Senin, 21 September 2026

 

Para Menteri Ekonomi yang Dipecat di Tengah Jalan

Fery Firmansyah :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026

 

 

                                                           

·      Presiden Gus Dur mencopot Menteri Keuangan Prijadi Praptosuhardjo saat sedang mengikuti rapat bersama DPR.

 

·      Indroyono Soesilo kehilangan kursi menteri ketika menyiapkan peringatan kemerdekaan di Puncak Carstensz.

 

·      Drama pencopotan menteri di tengah masa tugas menjadi salah satu cara presiden menunjukkan kekuatan di tengah tekanan.

 

KONSENTRASI saya sudah tidak di sini lagi. Kalimat itu meluncur lamat-lamat, memenggal rapat antara Menteri Keuangan Prijadi Praptosuhardjo dan Panitia Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat pada 12 Juni 2001.

 

Pada hari itu, di tengah alotnya pembahasan revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mendadak merombak jajaran menteri Kabinet Persatuan Nasional. Prijadi didepak. Kursinya diserahkan kepada Rizal Ramli, yang sebelumnya menjabat Menteri Koordinator Perekonomian.

 

Kabar pencopotan pada hari itu tak mampir lebih dulu ke kuping Prijadi—baik dari utusan Istana maupun staf Departemen Keuangan. Ia baru mafhum kehilangan jabatan justru lewat interupsi seorang anggota Dewan. Sang legislator menyela rapat, mengabarkan bahwa Gus Dur baru saja mengumumkan reshuffle kabinet di Istana Negara. Prijadi terkejut. Kalimat di awal tulisan ini pun terlontar dari bibirnya.

 

Toh, Prijadi cukup legawa. Ketika jurnalis Tempo menyambanginya dua hari setelah dia lengser, pria yang lahir di Klaten, Jawa Tengah, 26 Juni 1939, itu tak tampak meratap. Usut punya usut, Gus Dur sebenarnya sudah membisikkan rencana pemberhentian itu sehari sebelum rapat di Senayan. Namun Prijadi berkukuh meminta izin kepada sang Presiden menuntaskan rencana perubahan APBN.

 

Ihwal musabab pendepakannya, Prijadi memilih bungkam. Namun, menurut informasi yang diterima Tempo kala itu, keputusan Prijadi menaikkan harga bahan bakar minyak menjadi pemicu. Di mata sebagian besar ekonom, kebijakan itu sehat bagi perekonomian, tapi tidak populer dan menjadi bunuh diri politik. Apalagi Prijadi, mantan Direktur Bank Rakyat Indonesia, juga kerap berseberangan pandangan dengan Rizal Ramli selaku Menteri Koordinator Perekonomian.

 

Kisah ini berujung duka. Pada 5 Desember 2001 atau sekitar tujuh bulan setelah lengser dari jabatannya, Prijadi mangkat akibat penyakit lever.

 

Seperempat abad berselang, lakon serupa kembali muncul. Kali ini menimpa Purbaya Yudhi Sadewa. Ia kehilangan kursi di kabinet saat sedang mengikuti rapat di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Bedanya, Purbaya tengah menghadapi para senator Dewan Perwakilan Daerah. Presiden Prabowo Subianto mencopotnya, lalu menunjuk Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebagai pengganti.

 

Kabar ihwal pemberhentian itu muncul lewat telepon, persis saat Purbaya tengah berbicara di dalam ruang rapat. Sehari setelah pencopotannya, Purbaya memberi tahu siapa orang di ujung telepon yang membawa kabar tersebut. Rupanya, dia adalah Menteri Sekretaris Kabinet Prasetyo Hadi.

 

Syahdan, tragedi pejabat didongkel di tengah masa tugas tak cuma terjadi di Senayan. Ada menteri lain yang ibaratnya hilang jabatan ketika dia “bertempur” di tengah palagan. Dia adalah Indroyono Soesilo, Menteri Koordinator Kemaritiman dalam Kabinet Kerja di era Presiden Joko Widodo.

 

Jokowi mengumumkan reshuffle Kabinet Kerja pada 12 Agustus 2015 tatkala Indroyono tengah menyiapkan peringatan Kemerdekaan RI ke-70 di Puncak Carstensz, Timika, Papua. Carstensz adalah puncak gunung dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut yang berselimut es abadi.

 

Sadar kursinya telah melayang, Indroyono bergegas turun gunung, bertolak kembali ke Ibu Kota. Di tengah perjalanan, ia menyempatkan diri mengirim pesan perpisahan lewat telepon seluler kepada para bawahan dan jurnalis. “Sekiranya ada khilaf, baik disengaja maupun tidak, mohon kiranya dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya,” begitu dia menulis.

 

Nasib Indroyono persis seperti Prijadi: sama-sama diganti oleh Rizal Ramli.

 

Pencopotan pejabat negara saat bertugas—apalagi yang lantas menjadi tontonan publik—jelas bukan kebetulan. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira Adhinegara membaca drama politik ini sebagai bentuk pamer kuasa sekaligus unjuk daya presiden. “Sekuat apa pun pengaruh menteri, di hadapan presiden, tidak ada yang lebih tinggi posisinya,” tuturnya pada Rabu, 16 September 2026.

 

Lewat reshuffle semacam ini, kata Bhima, presiden mengirim pesan kepada pembantunya dan partai koalisi. Jika menteri tak punya loyalitas, siap-siap diganti. Serentetan peristiwa reshuffle di era Gus Dur hingga Prabowo memiliki benang merah. “Pemecatan menteri secara mendadak terjadi saat tekanan politik terhadap presiden sedang memuncak,” ujar Bhima. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/ekonomi/drama-reshuffle-kabinet-menteri-ekonomi-2288043

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar