|
Gonta-ganti
Kasir Presiden Redaktur Editorial 1 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026
|
· Sebelum dicopot, Purbaya Yudhi Sadewa
baru saja merombak besar-besaran jajaran bawahannya, terutama di Direktorat
Jenderal Pajak serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. · Untuk menambal penerimaan yang seret
dan pengeluaran yang deras, Purbaya, misalnya, menahan dana bagi hasil untuk
daerah dan pengembalian restitusi pajak. · Pencopotan Purbaya hanya perubahan nama
orang yang duduk di kursi bendahara negara. PENCOPOTAN
Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan tak sepenuhnya mencerminkan
pepatah habis manis sepah dibuang. Menerima panggilan telepon penggantian
saat sedang mengikuti rapat dengan Dewan Perwakilan Daerah, ia memang tengah
dipermalukan. Tapi penggantian mendadak itu menunjukkan lemahnya posisi tawar
Menteri Keuangan. Bahkan setelah mengikuti pelbagai kemauan Presiden,
termasuk dengan mengabaikan sejumlah prinsip disiplin fiskal, ia tetap dengan
mudah ditendang. Sebelum dicopot,
Purbaya baru saja merombak besar-besaran jajaran bawahannya, terutama di
Direktorat Jenderal Pajak serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dua
lembaga yang dipimpin orang dekat Presiden Prabowo Subianto. Keberatan
terhadap kocok ulang tersebut, seorang pejabat melambung ke Istana.
Perombakan pun tertahan, malah Purbaya yang angkat kaki dari Lapangan
Banteng—kantor Kementerian Keuangan. Intrik
tersebut hanyalah puncak. Sudah lama Purbaya tak akur dengan sejumlah
bawahan, termasuk wakilnya, Suahasil Nazara, yang kemudian menggantikannya.
Sebelumnya posisi Purbaya relatif aman karena dia tak menyenggol orang dekat
Prabowo dan selalu mengikuti kemauan Presiden. Purbaya
mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk menopang
program-program favorit Prabowo yang menyedot anggaran besar, seperti makan
bergizi gratis dan koperasi merah putih. Untuk menambal penerimaan yang seret
dan pengeluaran yang deras, Purbaya menahan dana bagi hasil untuk daerah dan
pengembalian restitusi pajak. Dia juga mengejar Badan Pengelola Investasi
Danantara agar menyetorkan dividen ke kas negara. Banyak
yang mengeluhkan cara Purbaya mengelola anggaran. Tapi sambatan tersebut
seharusnya dialamatkan kepada Purbaya dan Prabowo sekaligus. Ambisi Prabowo
dijalankan tanpa reserve oleh Purbaya meski harus mengabaikan disiplin
fiskal. Dengan kata lain, siapa pun yang menjadi Menteri Keuangan, untuk bisa
bertahan di posisinya, dia akan mengulangi apa yang dilakukan Purbaya. Karena
itu, penggantian Purbaya bukanlah indikasi bahwa Prabowo ingin kembali pada
kebijakan fiskal yang lebih teknokratis. Penggantian itu semata-mata
merupakan dampak pergulatan kekuasaan. Menteri
Suahasil akan mengalami tantangan serupa. Pengetahuan dan pengalamannya di
bidang fiskal akan berhadapan dengan ambisi Prabowo yang dalam banyak hal
bertentangan dengan hukum ekonomi. Ia akan mendayung di antara dua karang:
mempertahankan kebijakan fiskal yang berpihak pada kepentingan publik dan
menjaga loyalitasnya kepada Presiden. Pernyataan
Suahasil bahwa APBN harus mendukung program prioritas pemerintah memang bisa
membuat bergidik. Pernyataannya bahwa dia akan mengelola APBN secara kredibel
harus dibuktikan bukan dengan sekadar menjaga defisit di bawah 3 persen,
melainkan juga dengan membelanjakan uang negara secara proporsional dan
rasional. Kepercayaan
terhadap pengelolaan APBN juga dapat diraih jika tak ada lagi pengalihan
beban fiskal dari pusat ke daerah untuk membiayai proyek Prabowo, yang
menyebabkan krisis fiskal di daerah dan memandekkan pembangunan serta
pelayanan publik. Selama ini tata kelola keuangan negara juga tak kredibel
karena pemerintah menyamarkan risiko keuangan negara lewat lembaga seperti
Danantara. Kredibilitas
sulit diraih jika Prabowo tak berubah—harapan yang seperti menggantang asap.
Ruang gerak Suahasil akan tetap dibatasi Presiden dan membentur tembok ketika
berhadapan dengan kepentingan Istana. Sebagai
Menteri Keuangan, Suahasil harus berani mengerem ambisi Presiden yang tidak
masuk akal. Ia boleh jadi akan mengalami hal yang sama dengan Sri Mulyani
Indrawati, Menteri Keuangan sebelum Purbaya. Pada era Sri Mulyani, pemotongan
belanja kementerian dan pemerintah daerah pernah dilakukan orang-orang dekat
Prabowo tanpa melibatkan Menteri Keuangan. Selama
Prabowo terus memaksakan proyek yang tidak mendesak tapi boros anggaran,
siapa pun yang menjadi Menteri Keuangan akan menghadapi persoalan yang sama.
Menteri Keuangan akhirnya menjadi kasir belaka: mencari pemasukan dan
membayar tagihan proyek Presiden yang tak masuk akal. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/reshuflle-menteri-keuangan-purbaya-yudhi-sadewa-suahasil-nazara-2288046 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar