|
Beda
Pandangan Dua Cendekiawan Muslim soal Sejarah Islam Stefanus Pramono : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026
|
· Mun’im Sirry berbicara soal sejarah
keislaman yang tak didasari fakta historis. · Muhammad Nuruddin menyangkal berbagai
argumentasi Mun’im Sirry. · Keduanya berbicara tentang pandangan
keislaman, termasuk ihwal tahun kelahiran Nabi. SELAMA
hampir 21 tahun menjadi jurnalis Tempo, saya selalu mempelajari hal baru saat
meliput, menulis, atau mengedit. Salah satu yang menarik bagi saya adalah isu
tentang Islam. Jujur, soal ini tidak terlalu banyak saya ketahui karena saya
besar di keluarga dan sekolah Katolik. Meskipun
tetangga saya kebanyakan muslim, saya paling-paling hanya tahu azan,
“asalamualaikum”, dan “astagfirullah”. Selama saya bekerja, ada juga kawan
yang meminta saya menirukan, “Asyhadu an laa…”. Kurang
ajar dia memang. Syahadat dimain-mainkan. Saya bilang, “Dari dulu ada banyak
orang yang mendoakan saya mendapat hidayah. Sampai sekarang kolom agama di
KTP saya enggak berubah juga.” Mungkin
saya terlihat terlalu Katolik. Enggak, kok. Saya bukan pengikut Yesus yang
taat-taat amat. Kadang saya berdoa, terutama kalau lagi ada maunya. Ada juga
yang menyebut saya Katolik NU (Nahdlatul Ulama). Salah satunya fotografer
Tempo, Gunawan Wicaksono. Kepada
mereka yang mendoakan saya mendapat hidayah, saya bilang, “Kawan, ibadahmu
yang lima kali itu tidak mungkin bisa saya ikuti. Yang seminggu sekali aja
saya masih bolong-bolong. Lagi pula, babi terlalu nikmat.” Mereka tertawa.
Ini kisah nyata. Enggak perlu menuduh blasphemy. Oke.
Sebelum kembali ke soal keislaman, FYI aja, saya pernah menulis makna azan
dari kacamata saya sebagai seorang Katolik. Anda bisa membacanya di sini. Nah,
belum lama ini, cendekiawan muslim Mun’im Sirry datang ke kantor kami di
kawasan Palmerah bagian Jakarta Selatan. Ia dosen di departemen teologi
University of Notre Dame, universitas Katolik di Amerika Serikat. Ia mengajar
hubungan antara Alkitab dan Al-Quran. Mun’im
terbilang tokoh revisionis. Ia mengkaji berbagai sumber historis untuk
merekonstruksi sejarah Islam. Pandangannya kerap menimbulkan kontroversi. Ia,
misalnya, menyebut anggapan kelahiran Nabi Muhammad pada tahun gajah tak
didasari fakta historis. Ia
tampil dalam siniar Omon-omon bersama Pemimpin Redaksi Tempo Bagja Hidayat.
Setelah itu, Mun’im masih menjawab berbagai pertanyaan dari Yosea Arga dan
Friski Riana. Mun’im
menjelaskan berbagai sejarah Islam yang sering kali tidak diketahui para
muslim. Dampaknya, ada berbagai sumber yang diterima begitu saja oleh umat
Islam meski tak menjadi fakta sejarah. Doktor
studi Islam dari University of Chicago, Amerika Serikat, itu pun membeberkan
soal lambatnya perkembangan pemikiran Islam progresif di Indonesia. Ia
menilai kelambatan itu terjadi setelah tokoh seperti Nurcholis Madjid (Cak
Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpulang. Bagja
Hidayat pun menugasi kami membuat tulisan wawancara dari pemikir Islam lain
untuk mengimbangi pemikiran Mun’im. Kami memilih Muhammad Nuruddin yang
pernah menulis buku berisi kritik terhadap pemikiran Mun’im Sirry. Nuruddin
menyampaikan berbagai argumentasi yang meng-counter pernyataan Mun’im. Ia
menganggap ada kebenaran fondasional yang tak perlu digugat. Misalnya soal
tahun kelahiran Nabi Muhammad. Ia pun
mengajukan pendapat yang membantah pandangan Mun’im bahwa identitas keislaman
muncul belakangan. Meski memiliki berbagai perbedaan dengan Mun’im, Nuruddin
juga menyebutkan beragam kesamaan pandangan mereka. Saya,
yang mengedit hasil interviu Mun’im Sirry dan Muhammad Nuruddin, menikmati
berbagai argumentasi yang menarik. Juga menambah pengetahuan baru soal cara
memandang sejarah keislaman. Wawancara
itu pun memperkuat keyakinan saya bahwa pemikiran Islam kaya dan terbuka.
Tapi, mohon maaf, saya masih belum tertarik membaca buku Islam ala Prabowo.
Selamat menikmati wawancara kami dengan Mun’im Sirry dan Muhammad Nuruddin. ● Sumber :
https://www.tempo.co/wawancara/mun-im-sirry-muhammad-nuruddin-sejarah-islam-2288114 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar