Rabu, 30 September 2026

 

Akhir Tahun Kelabu untuk Rupiah

Yopie Hidayat :  Anggota Tim Evaluator Editorial Tempo.

TEMPO MINGGUAN, 27 September 2026

 

 

                                                           

·      Kurs rupiah sempat membaik pada awal September, tapi melorot lagi menjelang akhir bulan.

 

·      Sejumlah faktor eksternal turut menekan kurs rupiah, seperti melambungnya harga minyak dan bunga The Fed.

 

·      Belum ada faktor positif dari dalam negeri yang dapat memastikan modal asing tetap bertahan.

 

PENGUATAN rupiah selama Agustus hingga awal September tahun ini ternyata cuma sementara. Kurs rupiah per dolar Amerika Serikat yang sempat membaik di posisi sekitar 17.500 pada 10 September 2026 kembali merosot ke kisaran 18 ribu pekan lalu. Tren penguatan rupiah ternyata hanya bertahan sekitar dua pekan.

 

Berbaliknya kecenderungan itu menegaskan satu hal: belum ada perbaikan faktor fundamental di dalam negeri yang mampu menopang nilai rupiah secara permanen. Akibatnya, naik-turunnya nilai rupiah sangat bergantung pada gejolak geopolitik ataupun pasar keuangan global.

 

Contoh paling jelas tampak pada korelasi antara harga minyak dan rupiah. Setelah harapan pembukaan kembali Selat Hormuz meredup dan ada serangan terhadap fasilitas ekspor minyak Arab Saudi, harga minyak Brent melejit tinggi, melewati US$ 105 per barel. Kurs rupiah pun melemah dengan cepat.

 

Bagi Indonesia, mahalnya harga minyak berarti bertambahnya kebutuhan dolar untuk impor. Kondisi ini menjadi pukulan ganda karena neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II mengalami defisit US$ 12,5 miliar. Dengan kata lain, kenaikan harga minyak menjadi malapetaka ketika Indonesia sedang kekurangan devisa.

 

Indonesia dapat menutup defisit devisa itu lewat beberapa cara. Misalnya jika ada devisa masuk karena investasi langsung, utang, atau datangnya investasi portofolio. Dari ketiga sumber devisa itu, aliran yang bisa datang paling cepat adalah investasi melalui pasar keuangan, seperti saham atau obligasi. Sejak akhir 2023, ada pula instrumen bank sentral yang makin berperan penting sebagai penjaga stabilisasi kurs rupiah: Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

 

Posisi SRBI per akhir Agustus 2026 sebesar Rp 1.063 triliun dan Rp 295 triliun di antaranya merupakan dana investor asing. Sejak awal tahun hingga 10 September, jumlah dana asing yang masuk ke SRBI (secara neto) mencapai Rp 172 triliun.

 

Persoalannya, pergerakan modal kini gonjang-ganjing. Terjadi perubahan arah investasi setelah The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga menjadi 3,75-4 persen. Pasar bahkan mengantisipasi akan adanya kenaikan lagi sebelum akhir tahun. Penempatan dana investasi portofolio sangat bergantung pada perkiraan kenaikan bunga itu. Investasi asing yang sudah berada di dalam negeri mungkin saja tertarik keluar, mencari imbal hasil lebih baik.

 

Untuk mencegah kaburnya dana asing, BI secara teknis masih dapat menerbitkan lebih banyak SRBI dengan bunga lebih tinggi. Namun ongkos penggunaan SRBI untuk menjaga rupiah sangat besar. BI harus membayar bunga tinggi agar tetap menarik dalam pertimbangan investor asing.

 

Kian besarnya porsi SRBI milik asing juga mengandung risiko karena instrumen ini adalah surat utang jangka pendek. Sebagian besar tenornya hanya satu tahun. Jika SRBI milik asing jatuh tempo, BI harus mampu merayu mereka agar tetap menaruh dana di Indonesia. Caranya adalah membeli lagi SRBI baru alias melakukan rollover.

 

Upaya itu sungguh menantang ketika bunga global sedang cenderung naik. BI tentu harus menaikkan pula bunga SRBI agar investor tertarik. Lingkaran bunga tinggi ini akan terus mencekik BI dan tentu ada satu titik balik. Ketika bunga tinggi di pasar global membuat SRBI tak lagi menguntungkan bagi investor asing, SRBI yang kini menjadi penyangga rupiah bisa berbalik fungsi menjadi pintu keluar modal asing dan memicu penurunan nilai rupiah.

 

Pembalikan itu sudah berlangsung di pasar saham. Dana asing terus kabur belum terbendung. Sejak awal tahun hingga 24 September, modal asing yang keluar secara neto sudah mencapai Rp 72 triliun. Buruknya tata kelola pasar saham Indonesia membuat investor asing tak betah. Pemicunya bukan cuma konsekuensi gejolak pasar global atau bunga tinggi.

 

Dalam waktu dekat, sepertinya belum akan muncul faktor positif dari dalam negeri yang dapat memastikan modal portofolio asing tetap bertahan dan tekanan terhadap rupiah mereda. Satu-satunya harapan hanyalah harga minyak cepat mengendur dan bunga The Fed tak jadi melejit. ●

 

Sumber: https://www.tempo.co/ekonomi/rupiah-muram-menjelang-akhir-tahun-2292761

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar