|
M. Nuruddin Sejarah Islam Tak
Bersandar pada Data Tertulis Friski Riana : Jurnalis Tempo |
TEMPO HARIAN, 20 September 2026
|
· Nuruddin menyatakan identitas keislaman
otomatis muncul dengan kehadiran Nabi Muhammad. · Ia mengkritik pandangan revisionis
seperti Mun’im Sirry yang bersandar pada bukti material sejarah. · Nuruddin sepakat dengan Mun’im Sirry,
umat Islam perlu membedakan fakta sejarah dengan dogma. MINIMAL
empat kali dalam sebulan Muhammad Nuruddin rutin berdakwah di berbagai
masjid. Pada Sabtu, 18 Juli 2026, misalnya, ia mengisi jadwal kajian subuh di
Masjid Raya Kebayoran Residence, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. Alumnus
Al-Azhar University, Mesir, itu juga kerap membahas agama Islam di media
sosial. “Saya ingin menyasar anak muda,” kata Nuruddin. Kepada
jurnalis Tempo, Yosea Arga, Friski Riana, dan Erwan Hermawan, serta
fotografer Tony Hartawan, Nuruddin menyampaikan kritiknya terhadap pemikiran
Mun’im Sirry. Ia menyatakan sejarah Islam dibangun di atas mata rantai
periwayatan yang bisa dipertanggungjawabkan dan tak bersandar pada data
tertulis. Dalam
wawancara selama sekitar dua jam di Hotel Aviari, Bintaro, Nuruddin mengaku
punya banyak perbedaan pandangan dengan Mun’im. Namun, dalam soal
konservatisme dan kritik terhadap kebijakan pemerintah, ia satu sikap dengan
Mun’im. Anda
kerap mengkritik pemikiran Mun'im Sirry, bahkan sampai membuat berbagai
tulisan. Apa alasannya? Saya
banyak berbeda sama Mas Mun'im Sirry dalam sejarah kemunculan agama. Beliau
sering menggugat hal-hal fondasional. Kita harus paham bahwa setiap agama
punya identitas yang bersifat fondasional. Ada ajaran yang memang bisa
dikembangkan atau memungkinkan adanya ijtihad-ijtihad baru. Agama
memungkinkan kita untuk berkreasi. Ada konsep muamalah modern, transaksi
modern. Misalnya pada zaman Nabi tidak ada perbankan, sekarang kan ada. Apa
contoh pemikiran Mun’im Sirry yang tidak sepaham dengan Anda? Bagi
dia, Nabi Muhammad tidak datang dengan ajaran Islam, tapi oikumenis, ajaran
yang bisa memayungi kelompok, community of believers. Jadi Yahudi, Nasrani,
dan Islam dulu satu komunitas beriman. Tidak ada perbedaan atau ajaran yang
distingtif yang memecah mereka. Bagi Mun’im, identitas keislaman muncul
belakangan. Mengapa
Anda tidak setuju? Saya
bisa menggugat dengan logika sangat sederhana sekali. Sejak zaman Nabi, orang
Kristen dan Yahudi sudah hidup dan ada komunitasnya. Kalau Muhammad enggak
datang dengan ajaran Islam, bagaimana konversi agama sahabat-sahabat Nabi
yang dulu dari kalangan musyrik? Jadi identitas keislaman sejak awal sudah
hadir dengan kehadiran Nabi Muhammad sendiri. Mun’im
berargumen bahwa kalimat syahadat lengkap seperti sekarang belum ditemukan
dalam catatan arkeologis awal.... Argumennya
itu ada bukti numismatik berupa koin di era Abu Malik bin Warman. Baru kali
itu ditemukan koin bertulisan syahadat. Dia seperti ingin bilang bahwa pada
zaman Nabi enggak ada syahadat itu. Syahadat baru muncul ketika koin
ditemukan. Atas dasar apa Mun’im membatasi bukti sejarah itu pada bukti
numismatik semata? Data historis kan banyak variabelnya. Bukti material hanya
salah satu variabel. Menurut
Anda, syahadat lengkap itu memang ada sejak zaman Nabi? Sejak
awal, Nabi Muhammad bilang kepada orang-orang di sekitarnya bahwa, “Tuhan esa
dan aku utusan-Nya.” Kalau orang ingin masuk Islam, ya sudah bersaksi, kan.
Tidak usah nunggu bukti numismatik. Mun’im
mengatakan rumusan rukun Islam yang eksplisit menyertakan syahadat ditemukan
dalam riwayat hadis, bukan satu ayat utuh dalam Al-Quran.... Bukan
ada dalam hadis. Secara common sense saja. Syahadat isinya percaya Tuhan esa,
percaya Muhammad utusan Allah SWT. Redaksi “asyhadu alla ilaha” enggak bakal
ada di Quran. Kita tidak perlu bukti tekstual di Quran karena Nabi datang
dengan ajaran itu. Ketika percaya Tuhan esa, Muhammad utusan-Nya, otomatis
percaya kepada semua turunannya, isi Al-Quran, ajarannya. Ini kritik banyak
sarjana terhadap revisionis yang membatasi bukti sejarah pada bukti material,
dokumen tertulis, inskripsi, bukti numismatik. Apa yang
membedakan pendekatan revisionis dengan sejarawan muslim? Sejarawan
muslim melihat lebih fair. Sejarah tidak dibangun di atas bukti-bukti
material semata. Banyak fakta sejarah bisa kita ragukan kalau tidak ada bukti
material. Dalam dokumen sezaman pun, bukan berarti pernyataannya benar-benar
valid, karena ada tafsiran sejarawannya. Bagaimana kalau dokumen ini ditulis
oleh orang yang tidak tepercaya? Ini enggak serta-merta, kalau ada bukti
numismatik, bukti material, kita simpulkan gitu saja. Menurut
Anda, pendekatan apa yang sesuai untuk sejarah Islam? Sejarah
Islam dibangun di atas mata rantai periwayatan yang bisa
dipertanggungjawabkan. Yang menarik dari Islam, ada tradisi periwayatan
sanad. Saya menerima kitab suci ini dari siapa, ada asal muasalnya, ada
disiplin ilmu tersendiri. Namanya ilmu qiraah. Orang tidak bisa sembarangan
atau mengada-ada. Kalau ada orang memunculkan bacaan baru di Quran dan enggak
valid, muslim sedunia bisa mengoreksi karena ada periwayatan lisan. Sanad
itu terverifikasi? Ulama
dulu memverifikasi sabda Nabi dengan luar biasa. Dicari perawinya siapa,
informannya siapa, hidup sezaman atau tidak. Kalau beda, terjadi keterputusan
sanad, periwayatannya jadi lemah. Harus terbukti mereka hidup sezaman dan
pernah berjumpa, lalu dikorek-korek kehidupannya, kemampuan menghafalnya
lemah atau kuat. Itu kerja intelektual luar biasa. Menurut
Mun’im Sirry, sejarah hidup Nabi Muhammad ditulis jauh setelah ia wafat.... Anggap
itu benar. Poinnya, apakah sebelum kitab itu ditulis, informasinya enggak
ada? Informasi sudah ada, cuma, ditransmisikan secara oral. Orang Arab punya
keistimewaan mampu menghafal dengan cepat. Mereka mengandalkan periwayatan
lisan. Tidak semua narasi tentang sejarah Nabi itu valid. Ada narasi palsu,
lemah, debatable. Tapi ada hal-hal yang disepakati. Apa yang
disepakati? Nabi
Muhammad tokoh historis, itu kesepakatan. Soal tanggal lahir Nabi memang ada
perbedaan, tapi itu bukan hal pokok. Anda kalau mau percaya Nabi lahir
tanggal 9 atau 12 tetap jadi muslim, kan? Itu bukan hal fondasional. Yang
fondasional adalah Muhammad merupakan nabi, tokoh historis, membawa Al-Quran,
datang dengan ajaran Islam yang berbeda dengan Yahudi dan Kristen. Bagaimana
dengan dokumen tertulis yang muncul belakangan? Data
tertulis bukan satu-satunya sumber sejarah. Sejarah Islam tak menyandarkan
informasi pada data tertulis. Budaya yang berkembang itu budaya lisan.
Informasi Nabi, kehidupannya, mukjizatnya, cara berjalan, itu ada di kitab
hadis. Walaupun ditulis belakangan, informasinya ada sejak dulu. Dokumen
hanya salah satu indikator yang bisa kita telaah untuk memverifikasi
peristiwa sejarah. Periwayatan sanad itu ada. Kaum revisionis tak bisa
menerima itu. Apa lagi
yang tidak bisa diterima revisionis? Pengetahuan
manusia lebih luas dari pengetahuan indrawi. Agama bilang, selain pengetahuan
indrawi, pengetahuan rasional, ada pengetahuan yang bersumber dari Tuhan.
Orang Barat enggak percaya itu. Bagi mereka, iman adalah subyektif aja. Tapi
kita kan punya kitab suci yang tervalidasi dari nabi-Nya langsung. Mun’im Sirry
mendorong pendekatan revisionis agar umat bisa membedakan fakta sejarah
dengan dogma. Anda setuju? Sepakat.
Kita harus bisa membedakan itu. Cuma, problemnya, sejak awal dia sudah bias
melihat sejarah dan punya tendensi sendiri. Saya kira perdebatannya bukan
soal keharusan membedakan sejarah dengan dogma, melainkan sudah tepat atau
belum cara memandang sejarah itu. Kita enggak berbicara soal dogma. Baru di
level kita berbicara soal sejarah pun sudah problematis, kan? Dalam
hal apa Anda sepandangan dengan Mun’im Sirry? Soal
konservatisme, kalau mengkritik dalam batas yang wajar memang kita perlukan.
Kepada siapa lagi kita berharap kalau pemuka-pemuka agama diam dan menutup
mulut terhadap kebijakan yang konyol? Saya juga sepakat perlunya menerapkan
sikap kritis melawan narasi-narasi kaum ekstremis, kelompok eksklusif yang
kadang mudah mengkafirkan sesama muslim. Umat
Islam boleh mengkritik kebijakan penguasa? Sikap
kita terhadap kebijakan penguasa terbuka dengan perbedaan sudut pandang. Kita
bisa berbicara soal makan bergizi gratis (MBG), misalnya. MBG spiritnya
memberi makan dan itu ajaran agama. Tapi apa berhenti sampai di situ?
Problemnya kan bukan itu, melainkan pengelolaan, praktik-praktik korup di
baliknya. Seharusnya orang beragama cerdas sampai melihat ke sana, jangan
terbuai. ● Sumber : https://www.tempo.co/wawancara/nuruddin-munim-sirry-sejarah-islam-2288039 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar