Senin, 21 September 2026

 

Wujud Bioavtur Ramah Lingkungan

Redaktur Editorial 4 :  Redaksi Tempo Mingguan

TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026

 

 

                                                           

·      Patungan investasi Indonesia-Jepang membangun pabrik bahan baku bioavtur di Banyuasin, Sumatera Selatan.

 

·      Masih mengalami kendala bahan baku yang minim karena, meski melimpah, produktivitas perkebunan kelapa rakyat sudah menurun.

 

·      Intensifikasi perkebunan kelapa rakyat perlu didorong untuk memasok bahan baku bioavtur yang berkelanjutan.

 

MESKI hanya menyumbang 1 persen emisi nasional, bahan bakar pesawat tetap perlu tersentuh inovasi ramah lingkungan. Karena itu, pembangunan pabrik minyak kelapa untuk bahan baku bioavtur di Tanjung Api-api, Sumatera Selatan, bisa menjadi penopang mitigasi krisis iklim. PT Green Power Palembang dan Green Power Development Corporation of Japan berinvestasi Rp 310 miliar untuk mengolah kelapa menjadi bahan baku avtur hijau.

 

Pabriknya mulai dibangun awal Januari 2026 di Banyuasin. Kapasitas pengolahan kelapa menjadi minyak mentah pabrik itu sebanyak 30 ribu ton per tahun atau 100 ton per hari yang akan dikirim ke Jepang untuk diolah menjadi bioavtur. Jika rendemen pengolahan menjadi bioavtur berkisar 0,75-0,83 dan densitas 0,75 kilogram per liter, pabrik tersebut menyediakan bahan baku untuk 30-34 juta liter bioavtur setahun. Volume ini kira-kira 0,7 persen kebutuhan avtur secara nasional.

 

Sebagai pionir, inisiatif ini penting terutama karena teknologinya memanfaatkan kelapa nonstandar, yakni kelapa yang tak memenuhi spesifikasi pasar ekspor dan konsumsi. Indonesia punya potensi besar untuk ini. Tahun lalu, menurut data yang diterima Organisasi Pangan Dunia (FAO), produksi kelapa Indonesia mencapai 15 miliar butir, 60 persen diolah industri dalam negeri, 27 persen diekspor, dan sisanya dikonsumsi rumah tangga.

 

Di sini masalahnya. Bahan baku kelapa nonstandar—tua, kecil, atau rusak—belum mencukupi kebutuhan pabrik di Banyuasin itu. Untuk menghasilkan 100 ton minyak kelapa mentah dibutuhkan 500-600 ton kelapa afkir per hari atau hingga 219 ribu ton kelapa per tahun. Produksi kelapa per tahun di Sumatera Selatan baru 68 ribu ton. Artinya, kelapa perlu dipasok dari daerah lain, yang menaikkan biaya distribusi.

 

Skema bisnis tentu sudah diperhitungkan manajemen. Tapi masalah kedua tak kalah pelik: tanaman kelapa rakyat di banyak daerah umumnya berusia 30-40 tahun sehingga produktivitasnya sudah menurun. Di sini inovasi bisa menjadi pendorong ekonomi sirkular. Pemerintah daerah di sekitar Sumatera Selatan perlu mendorong peremajaan kelapa untuk menciptakan rantai pasok bagi pabrik ini. Dengan kata lain, intensifikasi perkebunan kelapa rakyat menjadi jalan keluar inovasi hijau yang terbentuk dari hulu sampai hilir.

 

Ada banyak contoh kemitraan strategis antara investor dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan bahan baku. Di Tanah Laut dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, misalnya, ada contoh bagaimana Bridgestone, perusahaan ban Jepang, mendirikan fasilitas pengolahan karet di Kalimantan yang bermitra dengan masyarakat sebagai pemasok karet dan lateks. Melalui pendampingan yang melibatkan para ahli dari universitas lokal, kemitraan yang sudah berlangsung tujuh tahun ini membuat produksi karet lebih berkualitas dan berkelanjutan.

 

Kemitraan berbasis pemberdayaan masyarakat ini juga sekaligus memulihkan hutan lindung yang terdegradasi akibat perambahan. Masyarakat berhimpun dalam kelompok perhutanan sosial lalu mengembangkan agroforestri karet yang memberikan manfaat ekonomi beragam. Karet dipasok ke fasilitas pengolahan Bridgestone, sedangkan kemiri dan buah-buahan menjadi penambah penghasilan rumah tangga.

 

Jika pabrik minyak kelapa di Banyuasin meniru konsep di Kalimantan itu, mereka bisa membangun rantai pasok bahan baku bioavtur secara berkelanjutan. Inovasi hijau pun ditopang oleh rantai pasok yang memenuhi syarat kelestarian dari aspek sosial.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/produksi-bioavtur-ramah-lingkungan-2288012

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar