|
Mister HH Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 21 September 2026
Di depan gerai
Cap Tikus saya disalami penumpang yang akan satu pesawat menuju Makassar. Kami
memang sama-sama mengejar pesawat terpagi dari Manado. Di Makassar saya transit
menuju Surabaya. Ia transit menuju Bali.
Sampai
basa-basi selesai saya masih belum ingat siapa namanya meski ingat wajahnya.
Mungkin karena konsentrasi saya ke Cap Tikus.
Saya memang
ingin masuk ke gerai Cap Tikus –sebagai ganti tidak sempat mengunjungi pusat pabriknya
di Manado.
Saya terpana
melihat gerai minuman keras lokal sebagus itu. Elegan sekali. Berkelas. Tidak
menyangka Cap Tikus bisa punya gerai istimewa di bandara Sam Ratulangi. Padahal
dulunya Cap Tikus hanya dianggap minuman keras ''kampungan'' –yang penting bisa
cepat mencapai tujuan: mabuk.
Gerai besar itu
kelihatannya dibangun sebagai tanda Cap Tikus memasuki era baru: IPO di pasar
modal. Bukan hanya kualitasnya yang jadi sejajar dengan produk internasional,
juga pengelolaan perusahaannya: Cap Tikus masuk bursa tahun 2023.
"Saya De
Yong," ujar orang yang menyalami saya itu.
Berarti sudah
lama saya tidak bertemu De Yong. Ia orang Toraja yang tinggal di Bali. Ia
seorang pengacara yang juga aktif di dunia usaha.
"Kenalkan,
ini teman saya dari Inggris," ujar De Yong.
Saya pun
bersalaman dengan mister itu. Ngobrol. Awalnya sambil berdiri di depan Cap
Tikus lalu saya ajak duduk di kursi ruang tunggu.
"Saya
ingin podcast dengan mister itu," kata saya pada De Yong.
Kebetulan sudah
waktunya Dismorning harus on air. Panggilan boarding sudah terdengar. Panggilan
pertama. Tapi proses boarding kan perlu waktu setengah jam. Sedang durasi
Dismorning juga hanya setengah jam. Kalau saja boarding-nya cepat,
Dismorningnya bisa didiskon sedikit.
Saya tertarik
mengajaknya podcast dengan alasan yang kuat: ternyata ia punya bisnis charging
mobil listrik di Inggris. Nama perusahaannya Gigatons. Sudah mempunyai charging
station di 300 lokasi di seluruh Inggris.
Nama mister
itu: Heston Harper. Ia sendiri mempersingkat namanya menjadi Double H. Yang
juga menarik: perusahaannya di Inggris, tempat tinggalnya di Bali. Sudah 15
tahun Double H menetap di Bali. "Lima anak saya semua lahir di Bali,"
katanya.
Istrinya orang
Bali? Bukan. Istrinya juga wanita bule. Kelahiran Afrika Selatan. Mereka kali
pertama bertemu di Thailand.
"Hati saya
Indonesia. Saya cinta Indonesia," ujarnya sambil memukul-mukul dada.
Sasa, host
Dismorning kaget tiba-tiba dapat narasumber bule. Dadakan. Padahal hari itu
Sasa ingin mengajak saya bicara soal Paputungan, lokasi wisata baru dekat
Manado yang belum sepenuhnya jadi itu.
Selesai podcast
petugas boarding sudah selesai melayani antrean terakhir. Pas sekali. Manajemen
waktu yang perfect. De Yong pun menawarkan jasanya: saya diminta duduk di
kursinya, ia duduk di kursi saya. Itu agar saya bisa melanjutkan obrolan dengan
Double H selama penerbangan Manado-Makassar. Kursi, bagi De Yong, tidak harus
dipertahankan mati-matian. Bisa untuk saya duduki.
Sebagai orang
yang sukses berbisnis green energy di Inggris Double H juga ingin Indonesia
masuk ke dunia solar cell. "Logika sederhananya: kalau di Inggris saja
bisa sukses di Indonesia harus sukses besar," katanya. "Di Inggris
itu miskin matahari. Di Indonesia cahaya matahari berlimpah-limpah,"
tambahnya.
Mulailah Double
H merancang bisnis solar cell di Indonesia. Ia pun mulai berhubungan dengan
birokrasi di Bali dan di Jakarta. Ternyata tidak mudah. Tapi ia tidak menyerah.
Ia yakin logika di atas juga dimiliki orang-orang Indonesia: Inggris yang
miskin matahari saja ngotot menggalakkan solar cell, mestinya semua orang
Indonesia juga punya logika yang sama.
Sulit.
Setelah lima
tahun berusaha Double H menyerah. Tidak mau lagi meneruskan proyek solar
cell-nya. Sekarang ia sudah melupakannya. Padahal ia punya banyak waktu.
Perusahaannya yang di Inggris lebih banyak diurus oleh adiknya. Itu memang
perusahaan peninggalan almarhum ayah mereka. Generasi keduanya berhasil membuat
perusahaan itu kian maju.
"Sering ke
Manado?" tanya saya.
"Kalau ke
Manado naik pesawat baru sekali ini," jawabnya. "Kalau naik kapal
sudah sering," tambahnya.
Mister Double H
ternyata seorang pencinta laut. Ia sudah biasa naik kapal pinisi ke berbagai
kota di Indonesia Timur. Ia pernah dari Bali ke Manado lewat Wakatobi. Pernah
juga lewat Ternate. Lewat mana saja. Kapal pinisi adalah kendaraan umumnya.
"Sejak
kapan mulai cinta laut?"
"Masa
kecil saya di pinggir laut," jawabnya.
"Kan, Anda
tadi bilang lahir di London Barat. Tidak jauh dari markas Chelsea...."
"Memang,
tapi masa kecil saya di Uni Emirat Arab," katanya.
"Jadi,
Anda bisa bahasa Arab?" tanya saya dalam bahasa itu.
Ia pun menjawab
dalam bahasa Arab.
Kepindahannya
ke UAE diajak orang tuanya yang kembali berjuang dari titik nol. Saat meletus
perang Yom Kippur (Israel lawan Mesir) tahun 1973 ayahnya bangkrut. Perangnya
di gurun Sinai, yang bangkrut di Inggris. Waktu itu terusan Suez ditutup. Pasok
energi mampet. Bisnis ayahnya ikut sulit.
Sang ayah
digambarkan sangat miskin. Sampai waktu remaja berhenti sekolah: belajar bekerja.
Lalu ikut bengkel pembuat huruf untuk identitas toko. Ia pun menjadi ahli. Lalu
bikin perusahaan sendiri. Terus berkembang. Sampai menjadi yang terbesar di
Inggris di bidangnya.
Setelah
bangkrut sang ayah mengajak anaknya ke Amerika. Jadi imigran di sana. Di
Amerika sang ayah bertemu dengan teknologi baru: solar cell. Ternyata nun di
tahun 1970-an Amerika sudah punya industri solar cell. Aneh. Sekarang dilindas
Tiongkok.
Sang ayah jatuh
cinta pada solar cell. Itu karena sang ayah sangat membenci minyak bumi:
gara-gara tergantung pada minyak bumi begitu terusan Suez ditutup usahanya
bangkrut. Sang ayah yakin masa depan energi dunia ada di tenaga matahari.
Ayah Double H
pun mendalami seluk beluk solar cell. Lalu berusaha untuk menjadi pemegang
lisensi teknologi solar cell Amerika untuk Timur Tengah. Logikanya, di Arab
banyak matahari. Logika itulah yang membawa mereka ke Uni Emirat Arab.
"Ayah saya
membangun rumah di Ras Al Khaimah," katanya. Itu kota terkenal yang
terletak di pantai indah dekat Dubai. Di situlah masa kecilnya. Ia menjadi
akrab dengan laut.
Bahkan ia
menjadi akrab dengan anak-anak Arab sesama teman sekolahnya. Salah satu teman
sekelasnya kini jadi penguasa di negara itu. Kalau ia ke UEA sudah punya
network penting di sana.
"Rumah
ayah saya di Al Khaimah menjadi rumah pertama yang menggunakan solar
cell," ujar Double H.
Lewat solar
cell itulah sang ayah menemukan bisnis baru. Sebenarnya logika itu tidak
ketemu: harga minyak di sana sangat murah. Melimpah. Sedang solar cell masih sangat
mahal. Apalagi di tahun-tahun 1980-an.
Tapi sang ayah
melihat ceruk dalam yang tidak dilihat orang lain. Di sana minyak mentah itu
dialirkan lewat pipa yang panjangnya ribuan kilometer –melalui gurun pasir
pula. Jauh dari sumber listrik. Padahal di setiap sambungan pipa memerlukan
perawatan khusus. Di setiap sambungan itulah sang ayah membangun listrik tenaga
matahari.
Tiba di
generasi kedua harga solar cell kian murah. Pun harga baterai. Kalau dilihat
dari kacamata tahun 1980-an harga solar cell dan baterai saat ini sama dengan
tidak ada harga lagi.
Generasi kedua
Gigatons juga melihat mobil listrik mulai lahir di bumi. Itu berarti memerlukan
charging station. Gigatons membangunnya di Inggris. Awalnya dianggap gila tapi
sekarang neracanya sudah biru.
"Sekarang
ini sudah ada 3 juta mobil listrik di Inggris," katanya.
Ia ingat
awal-awal merintis bisnis charging: betapa sulitnya. Betapa lambat perkembangan
mobil listrik di Inggris. Apalagi setelah subsidi mobil listrik dicabut.
Tapi belakangan
perkembangan itu meroket. "Awalnya untuk mencapai lima persen pertama
diperlukan waktu 10 tahun. Tapi setelah mencapai lima persen untuk ke-25 persen
hanya perlu waktu 5 tahun," ujar Double H.
Hebatnya,
charging milik Gigatons dipasok dari listrik tenaga matahari. Untuk itu
Gigatons punya ''perkebunan'' solar cell sendiri. Solar farm-nya tidak harus
berdekatan dengan stasiun charging-nya. Di sana itu memungkinkan. Transmisi
listrik milik swasta. Pemilik bisa menyewakan atau menjual sebagian
kapasitasnya untuk orang lain.
Misalnya:
transmisi itu bisa mengalirkan listrik 100 MW. Bisa saja pemiliknya menjual
''kapasitas'' yang 10 MW ke orang lain. Yang 20 MW lagi ke orang lain lagi, dan
seterusnya.
Itu yang tidak
bisa terjadi di Indonesia: semua transmisi milik PLN. Tidak ada aturan yang
bisa memperbolehkan PLN menjual atau menyewakan kapasitas transmisi. Inilah
salah satu faktor yang membuat tenaga surya kurang berkembang di Indonesia. Mau
tidak mau produsen listrik tenaga surya harus menjual listrik ke PLN. Ini yang
juga tidak mudah.
Gigatons tidak
sekadar menyewa jaringan. Ia membeli kapasitas jaringan. Dengan cara itu
Gigatons bisa mengalirkan listrik dari solar farm-nya sendiri ke charging
station miliknya sendiri lewat transmisinya sendiri.
Negara itu
untuk bisa maju ternyata punya syarat: pemerintahnya punya logika yang sama
dengan akal sehat rakyatnya. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/969477/mister-hh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar