|
Wujud
Bioavtur Ramah Lingkungan Redaktur Editorial 4 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026
|
· Patungan investasi Indonesia-Jepang
membangun pabrik bahan baku bioavtur di Banyuasin, Sumatera Selatan. · Masih mengalami kendala bahan baku yang
minim karena, meski melimpah, produktivitas perkebunan kelapa rakyat sudah
menurun. · Intensifikasi perkebunan kelapa rakyat
perlu didorong untuk memasok bahan baku bioavtur yang berkelanjutan. MESKI
hanya menyumbang 1 persen emisi nasional, bahan bakar pesawat tetap perlu
tersentuh inovasi ramah lingkungan. Karena itu, pembangunan pabrik minyak
kelapa untuk bahan baku bioavtur di Tanjung Api-api, Sumatera Selatan, bisa
menjadi penopang mitigasi krisis iklim. PT Green Power Palembang dan Green
Power Development Corporation of Japan berinvestasi Rp 310 miliar untuk
mengolah kelapa menjadi bahan baku avtur hijau. Pabriknya
mulai dibangun awal Januari 2026 di Banyuasin. Kapasitas pengolahan kelapa
menjadi minyak mentah pabrik itu sebanyak 30 ribu ton per tahun atau 100 ton
per hari yang akan dikirim ke Jepang untuk diolah menjadi bioavtur. Jika
rendemen pengolahan menjadi bioavtur berkisar 0,75-0,83 dan densitas 0,75
kilogram per liter, pabrik tersebut menyediakan bahan baku untuk 30-34 juta
liter bioavtur setahun. Volume ini kira-kira 0,7 persen kebutuhan avtur
secara nasional. Sebagai
pionir, inisiatif ini penting terutama karena teknologinya memanfaatkan
kelapa nonstandar, yakni kelapa yang tak memenuhi spesifikasi pasar ekspor
dan konsumsi. Indonesia punya potensi besar untuk ini. Tahun lalu, menurut
data yang diterima Organisasi Pangan Dunia (FAO), produksi kelapa Indonesia
mencapai 15 miliar butir, 60 persen diolah industri dalam negeri, 27 persen
diekspor, dan sisanya dikonsumsi rumah tangga. Di sini
masalahnya. Bahan baku kelapa nonstandar—tua, kecil, atau rusak—belum
mencukupi kebutuhan pabrik di Banyuasin itu. Untuk menghasilkan 100 ton
minyak kelapa mentah dibutuhkan 500-600 ton kelapa afkir per hari atau hingga
219 ribu ton kelapa per tahun. Produksi kelapa per tahun di Sumatera Selatan
baru 68 ribu ton. Artinya, kelapa perlu dipasok dari daerah lain, yang
menaikkan biaya distribusi. Skema
bisnis tentu sudah diperhitungkan manajemen. Tapi masalah kedua tak kalah
pelik: tanaman kelapa rakyat di banyak daerah umumnya berusia 30-40 tahun
sehingga produktivitasnya sudah menurun. Di sini inovasi bisa menjadi
pendorong ekonomi sirkular. Pemerintah daerah di sekitar Sumatera Selatan
perlu mendorong peremajaan kelapa untuk menciptakan rantai pasok bagi pabrik
ini. Dengan kata lain, intensifikasi perkebunan kelapa rakyat menjadi jalan
keluar inovasi hijau yang terbentuk dari hulu sampai hilir. Ada
banyak contoh kemitraan strategis antara investor dan masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan bahan baku. Di Tanah Laut dan Hulu Sungai Tengah,
Kalimantan Selatan, misalnya, ada contoh bagaimana Bridgestone, perusahaan
ban Jepang, mendirikan fasilitas pengolahan karet di Kalimantan yang bermitra
dengan masyarakat sebagai pemasok karet dan lateks. Melalui pendampingan yang
melibatkan para ahli dari universitas lokal, kemitraan yang sudah berlangsung
tujuh tahun ini membuat produksi karet lebih berkualitas dan berkelanjutan. Kemitraan
berbasis pemberdayaan masyarakat ini juga sekaligus memulihkan hutan lindung
yang terdegradasi akibat perambahan. Masyarakat berhimpun dalam kelompok
perhutanan sosial lalu mengembangkan agroforestri karet yang memberikan
manfaat ekonomi beragam. Karet dipasok ke fasilitas pengolahan Bridgestone,
sedangkan kemiri dan buah-buahan menjadi penambah penghasilan rumah tangga. Jika
pabrik minyak kelapa di Banyuasin meniru konsep di Kalimantan itu, mereka
bisa membangun rantai pasok bahan baku bioavtur secara berkelanjutan. Inovasi
hijau pun ditopang oleh rantai pasok yang memenuhi syarat kelestarian dari
aspek sosial. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/produksi-bioavtur-ramah-lingkungan-2288012 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar