|
Durian Jonathan Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 27 September 2026
Medan. Saya
hanya punya waktu me time dua jam di
Medan Rabu sore lalu. Yakni setelah tampil di depan 500 lebih nasabah Bank
Permata di sana. Pilihan untuk memanfaatkannya hanya dua: ke Ucok atau ke Si
Bolang --dua-duanya restoran khusus durian.
Sebenarnya saya
ingin kuliner yang lain. Begitu banyak makanan khas Medan. Tapi saya sudah
makan siang dan masih akan makan malam bersama.
Durian Ucok
kini sudah bukan warung pinggir jalan lagi. Ucok sudah ditata seperti umumnya
resto kelas menengah atas: bersih, rapi, terhormat.
Yang membuat
saya tidak bahagia: duriannya habis.
Kok bisa.
"Lagi
tidak musim," kata petugasnya.
"Kok tetap
buka?" tanya saya.
"Siapa
tahu ada yang mau makan durian frozen," jawabnya.
Sebetulnya saya
mau juga. Durian beku tidak turun rasa duriannya. Hanya saja belum bisa dimakan
saat itu juga. Harus ditunggu setidaknya 15 menit. Itu pun masih seperti es.
Harus tunggu empat jam baru mendapat tekstur yang ideal.
Durian beku
umumnya sudah dalam bentuk kupasan. Kalau untuk menghilangkan bekunya pakai
pemanas, rasa dan teksturnya tidak normal.
Saya pernah.
Sekali. Makan durian beku. Masih utuh. Durian itu dibekukan masih lengkap
dengan kulit dan duri-durinya. Membekukannya pakai nitrogen. Tetap saja sangat
sulit membuka kulitnya.
Maka saya pilh
meninggalkan Ucok. Masih ada satu lagi: Si Bolang. Tidak kalah penampilannya.
Bersih, tertata, rapi. Lantainya dibuat dari rumput sintetis yang terawat
hijau.
Letak Si Bolang
hanya 10 menit bermobil dari Ucok. Tapi sejak turun dari mobil sudah terlihat
mengkhawatirkan: tidak ada pajangan durian yang berjajar-jajar. Semua raknya
kosong. Meski sudah pesimistis tetap saja turun sampai ke tujuan: ups... masih
ada lima butir.
"Tinggal
black thorn," ujar pelayannya. Maksudnya: tinggal yang harganya mahal.
Apa boleh buat.
Ambil satu. Dibuka. Benar-benar black thorn. Local black thorn. Saya memakannya
dengan cara black thorn: diisap lembut, dirasakan di mulut, dibiarkan beberapa
detik di lidah --seperti makan es krim di Taman Alice. Lama-lama habis.
Sebenarnya mau
ambil lagi. Tapi tidak tega: yang antre di dekat sisa yang empat itu lebih dari
lima orang.
Masih punya
sisa waktu me time satu jam lagi. Mendung Medan menggelayut hitam. Di sana
hujan sudah datang mendahului Riau, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Dedaunan
pohon sudah tampak hijau sampai pun rumput di bawahnya. Setelah dari Sulawesi
yang kerontang mata terasa sejuk dengan hijaunya Medan.
Dari pada
kehujanan lebih baik balik hotel. Saya minta dilewatkan Lapangan Merdeka.
Memutarinya. Sudah bagus. Penataan lapangan Merdeka saya anggap berhasil.
Saya putuskan
balik ke hotel: saya masih punya utang: hari itu belum olahraga.
Itu gara-gara
paginya harus ke bandara sebelum matahari terbit. Maka kini saatnya bayar
utang.
Saya pun menuju
gym-nya: di lantai 17. Ramai. Saya cari ruang yang biasa untuk yoga. Di situ
enak untuk senam dansa. Ruangnya tidak terlalu besar --musik dari HP pun cukup
terdengar keras oleh kaki saya.
Tapi .. ups...
ruang yoga itu ramai sekali. Riuh. Saling teriak. Mereka tidak yoga. Mereka
main pingpong di ruang itu. Satu meja pingpong dipakai bergantian. Ketika buka
pintu saya ditawari untuk pingpong melawan mereka. Saya lirik kualitas
permainan mereka: kelas Arwana Jaya semua. Saya minder. Dan lagi niat saya ke
situ memang untuk senam dansa.
Di ujung
ruangan terlihat ada panggung. Mungkin biasa dipakai guru yoga untuk mengajar.
Di situlah saya memutar lagu untuk senam. Kaki saya mendengarkan lagunya dengan
susah payah: kalah nyaring dengan teriakan-teriakan pemain pingpong yang puas
bisa mengecohkan bola ke lawannya.
Sore itu saya
senam sendirian --tapi rasanya seperti senam dengan seribu orang.
Komunitas
pingpong di Medan ternyata fanatik. Mereka membeli sendiri meja pingpong itu.
Sesi pingpong mereka berakhir sebelum saya menyudahi semi aerobik. Meja
pingpong itu dilipat. Ditaruh rapi di sudut ruangan --untuk besok lagi.
Malam itu
acaranya berat: prospek ekonomi ke depan. Pembicaranya ahli keuangan dari
Verdhana: Heriyanto Irawan dan fund manager dari Trimegah Jakarta. Heriyanto
belum lama pulang dari Beijing. Ia mendampingi Ketua Dewan Ekonomi Nasional
Luhut B. Panjaitan menemui Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Saya
mencermati pembicaraan mereka: keadaan ekonomi ke depan tidak mudah bagi
pengusaha.
Siangnya ada
juga pertanyaan mengenai ekonomi ke depan bagi pengusaha di Medan.
"Pengusaha itu keadaan sulit harus dibuat mudah. Keadaan mudah harus
dibuat sulit," kata saya. "Pengusaha itu tetap berusaha dalam keadaan
seperti apa pun," tambah saya.
Malam itu,
pengusaha Medan yang terkenal se Indonesia duduk di sebelah saya: Jonathan
Junus. Masih muda. Ia juga nasabah lama Bank Permata. Ayahnya menyekolahkan
Jonathan ke Amerika. Lulus dari North Carolina ia mencoba jadi pengusaha di
sana. Kesimpulannya: masih lebih mudah jadi pengusaha di Indonesia.
Jonathan pun
pulang ke Medan. Ayahnya punya pabrik yang bisa membuat pabrik. Semua pengusaha
sawit tahu perusahaan itu: mampu membuat PKS --pabrik kelapa sawit. Terutama
boilernya.
Saya menganggap
keluarga Jonathan adalah pahlawan Medan --bahkan Indonesia. Pabrik apa pun di
Indonesia biasanya buatan luar negeri. Tapi khusus PKS yang terbanyak adalah
buatan Medan. Mulai dari Aceh sampai Papua --sudah ada satu PKS di Papua.
Ada lebih 1000
pabrik kelapa sawit di seluruh Indonesia. Lebih dari separonya buatan Medan.
Buatan Jonathan. Buatan Tiongkok pun kalah. Apalagi buatan Malaysia. Baru di
PKS kita bisa jadi tuan rumah di negara sendiri.
Kini Jonathan
sudah dipercaya sepenuhnya mengendalikan perusahaan. Ayahnya masih rajin ke
kantor tapi hanya sebagai penasihat.
Perusahaan itu
sendiri didirikan oleh kakeknya. Lalu dikembangkan oleh ayahnya.”Kakek saya
orang hebat. Juga bapak saya. Kakek tidak sekolah tapi menguasai
permesinan," ujar Jonathan. Sang kakek juga berwawasan jauh. Anak-anaknya,
termasuk ayah Jonathan, disekolahkan di Amerika. Perusahaan itu pun kokoh
sampai generasi cucu seperti Jonathan.
Di Medan
ternyata saya tidak hanya menemukan durian. Di Medan saya juga menemukan
pahlawan ekonomi Indonesia. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/970564/durian-jonathan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar