|
Tekstil Danantara Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 30 September 2026
Mengejutkan:
Danantara akan mendirikan industri tekstil Indonesia. Sulit dipahami: mengapa
Danantara mau masuk ke industri yang persaingannya sangat ketat –yang
memerlukan efisiensi tingkat dewa.
Jangan-jangan
karena melihat ada tren bahwa industri tekstil sedang bangkit kembali. Dalam
istilah Menko Ekonomi Airlangga Hartarto industri tekstil sedang ''reborn''.
Rasanya terlalu
dramatic kalau dibilang terlahir kembali. Kata yang lebih tepat mungkin
''recovery'' –mulai sembuh. Itu pun baru mulai. Belum sembuh. Industri tekstil
kita sangat lama sakit parah. Tapi belum tewas. Memang ada yang benar-benar
sudah tewas, misalnya PT Sritex Solo. Tapi masih ada juga yang hidup.
Apa pun,
recovery itu perlu kita syukuri. Sektor tekstil dan turunannya mulai tumbuh.
Tumbuhnya antara tiga persen sampai enam persen. Sangat memberi harapan –asal
tidak negatif lagi.
Tapi apakah itu
bisa menjadi pembenar bagi Danantara untuk masuk ke industri tekstil?
BUMN pernah
punya bisnis industri tekstil: PN Industri Sandang. Pabriknya besar-besar. Di
Jakarta, Bandung, Makassar, Medan, Jatim. Sampai punya pabrik pemintalan benang
di Senayan, Jakarta. Bekas lokasi itu kini menjadi penanda nama kawasan: Patal
Senayan. Letaknya di sebelum Hotel Mulia, Jakarta.
Industri
tekstil besar milik BUMN hancur. Pabrik tekstil swasta tumbuh pesat. BUMN kalah
bersaing. Kalah efisien. Waktu saya menjadi sesuatu dulu, industri sandang itu
sudah lama menjadi mayat –hanya saja mayatnya belum bisa dikubur.
Sekian tahun
kemudian kejayaan tekstil swasta juga runtuh. Kalah dengan produk Tiongkok.
Termasuk kalah efisien. Juga kalah dalam skala produksinya. Baru tahun ini
swasta yang masih hidup menemukan perkembangan baru: pasar tekstil Indonesia
meningkat.
Apakah
Danantara akan mengulangi mimpi buruk PN Industri Sandang? BUMN itu sulit untuk
bisa efisien –seefisien swasta. Itu sudah takdirnya. Bisa saja dalam satu masa
efisiennya sangat tinggi tapi penyakit borosnya bisa sangat mudah kambuh. Ganti
pemerintahan bisa ganti manajemen.
Apakah rencana
membuat BUMN tekstil itu murni inisiatif Danantara? Atau karena diminta oleh
pemerintah? Tidak ada informasi yang yang bisa menjelaskan. Dugaan saya itu
atas perintah. Dasar pemikirannya baik: untuk membuka lapangan kerja yang
besar.
Anda sudah
tahu: industri tekstil menyerap sangat banyak tenaga kerja. Maka kalau BUMN
membuka industri tekstil akan banyak tenaga kerja bisa terserap.
Kalau dasar
pemikirannya itu maka lebih baik pemerintah membantu swasta untuk bangkit
kembali. Tidak harus memulai dari nol. Swasta yang sudah siap ekspansi diberi
dukungan yang memadai. Termasuk diamankan dari berbagai pungutan serta serangan
tidak fair tekstil impor.
Kita sangat
menyesal PT Sritex bisa bangkrut –dan pemerintah seperti membiarkannya
bangkrut.
Kini Danantara
diberitakan akan membuat industri tekstil. Harus memulai lagi dari nol. Mungkin
ada perasaan pemerintah bisa membuat apa saja. Itu tidak salah. Namanya saja
''merasa bisa''.
Namun industri
tekstil memerlukan prinsip ''Efisien atau Mati''. BUMN bisa pilih mati.
Recovery
industri tekstil di Indonesia sekarang ini mungkin sebagai dampak perang dagang
Amerika-Tiongkok. Ekspor tekstil dari luar Tiongkok bisa mengambil alih
sebagiannya. Vietnam yang paling banyak mendapatkan berkahnya. Lalu sekarang
Indonesia.
Kalau
berpikirnya skala negara, tentu tidak peduli siapa pun yang mengembangkannya.
Boleh BUMN, boleh swasta. Yang penting industri tekstil dalam negeri bergairah
kembali. Tidak harus semuanya ditangani sendiri –apalagi kalau itu hanya
menghamburkan uang negara. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/971020/tekstil-danantara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar