Senin, 21 September 2026

 

Mengapa Orang Belanda Sulit Memahami Max Havelaar

Linawati Sidarto :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026

 

 

                                                           

·      Max Havelaar tetap menjadi bacaan sekolah di Belanda meski banyak pelajar menganggap novel ini sulit dipahami.

 

·      Museum Multatuli di Amsterdam menjadi sarana generasi baru mengenal Max Havelaar dan penulisnya, Eduard Douwes Dekker.

 

·      Lebih dari 160 tahun setelah terbit, Max Havelaar terus dikenang sebagai karya sastra yang paling berpengaruh dalam sejarah kolonialisme Belanda.

 

DI Belanda, Max Havelaar terus hidup sampai sekarang. Buku ini masuk register bacaan di sekolah menengah di Belanda. Daftar itu menjadi pedoman bagi murid meski mereka tetap bisa memilih buku lain yang akan dibahas di kelas.

 

Namun ada kendala. Jacqueline Bel, guru besar sastra di Vrije Universiteit Amsterdam, mendapati banyak pelajar enggan membaca buku yang dalam bentuk aslinya memiliki sekitar 400 halaman tersebut, apalagi dengan bahasa yang mereka anggap kuno.

 

Antonia Hammerstein, perempuan mahasiswa Vrije Universiteit Amsterdam, mendapat tugas membaca Max Havelaar ketika duduk di sekolah menengah. “Terlalu panjang untuk membaca bukunya, jadi saya cari rangkumannya saja secara daring,” ujar Hammerstein.

 

Hal serupa dialami Arjan Onderdenwijngaard, penulis Lebak Kota Multatuli: Terjebak antara Feodalisme Lokal dan Kolonialisme Belanda yang terbit pada Agustus 2026. Saat duduk di sekolah menengah atas, dia merasa kesulitan mengikuti alur novel yang pertama kali terbit pada 1860 tersebut. “Gaya bahasanya tidak mudah. Ceritanya bercampur-campur,” tuturnya kepada Aisha Shaidra dari Tempo.

 

Multatuli memang menyusun cerita dengan cara yang tidak sederhana. Ada Batavus Droogstoppel si makelar kopi yang bercerita; Ernest Stern, asistennya; dan Max Havelaar sebagai pencerita.

 

Kisah Max Havelaar sendiri muncul melalui cerita Stern, sementara Droogstoppel menggunakan arsip atau catatan tulisan Max Havelaar. Baru pada akhir buku Multatuli muncul dan mengungkapkan bahwa Stern, Droogstoppel, dan Havelaar sebenarnya adalah dia sendiri. “Setelah saya dewasa dan membaca ulang, saya berpikir, ‘Wah, cara ini memang hebat’,” kata Onderdenwijngaard. Ia juga baru belakangan memahami satire yang terdapat dalam buku tersebut.

 

Maka ada cara lain untuk mengenal Max Havelaar dan pengarangnya: mengunjungi Museum Multatuli di Amsterdam.

 

•••

 

KORSJESPOORTSTEEG adalah sebuah gang kecil bebas mobil yang tenang di tengah keramaian di pusat Kota Amsterdam. Rumah nomor 20—sebuah bangunan sempit bertingkat empat—tidak mencolok di antara sederet bangunan di gang yang padat penduduk sejak empat abad silam ini.

 

Pada awal abad ke-19, dua lantai rumah ini ditempati pasangan Engel Douwes Dekker dan Sietske Eeltjes Klein. Anak keempat mereka, Eduard Douwes Dekker, lahir pada 2 Maret 1820. “Keluarga Dekker pindah ke rumah lain yang lebih besar tidak jauh dari sini ketika Eduard berumur dua atau tiga tahun,” ujar Jacqueline Bel kepada Tempo di Amsterdam pada Kamis, 10 September 2026.

 

Pada usia 39-40 tahun, Douwes Dekker menulis Max Havelaar dengan nama pena Multatuli. Novel ini membongkar adanya penderitaan rakyat pribumi akibat sistem tanam paksa dan mengguncang kolonialisme Belanda di Hindia Belanda. Pada 1975, rumah kelahiran Douwes Dekker dijadikan museum, bertetangga dengan rumah hunian, agen properti, dan studio tato.

 

Museum Multatuli hanya buka pada Jumat, Sabtu, dan Ahad selama lima jam per hari. Dalam setahun, mereka kedatangan rata-rata 1.500 pengunjung. “Semua stafnya adalah relawan,” kata Bel, yang juga Kepala Perkumpulan Multatuli, yayasan pengelola museum itu.

 

Meski masih jam buka, pintu depan museum itu selalu terkunci. Tapi, begitu bel ditekan, ada relawan yang datang untuk menyambut pengunjung dengan hangat. “Selamat datang di rumah Multatuli,” tutur Kees van Bueren, satu dari tiga relawan yang bertugas pada Jumat, 11 September 2026.

 

Begitu masuk, pengunjung merasa sedang bertamu ke rumah kerabat. “Anda mau minum apa? Teh?” kata Van Bueren sesaat setelah Tempo duduk di meja persegi bertaplak batik di ruang tengah museum.

 

Satu dinding museum itu sepenuhnya tertutup rak buku. “Ini koleksi buku Max Havelaar dalam berbagai bahasa,” ujar Van Bueren. Sejak terbit perdana, Max Havelaar diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa. Irene Blaauw, relawan lain, mengatakan terjemahan terbaru adalah dalam Afrikaans, bahasa di Afrika Selatan, yang dirilis tahun lalu.

 

Pengelola museum bangga akan koleksi lintas bahasa tersebut. Van Bueren mengatakan, beberapa waktu lalu, rombongan murid sekolah menengah mengunjungi museum. “Beberapa dari mereka fasih berbahasa asing. Jadi kami persilakan dua dari mereka membacakan alinea pertama Max Havelaar dalam bahasa Mandarin dan Polandia,” tuturnya.

 

Di ruangan sebelah, terpajang beberapa buku dalam lemari kaca, termasuk edisi perdana Max Havelaar. Pada dinding terpampang peta Indonesia beserta sejarah singkat kehidupan Eduard Douwes Dekker sebagai pegawai negeri sipil di berbagai kota sejak 1839 sampai 1857. Selama bekerja itulah dia melihat dengan mata sendiri “penyalahgunaan wewenang oleh penguasa setempat, yang ditoleransi dan bahkan didukung oleh pemerintah Belanda”.

 

Pengalaman Douwes Dekker, terutama di Lebak, Banten, menjadi sumber inspirasi baginya untuk menulis Max Havelaar of De koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappij (Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda) yang ia garap dalam waktu kurang dari sebulan di Brussels, Belgia, pada 1859.

 

Saat itu Douwes Dekker menetap di Brussels setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan meninggalkan Hindia Belanda. Dia mengakhiri novelnya dengan seruan langsung kepada Raja Willem III: “Di sana, jutaan orang diperas dan dilecehkan atas nama Baginda!” Dia memakai nama pena Multatuli, yang dalam bahasa Latin berarti “saya banyak menderita”.

 

Awalnya tidak ada penerbit yang mau menerima naskah Douwes Dekker, yang saat itu memang belum dikenal sebagai penulis. Max Havelaar baru bisa diterbitkan pada Mei 1860 berkat bantuan pengacara, penulis, dan politikus Jacob van Lennep.

 

“Untuk pertama kalinya publik mendapat gambaran tentang dampak kekejaman kolonialisme,” kata Jacqueline Bel. Masyarakat, Bel melanjutkan, mulai menghujani pemerintah Belanda dengan pertanyaan mengenai kebijakan mereka di tanah jajahan.

 

Otoritas perlahan mulai mengubah peraturan tanam paksa sampai akhirnya menghentikannya total. “Hampir tidak ada buku dalam sastra Belanda yang memiliki dampak politik dan sosial yang begitu besar seperti Max Havelaar,” tutur sejarawan dan penulis David Van Reybrouck dalam siniar sastra De Literaire Canon edisi Juni 2020 yang memperingati 200 tahun lahirnya Eduard Douwes Dekker.

 

Lewat sebuah tangga yang sempit dan agak curam, pengunjung tiba di lantai kedua museum. Area ini lebih luas dibanding lantai bawah. Di sini pengunjung bisa mengenal sosok penulis itu lewat perabot dan barang pribadinya. Sebagian besar adalah sumbangan Maria Hamminck Schepel, istri kedua yang dengan saksama mengumpulkan dan menyimpan barang peninggalan Douwes Dekker.

 

Di lemari tersimpan koleksi bacaannya. Ada buku tentang filsafat Yunani, kamus bahasa Jerman, dan, tentu saja, buku mengenai Indonesia. Meja tulis kayu berhiaskan ukiran berada di sudut kiri kamar, sementara di dalam kotak kaca di tengah ruangan terpajang papan catur. “Dia gemar sekali bermain catur,” kata Irene Blaauw.

 

Di sudut ruangan dekat jendela, terletak obyek yang paling menonjol: kursi panjang berbalut beludru merah. “Dia meninggal di kursi itu,” ujar Blaauw.

 

Di titik lain, dalam posisi yang tidak mencolok, terpajang dua guci. Isinya adalah abu Maria Hamminck Schepel dan Douwes Dekker. Papan informasi di sebelahnya menyatakan Douwes Dekker sebagai orang Belanda pertama yang dikremasi. “Dia terobsesi pada kebersihan sepanjang hidupnya. Karena itu, ia memilih dikremasi karena menurutnya lebih bersih.”

 

Multatuli dikenal sebagai pribadi yang pelik. “Dia sangat cerdas dan kreatif, tapi penuh kerumitan,” tutur Bel. Menurut Bel, Douwes Dekker jarang setuju terhadap pendapat orang lain. Sang penulis, misalnya, mendukung persamaan hak untuk perempuan, tapi belum berpisah dengan istri pertamanya ketika dia sudah menjalin hubungan dengan Schepel. Contoh lain, sementara meneriakkan pentingnya pendidikan, dia menelantarkan anak-anaknya.

 

Dengan segala kisah dan kepribadian Multatuli yang unik, kunjungan ke Museum Multatuli bisa menjadi jalan mudah untuk mengetahui sejarah penulis tersebut. “Orang seperti saya yang hampir tidak tahu apa-apa tentang Multatuli pasti akan pulang berbekal banyak pengetahuan setelah mengunjungi museum ini,” kata Ingrid Vossepoel, warga Amsterdam. Seperti meninggalkan rumah kerabat, dia berpamitan kepada para relawan yang menemaninya sepanjang petang itu.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/arsip/museum-multatuli-max-havelaar-amsterdam-2287955

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar