|
PUISI DI TANGAN ILMUWAN SOSIAL - Kata
Pengantar Buku Jamal D Rahman: Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial: Puisi Esai,
Masyarakat, dan Perubahan Sosial Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 24 September 2026
|
Seorang
ilmuwan sosial terbiasa mengukur dunia dengan angka. Tetapi suatu hari ia
menemukan penderitaan yang terlalu dalam untuk dimasukkan ke tabel. Ada
manusia yang ditolak karena keyakinannya. Ada cinta yang patah karena identitas.
Ada minoritas yang hidup di bawah bayang-bayang mayoritas. Ada
korban yang dalam statistik hanya menjadi satu angka, padahal di rumahnya
seseorang menangis semalaman. Di
situlah ilmu pengetahuan mencapai batasnya. Angka mampu menghitung luka,
tetapi tidak selalu mampu membuat kita ikut terluka. Maka
sang ilmuwan mengambil jalan yang tak lazim. Ia meninggalkan tabel sejenak,
lalu mengetuk pintu puisi. Barangkali
karena ada kebenaran yang baru menjadi lengkap setelah fakta mempunyai air
mata. -000- Buku
yang berada di tangan pembaca ini, Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial: Puisi
Esai, Masyarakat, dan Perubahan Sosial, ditulis Jamal D. Rahman dan
diterbitkan Cerah Budaya Internasional pada 2026. Ia
bukan sekadar buku tentang puisi esai. Ia adalah catatan perjalanan
intelektual selama empat belas tahun, terdiri atas sebelas esai yang
menelusuri puisi esai sebagai karya, gagasan, kontroversi, gerakan
kebudayaan, sekaligus gejala perubahan sosial. Jamal
memasuki wilayah yang memang tidak sederhana: hubungan fakta dan fiksi, puisi
dan sejarah, estetika dan tanggung jawab sosial, catatan kaki dan imajinasi. Dari
sana muncul pertanyaan yang lebih besar: untuk apakah sastra hadir di tengah
masyarakat yang terluka? Buku
ini akhirnya bukan hanya membaca sebuah genre. Ia membaca hubungan antara
sastra, masyarakat, dan zaman. -000- Mengapa
buku ini penting? Pertama,
buku ini mendokumentasikan sebuah eksperimen sastra ketika masih berada dekat
dengan sumber kelahirannya. Puisi
esai lahir pada 2012 dari kegelisahan sederhana: dapatkah fakta sosial yang
biasanya hidup dalam survei, laporan, berita, dan penelitian dipindahkan ke
wilayah puisi tanpa kehilangan pijakan faktualnya? Jamal
menangkap keunikan eksperimen itu. Dalam pembacaannya, puisi esai membawa
cara pandang ilmuwan sosial ke dalam sastra. Fakta tidak dibuang setelah
imajinasi bekerja. Ia tetap hadir melalui riset dan catatan kaki. Jamal,
misalnya, menelusuri bagaimana lima puisi esai dalam Atas Nama Cinta tidak
hanya berkisah tentang tokoh yang dijauhi karena agamanya atau cinta yang
dilarang karena etnisnya, tetapi juga menyandarkan setiap adegan pada catatan
kaki yang merujuk survei, laporan, dan berita. Bagi
Jamal, di situlah cara pandang ilmuwan sosial tidak menghilang begitu
memasuki wilayah puisi. Karena
itu, buku ini menjadi semacam foto panjang sebuah kelahiran intelektual. Kita
melihat gagasan tumbuh, dikritik, diperbaiki, menyebar, bahkan melahirkan
pertanyaan yang tak dibayangkan oleh penggagasnya sendiri. Sebuah
gagasan memperoleh kehidupan justru ketika ia tak lagi sepenuhnya dimiliki
penciptanya. -000- Kedua,
buku ini mengembalikan satu pertanyaan tua ke tengah sastra: untuk siapakah
puisi ditulis? Tradisi
puisi modern telah menghasilkan puncak-puncak estetika. Tetapi keindahan
dapat berubah menjadi menara apabila tangganya hanya diketahui sedikit orang. Jamal
melihat puisi esai sebagai respons terhadap kecenderungan elitis itu. Ia
menghidupkan kembali cerita, menggunakan bahasa yang lebih komunikatif,
membawa isu sosial ke dalam puisi, dan membuka pintu bagi mereka yang
sebelumnya tidak menyebut dirinya penyair. Buku
ini bahkan mencatat bagaimana berbagai profesi, dari guru hingga aktivis dan
pekerja media, dapat memperoleh "bahasa" untuk menceritakan
pengalaman mereka. Di
sini demokratisasi sastra mendapatkan bentuknya yang paling sederhana: bukan
merendahkan langit puisi, tetapi memperbanyak tangga agar lebih banyak orang
dapat mendakinya. -000- Ketiga,
buku ini penting karena tidak memperlakukan puisi esai sebagai benda suci
yang harus dibela. Jamal
mengapresiasinya sekaligus mengujinya. Ia mempertanyakan mutu estetik,
hubungan fakta dan fiksi, fungsi catatan kaki, intrinsikalitas cerita, bahkan
kemungkinan sebuah puisi lebih menarik catatan kakinya daripada tubuh
puisinya. Ia
mencatat paradoks puisi esai: ingin populis melalui bahasa sederhana, tetapi
sekaligus meminta disiplin intelektual melalui riset. Justru
sikap kritis semacam ini membuat sebuah gagasan bertumbuh. Sebuah genre yang
hanya dipuji akan cepat menjadi monumen. Genre yang terus dipersoalkan dapat
menjadi laboratorium. Bahkan
Jamal mengakui bahwa perjalanan intelektual empat belas tahun itu tidak
selalu rapi. Pengulangan dan perubahan argumentasi dibiarkan sebagai jejak
perkembangan pemikirannya. Bagi
saya, di situlah kejujuran buku ini terasa. -000- Tentu
ada pandangan yang menentang. Bukankah puisi seharusnya membebaskan
imajinasi? Mengapa fakta harus menyeret catatan kaki memasuki taman puisi? Bukankah
riset dapat membuat puisi berjalan dengan sepatu besi? Lebih jauh lagi, jika
bahasa dibuat terlalu komunikatif dan isu sosial terlalu dominan, tidakkah
puisi berisiko berubah menjadi esai yang dipotong-potong menjadi larik? Jamal
sendiri merekam keberatan itu. Ia bahkan menunjukkan bahwa hubungan fakta dan
fiksi jauh lebih rumit daripada rumusan awal puisi esai. Namun
justru di situlah jawabannya. Puisi esai tidak meminta semua puisi memakai
catatan kaki. Ia
hanya membuka satu kemungkinan tambahan dalam rumah besar sastra. Pembaca
yang merasa catatan kaki mengganggu bahkan dapat mengabaikannya. Tetapi
bagi yang ingin mengetahui dunia faktual di balik cerita, catatan kaki
menjadi jendela kedua. Dalam sejumlah puisi esai, catatan kaki bukan sekadar
penyaji fakta. Ia
melanjutkan cerita dengan register yang berbeda, sehingga tubuh puisi terasa
seperti bisikan personal sementara catatan kakinya menjadi suara publik yang
mengukuhkan bahwa penderitaan tokoh bukanlah rekaan. Dua suara itu bertemu di
kepala pembaca. Eksperimen
tidak perlu menggantikan tradisi untuk menjadi sah. Ia hanya perlu memperluas
kemungkinan. Taman
sastra cukup luas untuk bunga liar, anggrek langka, dan tanaman baru yang
belum kita ketahui akan tumbuh menjadi apa. -000- Bagi
saya, membaca buku Jamal seperti membaca kembali sebuah perjalanan pribadi
dari jarak tertentu. Ketika
Atas Nama Cinta lahir pada 2012, saya tidak datang dari sekolah kepenyairan.
Saya datang membawa kebiasaan seorang ilmuwan sosial: melihat data, membaca
survei, mengamati diskriminasi, dan bertanya mengapa sebagian manusia menjadi
korban sistem sosial. Jamal
menangkap asal-usul itu dengan tajam. Ia melihat puisi esai sebagai percobaan
membawa cara pandang ilmuwan sosial ke wilayah imajinasi. Namun
ada sesuatu yang kemudian saya pelajari. Survei dapat memberi tahu kita
berapa persen minoritas mengalami diskriminasi. Puisi dapat menempatkan kita
di dalam kamar tokoh itu pada malam ketika ia memutuskan tetap bertahan. Yang
satu memberi pengetahuan. Yang lain memberi pengalaman batin. Saya ingin
keduanya bertemu. Justru
karena saya berada di dalam sejarah itu, saya membutuhkan jarak. Sebuah
gagasan hanya benar-benar tumbuh ketika ia bersedia dilihat dari mata orang
lain, dipertanyakan, diuji, bahkan mungkin dilampaui. -000- Dua
Buku untuk Memperluas Percakapan 1.
Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya, Ignas
Kleden, 2004 Buku
Ignas Kleden berguna untuk membawa diskusi ini ke pertanyaan yang lebih
mendasar tentang sastra: apa hubungan teks dengan realitas, bagaimana fakta
berubah ketika memasuki karya sastra, dan bagaimana sebuah karya memperoleh
makna melalui pembacanya. Jamal
sendiri merujuk buku ini ketika membahas batas fakta dan fiksi. Dalam
konteks puisi esai, pertanyaan itu menjadi sangat penting. Fakta tidak pernah
masuk ke sastra dalam keadaan steril. Begitu
disentuh bahasa, perspektif, tokoh, dan imajinasi, ia memperoleh kehidupan
kedua. Jika
Kleden bertanya bagaimana teks sastra berhubungan dengan realitas, puisi esai
menggeser pertanyaan itu selangkah lagi: bagaimana teks sastra sengaja
menempelkan realitas pada dirinya sendiri melalui catatan kaki, dan apa
akibatnya bagi cara kita membaca. Pertanyaan
terpenting bukan lagi "apakah ini fakta atau fiksi", melainkan
bagaimana keduanya berinteraksi sehingga melahirkan makna yang tidak tersedia
jika masing-masing berdiri sendiri. -000- 2.
Perdebatan Sastra Kontekstual, Ariel Heryanto, editor, 1985 Buku
ini membawa kita kembali kepada salah satu perdebatan penting dalam
kebudayaan Indonesia: apakah sastra terutama harus dinilai sebagai dunia
estetik yang otonom, ataukah ia juga perlu dibaca dalam konteks masyarakat
yang melahirkannya? Jamal
menempatkan polemik Sastra Kontekstual sebagai salah satu latar penting bagi
problem hubungan sastra dan masyarakat. Pertanyaan
itu hidup kembali dalam puisi esai. Ketika kemiskinan, diskriminasi, konflik
identitas, sejarah, dan suara kelompok marginal masuk ke puisi, estetika
berhadapan dengan tanggung jawab sosial. Jika
perdebatan 1985 masih memisahkan dua kutub itu sebagai pilihan, puisi esai
justru menawarkan bentuk yang mencoba menahan keduanya sekaligus di dalam
satu teks. Karya
besar mungkin lahir ketika keindahan bahasa membuat penderitaan sosial
semakin terasa, sementara kenyataan sosial memberi keindahan sebuah alasan
moral untuk hadir. -000- Pada
akhirnya, saya membaca buku Jamal D. Rahman bukan sebagai pembelaan terhadap
puisi esai. Saya
membacanya sebagai percakapan panjang dengan sebuah eksperimen. Ada
pujian di dalamnya. Ada kritik. Ada keraguan. Ada pertanyaan yang setelah
empat belas tahun bahkan belum selesai dijawab. Dan
saya menyukai keadaan itu. Sebab gagasan yang sehat bukanlah gagasan yang
membuat semua orang berhenti bertanya. Puisi
esai boleh kelak berubah bentuk. Ia boleh dikritik, dilampaui, bahkan mungkin
melahirkan bentuk lain yang hari ini belum memiliki nama. Tetapi
satu kerinduan sebaiknya tetap tinggal: membawa puisi kembali menyentuh
kehidupan manusia. Sebab
angka dapat mencatat berapa banyak manusia terluka, tetapi puisi membuat kita
tak sanggup lagi menganggap luka itu sekadar angka. ● REFERENSI Ignas
Kleden. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya.
Jakarta: Grafiti, 2004. Ariel
Heryanto (editor). Perdebatan Sastra Kontekstual. Jakarta: CV Rajawali, 1985. Jamal
D. Rahman. Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial: Puisi Esai, Masyarakat, dan
Perubahan Sosial (draft buku). Jakarta: Cerah Budaya Internasional, 2026. -000- Buku
dapat dibaca di |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar