|
Para
Menteri Ekonomi yang Dipecat di Tengah Jalan Fery Firmansyah
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026
|
· Presiden Gus Dur mencopot Menteri
Keuangan Prijadi Praptosuhardjo saat sedang mengikuti rapat bersama DPR. · Indroyono Soesilo kehilangan kursi
menteri ketika menyiapkan peringatan kemerdekaan di Puncak Carstensz. · Drama pencopotan menteri di tengah masa
tugas menjadi salah satu cara presiden menunjukkan kekuatan di tengah
tekanan. KONSENTRASI
saya sudah tidak di sini lagi. Kalimat itu meluncur lamat-lamat, memenggal
rapat antara Menteri Keuangan Prijadi Praptosuhardjo dan Panitia Anggaran
Dewan Perwakilan Rakyat pada 12 Juni 2001. Pada
hari itu, di tengah alotnya pembahasan revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara, Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mendadak merombak jajaran
menteri Kabinet Persatuan Nasional. Prijadi didepak. Kursinya diserahkan
kepada Rizal Ramli, yang sebelumnya menjabat Menteri Koordinator
Perekonomian. Kabar
pencopotan pada hari itu tak mampir lebih dulu ke kuping Prijadi—baik dari
utusan Istana maupun staf Departemen Keuangan. Ia baru mafhum kehilangan
jabatan justru lewat interupsi seorang anggota Dewan. Sang legislator menyela
rapat, mengabarkan bahwa Gus Dur baru saja mengumumkan reshuffle kabinet di
Istana Negara. Prijadi terkejut. Kalimat di awal tulisan ini pun terlontar
dari bibirnya. Toh,
Prijadi cukup legawa. Ketika jurnalis Tempo menyambanginya dua hari setelah
dia lengser, pria yang lahir di Klaten, Jawa Tengah, 26 Juni 1939, itu tak
tampak meratap. Usut punya usut, Gus Dur sebenarnya sudah membisikkan rencana
pemberhentian itu sehari sebelum rapat di Senayan. Namun Prijadi berkukuh
meminta izin kepada sang Presiden menuntaskan rencana perubahan APBN. Ihwal
musabab pendepakannya, Prijadi memilih bungkam. Namun, menurut informasi yang
diterima Tempo kala itu, keputusan Prijadi menaikkan harga bahan bakar minyak
menjadi pemicu. Di mata sebagian besar ekonom, kebijakan itu sehat bagi
perekonomian, tapi tidak populer dan menjadi bunuh diri politik. Apalagi
Prijadi, mantan Direktur Bank Rakyat Indonesia, juga kerap berseberangan
pandangan dengan Rizal Ramli selaku Menteri Koordinator Perekonomian. Kisah
ini berujung duka. Pada 5 Desember 2001 atau sekitar tujuh bulan setelah
lengser dari jabatannya, Prijadi mangkat akibat penyakit lever. Seperempat
abad berselang, lakon serupa kembali muncul. Kali ini menimpa Purbaya Yudhi
Sadewa. Ia kehilangan kursi di kabinet saat sedang mengikuti rapat di
Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Bedanya, Purbaya tengah menghadapi para
senator Dewan Perwakilan Daerah. Presiden Prabowo Subianto mencopotnya, lalu
menunjuk Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebagai pengganti. Kabar
ihwal pemberhentian itu muncul lewat telepon, persis saat Purbaya tengah
berbicara di dalam ruang rapat. Sehari setelah pencopotannya, Purbaya memberi
tahu siapa orang di ujung telepon yang membawa kabar tersebut. Rupanya, dia
adalah Menteri Sekretaris Kabinet Prasetyo Hadi. Syahdan,
tragedi pejabat didongkel di tengah masa tugas tak cuma terjadi di Senayan.
Ada menteri lain yang ibaratnya hilang jabatan ketika dia “bertempur” di
tengah palagan. Dia adalah Indroyono Soesilo, Menteri Koordinator Kemaritiman
dalam Kabinet Kerja di era Presiden Joko Widodo. Jokowi
mengumumkan reshuffle Kabinet Kerja pada 12 Agustus 2015 tatkala Indroyono
tengah menyiapkan peringatan Kemerdekaan RI ke-70 di Puncak Carstensz,
Timika, Papua. Carstensz adalah puncak gunung dengan ketinggian 4.884 meter
di atas permukaan laut yang berselimut es abadi. Sadar
kursinya telah melayang, Indroyono bergegas turun gunung, bertolak kembali ke
Ibu Kota. Di tengah perjalanan, ia menyempatkan diri mengirim pesan
perpisahan lewat telepon seluler kepada para bawahan dan jurnalis. “Sekiranya
ada khilaf, baik disengaja maupun tidak, mohon kiranya dibukakan pintu maaf
sebesar-besarnya,” begitu dia menulis. Nasib
Indroyono persis seperti Prijadi: sama-sama diganti oleh Rizal Ramli. Pencopotan
pejabat negara saat bertugas—apalagi yang lantas menjadi tontonan publik—jelas
bukan kebetulan. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies Bhima
Yudhistira Adhinegara membaca drama politik ini sebagai bentuk pamer kuasa
sekaligus unjuk daya presiden. “Sekuat apa pun pengaruh menteri, di hadapan
presiden, tidak ada yang lebih tinggi posisinya,” tuturnya pada Rabu, 16
September 2026. Lewat
reshuffle semacam ini, kata Bhima, presiden mengirim pesan kepada pembantunya
dan partai koalisi. Jika menteri tak punya loyalitas, siap-siap diganti.
Serentetan peristiwa reshuffle di era Gus Dur hingga Prabowo memiliki benang
merah. “Pemecatan menteri secara mendadak terjadi saat tekanan politik
terhadap presiden sedang memuncak,” ujar Bhima. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/drama-reshuffle-kabinet-menteri-ekonomi-2288043 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar