Kamis, 24 September 2026

 

Mineral yang Menuliskan Ulang Aturan Globalisasi

Gilarsi W. Setijono :  Direktur PT Perminas

KOMPAS.COM, 22 September 2026

 

 

                                                           

COBA bayangkan Anda adalah kapten kapal kargo raksasa. Selama tiga dekade, hidup Anda sederhana dan penuh kepastian; memuat di Shenzhen, berlayar melewati Selat Malaka, membongkar muatan di Long Beach atau Rotterdam, lalu kembali memuat.

 

Anda hafal setiap arus laut, setiap jadwal pelabuhan, setiap rute yang dirancang oleh para ekonom dengan spreadsheet dan keyakinan bahwa dunia akan selalu, selalu baik-baik saja. Anda tidak perlu berpikir dua kali soal peta jalur. Peta itu sudah digambar rapi oleh logika efisiensi global.

 

Lalu tiba-tiba, di suatu hari yang tidak pernah Anda duga, kapal Anda terjebak berbulan-bulan mengapung di lepas pantai menunggu giliran sandar, sementara di daratan orang-orang berebut chip semikonduktor seharga tak seberapa yang tiba-tiba menjadi barang lebih berharga daripada emas 24 karat.

 

Anda, sang kapten yang biasanya memegang kendali penuh atas arah pelayaran, kini hanya bisa berdiri di anjungan, menatap horizon yang tiba-tiba dipenuhi kabut ketidakpastian.

 

Selamat datang di dunia pasca-2020: dunia yang baru sadar bahwa "efisiensi" dan "keamanan" ternyata dua kata yang jarang sekali mau duduk semeja.

 

Titik goyah: covid dan chip

 

Sebelum 2020, dunia hidup dalam buaian sebuah dogma yang begitu meyakinkan sehingga jarang dipertanyakan: globalisasi yang dioptimalkan demi efisiensi.

 

Prinsipnya sederhana. Produksi mengalir ke tempat yang paling murah, paling cepat, paling just-in-time, tanpa peduli seberapa jauh jaraknya dari konsumen akhir.

 

China, dengan disiplin negara-pabrik dan skala yang tak tertandingi, menjelma menjadi pabrik dunia untuk segala sesuatu, dari sepatu olahraga hingga panel surya, dari mainan anak hingga komponen rudal.

 

Ironisnya, kita menyebut ini "kemenangan pasar bebas", padahal yang sebenarnya terjadi adalah taruhan kolektif seluruh planet pada satu titik geografis.

 

Dunia korporasi global begitu terpukau oleh efisiensi rantai pasok sampai lupa bertanya hal mendasar: bagaimana jika titik tumpuan ini goyah?

 

Titik itu goyah pada 2020 karena makhluk mikroskopis bernama virus corona. Pabrik-pabrik tutup, pelabuhan macet seperti jalan tol menjelang mudik Lebaran, dan barang-barang yang biasanya kita anggap remeh, dari masker hingga chip komputer, tiba-tiba lenyap dari rak.

 

Dunia yang selama ini bangga dengan rantai pasoknya yang "lean" dan "efisien" ternyata rapuh seperti kerupuk yang terlalu lama terkena angin.

 

Konsentrasi produksi yang tadinya dipuja sebagai kejeniusan manajerial, kini terbongkar sebagai judi kolektif yang taruhannya adalah ketahanan seluruh peradaban industri modern.

 

Dari krisis pandemi, muncul babak lebih spesifik dan lebih mengerikan bagi para perencana strategis: kelangkaan semikonduktor pada 2020–2021.

 

Industri otomotif berhenti berproduksi, ironis, karena kekurangan chip kecil seharga beberapa dolar yang ternyata menjadi otak dari segala sesuatu; mobil, ponsel, jaringan telekomunikasi, bahkan mesin cuci.

 

Dunia baru sadar, dengan keterlambatan yang memalukan, bahwa semikonduktor bukan sekadar komoditas dagang seperti kopi atau kelapa sawit. Semikonduktor adalah infrastruktur strategis, setara pentingnya dengan listrik atau air bersih bagi ekonomi modern.

 

Yang mengendalikan chip pada akhirnya mengendalikan segalanya, dari kulkas rumah tangga hingga sistem pertahanan negara.

 

Kesadaran baru: teknologi rare earth

 

Karena itulah dunia mulai membongkar dogma lama. Pada 2021–2022, para pembuat kebijakan di negara maju perlahan-lahan meninggalkan mantra "harga termurah menang segalanya", beralih ke jargon baru: ketahanan, diversifikasi, reshoring, dan friend-shoring.

 

Ini bukan sekadar pergeseran teknokratis, melainkan pengakuan diam-diam bahwa selama ini mereka telah menaruh telur-telur strategis dalam satu keranjang yang dikendalikan oleh pihak lain.

 

Kegusaran ini kemudian mengejawantah menjadi kebijakan konkret: pada Agustus 2022, Amerika Serikat mengesahkan CHIPS and Science Act, mengucurkan dana publik dalam jumlah besar untuk membangkitkan kembali manufaktur dan riset semikonduktor di dalam negeri.

 

Ini bukan sekadar subsidi industri biasa ini pengumuman resmi bahwa kebijakan industri, yang selama tiga dekade dianggap tabu dalam ortodoksi pasar bebas, telah kembali menjadi arus utama kebijakan negara.

 

Dua bulan kemudian, pada Oktober 2022, Washington menembakkan peluru yang jauh lebih tajam: kontrol ekspor terhadap teknologi semikonduktor canggih dan peralatan manufaktur chip ke China.

 

Ini bukan lagi soal tarif dagang yang bisa dinegosiasikan sambil minum teh di meja perundingan tetapi ini adalah blokade teknologi yang dirancang untuk menahan laju kemajuan sebuah negara pada titik yang paling vital: kemampuannya membangun otak digital sendiri.

 

Setahun kemudian, pada 2023, sekutu-sekutu Amerika yakni Jepang dan Belanda ikut menandatangani pembatasan serupa terhadap peralatan manufaktur semikonduktor yang canggih.

 

Apa yang tadinya kebijakan sepihak satu negara kini berubah menjadi koalisi yang terkoordinasi? Dunia sedang menyaksikan pembentukan blok teknologi baru, mirip aliansi militer, tetapi senjatanya adalah lisensi ekspor dan daftar entitas yang dilarang.

 

China, tentu saja, tidak diam menerima pukulan ini. Di bulan Juli 2023, Beijing membalas dengan kartu yang selama ini disimpan rapi di sakunya: kontrol ekspor terhadap galium dan germanium.

 

Dua material ini jarang disebut dalam obrolan sehari-hari, tetapi krusial bagi semikonduktor, telekomunikasi, elektronik canggih, dan aplikasi pertahanan.

 

Ini pukulan balik yang elegan. Amerika menahan chip canggih, sementara China menahan bahan baku membuat chip.

 

Rupanya Beijing belajar dengan sangat baik bahwa siapa yang menguasai hulu bahan mentah memegang kartu truf yang sama kuatnya dengan siapa yang menguasai hilir teknologi.

 

Menjelang akhir 2023, Beijing memperluas jangkauannya ke grafit dan teknologi pemrosesan tanah jarang (rare earth).

 

Ini adalah momentum ketika dunia mulai memahami: bukan hanya chip yang menjadi senjata geopolitik, tetapi juga material-material yang selama ini dianggap remeh, yang justru berada di hulu rantai pasok berbagai teknologi hijau dan pertahanan modern.

 

Kerapuhan sistem: bergantung pada Beijing

 

Dari sinilah lahir jargon kebijakan yang paling laris dibicarakan di forum-forum G7 dan Davos pada 2023–2024: de-risking.

 

Uni Eropa, Jepang, Amerika Serikat, dan berbagai ekonomi maju lainnya ramai-ramai mengejar diversifikasi pasokan, kapasitas domestik, kemitraan strategis, daur ulang, serta sumber alternatif.

 

Istilah ini dipilih dengan hati-hati, bukan "decoupling" yang terdengar terlalu drastis dan bisa memicu kepanikan pasar, melainkan "de-risking" yang terdengar lebih santun, lebih teknokratis, seolah-olah mereka sekadar mendiversifikasi portofolio investasi.

 

Padahal yang sebenarnya terjadi adalah upaya sistematis untuk melepaskan diri dari ketergantungan strategis yang selama ini mereka bangun sendiri, dengan penuh kesadaran, demi laba kuartalan yang lebih tinggi.

 

Ini semacam pembenaran diri kolektif, mengaku sedang berhati-hati, padahal sebenarnya sedang panik pelan-pelan.

 

Pada 2024, lingkaran kekhawatiran ini meluas ke mineral kritis lain seperti antimon, yang kini dibicarakan bukan lagi dalam forum pertambangan, melainkan dalam rapat keamanan nasional.

 

Ini menandai pergeseran fundamental: sumber daya alam yang dulu dianggap sebagai komoditas biasa kini naik kelas menjadi isu pertahanan dan kedaulatan.

 

Desember 2024 menjadi titik eskalasi berikutnya. China memperketat pembatasan terhadap galium, germanium, antimon, dan grafit yang diarahkan langsung ke Amerika Serikat.

 

Ini bukan lagi pembatasan umum, melainkan tindakan yang secara eksplisit menyasar satu negara tertentu. Sebuah sinyal yang sulit disalahartikan bahwa akses terhadap material kritis kini menjadi alat tawar-menawar geopolitik setara, bahkan mungkin lebih ampuh, daripada kapal induk.

 

Lalu pada Februari 2025, cakupan kontrol diperluas lagi ke tungsten, telurium, bismut, molibdenum, dan indium. Lima material yang namanya asing di telinga orang awam, tetapi vital bagi elektronik canggih, energi, dan pertahanan.

 

Puncaknya datang pada April 2025. China mengumumkan kontrol ekspor terhadap tujuh unsur tanah jarang berat: samarium, gadolinium, terbium, disprosium, lutesium, skandium, dan itrium, serta seluruh senyawa, logam, paduan, dan magnet permanen turunannya.

 

Kebijakan ini merupakan respons langsung terhadap tarif "Liberation Day" yang digulirkan pemerintahan Trump.

 

Ini adalah senjata pamungkas karena tanah jarang berat adalah bahan baku magnet permanen yang menggerakkan segalanya, dari motor kendaraan listrik, turbin angin, hingga sistem panduan rudal presisi.

 

Efeknya begitu nyata sehingga menurut analisis pasca-satu-tahun, kontrol ini "mengirim rantai pasok global ke dalam pusaran gejolak" dan mengekspos kerapuhan sistem yang masih sangat bergantung pada Beijing.

 

Menariknya, dinamika ini terus bergerak: pada bulan November 2025, di tengah gencatan senjata dagang, China untuk sementara menangguhkan beberapa pembatasan terhadap galium, germanium, antimon, dan grafit yang dikenakan sejak Desember 2024, meski rezim lisensi tanah jarang yang berat, yang mulai berlaku sejak April 2025, tetap berlaku sepenuhnya hingga kini.

 

Gencatan senjata ini pun bersifat sementara, dijadwalkan berakhir pada November 2026. Artinya, senjata ini disimpan kembali ke sarungnya, bukan dibuang.

 

Menjadi pemain penentu arah global

 

Memasuki 2025–2026, seluruh ekonomi besar dunia mempercepat langkahnya bagai peserta lari maraton yang baru menyadari garis finis sudah dekat.

 

Investasi besar-besaran digelontorkan untuk pertambangan domestik, pemurnian, daur ulang, manufaktur semikonduktor, rantai pasok baterai, stok strategis, serta sumber alternatif material kritis.

 

Ini adalah kebijakan keamanan nasional yang kebetulan berbentuk pabrik. Perbedaannya sangat mendasar: kebijakan industri lama bertanya "apa yang paling murah?", sedangkan kebijakan industri baru bertanya "apa yang paling aman, meski lebih mahal?"

 

Di sinilah ironi besar tersingkap bagai gunung es yang akhirnya kelihatan puncaknya: dunia yang selama tiga dekade memuja efisiensi kini rela membayar mahal untuk sesuatu yang dulu mereka anggap tak bernilai yakni kedaulatan atas rantai pasoknya sendiri.

 

Tekanan geopolitik yang menetes dari 2020 hingga 2026 perlahan mengukir kembali arsitektur ekonomi global yang tadinya kita kira sudah baku dan tak tergoyahkan.

 

Lanskap geopolitik baru ini bukanlah kematian globalisasi seperti yang sering diramalkan para pengamat sensasional di panel-panel televisi. Globalisasi tetap hidup, kapal-kapal kontainer tetap berlayar, pabrik-pabrik tetap berputar.

 

Yang berubah adalah logikanya. Pertanyaan yang dulu tunggal "di mana produksi paling murah?", kini beranak-pinak menjadi serangkaian pertanyaan yang jauh lebih rumit dan lebih gelisah.

 

Siapa yang menguasai teknologinya? Siapa yang menguasai bahan bakunya? Siapa yang menguasai titik-titik cekik (choke points) dalam rantai pasok itu? Dan yang paling menghantui: apa yang terjadi jika akses itu tiba-tiba diputus, seperti listrik PLN yang byar-pet tanpa pemberitahuan?

 

Bagi Indonesia yang memiliki cadangan mineral strategis signifikan di dunia dan potensi signifikan pada mineral-mineral turunan seperti zirkon, silika dan unsur tanah jarang yang ikut tambang mineral primer, kronik ini bukan sekadar berita luar negeri untuk dikonsumsi sambil ngopi pagi.

 

Ini adalah cermin yang memantulkan pertanyaan sama, hanya dengan wajah kita sendiri: apakah kita akan menjadi pemain yang menentukan aturan mainnya, ataukah sekadar penonton yang kembali menjual bahan mentah murah sambil berharap belas kasihan pasar global?

 

Dunia telah bergeser dari perdagangan bebas menuju saling ketergantungan strategis, dan dalam pergeseran itu, posisi tawar tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling murah, melainkan oleh siapa yang paling tidak tergantikan.

 

Baca juga: AI China Bisa Cari Emas dan Mineral, Kerjaan 6 Bulan Rampung Seminggu

 

Pertanyaannya sekarang, sanggupkah kita berhenti menjadi penambang yang sekadar menggali dan mulai menjadi bangsa yang mengolah otak sebagaimana yang dilakukan oleh China, Jepang dan Korea Selatan.

 

Atau, kita akan terus menjadi bangsa yang menemukan harta karun tanah jarang dalam mimpi, sementara bangsa lain sudah bangun lebih dulu dan mengambil semuanya sebelum kita sempat mengucek mata? ●

 

Sumber : https://nasional.kompas.com/read/2026/09/22/19141971/mineral-yang-menuliskan-ulang-aturan-globalisasi?page=all#page2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar