Senin, 21 September 2026

 

Multatuli yang Tak Pernah Pergi

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026

 

 

                                                           

·      Meski cuma sebentar tinggal di Lebak, Multatuli terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat lewat berbagai simbol di Rangkasbitung.

 

·      Warisan Multatuli bertahan lebih dari satu abad karena kepekaan terhadap ketidakadilan, keberanian bertindak, dan kemampuan menulisnya yang melampaui zaman.

 

·      Namun lebih banyak orang yang belum membaca karya monumentalnya, Max Havelaar.

 

MULTATULI mungkin hanya 84 hari berada di Lebak. Kurang dari tiga bulan. Namun lebih dari 160 tahun setelah ia meninggalkan Rangkasbitung—ibu kota kabupaten yang kini masuk Provinsi Banten—namanya terus melekat di kota itu. Ada jalan, museum, apotek, pertokoan, media alternatif, kegiatan, dan komunitas yang mengabadikan namanya, terlepas dari pernah membaca karyanya atau tidak.

 

Arjan Onderdenwijngaard datang ke Lebak untuk pertama kalinya pada 1987 pada usia 26 tahun. Bersama temannya, Theo Wilton van Reede, dia menelusuri jejak Multatuli—nama samaran Eduard Douwes Dekker—pengarang Max Havelaar. Novel yang terbit pertama kali pada 1860 ini dianggap sebagai salah satu karya sastra terpenting karena mengungkap kekejaman kolonialisme dan menginspirasi banyak tokoh revolusioner dunia. Kunjungan itu bertepatan dengan 100 tahun wafatnya sang penulis.

 

“Mencari di mana dia pernah tinggal, ke mana dia pergi, dan tempat-tempat yang berkaitan dengannya,” kata Onderdenwijngaard kepada Tempo di Slipi, Jakarta Barat, pada Jumat, 21 Agustus 2026. Dua sekawan dari Katholieke Radio Omroep, Belanda, itu menelusuri rute perjalanan Multatuli dari Serang menuju Pandeglang dan Rangkasbitung. "Dari Serang ke Pandeglang, kami bahkan naik dokar untuk mendapatkan semacam perasaan bagaimana perjalanan pada zaman itu," katanya.

 

Mereka juga mendatangi kawasan Badur di Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak, karena kisah Saijah dan Adinda termasuk bagian penting dalam Max Havelaar. Setiba di Rangkasbitung, Onderdenwijngaard dan Van Reede mencari bekas tempat tinggal Multatuli, yakni rumah Bupati Lebak kedua, Raden Tumenggung Adipati Karta Natanegara, serta makamnya. Di kemudian hari, lokasi-lokasi itu menjadi tujuan orang-orang yang ingin menelusuri sejarah Multatuli.

 

Lebih dari tiga dekade kemudian, pada 2019, Onderdenwijngaard kembali ke Lebak. Kali itu dia ingin melihat perubahan yang terjadi dan mendengarkan kisah masyarakat yang hidup di tempat yang pernah ditulis Multatuli. Di Badur, dia masih menjumpai jalan berbatu dan lumpur. Kerbau yang berseliweran tetap menjadi pemandangan sehari-hari. Namun rumah panggung yang dulu banyak ia jumpai telah berganti menjadi rumah berdinding tembok.

 

Dua rangkaian perjalanan itu menjadi materi dalam Multatuli Leeft in Lebak: Honderdzestig jaar Max Havelaar in Indonesië yang terbit pada 2021 di Belanda. Buku itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Lebak Kota Multatuli: Terjebak antara Feodalisme Lokal dan Kolonialisme Belanda, yang dirilis pada Agustus 2026.

 

Sejarawan Bonnie Triyana, yang lahir dan besar di Rangkasbitung, mengamini adanya pergeseran yang disampaikan Onderdenwijngaard. Menurut dia, perubahan fisik dan perilaku masyarakat memang terjadi. Tapi, secara struktural, banyak kondisi yang begitu-begitu saja. Ia mencontohkan penduduk sejumlah wilayah di Lebak yang masih sulit mengakses pendidikan dan ekonomi. Angka rata-rata lama sekolah disebut hanya sekitar 6,7 tahun atau setara dengan sekolah dasar.

 

Sejumlah persoalan lama pun masih berseliweran, dari tingginya angka kematian ibu dan bayi, pengangguran, serta pernikahan dini dan rendahnya tingkat partisipasi kuliah. “Banyak persoalan yang harus diselesaikan,” ujar anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut.

 

Bonnie turut membantu Onderdenwijngaard mendokumentasikan perjalanan di Lebak dan merekamnya dalam film dokumenter After Multatuli Left. Onderdenwijngaard menyambangi pasar dan berbincang dengan para pedagang, termasuk Haji Baden, tukang beras yang 40 tahun berjualan di sana. Dia menceritakan kondisi pasar dulu dan sekarang.

 

Onderdenwijngaard juga mewawancarai penjaga warung makan di pasar yang hanya berpendidikan sekolah menengah pertama. Perempuan itu memilih membantu kakaknya berjualan agar tak terus membebani kedua orang tuanya.

 

Pendekatan itulah yang dipilih Onderdenwijngaard saat ia kembali menyusuri Lebak. Sementara dulu dia datang untuk mencari warisan Multatuli, kini ia ingin memahami orang-orang yang hidup di kota yang pernah menjadi bagian dari cerita Max Havelaar. Di samping membuat film dokumenter, Onderdenwijngaard memanfaatkan masa pandemi Covid-19 untuk menuliskan perjalanannya dan segala hal yang ia ketahui soal Multatuli dan membukukannya dalam Multatuli Leeft in Lebak.

 

•••

 

DI Rangkasbitung, nama Multatuli terpatri di sebentang jalan, apotek, pertokoan, dan tempat lain. Namanya juga diabadikan sebagai asma jalan di Surabaya, Bandung, dan Medan.

 

Namun, di balik popularitas itu, tidak semua orang mengenal Multatuli—ataupun Eduard Douwes Dekker—dari bukunya. Menurut Bonnie Triyana, nama Multatuli bertahan karena menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.

 

Pemerintah dan sejumlah pihak lain kemudian turut mengabadikannya dalam berbagai nama tempat, entah mereka membaca Max Havelaar entah tidak. Bonnie menilai pelajaran di sekolah belum membuat masyarakat terbiasa membaca karya sastra. Akibatnya, banyak orang mengenal nama Multatuli tapi tidak memahami apa yang ditulisnya.

 

Saat Tempo berkunjung ke Museum Multatuli di Rangkasbitung pada Ahad, 13 September 2026, omongan Bonnie terbukti. Beberapa pengunjung yang Tempo wawancarai mengaku belum pernah membaca karya Multatuli.

 

Contohnya Tri Andika Saputra, guru olahraga di Sekolah Dasar Negeri Larangan, Cilegon, Banten, yang siang itu membawa 15 siswanya ke Museum Multatuli. Andika pertama kali berkunjung ke sana saat menjadi siswa sekolah menengah atas. Kali ini dia datang bersama murid-muridnya,

 

Kedatangannya kali ini dilakukan atas permintaan murid-muridnya, generasi alfa yang sedang bersiap mengikuti lomba pramuka tingkat provinsi pada November 2026. “Tahu namanya, tapi belum pernah baca karyanya,” tutur Andika.

 

Rizal, mahasiswa arsitektur Universitas Faletehan di Serang, setali tiga uang. Dia mengenal sebatas nama Multatuli sejak masa sekolah menengah pertama. Dia datang ke sana siang itu untuk mengobservasi fungsi dan peran bangunan museum terhadap perilaku serta pengalaman pengunjung. “Baru akhirnya tahu Multatuli itu nama pena Eduard Douwes Dekker,” ujarnya.

 

Ubaidilah Muchtar, eks Kepala Museum Multatuli, tak heran akan hal itu. Mantan Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak ini kerap menjumpai pengunjung yang memang hanya mengenal nama Multatuli. Bahkan ada yang tidak tahu bahwa Multatuli merujuk pada seorang individu.

 

Namun, dia melanjutkan, nama itu bukan sekadar mitos yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. “Tetap ada orang-orang yang terus membaca, membicarakan, dan membawa Multatuli ke ruang-ruang baru,” kata Ubaidilah.

 

Dia mencontohkan pemilik Apotek Multatuli di Pasar Rangkasbitung. Ubaidilah menemuinya saat menelusuri jejak Multatuli pada 2010. Pemilik apotek menyematkan label itu dengan mengacu pada Max Havelaar. Ubaidilah mendapati ketertarikan pemilik apotek terhadap Multatuli diwariskan dari ayahnya. Adapun ayahnya mendengar cerita antikolonialisme itu dari kakek-neneknya. “Jadi, pada setiap periode, ada orang-orang yang menaruh perhatian terhadap sejarah kotanya," ujar Ubaidilah.

 

Warisan itu hidup sejak generasi-generasi terdahulu. Pada 1930-an, misalnya, ada Jalan Multatuli di Rangkasbitung. Buktinya adalah berita dalam surat kabar tentang pembukaan rumah sakit dengan alamat di jalan itu pada 1931.

 

Meski tidak berarti semua orang membaca Max Havelaar, penyematan nama-nama tersebut menunjukkan jejak Douwes Dekker alias Multatuli selalu terpatri. Ubaidilah mengatakan, pada masa lalu, guru-guru sejarah di Rangkasbitung membawa nama Multatuli ke ruang kelas. Sejumlah peneliti dan penulis dari luar negeri pun datang untuk menelusuri kembali kota yang pernah ditinggali Douwes Dekker.

 

Kehadiran Museum Multatuli di Rangkasbitung sejak 2018 memperkuat jejak sejarah tersebut. Tingginya animo masyarakat terlihat dari angka kunjungan sepanjang 2018-2023. Tahun 2019 menjadi periode paling sibuk dengan 71.965 pengunjung—lebih dari dua kali lipat dibanding pada 2018.

 

Namun keramaian itu tak bertahan lama. Pandemi Covid-19 yang mulai melanda pada awal 2020 membuat jumlah pengunjung merosot. Pada tahun-tahun berikutnya memang ada tanda-tanda pemulihan. Tapi, hingga 2023, jumlah pengunjung belum juga kembali menyamai capaian 2019.

 

Kehadiran Museum Multatuli, Perpustakaan Saidjah Adinda di sebelahnya, dan ruang publik lain di sekitar museum itu hingga kini ramai digunakan dan dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk beragam aktivitas. Sebetulnya Multatuli tidak menjadi aktor tunggal di sana. Museum itu juga menampilkan sejarah perjuangan rakyat Banten terhadap kolonialisme seperti yang dipimpin Nyimas Gamparan dan Haji Wakhia.

 

•••

 

KEABADIAN nama Multatuli, menurut Ubaidilah Muchtar, tidak dapat dilepaskan dari Max Havelaar. Dalam novel itu, Douwes Dekker menuliskan pengalamannya sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda. “Ada kisah Saijah dan Adinda. Ada cerita tentang kerbau yang hilang. Ada keluarga yang harus meninggalkan kampung untuk mencari pekerjaan akibat tanam paksa,” tutur Ubaidilah.

 

Multatuli menghadirkan persoalan kemiskinan, permasalahan pajak, korupsi, dan, yang paling penting, hubungan yang timpang antara penguasa dan rakyat. Douwes Dekker menyerap semua permasalahan itu dalam waktu kurang dari tiga bulan. "Jadi bukan soal lama atau sebentarnya seseorang tinggal di suatu tempat, melainkan peran apa yang ia jalani di tempat itu," kata Ubaidilah. Apa yang Multatuli rasakan dan tuliskan dalam Max Havelaar jauh melampaui pekerjaannya sebagai asisten Residen Lebak.

 

Ubaidilah meyakini ada setidaknya tiga hal yang membuat suara Multatuli terus bergema sampai hari ini. Pertama, kepekaannya terhadap ketidakadilan. Kedua, keberaniannya melakukan sesuatu ketika menemukan persoalan. "Serta kemampuannya menuliskan kegelisahan menjadi karya yang bisa dibaca melampaui zamannya,” ujarnya.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/arsip/memori-multatuli-di-rangkasbitung-lebak-2287954

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar