awalnya
tidak ada penerbit yang mau menerima naskah Douwes Dekker, yang saat itu
memang belum dikenal sebagai penulis. Max Havelaar baru bisa diterbitkan pada
Mei 1860 berkat bantuan pengacara, penulis, dan politikus Jacob van Lennep. “Untuk
pertama kalinya publik mendapat gambaran tentang dampak kekejaman
kolonialisme,” kata Jacqueline Bel. Masyarakat, Bel melanjutkan, mulai
menghujani pemerintah Belanda dengan pertanyaan mengenai kebijakan mereka di
tanah jajahan. Otoritas
perlahan mulai mengubah peraturan tanam paksa sampai akhirnya menghentikannya
total. “Hampir tidak ada buku dalam sastra Belanda yang memiliki dampak
politik dan sosial yang begitu besar seperti Max Havelaar,” tutur sejarawan
dan penulis David Van Reybrouck dalam siniar sastra De Literaire Canon edisi
Juni 2020 yang memperingati 200 tahun lahirnya Eduard Douwes Dekker. Lewat
sebuah tangga yang sempit dan agak curam, pengunjung tiba di lantai kedua
museum. Area ini lebih luas dibanding lantai bawah. Di sini pengunjung bisa
mengenal sosok penulis itu lewat perabot dan barang pribadinya. Sebagian
besar adalah sumbangan Maria Hamminck Schepel, istri kedua yang dengan
saksama mengumpulkan dan menyimpan barang peninggalan Douwes Dekker. Di
lemari tersimpan koleksi bacaannya. Ada buku tentang filsafat Yunani, kamus
bahasa Jerman, dan, tentu saja, buku mengenai Indonesia. Meja tulis kayu
berhiaskan ukiran berada di sudut kiri kamar, sementara di dalam kotak kaca
di tengah ruangan terpajang papan catur. “Dia gemar sekali bermain catur,”
kata Irene Blaauw. Di sudut
ruangan dekat jendela, terletak obyek yang paling menonjol: kursi panjang
berbalut beludru merah. “Dia meninggal di kursi itu,” ujar Blaauw. Di titik
lain, dalam posisi yang tidak mencolok, terpajang dua guci. Isinya adalah abu
Maria Hamminck Schepel dan Douwes Dekker. Papan informasi di sebelahnya
menyatakan Douwes Dekker sebagai orang Belanda pertama yang dikremasi. “Dia
terobsesi pada kebersihan sepanjang hidupnya. Karena itu, ia memilih
dikremasi karena menurutnya lebih bersih.” Multatuli
dikenal sebagai pribadi yang pelik. “Dia sangat cerdas dan kreatif, tapi
penuh kerumitan,” tutur Bel. Menurut Bel, Douwes Dekker jarang setuju
terhadap pendapat orang lain. Sang penulis, misalnya, mendukung persamaan hak
untuk perempuan, tapi belum berpisah dengan istri pertamanya ketika dia sudah
menjalin hubungan dengan Schepel. Contoh lain, sementara meneriakkan
pentingnya pendidikan, dia menelantarkan anak-anaknya. Dengan
segala kisah dan kepribadian Multatuli yang unik, kunjungan ke Museum
Multatuli bisa menjadi jalan mudah untuk mengetahui sejarah penulis tersebut.
“Orang seperti saya yang hampir tidak tahu apa-apa tentang Multatuli pasti
akan pulang berbekal banyak pengetahuan setelah mengunjungi museum ini,” kata
Ingrid Vossepoel, warga Amsterdam. Seperti meninggalkan rumah kerabat, dia
berpamitan kepada para relawan yang menemaninya sepanjang petang itu. ● Sumber :
https://www.tempo.co/arsip/museum-multatuli-max-havelaar-amsterdam-2287955 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar