|
Prabowo-Jokowi
Berpisah Jalan, Bagaimana Peta Persaingannya Daniel Ahmad Fajri : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026
|
· Joko Widodo berkonsolidasi dengan para
pendukungnya menyongsong pemilihan presiden 2029. · Para relawan meminta Jokowi menjadi
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia, tapi ada juga kubu yang tak sepakat. · Di kubu Prabowo Subianto, para
pendukung mendengar kabar tentang rencana Ketua Umum Partai Gerindra itu
berpasangan dengan politikus muda di lingkaran dekat Presiden. GAWAI
Budi Arie Setiadi berbunyi pang-ping-pang-ping pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Ketua Umum Projo—kelompok pendukung Joko Widodo—itu mendapat sedikitnya 300
pesan setelah videonya yang menyinggung peluang percepatan Pemilihan Umum
2029 menjadi viral di media sosial. Rekaman itu diambil di tengah pertemuan
puluhan relawan dengan Jokowi di Restoran Amanaia, Setiabudi, Jakarta
Selatan, sehari sebelumnya atau Senin, 24 Agustus 2026. Budi
bercerita, sejumlah pendukung Jokowi memang merekam jalannya pertemuan dengan
presiden ketujuh itu. Namun seorang pengurus Projo yang duduk di seberang
Budi merekam sekaligus membagikan konten itu di grup WhatsApp Projo. Konten
itu seketika bocor ke berbagai grup percakapan dan menjadi polemik. Menurut
Budi, di antara ratusan pesan yang masuk ke teleponnya, ada pembicaraan
dengan Jokowi. Mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah, itu meminta Budi
mengklarifikasi maksud pernyataannya di Restoran Amanaia serta meminta maaf
kepada publik. “Kami membicarakan bahwa komentar saya soal Pemilu 2029
merupakan pendapat pribadi dan tak mengaitkan dengan Pak Jokowi,” ujar Budi
di Jakarta Selatan pada Selasa, 15 September 2026. Kata
Budi, seorang penyelenggara negara di Istana juga mengirimkan pesan. Padahal
pejabat itu tak pernah berkontak lagi dengan Budi setelah Presiden Prabowo
Subianto mencopot Budi dari posisi Menteri Koperasi. Budi
menunjukkan percakapan dengan penyelenggara negara yang dekat dengan Presiden
Prabowo itu kepada Tempo. Kepada Budi, pejabat itu mendoakan Budi diberi
anugerah kesehatan. Adapun Budi membalas singkat: “Salam sehat, Komandan.” Ucapan
Budi tentang peluang percepatan Pemilu 2029 merespons diskusi di antara
pendukung Jokowi di Restoran Amanaia. Budi mencatat paling tidak ada tiga
topik utama yang dibahas, yakni kasus ijazah Jokowi, rencana politik bersama
Partai Solidaritas Indonesia, dan hubungan dengan Prabowo. “Semua
menyampaikan sikap dan pendapatnya,” ujar mantan Menteri Komunikasi dan
Digital itu. Bab
ijazah tak menyita banyak waktu dalam pertemuan. Sejumlah relawan Jokowi yang
hadir mengatakan penjelasan Jokowi soal bukti kuliah di Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta, mirip seperti yang disampaikan dalam wawancara khusus
dengan Bocor Alus Politik. Kata para narasumber itu, Jokowi mengklaim dokumen
asli sudah di tangan penegak hukum dan ia akan hadir langsung di persidangan. Para
pendukung Jokowi baru bersahutan ketika masuk ke topik Partai Solidaritas
Indonesia. Koordinator Rumah Juang Jokowi Utje Gustaaf Patty angkat bicara
dengan menyebutkan para pendukung kebingungan ketika Jokowi blusukan ke
daerah bersama pengurus PSI. “Beliau dalam kapasitas apa di PSI ketika turun
ke daerah?” tutur Utje, yang pernah memimpin Barisan Relawan Jokowi Presiden
atau Bara JP, ketika dihubungi pada Selasa, 15 September 2026. Jokowi
dan PSI tak pernah menjelaskan jabatan yang diemban mantan Gubernur DKI
Jakarta itu di partai berlambang gajah tersebut. Di situs resmi PSI,
identitas Ketua Dewan Pembina hanya tertulis “J”. Satu-satunya hubungan
Jokowi dengan PSI hanya relasi bapak-anak dengan Ketua Umum PSI Kaesang
Pangarep. Utje
mendorong Jokowi segera mendeklarasikan diri sebagai Ketua Umum PSI. Ia
meyakini perolehan suara partai akan terkerek jika Jokowi yang memimpin PSI.
“Dampak elektoralnya akan signifikan,” ujarnya. Dua
petinggi kelompok pendukung Jokowi dan seorang pejabat teras PSI bercerita,
Jokowi mencermati dua survei yang mengkaji dampak elektoral ketika ia
memimpin PSI. Kata para narasumber ini, hasil jajak pendapat yang tak dipublikasikan
itu mencatat elektabilitas PSI berkutat pada angka 7-9 persen jika Jokowi tak
menjadi ketua umum. Tingkat keterpilihan partai bisa melonjak mendekati 16
persen kalau Jokowi mendeklarasikan diri sebagai orang nomor satu di PSI. Ketua
PSI Bestari Barus menyatakan Jokowi mencermati sejumlah survei dan masukan
untuk pengembangan partai. “Beliau selalu mengatakan hasilnya baik ketika
ditanya isi survei itu,” tutur Bestari ketika dihubungi pada Jumat, 18
September 2026. Dalam
wawancara khusus dengan Bocor Alus Politik, Jokowi mengatakan partai memiliki
mekanisme perombakan ketua umum. Ia mengaku ingin mengikuti mekanisme yang
berjalan di PSI. “Jangan berandai-andai,” kata Jokowi pada Selasa, 11 Agustus
2026. Relawan
belum satu suara soal rencana Jokowi memimpin PSI. Dalam pertemuan di
Restoran Amanaia, Ketua Brigade Rakyat Nusantara Relly Reagen menyatakan tak
sepakat bila Jokowi menjadi Ketua Umum PSI. Relly risau terhadap peluang PSI
masuk ke Dewan Perwakilan Rakyat. Dua kali menjadi peserta pemilihan
legislatif pada 2019 dan 2024, PSI gagal lolos ke Senayan. Menurut
Relly, survei yang menjadi rujukan di lingkup internal PSI ataupun relawan
belum bisa menggambarkan perolehan suara partai yang sesungguhnya. Jajak
pendapat Tempo Data Science pada Agustus 2026 menunjukkan elektabilitas PSI
sekitar 2 persen. Adapun tingkat keterpilihan PSI versi Saiful Mujani
Research and Consulting sebesar 4,1 persen. Menurut
Relly, ide mengenai Jokowi menjadi ketua umum partai tak sesuai dengan slogan
PSI yang ingin menjadi partai super terbuka. “Tanpa menjadi ketua umum, Pak
Jokowi sudah punya banyak simpatisan,” ujar mantan Sekretaris Jenderal Bara
JP itu. Pembahasan
soal relasi Jokowi dengan Prabowo juga menyita sebagian besar waktu pertemuan
yang berlangsung selama tiga jam tersebut. Empat pendukung Jokowi yang datang
ke acara makan siang bersama Jokowi itu bercerita, relawan mempertanyakan
hubungan dengan Prabowo karena sebagian pendukung Jokowi sempat mendapat
kabar dari Sigit Widyawan, kerabat Jokowi yang kini menjadi Komisaris Utama
PT Semen Indonesia Tbk, bahwa Prabowo mungkin tak menggandeng Gibran
Rakabuming Raka lagi pada Pemilu 2029. Menurut
para pendukung Jokowi itu, Sigit menyampaikan skenario politik tersebut
ketika bertemu dengan beberapa relawan dalam acara Tasyakuran Ke-14 Galang
Kemajuan Center di Hotel Ciputra, Jakarta, pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Galang Kemajuan Center merupakan salah satu kelompok pendukung Jokowi sejak
pemilihan Gubernur Jakarta pada 2012. Sekretaris
Jenderal Galang Kemajuan Center Diddy Budiono mengatakan tak berwenang
memberi informasi soal dinamika politik di kelompok pendukung Jokowi. Ditanya
mengenai pesan Sigit dalam acara tasyakuran bahwa Prabowo ada kemungkinan
berpisah jalan dengan Gibran, Diddy membalas singkat. “Sebaiknya ditanyakan
langsung kepada Mas Sigit atau tokoh relawan lain,” tutur Diddy melalui pesan
WhatsApp pada Kamis, 17 September 2026. Empat
pendukung Jokowi yang ditemui Tempo pekan lalu menuturkan, mereka sempat
bertanya kepada Sigit mengenai sumber informasi bahwa Prabowo ada kemungkinan
tak berpasangan dengan Gibran. Menurut mereka, Sigit mengatakan Jokowi
mendapat kabar tersebut dari pejabat teras Partai Gerindra. Sigit, kata empat
pendukung Jokowi, meneruskan informasi yang telah beredar di lingkaran
keluarga Jokowi. Sigit
belum merespons pesan WhatsApp dan panggilan telepon Tempo hingga Sabtu, 19
September 2026. Surat permohonan wawancara yang dikirim ke kantor Sigit di
gedung PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Cilandak, Jakarta Selatan, juga
belum berbalas. Tempo
juga meminta tanggapan Jokowi melalui ajudannya, Ajun Komisaris Besar Syarif
Muhammad Fitriansyah. Syarif mengaku berupaya menanyakan permintaan
konfirmasi dari Tempo kepada Jokowi. Namun ia tak mengirimkan balasan lagi
hingga Sabtu pagi, 19 September 2026. Dua
pengurus kelompok relawan Jokowi mengatakan ada beberapa nama politikus yang
menjadi opsi pendamping Prabowo kalau tak maju lagi bersama Gibran. Para
narasumber ini menjelaskan bahwa skenario itu sudah beredar di kalangan
politikus dan relawan pendukung Jokowi serta Prabowo. Menurut
tiga pendukung Jokowi yang mendengar kabar tentang opsi nama calon pasangan
Prabowo langsung dari Jokowi dan orang dekatnya, politikus yang ditimang
Prabowo adalah Menteri Luar Negeri Sugiono, Kepala Badan Gizi Nasional
Sudaryono, dan Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya. Teddy,
Sugiono, dan Sudaryono tak menjawab permintaan wawancara Tempo. Seorang
kolega Sugiono sempat menjelaskan situasi internal Partai Gerindra mengenai
pencalonan itu pada Jumat, 18 September 2026, tapi ia menolak informasinya
ditulis. Adapun
Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad membantah kabar bahwa ada
pesan kepada Jokowi soal tiga nama politikus yang berpeluang mendampingi
Prabowo pada Pemilu 2029. “Tidak pernah ada pertemuan serta komunikasi soal
itu dengan Pak Jokowi,” kata Dasco melalui WhatsApp pada Kamis, 17 September
2026. Meski
begitu, Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengatakan para pendukung Jokowi
sudah memahami informasi mengenai kemungkinan Prabowo dan Gibran berpisah
pada Pemilu 2029 serta soal prospek Teddy, Sugiono, atau Sudaryono
mendampingi Ketua Umum Partai Gerindra itu. “Skenario itu sangat wajar bagi
partai politik dan kami selalu siap dengan segala kemungkinan,” ujar Budi. Ketua
Umum Gibran Militan Nusantara Andi Azwan menyatakan informasi soal
kemungkinan Prabowo tak lagi bersama Gibran dan Jokowi sudah beredar di
lingkup internal pendukung Jokowi sebelum pertemuan di Restoran Amanaia,
Jakarta. Azwan juga mendengar kabar bahwa Teddy, Sugiono, atau Sudaryono
tengah ditimang-timang oleh Prabowo sebagai calon pendamping pada Pemilu
2029. “Itu hak Pak Prabowo, tapi kami tetap mendukung Prabowo-Gibran,”
tuturnya pada Rabu, 16 September 2026. Kabar
tentang skenario Prabowo berpasangan dengan anak muda di lingkaran dekatnya
juga didengar para pendiri Partai Gerindra. Dua politikus yang ikut
mendirikan Partai Gerindra pada 2008 mengatakan nama Teddy, Sugiono, dan
Sudaryono menjadi bahasan terbatas di lingkup internal partai. Dua narasumber
ini menuturkan, berdasarkan diskusi di dalam partai, ketiga tokoh itu
berpeluang digandeng Prabowo karena pernah bekerja sama dalam waktu yang
panjang. Ketiganya pernah menjadi sekretaris atau ajudan Prabowo. Dua
pendiri Partai Gerindra mengungkapkan, lingkup internal partai mencermati
peluang ketiga tokoh itu menjadi wakil Prabowo berdasarkan hasil survei. Dari
tiga nama itu, baru Teddy yang terjaring dalam survei politik. Jajak pendapat
Tempo Data Science pada Agustus 2026 mencatat elektabilitas lulusan Akademi
Militer 2011 itu baru 1 persen. Juru
bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong, mengatakan partai belum membahas
skenario pasangan Prabowo karena pemungutan suara masih tiga tahun lagi.
“Kami berkonsentrasi mengawal program prioritas pemerintah agar masyarakat
merasakan manfaatnya,” katanya pada Sabtu, 19 September 2026. Seorang
pejabat teras PSI bercerita, pengurus partai itu juga sudah memperoleh
informasi mengenai potensi Prabowo tak bersama-sama lagi dengan Gibran.
Narasumber yang sama mengatakan Jokowi pernah menyampaikan ketika bertemu
dengan beberapa pengurus PSI dalam silaturahmi Idul Fitri, sekitar Maret
2026, bahwa Prabowo mungkin memilih pendamping yang punya latar belakang
militer. Dimintai
tanggapan soal pesan Jokowi ke lingkup internal PSI, Ketua PSI Bestari Barus
mengatakan Prabowo berhak menentukan calon wakil presiden. “PSI tetap
mengawal Prabowo-Gibran sampai 2029,” ujar eks politikus Partai NasDem itu. Dalam wawancara
khusus dengan Bocor Alus Politik, Jokowi menyebutkan masih berharap Prabowo
bersama Gibran pada Pemilu 2029. “Kalau diajak,” tuturnya. Ia tak
mempersoalkan jika Prabowo akhirnya memilih berpisah jalan. “Keputusan ada di
tangan Presiden,” dia menambahkan. Para
pendukung Jokowi lantas membicarakan skenario kalau Gibran tak dipinang
Prabowo. Tiga pemimpin organisasi pendukung Jokowi mendorong Gibran
berpasangan dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam pertemuan di
Restoran Amanaia pada Senin, 24 Agustus 2026. Pengacara
Farhat Abbas yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan ada relawan yang
bertanya soal skenario Gibran dan Dedi berpasangan pada Pemilu 2029. “Saya
mengatakan kepada kawan-kawan itu bahwa Pak Jokowi tak akan menjawab skenario
tersebut karena Pak Jokowi masih bersama Pak Prabowo,” ujar Farhat. Jokowi
mencermati elektabilitas Dedi dalam sejumlah jajak pendapat. Berdasarkan
survei Tempo Data Science pada Agustus 2026, elektabilitas Dedi sebagai calon
presiden sebesar 42 persen, sedangkan Prabowo 15 persen. Sementara itu,
tingkat keterpilihan Gibran sebagai calon presiden baru sekitar 6 persen. Seorang
pejabat teras PSI yang acap berkomunikasi dengan keluarga Jokowi menuturkan,
Jokowi mengamati tren popularitas Dedi yang meluas tak hanya di Jawa Barat.
Menurut narasumber itu, Jokowi tengah berupaya membangun komunikasi dengan
Dedi Mulyadi. Dalam
wawancara khusus dengan Tempo pada 18 Mei 2025, Dedi mengklaim tak memikirkan
peluang maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2029. “Saya mengikuti fatsun
politik saja, keputusan politik partai menjadi kewenangan ketua umum,” kata
Dedi, yang merupakan kader Partai Gerindra. Ketua
Umum Projo Budi Arie Setiadi mengatakan Jokowi mendengarkan semua masukan
dari para pendukungnya, termasuk soal peluang Gibran berpasangan dengan Dedi.
“Sejauh ini arahan kepada para relawan adalah mendukung pemerintahan
Prabowo-Gibran sampai 2029,” tutur Budi. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/persaingan-jokowi-prabowo-retak-pemilu-2029-2288037 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar