|
Asap yang Kita Wariskan Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 22 September 2026
|
El Niño
memang mengeringkan bumi. Tetapi siapa yang menyalakan korek? Kadang bencana datang dengan suara
sirene. Kadang pula ia datang diam-diam, lalu membuat kita lupa bahwa sedang
bernapas. Karhutla termasuk jenis kedua. Api terlihat di kejauhan, tapi musuh
sebenarnya justru masuk melalui hidung, tenggorokan, paru-paru, kamar tidur,
ruang kelas, dan akhirnya rumah sakit. Laporan The Guardian 21 September 2026
menggambarkan situasi kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan
yang semakin serius. Hingga akhir Agustus, Nusantara Atlas mencatat sekitar
895.657 hektare lahan telah terbakar di Indonesia. Angka itu 34 persen lebih tinggi
daripada periode yang sama pada 2019, juga karena El Niño. Tapi luas lahan
terbakar sebenarnya belum menggambarkan ukuran penderitaannya. Api dapat kita
lihat dari helikopter. Asapnya justru kita hirup sambil makan nasi. Per 9 September, Kementerian Kesehatan
mencatat 113.336 kasus infeksi saluran pernapasan akut di 63 kabupaten/kota
pada tujuh provinsi terdampak. Pada 1 September jumlahnya masih
50.891 kasus. Dalam sembilan hari, angkanya lebih dari dua kali lipat.
Sebanyak 26.545 kasus terjadi pada anak usia 0–5 tahun. Inilah bagian yang sering hilang dari
statistik kebakaran. Kita sibuk menghitung hektare, sementara manusia
menghitung napas. Asap karhutla bukan sekadar kabut yang
membuat foto kota terlihat dramatis. Ia membawa partikulat halus dan berbagai
polutan yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Karena itu, ketika sekolah ditutup,
rumah sakit dipenuhi pasien, anak-anak memakai masker di ruang kelas, dan
orang tua menutup pintu serta jendela sepanjang hari, kita sebenarnya sedang
menyaksikan krisis kesehatan masyarakat, bukan sekadar persoalan kehutanan. Di Sampit, Kalimantan Tengah, kualitas
udara bahkan sempat mencapai indeks 1.142 pada 10 September menurut pemantauan
IQAir. Padahal indeks 0–50 dikategorikan sehat, sedangkan angka di atas 300
sudah masuk tingkat berbahaya. Kalau angka 1.142 terasa seperti angka
dari planet lain, masalahnya justru di situ. Kita terlalu terbiasa dengan
angka kecil dalam kehidupan sehari-hari sehingga angka pencemaran sebesar itu
terdengar seperti nomor telepon. Padahal yang sedang diukur bukan saldo
rekening, melainkan kualitas udara. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian
kebakaran terjadi di lahan gambut. Lahan gambut yang sudah dikeringkan dapat
terbakar bukan hanya di permukaan, tetapi juga di bawah tanah. Api bisa
bergerak diam-diam, muncul kembali di tempat lain, dan menghasilkan asap
dalam waktu panjang. David Gaveau dari Nusantara Atlas
menyebut kebakaran semacam ini sebagai warisan degradasi hutan dan
pengeringan gambut selama puluhan tahun. Maka kita perlu berhenti melihat
setiap karhutla sebagai kejadian tunggal. Ini bukan sekadar “ada titik api
hari ini”. Ada sejarah panjang di belakangnya: pembukaan lahan, pengeringan
gambut, perubahan tutupan hutan, tata kelola konsesi, kebiasaan membakar,
lemahnya pengawasan, lalu datanglah musim kering. El Niño dalam cerita ini memang
penting. Tahun ini kondisinya disebut “super El Niño”, yang memperpanjang dan
memperkuat kekeringan. BMKG sendiri pada 7 September
mengingatkan bahwa September masih menjadi fase kritis karhutla karena
kondisi kering, pengaruh El Niño, dan tingginya jumlah hotspot. Namun El Niño tidak membawa korek api.
Inilah kalimat yang seharusnya kita ingat. Cuaca dapat menyediakan bahan
bakar bagi api, tetapi manusia sering menyediakan apinya. Mark Parrington dari Copernicus
mengatakan El Niño memperkuat kebakaran yang memang biasa terjadi pada musim
tersebut. Gaveau bahkan merumuskannya lebih tajam: El Niño adalah enabler,
sedangkan “match”-nya adalah manusia. Jadi, menyalahkan El Niño saja
kira-kira seperti menyalahkan angin karena rumah terbakar. Angin memang
membuat api membesar. Tetapi kita tetap perlu bertanya: siapa yang menyalakan
korek, siapa yang membiarkan bensin terbuka, dan siapa yang bertahun-tahun
membangun rumah di atas tumpukan jerami? Dampaknya bahkan tidak berhenti di
batas administratif Indonesia. Asap bergerak mengikuti angin dan menjadi
transboundary haze. Malaysia, Singapura, Brunei, bahkan sebagian Filipina
ikut merasakan dampaknya. Di Kuching, kualitas udara berulang
kali berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Artinya, asap tidak
mengenal paspor. Ia tidak bertanya apakah seseorang warga Indonesia,
Malaysia, atau Singapura sebelum masuk ke paru-parunya. Di sinilah masalah karhutla berubah
menjadi persoalan diplomasi lingkungan. Negara tetangga dapat mengirim
bantuan, seperti Malaysia dan Jepang yang menawarkan atau mengirim kemampuan
pemadaman udara. Tetapi kerja sama internasional tidak boleh berubah menjadi
kebiasaan tahunan: Indonesia membakar, tetangga batuk, lalu semua bertemu
setelah asap menebal. Pemerintah memang telah bergerak.
Polisi menangani kasus pembakaran, pemerintah mengerahkan pesawat,
helikopter, drone, dan personel militer, sementara bantuan internasional ikut
masuk. Presiden Prabowo juga meminta
penguatan sanksi terhadap pelaku pembakaran dan mendorong penindakan terhadap
perusahaan yang terkait dengan kebakaran. Reuters melaporkan pada 17
September bahwa polisi telah membuka 219 penyelidikan pidana, dengan 162 tersangka
dan 95 perusahaan dalam pemeriksaan. Tetapi pemadaman adalah pertolongan
pertama, bukan penyembuhan. Kalau setiap tahun kita mengirim helikopter untuk
memadamkan api yang muncul di lanskap yang sama, kita seperti dokter yang
setiap pagi mengobati luka yang setiap malam sengaja dibuka kembali. Kita membutuhkan pencegahan yang
bekerja sebelum api menyala. Pertama, pengelolaan gambut harus menjadi
prioritas. Kanal-kanal yang mengeringkan gambut perlu diawasi dan, bila
perlu, ditutup atau dibasahi kembali. Kedua, pemantauan hotspot harus
langsung terhubung dengan patroli lapangan, bukan berhenti sebagai titik
merah di layar komputer. Ketiga, perusahaan pemegang konsesi
harus memiliki tanggung jawab yang dapat diaudit: siapa menguasai lahan,
siapa menjaga lahannya, siapa bertanggung jawab ketika api muncul, dan siapa
membayar pemulihan jika terjadi kerusakan. Keempat, masyarakat lokal jangan hanya
diposisikan sebagai objek sosialisasi. Mereka bisa menjadi sistem deteksi
dini. Contohnya sudah muncul dalam gerakan
“Power of Mama”, ketika kelompok perempuan melakukan pemantauan api dan
edukasi masyarakat. Ada pula “Rumah Oksigen” di Kalimantan Barat yang
menyediakan oksigen bagi warga dan petugas yang kesulitan bernapas. Kelima, ukuran keberhasilan jangan
berhenti pada berapa banyak api yang berhasil dipadamkan. Pemerintah perlu
mengukur berapa luas gambut yang berhasil dipulihkan, berapa hotspot yang
berulang di lokasi yang sama, berapa kasus ISPA yang dapat dicegah, dan
berapa hari masyarakat menghirup udara yang aman. Sebab udara bersih bukan bonus
pembangunan. Ia infrastruktur kehidupan. Kita sering membicarakan jalan tol,
pelabuhan, bandara, dan kawasan industri sebagai infrastruktur. Padahal udara
bersih juga infrastruktur. Bedanya, jalan rusak membuat mobil tersendat,
sedangkan udara rusak membuat manusia tersendat bernapas. Jalan berlubang
bisa kita hindari. Udara beracun tidak. Karena itu, karhutla tidak boleh
dipandang hanya sebagai persoalan hutan yang terbakar. Ia menyangkut ekonomi,
kesehatan, pendidikan, diplomasi, tata ruang, penegakan hukum, dan kualitas
hidup jutaan manusia. Dan tahun ini ada satu angka yang
layak kita simpan baik-baik: 19,7 juta metrik ton emisi dari kebakaran
Indonesia hanya dalam periode 1–7 September. Jumlah itu lebih dari sepertiga emisi
kebakaran global pada pekan tersebut, menurut Fire Emissions Watch yang
dikembangkan dalam sistem pemantauan Uni Eropa Copernicus. Kita boleh menyebutnya bencana alam.
Tetapi jangan buru-buru menyebutnya semata-mata alam. Alam memang sedang
kering. El Niño memang sedang kuat. Angin memang sedang membawa asap ke
mana-mana. Tetapi korek api tetap punya tangan. Dan tangan itu manusia. Kalau kita ingin Indonesia bebas dari
langit berwarna cokelat setiap musim kemarau, pekerjaan kita bukan sekadar
memadamkan api. Kita harus memutus rantai yang membuat api terus menemukan
alasan untuk menyala. Sebab pada akhirnya, yang terbakar
bukan hanya hutan. Yang terbakar adalah udara yang seharusnya kita wariskan
kepada anak-anak. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar