|
Kebenaran yang Kita Cari di Sisi Ranjang Rumah Sakit Dimitri
Mahayana : Dosen
Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang
& founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung. |
KUMPARAN, 22 September 2026
|
Dini hari, di sebuah
ruang ICU, seorang ibu duduk menunggu. Anaknya baru saja menjalani operasi
besar. Dokter keluar. Wajahnya datar, sulit dibaca. Ibu itu bertanya satu
kalimat pendek, "Dok, benar anak saya akan sembuh?" Pertanyaan itu sederhana.
Tapi di dalamnya tersimpan sesuatu yang sangat mendasar dalam sejarah
pemikiran manusia. Apa sebenarnya yang kita maksud ketika kita berkata
"benar"? Kita mengucapkan kata itu
setiap hari. Berita ini benar. Obat ini benar-benar manjur. Rumus ini benar.
Tapi jarang kita berhenti sejenak dan bertanya, benar itu apa sebenarnya?
Filsafat sains punya jawaban yang lebih kaya dari yang kita kira. Dan jawaban
itu, jika direnungkan pelan-pelan, bisa mengubah cara kita menjalani hidup. Benar Berarti Ada Titik paling dasar dari
semua teori kebenaran adalah ini. Sesuatu disebut benar kalau ia benar-benar
eksis, benar-benar nyata. Keyakinan kita tentang sesuatu baru layak disebut
benar kalau sesuatu itu memang ada. Lingkaran yang sekaligus
segitiga tidak pernah bisa ada di alam nyata. Karena itu pernyataan semacam
itu tidak benar, bukan karena kita tidak suka mendengarnya, tapi karena ia
mustahil punya tempat dalam kenyataan. Sebaliknya, matahari yang terbit di
timur dan tenggelam di barat itu benar, karena kita menyaksikannya setiap
hari, konsisten, dan nyata adanya. Namun pertanyaan sang ibu
di ruang ICU tidak sesederhana itu. Ia tidak sedang bertanya tentang
lingkaran atau matahari. Ia sedang bertanya tentang sesuatu yang jauh lebih
personal, dan di situlah empat cara manusia menguji kebenaran mulai bekerja. Empat Jalan Menuju
Kebenaran *Logika.* Cara pertama
menguji kebenaran adalah lewat konsistensi. Sesuatu tidak mungkin benar kalau
ia melanggar prinsip non-kontradiksi, kalau ia menjadi dua hal yang saling
meniadakan pada saat bersamaan. Sebuah sistem kendali tidak mungkin sekaligus
stabil dan tidak stabil. Bumi tidak mungkin sekaligus bulat dan datar. Ketika
sebuah klaim mengandung kontradiksi internal, ia gugur sebelum sempat diuji
ke dunia nyata. *Korespondensi.* Cara
kedua lebih akrab bagi kita. Sesuatu benar kalau ia sesuai dengan fakta.
Gelombang elektromagnetik itu nyata karena bisa diukur. Massa bisa dikonversi
menjadi energi karena persamaannya terbukti berulang kali di laboratorium.
Rancangan data center yang baik benar-benar bisa menurunkan konsumsi
energinya, karena angkanya bisa dihitung dan dicek. Inilah kebenaran yang
paling banyak dipakai sains modern, kebenaran yang tunduk pada pengukuran. *Pragmatis.* Cara ketiga
lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sesuatu dianggap benar kalau ia
benar-benar bermanfaat, benar-benar membawa hasil. Obat dikatakan benar
manjur kalau pasien memang pulih. Sebuah model machine learning dikatakan
benar bekerja kalau ia benar-benar menurunkan angka penipuan di mesin ATM
sebuah bank hingga puluhan kali lipat. Sebaliknya, sebuah solusi teknis yang
secara matematis elegan bisa saja tidak benar secara pragmatis, kalau
ternyata terlalu rumit dipakai manusia biasa. Kebenaran, dalam pengertian
ini, diuji oleh dunia yang harus dijalani, bukan hanya dunia yang harus
dihitung. *Konsensus.* Cara keempat
adalah kebenaran yang disepakati bersama oleh komunitas yang dipercaya.
Sebuah bank dianggap aman karena telah tersertifikasi ISO 27001. Sebuah data
center dianggap andal karena telah lolos standar Tier 3 dari lembaga yang
berwenang. Para ahli epidemiologi mempercayai model penyebaran penyakit
tertentu bukan karena mereka menyaksikan sendiri setiap penularan, tapi
karena komunitas ilmiah telah menguji dan menyepakatinya bersama. Kebenaran
jenis ini adalah kebenaran yang dibangun secara sosial, lewat kepercayaan
yang teruji. Kembali ke Ruang ICU Dokter di ruang ICU tadi
sebenarnya sedang bergulat dengan keempat jalan kebenaran itu sekaligus. Ia
tidak bisa menjawab dengan kontradiksi, itu soal logika. Ia melihat hasil
pemindaian, denyut jantung, kadar oksigen, itu soal korespondensi dengan
fakta. Ia mempertimbangkan riwayat pasien-pasien serupa yang pernah ia rawat
dan hasilnya, itu soal pragmatis. Dan ia bersandar pada pedoman klinis yang
disepakati komunitas kedokteran dunia, itu soal konsensus. Dokter itu akhirnya
menjawab dengan tenang, "Insya Allah, tanda-tandanya baik." Bukan
kepastian mutlak. Tapi kebenaran yang dipijakkan pada empat fondasi
sekaligus, seteguh yang bisa dicapai manusia. Ibu itu menangis. Bukan
karena mendengar kepastian, tapi karena mendengar kejujuran yang berpijak
pada kenyataan. Dan di situlah letak keindahan sains yang sesungguhnya. Sains
bukan alat untuk memberi kita jawaban instan. Sains adalah cara paling jujur
yang manusia punya untuk berhadapan dengan kenyataan, dengan segala
kerendahan hati yang menyertainya. Kebenaran sebagai Rasio
yang Romantik Ada yang sering terlewat
ketika kita berbicara soal kebenaran ilmiah. Kita mengira ketelitian dan
kelembutan hati adalah dua hal yang bertentangan. Padahal keduanya justru
saling menyempurnakan. Logika yang ketat dan data yang terukur bukan lawan
dari empati. Rasio dan rasa bisa berjalan beriringan, seperti dokter yang
membaca angka-angka pemindaian sambil tetap menatap mata seorang ibu yang
menunggu. Boleh jadi di sinilah
pelajaran terdalam dari teori kebenaran. Ia bukan hanya perkakas
laboratorium. Ia adalah cara kita berani jujur pada kenyataan, sekaligus
tetap merawat harapan. Kebenaran ilmiah yang matang justru mengajarkan kerendahan
hati, karena ia tahu batas dirinya. Ia tidak pernah mengklaim tahu segalanya,
tapi ia terus mencari, mengukur ulang, menguji ulang. Tiga bulan kemudian, anak
itu pulang ke rumah dengan berjalan kaki sendiri. Sang ibu berdiri di depan
pintu, memandangi anaknya melangkah, dan berbisik pelan, "Ternyata
benar." Kata sederhana yang dulu ia ucapkan sebagai pertanyaan penuh
cemas, kini menjadi ucapan syukur yang paling nyata. Begitulah kebenaran
bekerja dalam hidup kita. Ia jarang datang sebagai kepastian instan. Ia
datang lewat proses panjang antara logika, fakta, manfaat, dan kepercayaan
bersama. Dan pada akhirnya, kebenaran yang paling berarti bukan sekadar yang
bisa dibuktikan di atas kertas, melainkan yang benar-benar kita alami, kita
rasakan, dan kita syukuri bersama. ● Referensi - Aristoteles,
Metaphysics, Book IV, tentang prinsip non-kontradiksi sebagai dasar logika
klasik. - Alfred
Tarski, "The Semantic Conception of Truth" (1944), rujukan standar
teori korespondensi modern. - William
James, Pragmatism: A New Name for Some Old Ways of Thinking (1907). - Charles
Sanders Peirce, tulisan-tulisan awal tentang kebenaran sebagai hasil akhir
penyelidikan komunitas ilmiah. - Jürgen
Habermas, teori konsensus kebenaran dalam Wahrheitstheorien (1973). - Thomas Kuhn,
The Structure of Scientific Revolutions (1962), tentang peran komunitas
ilmiah dalam menetapkan kebenaran ilmiah. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar