|
Router Tubuh Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 26 September 2026
|
Selama ini
tubuh dianggap penghalang sinyal. Para peneliti justru menjadikannya kabel
komunikasi untuk menghubungkan implan medis. Selama ini manusia sibuk membuat
jaringan nirkabel agar mesin bisa saling berbicara. Bluetooth, Wi-Fi, NFC,
dan segala macam antena kita pasang di mana-mana. Ironisnya, ketika mesin itu
masuk ke tubuh manusia, tubuh sendiri malah kita anggap sebagai penghalang
sinyal. Para peneliti Georgia Institute of
Technology baru saja menawarkan pembalikan gagasan yang menarik. Mereka
berkesimpulan, jangan paksa sinyal menembus tubuh. Pakai saja tubuhnya
sebagai jaringan. Mereka pun menemukan teknologinya, tapi tahap pengembangannya
masih berlanjut. Temuan Ramy Ghanim dan 16 peneliti
lain yang terbit di Science (24 September 2026) memperkenalkan SWANS,
singkatan dari Smart Wireless Autonomous Networking System. Sistem temuan mereka ini menggunakan
konduktivitas ionik jaringan tubuh untuk mengirim pulsa listrik antara
perangkat yang dikenakan di kulit dan perangkat yang ditanam di dalam tubuh. Dalam percobaan pada tikus, sensor di
bagian depan tubuh dapat memicu stimulator saraf di kaki belakang. Tubuh pun
mendadak bukan lagi sekadar rumah bagi organ, melainkan kabel komunikasi
biologis. Di sinilah letak kecerdikan penelitian
itu. Komunikasi elektronik biasanya membutuhkan antena, baterai, dan
rangkaian yang cukup besar. Masalahnya, perangkat medis tidak boleh
berperilaku seperti router Wi-Fi yang sedang ikut lomba membesarkan antena. Semakin besar komponen perangkat,
semakin invasif pemasangannya. Bluetooth Low Energy, misalnya, membutuhkan
komponen dengan lebar minimal sekitar 5 milimeter dan konsumsi daya pasif
yang menggerus umur baterai. NFC pun membutuhkan posisi yang relatif tepat
antara pemancar dan penerima. SWANS mengambil jalan lain. Ia tidak
mengirim data melalui udara, tetapi mengirim pulsa tegangan melalui jaringan
tubuh. Perangkat penerima memiliki transistor yang hanya aktif jika menerima
kombinasi tertentu: besar tegangan, panjang pulsa, atau karakteristik
frekuensi yang sesuai. Jadi, tubuh berfungsi seperti kabel,
sedangkan transistor bertindak seperti pintu dengan penjaga yang membawa
daftar tamu. Pulsa A membuka pintu A; pulsa B membuka pintu B. Tidak semua
perangkat harus ikut berjoget ketika satu tombol ditekan. Keuntungan terbesar muncul pada
ukuran. Dalam konfigurasi komunikasi minimum, komponen SWANS dapat
berdiameter sekitar 1 milimeter. Versi dengan baterai yang dipakai dalam
percobaan berukuran sekitar 3 × 1,1 × 17 milimeter dan masih dapat dimasukkan
menggunakan jarum. Para peneliti juga menunjukkan
komunikasi melalui jaringan hingga lebih dari 30 sentimeter dan kedalaman
hingga sekitar 14 sentimeter dalam model jaringan tubuh. Mereka melaporkan
cakupan komunikasi lebih dari sepuluh kali metode Bluetooth dalam pengujian
mereka. Angka-angka itu penting karena tubuh
manusia bukan meja kerja yang permukaannya rata. Di dalamnya ada kulit,
lemak, otot, tulang, darah, organ, dan berbagai jaringan dengan karakter
listrik berbeda. Antena radio yang nyaman bekerja di
udara belum tentu nyaman bekerja di dalam tubuh. SWANS justru memanfaatkan
sifat fisik yang selama ini dianggap masalah: jaringan tubuh dapat
menghantarkan sinyal ionik. Yang lebih menarik, SWANS tidak
dirancang sebagai pengganti Wi-Fi miniatur yang kebetulan tinggal di perut.
Sistem ini memang sengaja mengorbankan bandwidth demi ukuran, konsumsi daya,
dan umur perangkat. Ia tidak cocok untuk mengirim video, foto, atau rekaman
panjang. SWAMS lebih cocok untuk pesan
sederhana, seperti “sensor mendeteksi sesuatu”, “suhu terlalu tinggi”,
“aktifkan stimulator”, atau “lepaskan obat”. Dengan kata lain, SWANS lebih
mirip kurir yang hanya membawa surat penting daripada internet yang membawa
seluruh isi perpustakaan. Strategi itu justru masuk akal untuk
terapi tertutup (closed-loop therapy). Sensor mendeteksi keadaan tubuh,
sistem memprosesnya, lalu perangkat terapi memberikan respons tanpa menunggu
manusia menjadi operator. Dalam demonstrasi, sensor gerak pada
kaki depan tikus mendeteksi gerakan. Hub wearable kemudian mengirim pulsa
tertentu melalui jaringan tubuh untuk mengaktifkan implan pada kaki belakang.
Implan itu merangsang saraf skiatik sehingga kaki bergerak. Eksperimen
tersebut menunjukkan bahwa beberapa titik tubuh dapat bekerja sebagai satu
jaringan sensor-aktuator. Bayangkan kemungkinan lanjutannya.
Sensor suhu dapat berada dekat organ tertentu. Implan lain membawa pompa
obat. Node ketiga menjadi stimulator saraf. Ketika sensor mendeteksi kondisi
tertentu, ia tidak perlu mengirim seluruh data ke perangkat besar di luar
tubuh. Ia cukup mengirim “perintah”.
Perangkat berikutnya meneruskan perintah itu kepada perangkat terapi. Para
peneliti bahkan mendemonstrasikan rangkaian berantai antaranode: satu implan
menerima sinyal, kemudian memancarkan pulsa lain untuk mengaktifkan implan
berikutnya. Tubuh dengan demikian mulai menyerupai
jaringan komputer, tetapi dengan topologi yang jauh lebih aneh. Kabelnya adalah jaringan biologis.
Router-nya berupa rangkaian kecil. Node-nya bisa berada di bawah kulit, dalam
rongga perut, bahkan di lambung. Dan firewall-nya, kalau boleh bercanda,
adalah transistor yang hanya mau bekerja kalau pulsa yang datang membawa
“password” listrik yang benar. Namun, di sinilah kita perlu menahan
tepuk tangan agar tidak berubah menjadi pertunjukan sulap teknologi. Hasil
yang dilaporkan masih merupakan demonstrasi praklinis pada tikus dan
pengujian jaringan eks vivo. Peneliti sendiri menegaskan perlunya
studi lebih lanjut pada hewan yang lebih besar dan manusia, termasuk
bagaimana sistem bekerja pada lapisan jaringan yang lebih heterogen serta
dalam penggunaan jangka panjang. Ada pula persoalan biologis yang tidak
bisa diselesaikan hanya dengan memperkecil transistor. Setelah dua bulan,
respons tubuh terhadap benda asing membuat jaringan fibrotik terbentuk di
sekitar implan. Komunikasi tetap berjalan dalam percobaan tersebut dengan
menaikkan tegangan dalam batas yang dianggap aman. Tetapi fenomena itu mengingatkan kita
bahwa tubuh bukan sekadar kabel tembaga yang bisa diperlakukan sesuka hati.
Tubuh mempunyai sistem imun, proses penyembuhan, perubahan impedansi, dan
kebiasaan biologisnya sendiri. Aspek keselamatan juga membutuhkan
horizon waktu yang lebih panjang. Dalam percobaan dua bulan pada tikus,
peneliti tidak menemukan kerusakan jaringan yang terdeteksi akibat pulsa
SWANS pada parameter yang diuji. Tetapi “dua bulan pada tikus” belum sama
dengan “bertahun-tahun pada manusia”. Implan medis harus menghadapi
pertanyaan yang lebih keras. Misalnya, bagaimana jika perangkat harus bekerja
selama bertahun-tahun, bagaimana jika jaringan berubah, bagaimana jika
baterai gagal, dan bagaimana jika perangkat harus dilepas? Justru karena itu, nilai terbesar
penelitian ini bukan klaim bahwa tubuh manusia sebentar lagi menjadi pusat
data. Nilainya terletak pada perubahan cara berpikir. Selama ini kita membangun teknologi seolah-olah
tubuh adalah lingkungan yang harus ditaklukkan. SWANS mencoba bernegosiasi
dengan tubuh dan memanfaatkan sifat alaminya. Ini lebih dekat dengan prinsip
arsitektur biologis: jangan melawan karakter lingkungan jika karakter itu
dapat menjadi bagian dari solusi. Bayangkan masa depan terapi yang tidak
lagi bergantung pada satu perangkat besar yang menjadi “bos” bagi seluruh
sistem. Sensor di satu tempat dapat berbicara dengan stimulator di tempat
lain. Implan dapat berbicara dengan implan. Wearable dapat menjadi
penghubung. Bayangkan, perangkat terapi dapat
menunggu hampir tanpa konsumsi daya sampai benar-benar diperlukan. Jaringan
medis tidak lagi seperti satu komputer raksasa, melainkan sekumpulan
perangkat kecil yang bekerja sebagai orkestranya tubuh. Tentu saja, teknologi seperti ini juga
membawa pertanyaan etis. Ketika perangkat di dalam tubuh dapat saling
berkomunikasi dan mengambil keputusan berdasarkan sensor, siapa yang mengatur
logikanya? Siapa yang memastikan sinyal yang salah tidak memicu terapi yang
salah? Bagaimana pula keamanan komunikasi
dijaga? Dan siapa yang bertanggung jawab jika jaringan elektronik itu keliru?
Tubuh manusia jangan sampai menjadi satu-satunya jaringan komputer yang lupa
diberi tombol “undo”. SWANS belum menyelesaikan semua
persoalan itu. Tetapi penelitian ini membuka sebuah pintu yang menarik:
mungkin masa depan bioelektronika tidak membutuhkan lebih banyak antena,
melainkan lebih banyak pemahaman terhadap tubuh sebagai medium komunikasi. Teknologi terbaik kadang bukan
teknologi yang paling keras berbicara, tetapi teknologi yang tahu bagaimana
berbicara dengan bahasa lingkungan tempat ia hidup. Selama berabad-abad, manusia memandang
saraf sebagai sistem komunikasi yang luar biasa, tetapi sulit ditiru. Kini
para insinyur mulai mengambil pelajaran darinya. Mereka menggunakan sinyal kecil, node
yang tersebar, respons selektif, dan komunikasi yang hemat energi. Bedanya,
saraf tidak perlu mengisi formulir spesifikasi teknis sebelum mengirim pesan.
Insinyur harus melakukannya. Mungkin itulah metafora paling menarik
dari SWANS: tubuh bukan lagi benteng yang harus ditembus teknologi. Ia mulai
diperlakukan sebagai jalan raya. Dan jika kelak jalan raya biologis itu
benar-benar aman, andal, serta dapat dikendalikan pada manusia, pengobatan
masa depan mungkin tidak lagi sekadar memasukkan alat ke dalam tubuh, tetapi
membangun jaringan kecil yang bekerja bersama tubuh dari dalam. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar