|
Mun'im Sirry: Seharusnya Umat
Islam Tahu Sejarah Al-Quran Friski Riana : Jurnalis Tempo |
TEMPO HARIAN, 20 September 2026
|
· Mun’im Sirry mengkritik studi keislaman
yang didominasi pendekatan dogmatik. · Ia menilai kelahiran Nabi Muhammad pada
tahun gajah tak memiliki fakta historis. · Mun’im Sirry mengatakan pandangan
tradisional cenderung tak menguji narasi kemunculan Islam. MENJADI
peneliti Al-Quran, Mun’im Sirry mengklaim ratusan kali membaca kitab itu
hingga tamat. Kajiannya penuh catatan yang melihat hubungan satu ayat dengan
ayat lain. “Pendekatan saya holistik, bukan hanya mengkaji ayat-ayat yang
menimbulkan polemik,” kata doktor studi Islam dari University of Chicago,
Amerika Serikat, itu lewat pesan WhatsApp pada Jumat, 18 September 2026. Mun’im
dikenal sebagai revisionis yang mengkaji sumber-sumber historis soal sejarah
agama Islam. Berbagai pernyataan dosen di departemen teologi University of
Notre Dame, Amerika Serikat, itu kerap memicu perdebatan. Misalnya soal
kelahiran Nabi Muhammad pada tahun gajah yang ia anggap tak memiliki fakta
historis. Pada 26
Juni 2026, Mun’im berkunjung ke kantor Tempo untuk menjelaskan berbagai
pandangannya. Ia menyebutkan bahwa salah satu penyebab konservatisme di
Indonesia menguat adalah tak berkembangnya pemikiran Islam progresif. Menurut
dia, mandeknya pemikiran tersebut disebabkan oleh studi soal keislaman yang
lebih sering menggunakan pendekatan dogmatik. Dalam
perbincangan selama hampir dua jam, ia juga membeberkan pendekatan historis
untuk merekonstruksi kemunculan Islam. Sebagai pembanding atas pemikiran
Mun’im Sirry, Tempo pun mewawancarai cendekiawan Islam, Muhammad Nuruddin,
yang kerap berseberangan dengan Mun’im. Mengapa
diskursus gagasan baru tentang pemikiran Islam meredup? Ada
banyak faktor kenapa pemikiran Islam dalam beberapa dekade terakhir mengalami
kejumudan. Faktor internal berkaitan dengan dinamika keislaman di Tanah Air.
Sejak meninggalnya Cak Nur (Nurcholish Madjid), Gus Dur (Abdurrahman Wahid),
dan lain-lain, kelihatannya studi soal keislaman di Tanah Air kembali ke
pendekatan dogmatik yang banyak bertumpu pada iman, bukan pendekatan
akademis. Ini terjadi di pesantren dan perguruan tinggi. Saat saya menawarkan
pendekatan historis mengenai bagaimana melihat kemunculan Islam, banyak yang
kaget. Mengapa
kaget? Dalam
dunia akademis, yang banyak diajarkan di kampus adalah pendekatan berbasis
iman. Tujuannya adalah menebalkan iman, bukan menambah perspektif. Pendekatan
ini mengabaikan faktor sosiologis dan historis. Faktor lain, banyak anak muda
yang cukup potensial mengembangkan pemikiran baru tertarik atau disedot ke
dalam dunia politik. Padahal kita harus menawarkan gagasan baru untuk
mendobrak dominasi pendekatan dogmatik. Ini tidak terjadi di Indonesia. Kalau
faktor eksternal? Pengaruh
Islam global seperti Arab Saudi cukup kuat dalam beberapa tahun terakhir.
Seorang seperti Martin van Bruinessen (antropolog asal Belanda) menggambarkan
fenomena Islam Indonesia cenderung mengarah ke konservatisme, salah satunya
karena pengaruh global. Pakar kajian
Al-Quran, Mun'im Sirry, melakukan wawancara dengan Tempo di Gedung Tempo,
Palmerah Barat, Jakarta, 26 Juni 2026. Tempo/Nita Dian Naiknya
konservatisme membuat pemikiran progresif menurun? Iya,
dengan sendirinya. Saat pemikiran progresif menurun, konservatisme menguat.
Tidak ada diskusi di antara dua kubu ini. Absennya diskusi menyebabkan
konservatisme mendapat ruang yang luas. Kita sekarang terfokus pada pandangan
yang dalam rentang sejarah dianggap benar atau ortodoksi. Padahal dulu
diskursus intelektual begitu kaya. Seperti
apa? Diskusi
luar biasa dinamis. Itu yang menyebabkan para ulama dulu bisa menulis karya
yang tebal-tebal. Tafsir ada 15 jilid karena kekayaan dinamika intelektual
itu direkam. Mereka saling menguji. Sekarang kita tidak punya itu. Kalau
seseorang menulis tipis-tipis dan dalam satu perspektif saja, ia kemudian
petantang-petenteng merasa paling tahu. Itu problemnya. Seperti
apa pendekatan Anda dalam membaca Al-Quran? Pendekatan
saya holistik, bukan hanya mengkaji ayat-ayat yang mengandung polemik,
melainkan juga konteks suatu ayat dengan ayat lain dalam teks Quran sendiri. Anda
menganggap kelahiran Nabi Muhammad tak memiliki fakta historis, yakni ia
lahir pada tahun gajah…. Sumber-sumber
yang digunakan untuk merekonstruksi kehidupan Nabi itu performatif karena
banyak hal. Salah satu problem yang menonjol, sumber-sumber ini ditulis
belakangan, lebih dari 100 tahun setelah Nabi meninggal. Karya yang paling
awal tentang biografi Nabi ditulis Ibnu Ishaq yang meninggal 150 tahun setelah
Nabi wafat (632). Dalam kritik historis, ada satu prinsip yang harus diikuti
sarjana-sarjana kritis, yakni sebisa mungkin tidak menggunakan sumber yang
tidak sezaman dengan peristiwa yang direkamnya. Apa
ukuran tidak sezaman? Misalnya,
kalau tentang sejarah Nabi, tentu yang digunakan adalah teks yang ditulis
pada zaman Muhammad. Sumber yang kita punya sangat belakangan, yang dalam
kritik historis tidak bisa digunakan sebagai sumber sejarah. Sumber yang
paling dekat dan banyak didiskusikan para sarjana, karya Doctrina Jacobi,
ditulis pada 634, dua tahun setelah Nabi wafat. Tapi itu sumber nonmuslim. Buku itu
tidak bisa menjadi sumber sejarah? Sumber
ini ditulis bukan untuk menggambarkan Nabi, melainkan mendiskreditkan.
Sifatnya polemik, tak bisa sepenuhnya diterima sebagai sumber sejarah.
Sumber-sumber ini bertentangan. Contohnya, kapan Nabi lahir. Kalau meneliti
sumber sejarah yang banyak, para sejarawan pun berbeda pendapat. Yang kita
tahu hanya satu versi, Nabi lahir pada tahun gajah. Kenapa
disebut tahun gajah? Karena
itu tahun yang bagi orang Arab sangat luar biasa lantaran orang Arab yang tak
punya kekuatan senjata dan terpecah-pecah dalam berbagai suku bisa menghalau
pasukan Kristen yang begitu digdaya. Mereka pikir ini mukjizat. Ketika
Muhammad menjadi figur utama dalam tradisi Islam, mereka pikir nabi yang
agung pasti lahir pada tahun itu. Jadi ini tidak ada nilai historisnya. Mengapa? Ada
bukti dalam penelitian sejarah, inskripsi atau batu tulis di sumur Murayghan
di Arab Saudi. Isinya bercerita tentang penyerangan pasukan gajah, perang
orang-orang Kristen menyerang daerah Arabia pada 553, sekitar 20 tahun
sebelum Nabi lahir (Muhammad lahir pada 571). Lantas
apa motif pengaitan kelahiran Nabi dengan tahun gajah? Glorifikasi.
Nabi yang agung pastilah lahir pada tahun yang agung pula. Padahal seharusnya
dibalik, karena nabi yang agung, harinya menjadi agung. Padahal peristiwa
besar itu terjadi jauh sebelum Nabi lahir. Apa
esensi mempersoalkan Al-Quran? Sebagai
umat yang mengaku memiliki kitab suci, seharusnya umat Islam tahu sejarah
Quran sendiri. Sejarah Al-Quran bagi umat Islam sudah dianggap selesai. Ini
salah satu yang menyebabkan diskusi tentang Quran itu mati. Kalau di Barat,
perdebatan tentang Quran sangat terpelajar karena pendekatannya nondogmatik. Seperti
apa? Bahasa
awal Quran pun menjadi perdebatan. Bagaimana menjadi teks yang kita kenal
sekarang, kapan titik-titiknya ditambahkan, kapan ada pemisah antara satu
ayat dan ayat lain, itu mereka teliti. Anda
sering dianggap menyebarkan keraguan? Ini
memang sering dituduhkan kepada saya. Ada benarnya. Tapi yang ingin saya
tekankan adalah jangan berhenti pada keraguan. Setiap penelitian akademis dan
perbincangan intelektual memang harus dimulai dari keraguan. Dengan keraguan,
muncul pertanyaan. Pertanyaan adalah cara kita mencari jawaban. Mencari
jawaban artinya mencari kebenaran. Keraguan itu fondasi untuk mencari
kebenaran. Sejumlah
cendekiawan Islam seperti Muhammad Nuruddin mengkritik pandangan Anda. Nuruddin
mengikuti pandangan tradisional yang menerima sepenuhnya narasi kemunculan
Islam sebagaimana digambarkan ulama terdahulu, tanpa menguji dari mana
gambaran itu diperoleh. Saya meneliti sumber-sumber dari sudut pandang kritik
historis, seberapa tepercaya bukti-bukti yang kita miliki untuk
merekonstruksi kemunculan Islam. Perbedaan pandangan tradisionalis
sebagaimana diikuti Nuruddin dan pandangan revisionis yang saya terapkan
terletak pada sikap terhadap sumber-sumber yang tersedia. Anda
sudah selesai mencari kebenaran? Kebenaran
harus dicari, keraguan harus terus muncul. Banyak hal belum saya ketahui.
Saya menganggap mencari kebenaran sebagai unfinished project. ● Sumber : https://www.tempo.co/wawancara/wawancara-munim-sirry-konservatisme-islam-2288038 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar