|
Multatuli
yang Tak Pernah Pergi Aisha Shaidra : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026
|
· Meski cuma sebentar tinggal di Lebak,
Multatuli terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat lewat berbagai simbol
di Rangkasbitung. · Warisan Multatuli bertahan lebih dari
satu abad karena kepekaan terhadap ketidakadilan, keberanian bertindak, dan
kemampuan menulisnya yang melampaui zaman. · Namun lebih banyak orang yang belum
membaca karya monumentalnya, Max Havelaar. MULTATULI
mungkin hanya 84 hari berada di Lebak. Kurang dari tiga bulan. Namun lebih
dari 160 tahun setelah ia meninggalkan Rangkasbitung—ibu kota kabupaten yang
kini masuk Provinsi Banten—namanya terus melekat di kota itu. Ada jalan,
museum, apotek, pertokoan, media alternatif, kegiatan, dan komunitas yang
mengabadikan namanya, terlepas dari pernah membaca karyanya atau tidak. Arjan
Onderdenwijngaard datang ke Lebak untuk pertama kalinya pada 1987 pada usia
26 tahun. Bersama temannya, Theo Wilton van Reede, dia menelusuri jejak
Multatuli—nama samaran Eduard Douwes Dekker—pengarang Max Havelaar. Novel
yang terbit pertama kali pada 1860 ini dianggap sebagai salah satu karya
sastra terpenting karena mengungkap kekejaman kolonialisme dan menginspirasi
banyak tokoh revolusioner dunia. Kunjungan itu bertepatan dengan 100 tahun
wafatnya sang penulis. “Mencari
di mana dia pernah tinggal, ke mana dia pergi, dan tempat-tempat yang
berkaitan dengannya,” kata Onderdenwijngaard kepada Tempo di Slipi, Jakarta
Barat, pada Jumat, 21 Agustus 2026. Dua sekawan dari Katholieke Radio Omroep,
Belanda, itu menelusuri rute perjalanan Multatuli dari Serang menuju
Pandeglang dan Rangkasbitung. "Dari Serang ke Pandeglang, kami bahkan
naik dokar untuk mendapatkan semacam perasaan bagaimana perjalanan pada zaman
itu," katanya. Mereka
juga mendatangi kawasan Badur di Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak, karena
kisah Saijah dan Adinda termasuk bagian penting dalam Max Havelaar. Setiba di
Rangkasbitung, Onderdenwijngaard dan Van Reede mencari bekas tempat tinggal
Multatuli, yakni rumah Bupati Lebak kedua, Raden Tumenggung Adipati Karta
Natanegara, serta makamnya. Di kemudian hari, lokasi-lokasi itu menjadi
tujuan orang-orang yang ingin menelusuri sejarah Multatuli. Lebih
dari tiga dekade kemudian, pada 2019, Onderdenwijngaard kembali ke Lebak.
Kali itu dia ingin melihat perubahan yang terjadi dan mendengarkan kisah
masyarakat yang hidup di tempat yang pernah ditulis Multatuli. Di Badur, dia
masih menjumpai jalan berbatu dan lumpur. Kerbau yang berseliweran tetap
menjadi pemandangan sehari-hari. Namun rumah panggung yang dulu banyak ia
jumpai telah berganti menjadi rumah berdinding tembok. Dua
rangkaian perjalanan itu menjadi materi dalam Multatuli Leeft in Lebak:
Honderdzestig jaar Max Havelaar in Indonesië yang terbit pada 2021 di
Belanda. Buku itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Lebak
Kota Multatuli: Terjebak antara Feodalisme Lokal dan Kolonialisme Belanda,
yang dirilis pada Agustus 2026. Sejarawan
Bonnie Triyana, yang lahir dan besar di Rangkasbitung, mengamini adanya
pergeseran yang disampaikan Onderdenwijngaard. Menurut dia, perubahan fisik
dan perilaku masyarakat memang terjadi. Tapi, secara struktural, banyak
kondisi yang begitu-begitu saja. Ia mencontohkan penduduk sejumlah wilayah di
Lebak yang masih sulit mengakses pendidikan dan ekonomi. Angka rata-rata lama
sekolah disebut hanya sekitar 6,7 tahun atau setara dengan sekolah dasar. Sejumlah
persoalan lama pun masih berseliweran, dari tingginya angka kematian ibu dan
bayi, pengangguran, serta pernikahan dini dan rendahnya tingkat partisipasi
kuliah. “Banyak persoalan yang harus diselesaikan,” ujar anggota Dewan
Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut. Bonnie
turut membantu Onderdenwijngaard mendokumentasikan perjalanan di Lebak dan
merekamnya dalam film dokumenter After Multatuli Left. Onderdenwijngaard
menyambangi pasar dan berbincang dengan para pedagang, termasuk Haji Baden,
tukang beras yang 40 tahun berjualan di sana. Dia menceritakan kondisi pasar
dulu dan sekarang. Onderdenwijngaard
juga mewawancarai penjaga warung makan di pasar yang hanya berpendidikan
sekolah menengah pertama. Perempuan itu memilih membantu kakaknya berjualan
agar tak terus membebani kedua orang tuanya. Pendekatan
itulah yang dipilih Onderdenwijngaard saat ia kembali menyusuri Lebak.
Sementara dulu dia datang untuk mencari warisan Multatuli, kini ia ingin
memahami orang-orang yang hidup di kota yang pernah menjadi bagian dari
cerita Max Havelaar. Di samping membuat film dokumenter, Onderdenwijngaard
memanfaatkan masa pandemi Covid-19 untuk menuliskan perjalanannya dan segala
hal yang ia ketahui soal Multatuli dan membukukannya dalam Multatuli Leeft in
Lebak. ••• DI
Rangkasbitung, nama Multatuli terpatri di sebentang jalan, apotek, pertokoan,
dan tempat lain. Namanya juga diabadikan sebagai asma jalan di Surabaya,
Bandung, dan Medan. Namun,
di balik popularitas itu, tidak semua orang mengenal Multatuli—ataupun Eduard
Douwes Dekker—dari bukunya. Menurut Bonnie Triyana, nama Multatuli bertahan
karena menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat. Pemerintah
dan sejumlah pihak lain kemudian turut mengabadikannya dalam berbagai nama
tempat, entah mereka membaca Max Havelaar entah tidak. Bonnie menilai
pelajaran di sekolah belum membuat masyarakat terbiasa membaca karya sastra.
Akibatnya, banyak orang mengenal nama Multatuli tapi tidak memahami apa yang
ditulisnya. Saat
Tempo berkunjung ke Museum Multatuli di Rangkasbitung pada Ahad, 13 September
2026, omongan Bonnie terbukti. Beberapa pengunjung yang Tempo wawancarai
mengaku belum pernah membaca karya Multatuli. Contohnya
Tri Andika Saputra, guru olahraga di Sekolah Dasar Negeri Larangan, Cilegon,
Banten, yang siang itu membawa 15 siswanya ke Museum Multatuli. Andika
pertama kali berkunjung ke sana saat menjadi siswa sekolah menengah atas.
Kali ini dia datang bersama murid-muridnya, Kedatangannya
kali ini dilakukan atas permintaan murid-muridnya, generasi alfa yang sedang
bersiap mengikuti lomba pramuka tingkat provinsi pada November 2026. “Tahu
namanya, tapi belum pernah baca karyanya,” tutur Andika. Rizal,
mahasiswa arsitektur Universitas Faletehan di Serang, setali tiga uang. Dia
mengenal sebatas nama Multatuli sejak masa sekolah menengah pertama. Dia
datang ke sana siang itu untuk mengobservasi fungsi dan peran bangunan museum
terhadap perilaku serta pengalaman pengunjung. “Baru akhirnya tahu Multatuli
itu nama pena Eduard Douwes Dekker,” ujarnya. Ubaidilah
Muchtar, eks Kepala Museum Multatuli, tak heran akan hal itu. Mantan Kepala
Seksi Cagar Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak
ini kerap menjumpai pengunjung yang memang hanya mengenal nama Multatuli.
Bahkan ada yang tidak tahu bahwa Multatuli merujuk pada seorang individu. Namun,
dia melanjutkan, nama itu bukan sekadar mitos yang diwariskan dari satu
generasi ke generasi berikutnya. “Tetap ada orang-orang yang terus membaca, membicarakan,
dan membawa Multatuli ke ruang-ruang baru,” kata Ubaidilah. Dia
mencontohkan pemilik Apotek Multatuli di Pasar Rangkasbitung. Ubaidilah
menemuinya saat menelusuri jejak Multatuli pada 2010. Pemilik apotek
menyematkan label itu dengan mengacu pada Max Havelaar. Ubaidilah mendapati
ketertarikan pemilik apotek terhadap Multatuli diwariskan dari ayahnya.
Adapun ayahnya mendengar cerita antikolonialisme itu dari kakek-neneknya.
“Jadi, pada setiap periode, ada orang-orang yang menaruh perhatian terhadap
sejarah kotanya," ujar Ubaidilah. Warisan
itu hidup sejak generasi-generasi terdahulu. Pada 1930-an, misalnya, ada
Jalan Multatuli di Rangkasbitung. Buktinya adalah berita dalam surat kabar
tentang pembukaan rumah sakit dengan alamat di jalan itu pada 1931. Meski
tidak berarti semua orang membaca Max Havelaar, penyematan nama-nama tersebut
menunjukkan jejak Douwes Dekker alias Multatuli selalu terpatri. Ubaidilah
mengatakan, pada masa lalu, guru-guru sejarah di Rangkasbitung membawa nama
Multatuli ke ruang kelas. Sejumlah peneliti dan penulis dari luar negeri pun
datang untuk menelusuri kembali kota yang pernah ditinggali Douwes Dekker. Kehadiran
Museum Multatuli di Rangkasbitung sejak 2018 memperkuat jejak sejarah
tersebut. Tingginya animo masyarakat terlihat dari angka kunjungan sepanjang
2018-2023. Tahun 2019 menjadi periode paling sibuk dengan 71.965
pengunjung—lebih dari dua kali lipat dibanding pada 2018. Namun
keramaian itu tak bertahan lama. Pandemi Covid-19 yang mulai melanda pada
awal 2020 membuat jumlah pengunjung merosot. Pada tahun-tahun berikutnya
memang ada tanda-tanda pemulihan. Tapi, hingga 2023, jumlah pengunjung belum
juga kembali menyamai capaian 2019. Kehadiran
Museum Multatuli, Perpustakaan Saidjah Adinda di sebelahnya, dan ruang publik
lain di sekitar museum itu hingga kini ramai digunakan dan dimanfaatkan
masyarakat sekitar untuk beragam aktivitas. Sebetulnya Multatuli tidak
menjadi aktor tunggal di sana. Museum itu juga menampilkan sejarah perjuangan
rakyat Banten terhadap kolonialisme seperti yang dipimpin Nyimas Gamparan dan
Haji Wakhia. ••• KEABADIAN
nama Multatuli, menurut Ubaidilah Muchtar, tidak dapat dilepaskan dari Max
Havelaar. Dalam novel itu, Douwes Dekker menuliskan pengalamannya sebagai
pegawai pemerintah Hindia Belanda. “Ada kisah Saijah dan Adinda. Ada cerita
tentang kerbau yang hilang. Ada keluarga yang harus meninggalkan kampung
untuk mencari pekerjaan akibat tanam paksa,” tutur Ubaidilah. Multatuli
menghadirkan persoalan kemiskinan, permasalahan pajak, korupsi, dan, yang
paling penting, hubungan yang timpang antara penguasa dan rakyat. Douwes
Dekker menyerap semua permasalahan itu dalam waktu kurang dari tiga bulan.
"Jadi bukan soal lama atau sebentarnya seseorang tinggal di suatu
tempat, melainkan peran apa yang ia jalani di tempat itu," kata
Ubaidilah. Apa yang Multatuli rasakan dan tuliskan dalam Max Havelaar jauh
melampaui pekerjaannya sebagai asisten Residen Lebak. Ubaidilah
meyakini ada setidaknya tiga hal yang membuat suara Multatuli terus bergema
sampai hari ini. Pertama, kepekaannya terhadap ketidakadilan. Kedua,
keberaniannya melakukan sesuatu ketika menemukan persoalan. "Serta
kemampuannya menuliskan kegelisahan menjadi karya yang bisa dibaca melampaui
zamannya,” ujarnya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/arsip/memori-multatuli-di-rangkasbitung-lebak-2287954 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar