Senin, 21 September 2026

 

Prabowo-Jokowi Berpisah Jalan, Bagaimana Peta Persaingannya

Daniel Ahmad Fajri :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026

 

 

                                                           

·      Joko Widodo berkonsolidasi dengan para pendukungnya menyongsong pemilihan presiden 2029.

 

·      Para relawan meminta Jokowi menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia, tapi ada juga kubu yang tak sepakat.

 

·      Di kubu Prabowo Subianto, para pendukung mendengar kabar tentang rencana Ketua Umum Partai Gerindra itu berpasangan dengan politikus muda di lingkaran dekat Presiden.

 

GAWAI Budi Arie Setiadi berbunyi pang-ping-pang-ping pada Selasa, 25 Agustus 2026. Ketua Umum Projo—kelompok pendukung Joko Widodo—itu mendapat sedikitnya 300 pesan setelah videonya yang menyinggung peluang percepatan Pemilihan Umum 2029 menjadi viral di media sosial. Rekaman itu diambil di tengah pertemuan puluhan relawan dengan Jokowi di Restoran Amanaia, Setiabudi, Jakarta Selatan, sehari sebelumnya atau Senin, 24 Agustus 2026.

 

Budi bercerita, sejumlah pendukung Jokowi memang merekam jalannya pertemuan dengan presiden ketujuh itu. Namun seorang pengurus Projo yang duduk di seberang Budi merekam sekaligus membagikan konten itu di grup WhatsApp Projo. Konten itu seketika bocor ke berbagai grup percakapan dan menjadi polemik.

 

Menurut Budi, di antara ratusan pesan yang masuk ke teleponnya, ada pembicaraan dengan Jokowi. Mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah, itu meminta Budi mengklarifikasi maksud pernyataannya di Restoran Amanaia serta meminta maaf kepada publik. “Kami membicarakan bahwa komentar saya soal Pemilu 2029 merupakan pendapat pribadi dan tak mengaitkan dengan Pak Jokowi,” ujar Budi di Jakarta Selatan pada Selasa, 15 September 2026.

 

Kata Budi, seorang penyelenggara negara di Istana juga mengirimkan pesan. Padahal pejabat itu tak pernah berkontak lagi dengan Budi setelah Presiden Prabowo Subianto mencopot Budi dari posisi Menteri Koperasi.

 

Budi menunjukkan percakapan dengan penyelenggara negara yang dekat dengan Presiden Prabowo itu kepada Tempo. Kepada Budi, pejabat itu mendoakan Budi diberi anugerah kesehatan. Adapun Budi membalas singkat: “Salam sehat, Komandan.”

 

Ucapan Budi tentang peluang percepatan Pemilu 2029 merespons diskusi di antara pendukung Jokowi di Restoran Amanaia. Budi mencatat paling tidak ada tiga topik utama yang dibahas, yakni kasus ijazah Jokowi, rencana politik bersama Partai Solidaritas Indonesia, dan hubungan dengan Prabowo. “Semua menyampaikan sikap dan pendapatnya,” ujar mantan Menteri Komunikasi dan Digital itu.

 

Bab ijazah tak menyita banyak waktu dalam pertemuan. Sejumlah relawan Jokowi yang hadir mengatakan penjelasan Jokowi soal bukti kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mirip seperti yang disampaikan dalam wawancara khusus dengan Bocor Alus Politik. Kata para narasumber itu, Jokowi mengklaim dokumen asli sudah di tangan penegak hukum dan ia akan hadir langsung di persidangan.

 

Para pendukung Jokowi baru bersahutan ketika masuk ke topik Partai Solidaritas Indonesia. Koordinator Rumah Juang Jokowi Utje Gustaaf Patty angkat bicara dengan menyebutkan para pendukung kebingungan ketika Jokowi blusukan ke daerah bersama pengurus PSI. “Beliau dalam kapasitas apa di PSI ketika turun ke daerah?” tutur Utje, yang pernah memimpin Barisan Relawan Jokowi Presiden atau Bara JP, ketika dihubungi pada Selasa, 15 September 2026.

 

Jokowi dan PSI tak pernah menjelaskan jabatan yang diemban mantan Gubernur DKI Jakarta itu di partai berlambang gajah tersebut. Di situs resmi PSI, identitas Ketua Dewan Pembina hanya tertulis “J”. Satu-satunya hubungan Jokowi dengan PSI hanya relasi bapak-anak dengan Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep.

 

Utje mendorong Jokowi segera mendeklarasikan diri sebagai Ketua Umum PSI. Ia meyakini perolehan suara partai akan terkerek jika Jokowi yang memimpin PSI. “Dampak elektoralnya akan signifikan,” ujarnya.

 

Dua petinggi kelompok pendukung Jokowi dan seorang pejabat teras PSI bercerita, Jokowi mencermati dua survei yang mengkaji dampak elektoral ketika ia memimpin PSI. Kata para narasumber ini, hasil jajak pendapat yang tak dipublikasikan itu mencatat elektabilitas PSI berkutat pada angka 7-9 persen jika Jokowi tak menjadi ketua umum. Tingkat keterpilihan partai bisa melonjak mendekati 16 persen kalau Jokowi mendeklarasikan diri sebagai orang nomor satu di PSI.

 

Ketua PSI Bestari Barus menyatakan Jokowi mencermati sejumlah survei dan masukan untuk pengembangan partai. “Beliau selalu mengatakan hasilnya baik ketika ditanya isi survei itu,” tutur Bestari ketika dihubungi pada Jumat, 18 September 2026.

 

Dalam wawancara khusus dengan Bocor Alus Politik, Jokowi mengatakan partai memiliki mekanisme perombakan ketua umum. Ia mengaku ingin mengikuti mekanisme yang berjalan di PSI. “Jangan berandai-andai,” kata Jokowi pada Selasa, 11 Agustus 2026.

 

Relawan belum satu suara soal rencana Jokowi memimpin PSI. Dalam pertemuan di Restoran Amanaia, Ketua Brigade Rakyat Nusantara Relly Reagen menyatakan tak sepakat bila Jokowi menjadi Ketua Umum PSI. Relly risau terhadap peluang PSI masuk ke Dewan Perwakilan Rakyat. Dua kali menjadi peserta pemilihan legislatif pada 2019 dan 2024, PSI gagal lolos ke Senayan.

 

Menurut Relly, survei yang menjadi rujukan di lingkup internal PSI ataupun relawan belum bisa menggambarkan perolehan suara partai yang sesungguhnya. Jajak pendapat Tempo Data Science pada Agustus 2026 menunjukkan elektabilitas PSI sekitar 2 persen. Adapun tingkat keterpilihan PSI versi Saiful Mujani Research and Consulting sebesar 4,1 persen.

 

Menurut Relly, ide mengenai Jokowi menjadi ketua umum partai tak sesuai dengan slogan PSI yang ingin menjadi partai super terbuka. “Tanpa menjadi ketua umum, Pak Jokowi sudah punya banyak simpatisan,” ujar mantan Sekretaris Jenderal Bara JP itu.

 

Pembahasan soal relasi Jokowi dengan Prabowo juga menyita sebagian besar waktu pertemuan yang berlangsung selama tiga jam tersebut. Empat pendukung Jokowi yang datang ke acara makan siang bersama Jokowi itu bercerita, relawan mempertanyakan hubungan dengan Prabowo karena sebagian pendukung Jokowi sempat mendapat kabar dari Sigit Widyawan, kerabat Jokowi yang kini menjadi Komisaris Utama PT Semen Indonesia Tbk, bahwa Prabowo mungkin tak menggandeng Gibran Rakabuming Raka lagi pada Pemilu 2029.

 

Menurut para pendukung Jokowi itu, Sigit menyampaikan skenario politik tersebut ketika bertemu dengan beberapa relawan dalam acara Tasyakuran Ke-14 Galang Kemajuan Center di Hotel Ciputra, Jakarta, pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Galang Kemajuan Center merupakan salah satu kelompok pendukung Jokowi sejak pemilihan Gubernur Jakarta pada 2012.

 

Sekretaris Jenderal Galang Kemajuan Center Diddy Budiono mengatakan tak berwenang memberi informasi soal dinamika politik di kelompok pendukung Jokowi. Ditanya mengenai pesan Sigit dalam acara tasyakuran bahwa Prabowo ada kemungkinan berpisah jalan dengan Gibran, Diddy membalas singkat. “Sebaiknya ditanyakan langsung kepada Mas Sigit atau tokoh relawan lain,” tutur Diddy melalui pesan WhatsApp pada Kamis, 17 September 2026.

 

Empat pendukung Jokowi yang ditemui Tempo pekan lalu menuturkan, mereka sempat bertanya kepada Sigit mengenai sumber informasi bahwa Prabowo ada kemungkinan tak berpasangan dengan Gibran. Menurut mereka, Sigit mengatakan Jokowi mendapat kabar tersebut dari pejabat teras Partai Gerindra. Sigit, kata empat pendukung Jokowi, meneruskan informasi yang telah beredar di lingkaran keluarga Jokowi.

 

Sigit belum merespons pesan WhatsApp dan panggilan telepon Tempo hingga Sabtu, 19 September 2026. Surat permohonan wawancara yang dikirim ke kantor Sigit di gedung PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Cilandak, Jakarta Selatan, juga belum berbalas.

 

Tempo juga meminta tanggapan Jokowi melalui ajudannya, Ajun Komisaris Besar Syarif Muhammad Fitriansyah. Syarif mengaku berupaya menanyakan permintaan konfirmasi dari Tempo kepada Jokowi. Namun ia tak mengirimkan balasan lagi hingga Sabtu pagi, 19 September 2026.

 

Dua pengurus kelompok relawan Jokowi mengatakan ada beberapa nama politikus yang menjadi opsi pendamping Prabowo kalau tak maju lagi bersama Gibran. Para narasumber ini menjelaskan bahwa skenario itu sudah beredar di kalangan politikus dan relawan pendukung Jokowi serta Prabowo.

 

Menurut tiga pendukung Jokowi yang mendengar kabar tentang opsi nama calon pasangan Prabowo langsung dari Jokowi dan orang dekatnya, politikus yang ditimang Prabowo adalah Menteri Luar Negeri Sugiono, Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono, dan Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya.

 

Teddy, Sugiono, dan Sudaryono tak menjawab permintaan wawancara Tempo. Seorang kolega Sugiono sempat menjelaskan situasi internal Partai Gerindra mengenai pencalonan itu pada Jumat, 18 September 2026, tapi ia menolak informasinya ditulis.

 

Adapun Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad membantah kabar bahwa ada pesan kepada Jokowi soal tiga nama politikus yang berpeluang mendampingi Prabowo pada Pemilu 2029. “Tidak pernah ada pertemuan serta komunikasi soal itu dengan Pak Jokowi,” kata Dasco melalui WhatsApp pada Kamis, 17 September 2026.

 

Meski begitu, Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengatakan para pendukung Jokowi sudah memahami informasi mengenai kemungkinan Prabowo dan Gibran berpisah pada Pemilu 2029 serta soal prospek Teddy, Sugiono, atau Sudaryono mendampingi Ketua Umum Partai Gerindra itu. “Skenario itu sangat wajar bagi partai politik dan kami selalu siap dengan segala kemungkinan,” ujar Budi.

 

Ketua Umum Gibran Militan Nusantara Andi Azwan menyatakan informasi soal kemungkinan Prabowo tak lagi bersama Gibran dan Jokowi sudah beredar di lingkup internal pendukung Jokowi sebelum pertemuan di Restoran Amanaia, Jakarta. Azwan juga mendengar kabar bahwa Teddy, Sugiono, atau Sudaryono tengah ditimang-timang oleh Prabowo sebagai calon pendamping pada Pemilu 2029. “Itu hak Pak Prabowo, tapi kami tetap mendukung Prabowo-Gibran,” tuturnya pada Rabu, 16 September 2026.

 

Kabar tentang skenario Prabowo berpasangan dengan anak muda di lingkaran dekatnya juga didengar para pendiri Partai Gerindra. Dua politikus yang ikut mendirikan Partai Gerindra pada 2008 mengatakan nama Teddy, Sugiono, dan Sudaryono menjadi bahasan terbatas di lingkup internal partai. Dua narasumber ini menuturkan, berdasarkan diskusi di dalam partai, ketiga tokoh itu berpeluang digandeng Prabowo karena pernah bekerja sama dalam waktu yang panjang. Ketiganya pernah menjadi sekretaris atau ajudan Prabowo.

 

Dua pendiri Partai Gerindra mengungkapkan, lingkup internal partai mencermati peluang ketiga tokoh itu menjadi wakil Prabowo berdasarkan hasil survei. Dari tiga nama itu, baru Teddy yang terjaring dalam survei politik. Jajak pendapat Tempo Data Science pada Agustus 2026 mencatat elektabilitas lulusan Akademi Militer 2011 itu baru 1 persen.

 

Juru bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong, mengatakan partai belum membahas skenario pasangan Prabowo karena pemungutan suara masih tiga tahun lagi. “Kami berkonsentrasi mengawal program prioritas pemerintah agar masyarakat merasakan manfaatnya,” katanya pada Sabtu, 19 September 2026.

 

Seorang pejabat teras PSI bercerita, pengurus partai itu juga sudah memperoleh informasi mengenai potensi Prabowo tak bersama-sama lagi dengan Gibran. Narasumber yang sama mengatakan Jokowi pernah menyampaikan ketika bertemu dengan beberapa pengurus PSI dalam silaturahmi Idul Fitri, sekitar Maret 2026, bahwa Prabowo mungkin memilih pendamping yang punya latar belakang militer.

 

Dimintai tanggapan soal pesan Jokowi ke lingkup internal PSI, Ketua PSI Bestari Barus mengatakan Prabowo berhak menentukan calon wakil presiden. “PSI tetap mengawal Prabowo-Gibran sampai 2029,” ujar eks politikus Partai NasDem itu.

 

Dalam wawancara khusus dengan Bocor Alus Politik, Jokowi menyebutkan masih berharap Prabowo bersama Gibran pada Pemilu 2029. “Kalau diajak,” tuturnya. Ia tak mempersoalkan jika Prabowo akhirnya memilih berpisah jalan. “Keputusan ada di tangan Presiden,” dia menambahkan.

 

Para pendukung Jokowi lantas membicarakan skenario kalau Gibran tak dipinang Prabowo. Tiga pemimpin organisasi pendukung Jokowi mendorong Gibran berpasangan dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam pertemuan di Restoran Amanaia pada Senin, 24 Agustus 2026.

 

Pengacara Farhat Abbas yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan ada relawan yang bertanya soal skenario Gibran dan Dedi berpasangan pada Pemilu 2029. “Saya mengatakan kepada kawan-kawan itu bahwa Pak Jokowi tak akan menjawab skenario tersebut karena Pak Jokowi masih bersama Pak Prabowo,” ujar Farhat.

 

Jokowi mencermati elektabilitas Dedi dalam sejumlah jajak pendapat. Berdasarkan survei Tempo Data Science pada Agustus 2026, elektabilitas Dedi sebagai calon presiden sebesar 42 persen, sedangkan Prabowo 15 persen. Sementara itu, tingkat keterpilihan Gibran sebagai calon presiden baru sekitar 6 persen.

 

Seorang pejabat teras PSI yang acap berkomunikasi dengan keluarga Jokowi menuturkan, Jokowi mengamati tren popularitas Dedi yang meluas tak hanya di Jawa Barat. Menurut narasumber itu, Jokowi tengah berupaya membangun komunikasi dengan Dedi Mulyadi.

 

Dalam wawancara khusus dengan Tempo pada 18 Mei 2025, Dedi mengklaim tak memikirkan peluang maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2029. “Saya mengikuti fatsun politik saja, keputusan politik partai menjadi kewenangan ketua umum,” kata Dedi, yang merupakan kader Partai Gerindra.

 

Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengatakan Jokowi mendengarkan semua masukan dari para pendukungnya, termasuk soal peluang Gibran berpasangan dengan Dedi. “Sejauh ini arahan kepada para relawan adalah mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran sampai 2029,” tutur Budi. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/persaingan-jokowi-prabowo-retak-pemilu-2029-2288037

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar