|
Misi
Mustahil Menteri Suahasil Yopie Hidayat
: Anggota
Tim Evaluator Editorial Tempo. |
TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026
|
· Pemecatan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi
penegasan bahwa Presiden berkuasa penuh menentukan kebijakan apa pun. · Ada pesan kepada Suahasil agar tidak
berkeras mengambil kebijakan fiskal konservatif dan bertentangan dengan
kemauan Presiden. · Praktik kuasi-fiskal menghantui tata
kelola anggaran, Indonesia ibarat perusahaan yang memiliki pembukuan
berbeda-beda. SENTIMEN positif sempat melanda pasar
keuangan ketika Suahasil Nazara naik pangkat dari Wakil Menteri Keuangan
menjadi Menteri Keuangan. Reputasinya sebagai teknokrat yang tekun bekerja
dan jauh dari ingar-bingar politik membuat pasar optimistis bahwa kebijakan
fiskal ugal-ugalan selama Purbaya Yudhi Sadewa menjadi menteri bakal
berakhir. Namun optimisme pasar pelan-pelan
menyurut ketika latar belakang penggantian itu mulai terkuak. Sebagaimana
terungkap dalam laporan utama Tempo edisi pekan ini, Presiden Prabowo
Subianto memecat Purbaya cenderung karena pertikaian internal di Kementerian
Keuangan mengenai rotasi ratusan pejabat, bukan lantaran ada perubahan arah
kebijakan fiskal. Pemecatan Purbaya seakan-akan menjadi
penegasan bahwa Presiden berkuasa penuh menentukan kebijakan apa pun. Pejabat
setingkat Menteri Keuangan pun mudah terpental jika tak sejalan. Karena itu,
meski Suahasil tidak grasah-grusuh, dan lebih disukai pasar, kewenangannya
bakal tetap terbatas. Indikasinya terlihat setelah beberapa
hari dia menjabat. Muncul pesan yang sangat tegas buat Suahasil agar tidak
berkeras mengambil kebijakan fiskal konservatif yang bertentangan dengan
kemauan Presiden. Sejumlah politikus koalisi pendukung
Prabowo di Dewan Perwakilan Rakyat mempersoalkan batas defisit Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara yang selama ini dikunci lewat Pasal 12
Undang-Undang Keuangan Negara, yaitu maksimal 3 persen terhadap produk domestik
bruto (PDB). Pesan para politikus itu klop dengan keinginan Prabowo sejak
awal, yakni pemerintah berutang lebih besar tanpa belenggu rasio defisit. Padahal batas rasio defisit merupakan
parameter utama penjaga kepercayaan pasar keuangan global kepada Indonesia.
Aturan inilah yang menjaga pemerintah Indonesia, siapa pun presidennya, agar
tidak serampangan dalam berbelanja dan berutang sehingga membahayakan
kesehatan ekonomi negara. Saat ini pun rasio defisit sebenarnya
terancam bablas melampaui batas jika harga minyak bertahan lama di atas US$
100 per barel. Sementara itu, proyek mercusuar Presiden seperti makan bergizi
gratis terus menyedot anggaran besar. Bahkan, berapa pun angka rasio defisit
yang diumumkan pemerintah, hal itu tak sepenuhnya menggambarkan beban fiskal
yang sebenarnya. Banyak beban APBN berpindah ke neraca lembaga lain. Para
ekonom menyebut kebijakan itu sebagai kuasi-fiskal atau fiskal bayangan. Sebagai contoh, Pertamina masih
menanggung pengeluaran untuk kompensasi penjualan bahan bakar minyak di dalam
negeri. Jika pemerintah melunasi kewajiban ini tepat waktu, bukan tak mungkin
batas 3 persen sudah terlampaui. Bukan cuma di sisi pengeluaran. Di sisi
pembiayaan anggaran pun terjadi praktik kuasi-fiskal oleh Bank Indonesia demi
menolong pemerintah. BI menciptakan uang untuk pemerintah dengan membeli
surat berharga negara atau obligasi pemerintah di pasar perdana. Hanya dalam
delapan bulan pertama pada 2026, nilai pembelian itu mencapai Rp 104,31
triliun, setara dengan 0,4 persen PDB atau 15 persen target defisit anggaran
setahun. Indonesia kini ibarat perusahaan yang
memiliki beragam pengelolaan keuangan dengan pembukuan berbeda-beda. Ada
APBN, ada pula kas Danantara dan perusahaan pelat merah anak-anaknya. Ada
lagi neraca BI yang turut membiayai sebagian defisit pemerintah secara
langsung. Kebijakan kuasi-fiskal membuat defisit,
yang seharusnya membebani APBN, menyebar dan mendekam di banyak tempat, tapi
bukan berarti lenyap. Ujung-ujungnya, semua tagihan itu akan bermuara juga
pada pemerintah. Situasi pasar global juga membuat
permainan fiskal bayangan ini makin berisiko. The Federal Reserve kembali
menaikkan suku bunga. Rupiah melemah dan ongkos utang meningkat. Pemerintah
harus membayar bunga lebih mahal. Pada bulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun
ke depan, ruang fiskal pemerintah bakal makin sempit tersedot pembayaran
bunga. Itulah warisan masalah mahaberat yang
mesti diselesaikan Suahasil. Sebuah misi yang nyaris mustahil sebenarnya. Hal
terpenting yang mesti ia kerjakan sekarang adalah meyakinkan Prabowo agar
mengubah arah kebijakan fiskal: memangkas program penyedot anggaran besar dan
menghentikan kebijakan fiskal bayangan. Ini bukan lagi pilihan antara kebijakan
ekspansif atau kebijakan fiskal yang konservatif dan pruden. Pelan-pelan
masalah ini makin bergeser menjadi perkara hidup atau mati bagi ekonomi
Indonesia. ● Sumber: https://www.tempo.co/ekonomi/pekerjaan-rumah-suahasil-nazara-2288001 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar