Senin, 21 September 2026

 

M. Nuruddin Sejarah Islam Tak Bersandar pada Data Tertulis

Friski Riana :  Jurnalis Tempo

TEMPO HARIAN,  20 September 2026

 

 

 

·      Nuruddin menyatakan identitas keislaman otomatis muncul dengan kehadiran Nabi Muhammad.

 

·      Ia mengkritik pandangan revisionis seperti Mun’im Sirry yang bersandar pada bukti material sejarah.

 

·      Nuruddin sepakat dengan Mun’im Sirry, umat Islam perlu membedakan fakta sejarah dengan dogma.

 

MINIMAL empat kali dalam sebulan Muhammad Nuruddin rutin berdakwah di berbagai masjid. Pada Sabtu, 18 Juli 2026, misalnya, ia mengisi jadwal kajian subuh di Masjid Raya Kebayoran Residence, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. Alumnus Al-Azhar University, Mesir, itu juga kerap membahas agama Islam di media sosial. “Saya ingin menyasar anak muda,” kata Nuruddin.

 

Kepada jurnalis Tempo, Yosea Arga, Friski Riana, dan Erwan Hermawan, serta fotografer Tony Hartawan, Nuruddin menyampaikan kritiknya terhadap pemikiran Mun’im Sirry. Ia menyatakan sejarah Islam dibangun di atas mata rantai periwayatan yang bisa dipertanggungjawabkan dan tak bersandar pada data tertulis.

 

Dalam wawancara selama sekitar dua jam di Hotel Aviari, Bintaro, Nuruddin mengaku punya banyak perbedaan pandangan dengan Mun’im. Namun, dalam soal konservatisme dan kritik terhadap kebijakan pemerintah, ia satu sikap dengan Mun’im.

 

Anda kerap mengkritik pemikiran Mun'im Sirry, bahkan sampai membuat berbagai tulisan. Apa alasannya?

 

Saya banyak berbeda sama Mas Mun'im Sirry dalam sejarah kemunculan agama. Beliau sering menggugat hal-hal fondasional. Kita harus paham bahwa setiap agama punya identitas yang bersifat fondasional. Ada ajaran yang memang bisa dikembangkan atau memungkinkan adanya ijtihad-ijtihad baru. Agama memungkinkan kita untuk berkreasi. Ada konsep muamalah modern, transaksi modern. Misalnya pada zaman Nabi tidak ada perbankan, sekarang kan ada.

 

Apa contoh pemikiran Mun’im Sirry yang tidak sepaham dengan Anda?

 

Bagi dia, Nabi Muhammad tidak datang dengan ajaran Islam, tapi oikumenis, ajaran yang bisa memayungi kelompok, community of believers. Jadi Yahudi, Nasrani, dan Islam dulu satu komunitas beriman. Tidak ada perbedaan atau ajaran yang distingtif yang memecah mereka. Bagi Mun’im, identitas keislaman muncul belakangan.

 

Mengapa Anda tidak setuju?

 

Saya bisa menggugat dengan logika sangat sederhana sekali. Sejak zaman Nabi, orang Kristen dan Yahudi sudah hidup dan ada komunitasnya. Kalau Muhammad enggak datang dengan ajaran Islam, bagaimana konversi agama sahabat-sahabat Nabi yang dulu dari kalangan musyrik? Jadi identitas keislaman sejak awal sudah hadir dengan kehadiran Nabi Muhammad sendiri.

 

Mun’im berargumen bahwa kalimat syahadat lengkap seperti sekarang belum ditemukan dalam catatan arkeologis awal....

 

Argumennya itu ada bukti numismatik berupa koin di era Abu Malik bin Warman. Baru kali itu ditemukan koin bertulisan syahadat. Dia seperti ingin bilang bahwa pada zaman Nabi enggak ada syahadat itu. Syahadat baru muncul ketika koin ditemukan. Atas dasar apa Mun’im membatasi bukti sejarah itu pada bukti numismatik semata? Data historis kan banyak variabelnya. Bukti material hanya salah satu variabel.

 

Menurut Anda, syahadat lengkap itu memang ada sejak zaman Nabi?

 

Sejak awal, Nabi Muhammad bilang kepada orang-orang di sekitarnya bahwa, “Tuhan esa dan aku utusan-Nya.” Kalau orang ingin masuk Islam, ya sudah bersaksi, kan. Tidak usah nunggu bukti numismatik.

 

Mun’im mengatakan rumusan rukun Islam yang eksplisit menyertakan syahadat ditemukan dalam riwayat hadis, bukan satu ayat utuh dalam Al-Quran....

 

Bukan ada dalam hadis. Secara common sense saja. Syahadat isinya percaya Tuhan esa, percaya Muhammad utusan Allah SWT. Redaksi “asyhadu alla ilaha” enggak bakal ada di Quran. Kita tidak perlu bukti tekstual di Quran karena Nabi datang dengan ajaran itu. Ketika percaya Tuhan esa, Muhammad utusan-Nya, otomatis percaya kepada semua turunannya, isi Al-Quran, ajarannya. Ini kritik banyak sarjana terhadap revisionis yang membatasi bukti sejarah pada bukti material, dokumen tertulis, inskripsi, bukti numismatik.

 

Apa yang membedakan pendekatan revisionis dengan sejarawan muslim?

 

Sejarawan muslim melihat lebih fair. Sejarah tidak dibangun di atas bukti-bukti material semata. Banyak fakta sejarah bisa kita ragukan kalau tidak ada bukti material. Dalam dokumen sezaman pun, bukan berarti pernyataannya benar-benar valid, karena ada tafsiran sejarawannya. Bagaimana kalau dokumen ini ditulis oleh orang yang tidak tepercaya? Ini enggak serta-merta, kalau ada bukti numismatik, bukti material, kita simpulkan gitu saja.

 

Menurut Anda, pendekatan apa yang sesuai untuk sejarah Islam?

 

Sejarah Islam dibangun di atas mata rantai periwayatan yang bisa dipertanggungjawabkan. Yang menarik dari Islam, ada tradisi periwayatan sanad. Saya menerima kitab suci ini dari siapa, ada asal muasalnya, ada disiplin ilmu tersendiri. Namanya ilmu qiraah. Orang tidak bisa sembarangan atau mengada-ada. Kalau ada orang memunculkan bacaan baru di Quran dan enggak valid, muslim sedunia bisa mengoreksi karena ada periwayatan lisan.

 

Sanad itu terverifikasi?

 

Ulama dulu memverifikasi sabda Nabi dengan luar biasa. Dicari perawinya siapa, informannya siapa, hidup sezaman atau tidak. Kalau beda, terjadi keterputusan sanad, periwayatannya jadi lemah. Harus terbukti mereka hidup sezaman dan pernah berjumpa, lalu dikorek-korek kehidupannya, kemampuan menghafalnya lemah atau kuat. Itu kerja intelektual luar biasa.

 

Menurut Mun’im Sirry, sejarah hidup Nabi Muhammad ditulis jauh setelah ia wafat....

 

Anggap itu benar. Poinnya, apakah sebelum kitab itu ditulis, informasinya enggak ada? Informasi sudah ada, cuma, ditransmisikan secara oral. Orang Arab punya keistimewaan mampu menghafal dengan cepat. Mereka mengandalkan periwayatan lisan. Tidak semua narasi tentang sejarah Nabi itu valid. Ada narasi palsu, lemah, debatable. Tapi ada hal-hal yang disepakati.

 

Apa yang disepakati?

 

Nabi Muhammad tokoh historis, itu kesepakatan. Soal tanggal lahir Nabi memang ada perbedaan, tapi itu bukan hal pokok. Anda kalau mau percaya Nabi lahir tanggal 9 atau 12 tetap jadi muslim, kan? Itu bukan hal fondasional. Yang fondasional adalah Muhammad merupakan nabi, tokoh historis, membawa Al-Quran, datang dengan ajaran Islam yang berbeda dengan Yahudi dan Kristen.

 

Bagaimana dengan dokumen tertulis yang muncul belakangan?

 

Data tertulis bukan satu-satunya sumber sejarah. Sejarah Islam tak menyandarkan informasi pada data tertulis. Budaya yang berkembang itu budaya lisan. Informasi Nabi, kehidupannya, mukjizatnya, cara berjalan, itu ada di kitab hadis. Walaupun ditulis belakangan, informasinya ada sejak dulu. Dokumen hanya salah satu indikator yang bisa kita telaah untuk memverifikasi peristiwa sejarah. Periwayatan sanad itu ada. Kaum revisionis tak bisa menerima itu.

 

Apa lagi yang tidak bisa diterima revisionis?

 

Pengetahuan manusia lebih luas dari pengetahuan indrawi. Agama bilang, selain pengetahuan indrawi, pengetahuan rasional, ada pengetahuan yang bersumber dari Tuhan. Orang Barat enggak percaya itu. Bagi mereka, iman adalah subyektif aja. Tapi kita kan punya kitab suci yang tervalidasi dari nabi-Nya langsung.

 

Mun’im Sirry mendorong pendekatan revisionis agar umat bisa membedakan fakta sejarah dengan dogma. Anda setuju?

 

Sepakat. Kita harus bisa membedakan itu. Cuma, problemnya, sejak awal dia sudah bias melihat sejarah dan punya tendensi sendiri. Saya kira perdebatannya bukan soal keharusan membedakan sejarah dengan dogma, melainkan sudah tepat atau belum cara memandang sejarah itu. Kita enggak berbicara soal dogma. Baru di level kita berbicara soal sejarah pun sudah problematis, kan?

 

Dalam hal apa Anda sepandangan dengan Mun’im Sirry?

 

Soal konservatisme, kalau mengkritik dalam batas yang wajar memang kita perlukan. Kepada siapa lagi kita berharap kalau pemuka-pemuka agama diam dan menutup mulut terhadap kebijakan yang konyol? Saya juga sepakat perlunya menerapkan sikap kritis melawan narasi-narasi kaum ekstremis, kelompok eksklusif yang kadang mudah mengkafirkan sesama muslim.

 

Umat Islam boleh mengkritik kebijakan penguasa?

 

Sikap kita terhadap kebijakan penguasa terbuka dengan perbedaan sudut pandang. Kita bisa berbicara soal makan bergizi gratis (MBG), misalnya. MBG spiritnya memberi makan dan itu ajaran agama. Tapi apa berhenti sampai di situ? Problemnya kan bukan itu, melainkan pengelolaan, praktik-praktik korup di baliknya. Seharusnya orang beragama cerdas sampai melihat ke sana, jangan terbuai. ●

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/wawancara/nuruddin-munim-sirry-sejarah-islam-2288039

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar