|
Mineral yang Menuliskan Ulang Aturan
Globalisasi Gilarsi
W. Setijono : Direktur PT Perminas |
KOMPAS.COM, 22 September 2026
|
COBA bayangkan Anda adalah kapten kapal kargo raksasa. Selama
tiga dekade, hidup Anda sederhana dan penuh kepastian; memuat di Shenzhen,
berlayar melewati Selat Malaka, membongkar muatan di Long Beach atau
Rotterdam, lalu kembali memuat. Anda hafal setiap arus laut, setiap jadwal pelabuhan, setiap rute
yang dirancang oleh para ekonom dengan spreadsheet dan keyakinan bahwa dunia
akan selalu, selalu baik-baik saja. Anda tidak perlu berpikir dua kali soal
peta jalur. Peta itu sudah digambar rapi oleh logika efisiensi global. Lalu tiba-tiba, di suatu hari yang tidak pernah Anda duga, kapal
Anda terjebak berbulan-bulan mengapung di lepas pantai menunggu giliran
sandar, sementara di daratan orang-orang berebut chip semikonduktor seharga
tak seberapa yang tiba-tiba menjadi barang lebih berharga daripada emas 24
karat. Anda, sang kapten yang biasanya memegang kendali penuh atas arah
pelayaran, kini hanya bisa berdiri di anjungan, menatap horizon yang
tiba-tiba dipenuhi kabut ketidakpastian. Selamat datang di dunia pasca-2020: dunia yang baru sadar bahwa
"efisiensi" dan "keamanan" ternyata dua kata yang jarang
sekali mau duduk semeja. Titik goyah: covid dan chip Sebelum 2020, dunia hidup dalam buaian sebuah dogma yang begitu
meyakinkan sehingga jarang dipertanyakan: globalisasi yang dioptimalkan demi
efisiensi. Prinsipnya sederhana. Produksi mengalir ke tempat yang paling murah,
paling cepat, paling just-in-time, tanpa peduli seberapa jauh jaraknya dari
konsumen akhir. China, dengan disiplin negara-pabrik dan skala yang tak
tertandingi, menjelma menjadi pabrik dunia untuk segala sesuatu, dari sepatu
olahraga hingga panel surya, dari mainan anak hingga komponen rudal. Ironisnya, kita menyebut ini "kemenangan pasar bebas",
padahal yang sebenarnya terjadi adalah taruhan kolektif seluruh planet pada
satu titik geografis. Dunia korporasi global begitu terpukau oleh efisiensi rantai
pasok sampai lupa bertanya hal mendasar: bagaimana jika titik tumpuan ini
goyah? Titik itu goyah pada 2020 karena makhluk mikroskopis bernama
virus corona. Pabrik-pabrik tutup, pelabuhan macet seperti jalan tol
menjelang mudik Lebaran, dan barang-barang yang biasanya kita anggap remeh,
dari masker hingga chip komputer, tiba-tiba lenyap dari rak. Dunia yang selama ini bangga dengan rantai pasoknya yang
"lean" dan "efisien" ternyata rapuh seperti kerupuk yang
terlalu lama terkena angin. Konsentrasi produksi yang tadinya dipuja sebagai kejeniusan
manajerial, kini terbongkar sebagai judi kolektif yang taruhannya adalah
ketahanan seluruh peradaban industri modern. Dari krisis pandemi, muncul babak lebih spesifik dan lebih
mengerikan bagi para perencana strategis: kelangkaan semikonduktor pada
2020–2021. Industri otomotif berhenti berproduksi, ironis, karena kekurangan
chip kecil seharga beberapa dolar yang ternyata menjadi otak dari segala
sesuatu; mobil, ponsel, jaringan telekomunikasi, bahkan mesin cuci. Dunia baru sadar, dengan keterlambatan yang memalukan, bahwa
semikonduktor bukan sekadar komoditas dagang seperti kopi atau kelapa sawit.
Semikonduktor adalah infrastruktur strategis, setara pentingnya dengan
listrik atau air bersih bagi ekonomi modern. Yang mengendalikan chip pada akhirnya mengendalikan segalanya,
dari kulkas rumah tangga hingga sistem pertahanan negara. Kesadaran baru: teknologi rare earth Karena itulah dunia mulai membongkar dogma lama. Pada 2021–2022,
para pembuat kebijakan di negara maju perlahan-lahan meninggalkan mantra
"harga termurah menang segalanya", beralih ke jargon baru:
ketahanan, diversifikasi, reshoring, dan friend-shoring. Ini bukan sekadar pergeseran teknokratis, melainkan pengakuan
diam-diam bahwa selama ini mereka telah menaruh telur-telur strategis dalam
satu keranjang yang dikendalikan oleh pihak lain. Kegusaran ini kemudian mengejawantah menjadi kebijakan konkret:
pada Agustus 2022, Amerika Serikat mengesahkan CHIPS and Science Act,
mengucurkan dana publik dalam jumlah besar untuk membangkitkan kembali
manufaktur dan riset semikonduktor di dalam negeri. Ini bukan sekadar subsidi industri biasa ini pengumuman resmi
bahwa kebijakan industri, yang selama tiga dekade dianggap tabu dalam
ortodoksi pasar bebas, telah kembali menjadi arus utama kebijakan negara. Dua bulan kemudian, pada Oktober 2022, Washington menembakkan
peluru yang jauh lebih tajam: kontrol ekspor terhadap teknologi semikonduktor
canggih dan peralatan manufaktur chip ke China. Ini bukan lagi soal tarif dagang yang bisa dinegosiasikan sambil
minum teh di meja perundingan tetapi ini adalah blokade teknologi yang
dirancang untuk menahan laju kemajuan sebuah negara pada titik yang paling
vital: kemampuannya membangun otak digital sendiri. Setahun kemudian, pada 2023, sekutu-sekutu Amerika yakni Jepang
dan Belanda ikut menandatangani pembatasan serupa terhadap peralatan
manufaktur semikonduktor yang canggih. Apa yang tadinya kebijakan sepihak satu negara kini berubah
menjadi koalisi yang terkoordinasi? Dunia sedang menyaksikan pembentukan blok
teknologi baru, mirip aliansi militer, tetapi senjatanya adalah lisensi
ekspor dan daftar entitas yang dilarang. China, tentu saja, tidak diam menerima pukulan ini. Di bulan Juli
2023, Beijing membalas dengan kartu yang selama ini disimpan rapi di sakunya:
kontrol ekspor terhadap galium dan germanium. Dua material ini jarang disebut dalam obrolan sehari-hari, tetapi
krusial bagi semikonduktor, telekomunikasi, elektronik canggih, dan aplikasi pertahanan. Ini pukulan balik yang elegan. Amerika menahan chip canggih,
sementara China menahan bahan baku membuat chip. Rupanya Beijing belajar dengan sangat baik bahwa siapa yang
menguasai hulu bahan mentah memegang kartu truf yang sama kuatnya dengan
siapa yang menguasai hilir teknologi. Menjelang akhir 2023, Beijing memperluas jangkauannya ke grafit
dan teknologi pemrosesan tanah jarang (rare earth). Ini adalah momentum ketika dunia mulai memahami: bukan hanya chip
yang menjadi senjata geopolitik, tetapi juga material-material yang selama
ini dianggap remeh, yang justru berada di hulu rantai pasok berbagai
teknologi hijau dan pertahanan modern. Kerapuhan sistem: bergantung pada Beijing Dari sinilah lahir jargon kebijakan yang paling laris dibicarakan
di forum-forum G7 dan Davos pada 2023–2024: de-risking. Uni Eropa, Jepang, Amerika Serikat, dan berbagai ekonomi maju
lainnya ramai-ramai mengejar diversifikasi pasokan, kapasitas domestik,
kemitraan strategis, daur ulang, serta sumber alternatif. Istilah ini dipilih dengan hati-hati, bukan
"decoupling" yang terdengar terlalu drastis dan bisa memicu
kepanikan pasar, melainkan "de-risking" yang terdengar lebih
santun, lebih teknokratis, seolah-olah mereka sekadar mendiversifikasi
portofolio investasi. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah upaya sistematis untuk
melepaskan diri dari ketergantungan strategis yang selama ini mereka bangun
sendiri, dengan penuh kesadaran, demi laba kuartalan yang lebih tinggi. Ini semacam pembenaran diri kolektif, mengaku sedang
berhati-hati, padahal sebenarnya sedang panik pelan-pelan. Pada 2024, lingkaran kekhawatiran ini meluas ke mineral kritis
lain seperti antimon, yang kini dibicarakan bukan lagi dalam forum
pertambangan, melainkan dalam rapat keamanan nasional. Ini menandai pergeseran fundamental: sumber daya alam yang dulu
dianggap sebagai komoditas biasa kini naik kelas menjadi isu pertahanan dan
kedaulatan. Desember 2024 menjadi titik eskalasi berikutnya. China
memperketat pembatasan terhadap galium, germanium, antimon, dan grafit yang
diarahkan langsung ke Amerika Serikat. Ini bukan lagi pembatasan umum, melainkan tindakan yang secara
eksplisit menyasar satu negara tertentu. Sebuah sinyal yang sulit
disalahartikan bahwa akses terhadap material kritis kini menjadi alat
tawar-menawar geopolitik setara, bahkan mungkin lebih ampuh, daripada kapal
induk. Lalu pada Februari 2025, cakupan kontrol diperluas lagi ke
tungsten, telurium, bismut, molibdenum, dan indium. Lima material yang
namanya asing di telinga orang awam, tetapi vital bagi elektronik canggih,
energi, dan pertahanan. Puncaknya datang pada April 2025. China mengumumkan kontrol
ekspor terhadap tujuh unsur tanah jarang berat: samarium, gadolinium,
terbium, disprosium, lutesium, skandium, dan itrium, serta seluruh senyawa,
logam, paduan, dan magnet permanen turunannya. Kebijakan ini merupakan respons langsung terhadap tarif
"Liberation Day" yang digulirkan pemerintahan Trump. Ini adalah senjata pamungkas karena tanah jarang berat adalah bahan
baku magnet permanen yang menggerakkan segalanya, dari motor kendaraan
listrik, turbin angin, hingga sistem panduan rudal presisi. Efeknya begitu nyata sehingga menurut analisis pasca-satu-tahun,
kontrol ini "mengirim rantai pasok global ke dalam pusaran gejolak"
dan mengekspos kerapuhan sistem yang masih sangat bergantung pada Beijing. Menariknya, dinamika ini terus bergerak: pada bulan November
2025, di tengah gencatan senjata dagang, China untuk sementara menangguhkan
beberapa pembatasan terhadap galium, germanium, antimon, dan grafit yang
dikenakan sejak Desember 2024, meski rezim lisensi tanah jarang yang berat,
yang mulai berlaku sejak April 2025, tetap berlaku sepenuhnya hingga kini. Gencatan senjata ini pun bersifat sementara, dijadwalkan berakhir
pada November 2026. Artinya, senjata ini disimpan kembali ke sarungnya, bukan
dibuang. Menjadi pemain penentu arah global Memasuki 2025–2026, seluruh ekonomi besar dunia mempercepat
langkahnya bagai peserta lari maraton yang baru menyadari garis finis sudah
dekat. Investasi besar-besaran digelontorkan untuk pertambangan
domestik, pemurnian, daur ulang, manufaktur semikonduktor, rantai pasok
baterai, stok strategis, serta sumber alternatif material kritis. Ini adalah kebijakan keamanan nasional yang kebetulan berbentuk
pabrik. Perbedaannya sangat mendasar: kebijakan industri lama bertanya
"apa yang paling murah?", sedangkan kebijakan industri baru
bertanya "apa yang paling aman, meski lebih mahal?" Di sinilah ironi besar tersingkap bagai gunung es yang akhirnya
kelihatan puncaknya: dunia yang selama tiga dekade memuja efisiensi kini rela
membayar mahal untuk sesuatu yang dulu mereka anggap tak bernilai yakni
kedaulatan atas rantai pasoknya sendiri. Tekanan geopolitik yang menetes dari 2020 hingga 2026 perlahan
mengukir kembali arsitektur ekonomi global yang tadinya kita kira sudah baku
dan tak tergoyahkan. Lanskap geopolitik baru ini bukanlah kematian globalisasi seperti
yang sering diramalkan para pengamat sensasional di panel-panel televisi. Globalisasi
tetap hidup, kapal-kapal kontainer tetap berlayar, pabrik-pabrik tetap
berputar. Yang berubah adalah logikanya. Pertanyaan yang dulu tunggal
"di mana produksi paling murah?", kini beranak-pinak menjadi
serangkaian pertanyaan yang jauh lebih rumit dan lebih gelisah. Siapa yang menguasai teknologinya? Siapa yang menguasai bahan
bakunya? Siapa yang menguasai titik-titik cekik (choke points) dalam rantai
pasok itu? Dan yang paling menghantui: apa yang terjadi jika akses itu
tiba-tiba diputus, seperti listrik PLN yang byar-pet tanpa pemberitahuan? Bagi Indonesia yang memiliki cadangan mineral strategis
signifikan di dunia dan potensi signifikan pada mineral-mineral turunan
seperti zirkon, silika dan unsur tanah jarang yang ikut tambang mineral
primer, kronik ini bukan sekadar berita luar negeri untuk dikonsumsi sambil
ngopi pagi. Ini adalah cermin yang memantulkan pertanyaan sama, hanya dengan
wajah kita sendiri: apakah kita akan menjadi pemain yang menentukan aturan
mainnya, ataukah sekadar penonton yang kembali menjual bahan mentah murah
sambil berharap belas kasihan pasar global? Dunia telah bergeser dari perdagangan bebas menuju saling
ketergantungan strategis, dan dalam pergeseran itu, posisi tawar tidak lagi
ditentukan oleh siapa yang paling murah, melainkan oleh siapa yang paling
tidak tergantikan. Baca juga: AI China Bisa Cari Emas dan Mineral, Kerjaan 6 Bulan
Rampung Seminggu Pertanyaannya sekarang, sanggupkah kita berhenti menjadi
penambang yang sekadar menggali dan mulai menjadi bangsa yang mengolah otak
sebagaimana yang dilakukan oleh China, Jepang dan Korea Selatan. Atau, kita akan terus menjadi bangsa yang menemukan harta karun
tanah jarang dalam mimpi, sementara bangsa lain sudah bangun lebih dulu dan
mengambil semuanya sebelum kita sempat mengucek mata? ● |
Sumber
: https://nasional.kompas.com/read/2026/09/22/19141971/mineral-yang-menuliskan-ulang-aturan-globalisasi?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar