Senin, 21 September 2026

 

Beda Pandangan Dua Cendekiawan Muslim soal Sejarah Islam

Stefanus Pramono :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026

 

 

                                                           

·      Mun’im Sirry berbicara soal sejarah keislaman yang tak didasari fakta historis.

 

·      Muhammad Nuruddin menyangkal berbagai argumentasi Mun’im Sirry.

 

·      Keduanya berbicara tentang pandangan keislaman, termasuk ihwal tahun kelahiran Nabi.

 

SELAMA hampir 21 tahun menjadi jurnalis Tempo, saya selalu mempelajari hal baru saat meliput, menulis, atau mengedit. Salah satu yang menarik bagi saya adalah isu tentang Islam. Jujur, soal ini tidak terlalu banyak saya ketahui karena saya besar di keluarga dan sekolah Katolik.

 

Meskipun tetangga saya kebanyakan muslim, saya paling-paling hanya tahu azan, “asalamualaikum”, dan “astagfirullah”. Selama saya bekerja, ada juga kawan yang meminta saya menirukan, “Asyhadu an laa…”.

 

Kurang ajar dia memang. Syahadat dimain-mainkan. Saya bilang, “Dari dulu ada banyak orang yang mendoakan saya mendapat hidayah. Sampai sekarang kolom agama di KTP saya enggak berubah juga.”

 

Mungkin saya terlihat terlalu Katolik. Enggak, kok. Saya bukan pengikut Yesus yang taat-taat amat. Kadang saya berdoa, terutama kalau lagi ada maunya. Ada juga yang menyebut saya Katolik NU (Nahdlatul Ulama). Salah satunya fotografer Tempo, Gunawan Wicaksono.

 

Kepada mereka yang mendoakan saya mendapat hidayah, saya bilang, “Kawan, ibadahmu yang lima kali itu tidak mungkin bisa saya ikuti. Yang seminggu sekali aja saya masih bolong-bolong. Lagi pula, babi terlalu nikmat.” Mereka tertawa. Ini kisah nyata. Enggak perlu menuduh blasphemy.

 

Oke. Sebelum kembali ke soal keislaman, FYI aja, saya pernah menulis makna azan dari kacamata saya sebagai seorang Katolik. Anda bisa membacanya di sini.

 

Nah, belum lama ini, cendekiawan muslim Mun’im Sirry datang ke kantor kami di kawasan Palmerah bagian Jakarta Selatan. Ia dosen di departemen teologi University of Notre Dame, universitas Katolik di Amerika Serikat. Ia mengajar hubungan antara Alkitab dan Al-Quran.

 

Mun’im terbilang tokoh revisionis. Ia mengkaji berbagai sumber historis untuk merekonstruksi sejarah Islam. Pandangannya kerap menimbulkan kontroversi. Ia, misalnya, menyebut anggapan kelahiran Nabi Muhammad pada tahun gajah tak didasari fakta historis.

 

Ia tampil dalam siniar Omon-omon bersama Pemimpin Redaksi Tempo Bagja Hidayat. Setelah itu, Mun’im masih menjawab berbagai pertanyaan dari Yosea Arga dan Friski Riana.

 

Mun’im menjelaskan berbagai sejarah Islam yang sering kali tidak diketahui para muslim. Dampaknya, ada berbagai sumber yang diterima begitu saja oleh umat Islam meski tak menjadi fakta sejarah.

 

Doktor studi Islam dari University of Chicago, Amerika Serikat, itu pun membeberkan soal lambatnya perkembangan pemikiran Islam progresif di Indonesia. Ia menilai kelambatan itu terjadi setelah tokoh seperti Nurcholis Madjid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpulang.

 

Bagja Hidayat pun menugasi kami membuat tulisan wawancara dari pemikir Islam lain untuk mengimbangi pemikiran Mun’im. Kami memilih Muhammad Nuruddin yang pernah menulis buku berisi kritik terhadap pemikiran Mun’im Sirry.

 

Nuruddin menyampaikan berbagai argumentasi yang meng-counter pernyataan Mun’im. Ia menganggap ada kebenaran fondasional yang tak perlu digugat. Misalnya soal tahun kelahiran Nabi Muhammad.

 

Ia pun mengajukan pendapat yang membantah pandangan Mun’im bahwa identitas keislaman muncul belakangan. Meski memiliki berbagai perbedaan dengan Mun’im, Nuruddin juga menyebutkan beragam kesamaan pandangan mereka.

 

Saya, yang mengedit hasil interviu Mun’im Sirry dan Muhammad Nuruddin, menikmati berbagai argumentasi yang menarik. Juga menambah pengetahuan baru soal cara memandang sejarah keislaman.

 

Wawancara itu pun memperkuat keyakinan saya bahwa pemikiran Islam kaya dan terbuka. Tapi, mohon maaf, saya masih belum tertarik membaca buku Islam ala Prabowo. Selamat menikmati wawancara kami dengan Mun’im Sirry dan Muhammad Nuruddin.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/wawancara/mun-im-sirry-muhammad-nuruddin-sejarah-islam-2288114

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar