|
Pencegahan Bunuh Diri pada Remaja FX Wikan Indrarto : Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta,
Dekan FK UAJY, Alumnus S-3 UGM. |
MEDIA INDONESIA, 23 September 2026
|
BUNUH diri merupakan tantangan kesehatan
masyarakat yang besar karena merenggut nyawa lebih dari 720.000 orang setiap
tahunnya. Padahal hilangnya setiap nyawa membawa dampak sosial, emosional,
dan ekonomi yang mendalam, serta sangat memengaruhi keluarga, teman, tempat
kerja, dan seluruh masyarakat di berbagai belahan dunia. Apa yang sebaiknya
dilakukan? Bunuh diri merupakan penyebab kematian terbanyak
ketiga pada kelompok usia 15–29 tahun. Kelompok ini adalah remaja dan dewasa
muda. Tujuh puluh tiga persen kasus bunuh diri secara global terjadi di
negara berpenghasilan rendah dan menengah. Penyebab bunuh diri bersifat
kompleks dan dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, biologis, psikologis,
serta lingkungan yang muncul sepanjang perjalanan hidup seseorang. Untuk
setiap kasus bunuh diri, terdapat jauh lebih banyak orang yang melakukan
percobaan bunuh diri. Riwayat percobaan bunuh diri sebelumnya merupakan
faktor risiko penting bagi tindakan bunuh diri di masyarakat umum. GANGGUAN JIWA Kaitan antara bunuh diri dan gangguan jiwa
(khususnya depresi dan gangguan penggunaan alkohol) serta riwayat percobaan
bunuh diri sebelumnya telah terbukti secara kuat di banyak negara
berpenghasilan tinggi. Namun, banyak kasus bunuh diri terjadi secara impulsif
pada saat krisis, ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mengatasi
tekanan hidup, seperti perundungan, beban pendidikan, masalah keuangan,
konflik hubungan, atau rasa sakit dan penyakit kronis. Selain itu, pengalaman
menghadapi konflik, bencana, kekerasan, perlakuan kejam (abuse), atau
kehilangan, serta perasaan terisolasi, sangat erat kaitannya dengan perilaku
bunuh diri. Angka bunuh diri juga tinggi di kalangan kelompok rentan yang
mengalami diskriminasi, seperti pengungsi dan migran, masyarakat adat,
individu lesbian, gay, biseksual, transgender, dan interseks (LGBTI), serta
narapidana. PENCEGAHAN Terdapat beberapa langkah yang dapat diambil pada
tingkat populasi, subpopulasi, dan individu remaja untuk mencegah bunuh diri
dan tindakan melukai diri sendiri. Misalnya Live Life, sebuah inisiatif WHO
untuk pencegahan bunuh diri, merekomendasikan intervensi utama yang efektif
dan berbasis bukti sebagai berikut: Pertama, membatasi akses terhadap sarana untuk
melakukan bunuh diri (misalnya pestisida, senjata api, obat-obatan tertentu).
Kedua, berinteraksi dengan media untuk mendorong pemberitaan yang bertanggung
jawab mengenai bunuh diri. Ketiga, membina keterampilan hidup
sosial-emosional pada remaja; serta keempat, melakukan identifikasi dini,
penilaian, penanganan, dan tindak lanjut terhadap siapa pun yang terdampak
oleh perilaku bunuh diri. Upaya pencegahan bunuh diri memerlukan koordinasi
dan kolaborasi di antara berbagai sektor, termasuk kesehatan, pendidikan,
ketenagakerjaan, pertanian, dunia usaha, peradilan, hukum, pertahanan,
politik, dan media. Mengingat sifat bunuh diri yang kompleks dan melibatkan
berbagai aspek, berbagai upaya ini harus bersifat komprehensif dan
terintegrasi. Stigma, khususnya yang terkait dengan gangguan
jiwa dan bunuh diri, menyebabkan banyak remaja yang memiliki niat untuk
mencoba bunuh diri tidak mencari bantuan sehingga mereka tidak mendapatkan
pertolongan yang dibutuhkan. Pencegahan bunuh diri belum ditangani secara
memadai akibat kurangnya kesadaran bahwa bunuh diri merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang besar, serta adanya anggapan tabu di banyak masyarakat
untuk membahasnya secara terbuka. Hingga saat ini, hanya sedikit negara yang
memasukkan pencegahan bunuh diri ke dalam prioritas kesehatan mereka, dan
hanya 38 negara yang melaporkan memiliki strategi nasional pencegahan bunuh
diri. Secara global, ketersediaan dan kualitas data
mengenai bunuh diri dan tindakan melukai diri sendiri juga masih buruk. Hanya
sekitar 80 negara anggota WHO yang memiliki data registrasi berkualitas baik
yang dapat digunakan secara langsung untuk memperkirakan angka bunuh diri.
Masalah buruknya kualitas data kematian ini tidak hanya terjadi pada kasus
bunuh diri, mengingat adanya stigma seputar bunuh diri—serta status ilegal
perilaku bunuh diri di beberapa negara—kemungkinan besar pelaporan yang
kurang (under-reporting) dan kesalahan klasifikasi, menjadi masalah yang
lebih besar pada kasus bunuh diri jika dibandingkan dengan sebagian besar
penyebab kematian lainnya. REMAJA YANG RENTAN Satu dari enam orang di dunia berusia 10–19 tahun
yang disebut remaja. Masa remaja merupakan masa yang unik dan krusial bagi
pembentukan diri. Perubahan fisik, emosional, dan sosial—termasuk paparan
terhadap kemiskinan, perlakuan buruk, atau kekerasan—dapat membuat remaja
rentan terhadap masalah kesehatan mental. Melindungi remaja dari situasi
sulit, mendorong pembelajaran sosial-emosional dan kesejahteraan psikologis,
serta memastikan akses terhadap layanan kesehatan mental, merupakan hal yang
sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka, baik pada masa remaja
maupun saat setelah dewasa. Masa remaja adalah periode krusial untuk
mengembangkan kebiasaan sosial dan emosional yang penting bagi kesejahteraan
mental. Hal ini mencakup penerapan pola tidur yang sehat, olahraga teratur,
pengembangan keterampilan mengatasi masalah (coping), pemecahan masalah,
keterampilan interpersonal, dan belajar mengelola emosi. Intervensi promosi
dan pencegahan bidang kesehatan mental bertujuan memperkuat kemampuan remaja
dalam mengelola emosi, meningkatkan alternatif selain perilaku berisiko,
membangun ketahanan dalam menghadapi situasi sulit dan tantangan hidup, serta
mendorong terciptanya lingkungan sosial dan jejaring sosial yang suportif. Sebaiknya kita semua bergerak bersama menantang
mitos yang keliru, mengurangi stigma, serta mendorong percakapan dengan para
remaja secara terbuka dan penuh kepedulian mengenai bunuh diri. Tujuannya
ialah beralih dari sikap diam dan kesalahpahaman pada remaja menuju
keterbukaan, empati, dan dukungan demi menciptakan lingkungan di mana setiap
remaja merasa mampu untuk berbicara dan mencari bantuan. Apakah kita sudah mendampingi para remaja di
sekitar kita? ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/936458/pencegahan-bunuh-diri-pada-remaja
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar