Senin, 21 September 2026

 

Mun'im Sirry: Seharusnya Umat Islam Tahu Sejarah Al-Quran

Friski Riana :  Jurnalis Tempo

TEMPO HARIAN,  20 September 2026

 

 

 

·      Mun’im Sirry mengkritik studi keislaman yang didominasi pendekatan dogmatik.

 

·      Ia menilai kelahiran Nabi Muhammad pada tahun gajah tak memiliki fakta historis.

 

·      Mun’im Sirry mengatakan pandangan tradisional cenderung tak menguji narasi kemunculan Islam.

 

MENJADI peneliti Al-Quran, Mun’im Sirry mengklaim ratusan kali membaca kitab itu hingga tamat. Kajiannya penuh catatan yang melihat hubungan satu ayat dengan ayat lain. “Pendekatan saya holistik, bukan hanya mengkaji ayat-ayat yang menimbulkan polemik,” kata doktor studi Islam dari University of Chicago, Amerika Serikat, itu lewat pesan WhatsApp pada Jumat, 18 September 2026.

 

Mun’im dikenal sebagai revisionis yang mengkaji sumber-sumber historis soal sejarah agama Islam. Berbagai pernyataan dosen di departemen teologi University of Notre Dame, Amerika Serikat, itu kerap memicu perdebatan. Misalnya soal kelahiran Nabi Muhammad pada tahun gajah yang ia anggap tak memiliki fakta historis.

 

Pada 26 Juni 2026, Mun’im berkunjung ke kantor Tempo untuk menjelaskan berbagai pandangannya. Ia menyebutkan bahwa salah satu penyebab konservatisme di Indonesia menguat adalah tak berkembangnya pemikiran Islam progresif. Menurut dia, mandeknya pemikiran tersebut disebabkan oleh studi soal keislaman yang lebih sering menggunakan pendekatan dogmatik.

 

Dalam perbincangan selama hampir dua jam, ia juga membeberkan pendekatan historis untuk merekonstruksi kemunculan Islam. Sebagai pembanding atas pemikiran Mun’im Sirry, Tempo pun mewawancarai cendekiawan Islam, Muhammad Nuruddin, yang kerap berseberangan dengan Mun’im.

 

Mengapa diskursus gagasan baru tentang pemikiran Islam meredup?

 

Ada banyak faktor kenapa pemikiran Islam dalam beberapa dekade terakhir mengalami kejumudan. Faktor internal berkaitan dengan dinamika keislaman di Tanah Air. Sejak meninggalnya Cak Nur (Nurcholish Madjid), Gus Dur (Abdurrahman Wahid), dan lain-lain, kelihatannya studi soal keislaman di Tanah Air kembali ke pendekatan dogmatik yang banyak bertumpu pada iman, bukan pendekatan akademis. Ini terjadi di pesantren dan perguruan tinggi. Saat saya menawarkan pendekatan historis mengenai bagaimana melihat kemunculan Islam, banyak yang kaget.

 

Mengapa kaget?

 

Dalam dunia akademis, yang banyak diajarkan di kampus adalah pendekatan berbasis iman. Tujuannya adalah menebalkan iman, bukan menambah perspektif. Pendekatan ini mengabaikan faktor sosiologis dan historis. Faktor lain, banyak anak muda yang cukup potensial mengembangkan pemikiran baru tertarik atau disedot ke dalam dunia politik. Padahal kita harus menawarkan gagasan baru untuk mendobrak dominasi pendekatan dogmatik. Ini tidak terjadi di Indonesia.

 

Kalau faktor eksternal?

 

Pengaruh Islam global seperti Arab Saudi cukup kuat dalam beberapa tahun terakhir. Seorang seperti Martin van Bruinessen (antropolog asal Belanda) menggambarkan fenomena Islam Indonesia cenderung mengarah ke konservatisme, salah satunya karena pengaruh global.

 

Pakar kajian Al-Quran, Mun'im Sirry, melakukan wawancara dengan Tempo di Gedung Tempo, Palmerah Barat, Jakarta, 26 Juni 2026. Tempo/Nita Dian

 

Naiknya konservatisme membuat pemikiran progresif menurun?

 

Iya, dengan sendirinya. Saat pemikiran progresif menurun, konservatisme menguat. Tidak ada diskusi di antara dua kubu ini. Absennya diskusi menyebabkan konservatisme mendapat ruang yang luas. Kita sekarang terfokus pada pandangan yang dalam rentang sejarah dianggap benar atau ortodoksi. Padahal dulu diskursus intelektual begitu kaya.

 

Seperti apa?

 

Diskusi luar biasa dinamis. Itu yang menyebabkan para ulama dulu bisa menulis karya yang tebal-tebal. Tafsir ada 15 jilid karena kekayaan dinamika intelektual itu direkam. Mereka saling menguji. Sekarang kita tidak punya itu. Kalau seseorang menulis tipis-tipis dan dalam satu perspektif saja, ia kemudian petantang-petenteng merasa paling tahu. Itu problemnya.

 

Seperti apa pendekatan Anda dalam membaca Al-Quran?

 

Pendekatan saya holistik, bukan hanya mengkaji ayat-ayat yang mengandung polemik, melainkan juga konteks suatu ayat dengan ayat lain dalam teks Quran sendiri.

 

Anda menganggap kelahiran Nabi Muhammad tak memiliki fakta historis, yakni ia lahir pada tahun gajah….

 

Sumber-sumber yang digunakan untuk merekonstruksi kehidupan Nabi itu performatif karena banyak hal. Salah satu problem yang menonjol, sumber-sumber ini ditulis belakangan, lebih dari 100 tahun setelah Nabi meninggal. Karya yang paling awal tentang biografi Nabi ditulis Ibnu Ishaq yang meninggal 150 tahun setelah Nabi wafat (632). Dalam kritik historis, ada satu prinsip yang harus diikuti sarjana-sarjana kritis, yakni sebisa mungkin tidak menggunakan sumber yang tidak sezaman dengan peristiwa yang direkamnya.

 

Apa ukuran tidak sezaman?

 

Misalnya, kalau tentang sejarah Nabi, tentu yang digunakan adalah teks yang ditulis pada zaman Muhammad. Sumber yang kita punya sangat belakangan, yang dalam kritik historis tidak bisa digunakan sebagai sumber sejarah. Sumber yang paling dekat dan banyak didiskusikan para sarjana, karya Doctrina Jacobi, ditulis pada 634, dua tahun setelah Nabi wafat. Tapi itu sumber nonmuslim.

 

Buku itu tidak bisa menjadi sumber sejarah?

 

Sumber ini ditulis bukan untuk menggambarkan Nabi, melainkan mendiskreditkan. Sifatnya polemik, tak bisa sepenuhnya diterima sebagai sumber sejarah. Sumber-sumber ini bertentangan. Contohnya, kapan Nabi lahir. Kalau meneliti sumber sejarah yang banyak, para sejarawan pun berbeda pendapat. Yang kita tahu hanya satu versi, Nabi lahir pada tahun gajah.

 

Kenapa disebut tahun gajah?

 

Karena itu tahun yang bagi orang Arab sangat luar biasa lantaran orang Arab yang tak punya kekuatan senjata dan terpecah-pecah dalam berbagai suku bisa menghalau pasukan Kristen yang begitu digdaya. Mereka pikir ini mukjizat. Ketika Muhammad menjadi figur utama dalam tradisi Islam, mereka pikir nabi yang agung pasti lahir pada tahun itu. Jadi ini tidak ada nilai historisnya.

 

Mengapa?

 

Ada bukti dalam penelitian sejarah, inskripsi atau batu tulis di sumur Murayghan di Arab Saudi. Isinya bercerita tentang penyerangan pasukan gajah, perang orang-orang Kristen menyerang daerah Arabia pada 553, sekitar 20 tahun sebelum Nabi lahir (Muhammad lahir pada 571).

 

Lantas apa motif pengaitan kelahiran Nabi dengan tahun gajah?

 

Glorifikasi. Nabi yang agung pastilah lahir pada tahun yang agung pula. Padahal seharusnya dibalik, karena nabi yang agung, harinya menjadi agung. Padahal peristiwa besar itu terjadi jauh sebelum Nabi lahir.

 

Apa esensi mempersoalkan Al-Quran?

 

Sebagai umat yang mengaku memiliki kitab suci, seharusnya umat Islam tahu sejarah Quran sendiri. Sejarah Al-Quran bagi umat Islam sudah dianggap selesai. Ini salah satu yang menyebabkan diskusi tentang Quran itu mati. Kalau di Barat, perdebatan tentang Quran sangat terpelajar karena pendekatannya nondogmatik.

 

Seperti apa?

 

Bahasa awal Quran pun menjadi perdebatan. Bagaimana menjadi teks yang kita kenal sekarang, kapan titik-titiknya ditambahkan, kapan ada pemisah antara satu ayat dan ayat lain, itu mereka teliti.

 

Anda sering dianggap menyebarkan keraguan?

 

Ini memang sering dituduhkan kepada saya. Ada benarnya. Tapi yang ingin saya tekankan adalah jangan berhenti pada keraguan. Setiap penelitian akademis dan perbincangan intelektual memang harus dimulai dari keraguan. Dengan keraguan, muncul pertanyaan. Pertanyaan adalah cara kita mencari jawaban. Mencari jawaban artinya mencari kebenaran. Keraguan itu fondasi untuk mencari kebenaran.

 

Sejumlah cendekiawan Islam seperti Muhammad Nuruddin mengkritik pandangan Anda.

 

Nuruddin mengikuti pandangan tradisional yang menerima sepenuhnya narasi kemunculan Islam sebagaimana digambarkan ulama terdahulu, tanpa menguji dari mana gambaran itu diperoleh. Saya meneliti sumber-sumber dari sudut pandang kritik historis, seberapa tepercaya bukti-bukti yang kita miliki untuk merekonstruksi kemunculan Islam. Perbedaan pandangan tradisionalis sebagaimana diikuti Nuruddin dan pandangan revisionis yang saya terapkan terletak pada sikap terhadap sumber-sumber yang tersedia.

 

Anda sudah selesai mencari kebenaran?

 

Kebenaran harus dicari, keraguan harus terus muncul. Banyak hal belum saya ketahui. Saya menganggap mencari kebenaran sebagai unfinished project.

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/wawancara/wawancara-munim-sirry-konservatisme-islam-2288038

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar