|
Presiden dan Pakar ”Goblok” Ahmad
Arif : Wartawan Kompas. |
KOMPAS, 23 September 2026
|
Presiden tidak sedang kelebihan kritik dari pakar. Ia sedang
kekurangan orang yang cukup jujur untuk mengoreksinya. "Sumpah saya ingin melihat Indonesia sejahtera. Terserah,
pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi
goblok." Kalimat itu keluar dari mulut Presiden Prabowo Subianto, Jumat
(18/9/2026), dalam sambutan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional, yang disiarkan
secara daring, di Jakarta. Dalam beberapa kesempatan, presiden menyebut
orang-orang yang mengkritiknya dengan istilah “londo ireng” dan “antek-antek
asing”. Kini sasaran kritiknya adalah kelompok yang justru dibutuhkan
pemerintah untuk menguji kebijakan dengan pengetahuan, data, dan bukti: para
pakar. Ironinya, presiden yang menyebut pakar “goblok” ini beberapa kali
justru keliru menyampaikan angka dan data di depan publik. Dalam Musyawarah
Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Juni 2026,
Prabowo menyebut 10 ditambah 6 sama dengan 17. Dalam pidato kenegaraan Agustus 2026, ia memperkenalkan Susanah
sebagai pengupas bawang berpenghasilan Rp 700.000 per kilogram (kg). Padahal
Susanah merupakan penjahit kain majun dengan upah harian jauh lebih kecil. Pada pidato yang sama, presiden mengklaim skema bagi hasil ojek
online atau ojol yang baru membuat pendapatan pengemudi naik dua sampai tiga
kali lipat, klaim yang tak sejalan dengan keluhan di lapangan. Di sinilah paradoksnya. Semakin banyak kekeliruan data yang
keluar dari podium presiden, semakin jelas bahwa yang sesungguhnya ia
butuhkan lebih banyak pakar yang berani mengingatkannya. Itu juga jadi bukti
bahwa terlalu sedikit orang di sekitarnya yang berani, atau diberi ruang,
untuk berkata "Pak, itu keliru." Presiden tidak sedang kelebihan kritik. Ia sedang kekurangan
orang yang cukup jujur untuk mengoreksinya. Kisah ini mengingatkan pada dongeng lama Hans Christian Andersen,
"Baju Baru Sang Kaisar". Seluruh rakyat melihat kaisar mereka
telanjang, tapi tak seorang pun berani berkata jujur, takut dianggap bodoh
atau melawan penguasa. Sampai seorang anak kecil, tanpa beban jabatan yang
perlu dijaga, berseru, "Kaisar tidak memakai pakaian." Dalam pemerintahan, anak kecil itu semestinya adalah para pakar
atau tenaga ahli. Mereka tidak digaji untuk membuat presiden selalu tampak
benar, melainkan untuk memastikan keputusan pemerintah tidak dibangun di atas
kesalahan. Pengkhianatan cendekiawan Mengacu pada definisi kamus Bahasa Indonesia, pakar sebenarnya
bisa dimaknai sebagai orang yang memiliki keahlian di bidang tertentu. Kita
bisa mengasumsikan, mereka adalah kalangan cendekia, dan di sekeliling
presiden pasti banyak jumlahnya. Masalahnya, hampir seabad lalu, pemikir Prancis Julien Benda
menulis tentang la trahison des clercs, pengkhianatan kaum
cendekiawan. Benda menyampaikan itu untuk menyebut kelompok terpelajar yang
telah meninggalkan tugas aslinya mengejar kebenaran universal, lalu berbalik
mengabdi pada kekuasaan atau kepentingan golongan. Bagi Benda, cendekiawan yang mengorbankan independensi
berpikirnya demi kedekatan dengan penguasa, bukan sekadar kehilangan
integritas pribadi, tapi merusak fungsi sosialnya sebagai penjaga akal sehat
publik. Dibaca dari kerangka ini, kekeliruan presiden yang berulang bukan
menunjukkan ia dikelilingi terlalu banyak pakar yang kritis, melainkan
terlalu banyak pakar yang telah mengkhianati panggilan intelektualnya
sendiri, memilih menjadi corong ketimbang rem. Jika kerangka Benda digunakan untuk membaca situasi di lingkar
kekuasaan saat ini, persoalannya bukan kekurangan orang pintar di sekitar
kekuasaan, melainkan kemungkinan bahwa sebagian kepakaran telah kehilangan
fungsi korektifnya. Bagaimana itu terjadi? Psikologi organisasi mengenal gejalanya
sebagai groupthink: keinginan mempertahankan kesepakatan kelompok
membuat informasi yang mengganggu diabaikan. Ada pula organizational
silence, ketika orang memilih diam karena menyampaikan kabar buruk
dianggap berisiko bagi karier. Dalam lingkungan kekuasaan yang tidak memberi ruang bagi
perbedaan pendapat, penasihat yang mengetahui angka presiden keliru atau ahli
yang melihat risiko sebuah program dapat memilih diam. Kabar buruk akhirnya
berhenti sebelum mencapai meja pengambil keputusan. Pernyataan itu kemudian menuai kritik dari kalangan akademik.
Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), Senin (21/9/2026),
menyebutnya sebagai bentuk politik antisains. Presidium KIKA Rina Mardina, dosen IPB University, menyayangkan
cara presiden mendelegitimasi pakar secara terbuka sebagai respons atas
kritik, pola yang bisa membuat akademisi kian enggan bersuara. Jangan-jangan memang bukan pakar yang "saking pintarnya jadi
goblok", tapi jangan-jangan presiden dikelilingi pakar yang terlalu
takut mengatakan ia keliru. Tuduhan itu sesungguhnya cermin dari kegagalan
sistem yang ia bangun sendiri. Pakar kritis mungkin sesekali salah, tapi kesalahannya bisa diuji
dengan data. Pakar yang selalu berkata "Bapak benar" justru membuat
kesalahan tak pernah sampai ke meja pemeriksaan, dan ketika presiden salah
menghitung, yang menanggung akibatnya bukan dirinya sendiri, melainkan
seluruh rakyat. Indonesia tidak membutuhkan orang-orang yang mengelilingi
presiden sambil bertepuk tangan. Yang dibutuhkan adalah orang yang berani
berkata, “Pak, itu bukan 17.” Orang yang berani mengatakan bahwa upah Susanah bukan Rp 700.000
per kilogram, dan penghasil ojek daring belum naik signifikan. Orang yang
berani mengingatkan bahwa sebuah kebijakan belum tentu berhasil hanya karena
angka di podium mengatakannya demikian. Hal ini disebabkan kesalahan di podium mungkin hanya berlangsung
beberapa detik. Namun ketika tak ada seorang pun yang mengoreksinya,
kesalahan itu bisa berubah jadi kebijakan. Dan ketika kebijakan keliru, yang
menanggung akibatnya bukan presiden seorang, melainkan seluruh rakyat. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/presiden-dan-pakar-goblok?open_from=Kolom_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar