|
Debat Muktamar Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 26 September 2026
Inilah orang
yang paling dicari –dan mungkin dimaki-maki– oleh mereka yang terpilih sebagai
pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang baru: Gus Lilur. Nama lengkapnya
Gus Haji Raden Muhammad Khalilur Abdullah Sahlawiy.
Gus Lilur
viral. Wawancaranya di berbagai video beredar luas: bagaimana uang
bermiliar-miliar beredar di Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Tambak Beras,
Jombang akhir bulan lalu.
Banyak yang
memberi tahu saya bahwa ia itu sebenarnya bukan warga NU –apalagi kader. Ada
juga yang menilai ia itu orang yang sakit hati karena ingin mengelola tambang
batu bara NU.
Saya pun
penasaran: siapa Gus Lilur sebenarnya. Mengapa ia sampai hati mengungkapkan aib
sebesar itu –tanpa menunggu fakta hukum. Mengapa ia, di setiap tampilan video
selalu pakai kopiah hitam –seperti umumnya orang NU.
Lalu saya
hubungi Gus Lilur, Kamis malam kemarin dulu.
"Gus,
apakah kita pernah bertemu?"
"Lho kan
sudah sering," katanya.
Saya pun malu.
Bisa dikira suka melupakan orang. Saya buru-buru minta maaf kalau saya lupa
kapan pertemuan itu.
"Tapi saya
pernah kecewa sama sampeyan...," katanya.
Aduh! Kenapa ya
kecewa? Kok saya juga lupa. Sekali lagi saya minta maaf.
"Kapan
kita terakhir bertemu, Gus," tanya saya.
"Pokoknya
sering. Saya kan pernah jadi penyewa ruangan di Graha Pena. Saya berkantor di
situ bersama Pak Fathorrasjid almarhum," katanya. Fathorrasjid adalah
tokoh NU dan PKB yang pernah jadi ketua DPRD Jatim. Fathor masuk penjara karena
tuduhan korupsi dana APBD yang untuk seluruh anggota DPRD itu. Dianggap tidak
sah. Banyak sekali anggota DPRD yang juga jadi tersangka saat itu.
"Kenapa
Gus kecewa dengan saya?"
"Waktu
saya ajak salaman sampeyan tidak mau," katanya.
Hah? Saya tidak
mau salaman?
"Oh ...
saya ingat Gus. Waktu itu saya baru pulang operasi ganti hati. Saya harus jaga
diri baik-baik. Termasuk tidak mau salaman dengan siapa pun. Agar tidak terkena
kuman," kata saya.
"Iya. Saya
maklum kok," katanya.
Saya pun lega.
"Kenapa
Gus kok sampeyan membuka soal uang di Muktamar itu?"
"Saya
menjalankan ayat Quran dan hadis Nabi. Kemungkaran harus diberantas, agar
Muktamar yang akan datang tidak terjadi seperti ini lagi," katanya.
"Waktu
muktamar Anda hadir?"
"Saya
hadir".
"Tapi kan
ada yang bilang Anda bukan anggota NU?".
"Saya ini
sebelum lahir sudah NU," katanya. "Ayah saya itu santrinya Kiai As'ad
Syamsul Arifin, Sukorejo, Situbondo," katanya. Nama yang disebut itu
adalah ulama besar yang mendirikan pondok besar di Sukorejo, Situbondo. Ia kiai
papan atas di dunia NU. Ke Gus Dur pun tidak takut: pernah menyatakan mufaraqah
–memisahkan diri sementara– dengan Gus Dur.
"Tapi
kenapa tidak pernah jadi pengurus NU?"
"Kalau
saya mau, saya sudah jadi pengurus PBNU di zaman Ketua Umum Buya Said Aqil
Siroj. Tapi saya tidak mau. Saya mau jadi konglomerat," katanya.
Said Aqil
adalah guru Gus Lilur semasa di UIN Syarief Hidayatullah, Ciputat, Jakarta.
Yakni ketika Kiai Aqil Siroj baru kembali dari kuliah S-3 di Ummul Quro, Saudi
Arabia. Saat itu Gus Lilur masih di tahun ketiga sebagai mahasiswa. Ia
mengambil jurusan filsafat. "Filsafat aqidah," katanya. Setelah lulus
UIN tidak ambil S-2 atau S-3. Ia terjun ke dunia usaha.
"Ada juga
yang bilang Anda ini kecewa karena tidak dipercaya mengelola tambang batu bara
milik NU".
"Untuk
apa? Tambang saya sendiri tidak terurus. Tambang saya sendiri sudah
banyak," katanya.
Bahkan ia
bercerita, sebenarnya sudah akan jadi pemilik tambang batu bara terbesar di
Indonesia. "Sayang izinnya dicabut," katanya.
"Kenapa
dicabut?"
"Karena
terkait uangnya Nazaruddin, bendahara Partai Demokrat yang ditangkap KPK.
Tambang disita".
"Tambangnya
di mana?"
"Di Kutai
Timur. Sekarang jadi milik Adaro," katanya.
"Kok Anda
meragukan keilmuan banyak tokoh sampai berani menantang Kiai Miftachul Akhyar,
Gus Kikin, Gus Nusron Wahid, Gus Ipul untuk membaca kitab kuning dan menulis
kitab di depan forum muktamar? Emangnya Anda sendiri bisa membaca kitab kuning?"
Istilah kitab kuning adalah literatur yang ditulis dalam huruf Arab tanpa tanda
baca. Hanya orang yang ilmu nahwu-sorof-nya tinggi yang mampu membacanya.
"Saya ini
mondok di Denanyar, Jombang selama tiga tahun. Selama itu tiap hari membaca
kitab kuning, hanya berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris," katanya.
"Waktu mau tamat sekolah saya membuat karya tulis dalam bahasa Arab tanpa
harakat (tanda baca) setebal 150 halaman," katanya. Kalau ia menantang
menulis buku di depan muktamar itu agar pesertanya tidak bisa dibantu
menuliskannya.
Buku yang ia
tulis saat masih siswa aliyah itu berjudul Alhayatul Fadloiyah 'indal Quran wa
attahliiLiL 'ishriy: kehidupan luar angkasa menurut Alquran dan penelitian
modern.
Gus Lilur lahir
di Situbondo. SD dan SMP di sana. Lalu masuk madrasah aliyah unggulan yang
disebut MAPK –Madrasah Aliyah Program Khusus. Hanya ada dua di Indonesia: di
Jombang dan di Solo. Itu sejenis Taruna Nusantaranya madrasah. Setelah sukses
pernah dikembangkan ke beberapa aliyah –tidak termasuk aliyah tempat saya
sekolah. Program MAPK kini dikembangkan di 11 kota.
Saat masih
remaja itu Gus Lilur sudah mendirikan gerakan amar makruf nahi munkar –mengajak
ke kebaikan dan mencegah kemungkaran. Nama gerakannya: PAMANGKAR --Pejuang Amar
Makruf Nahi Mungkar.
Apa yang ia
lakukan sekarang, katanya, itu konsisten dengan apa yang ia lakukan sejak
remaja.
Ketika saya
hendak bertanya soal lain lagi Gus Lilur memberi info terbaru. "Tadi siang
saya ke KPK. Saya temui pejabat di sana," katanya.
"Untuk
apa?"
"Agar KPK
menyiapkan diri untuk menerima uang pengembalian dari Buya Aqil Siroj yakni
uang yang diterima saat Muktamar," katanya.
"Yang
benar saja," kata saya.
"Benar.
Buya sendiri yang menelepon saya," katanya.
Gus Lilur
memang memanggil Kiai Aqil Siroj dengan panggilan Buya.
"Benar
dikembalikan?"
"Saya
tunggu di KPK sampai jam 12.00. Tidak jadi," katanya.
"Kenapa?"
"Buya
berubah pikiran. Uang itu akan dikembalikan langsung ke Gus Ipul. Sampai sore
belum bertemu Gus Ipul".
Gus Lilur
diberi tahu Buya: penyerahan kembali uang itu akan dilakukan stafnya. Buya minta
agar ada tanda terima pengembalian dan ada bukti foto penyerahan. "Kalau
tidak bersedia memberi tanda terima dan tidak bersedia difoto baru akan
diserahkan ke KPK," katanya.
Menurut Gus
Lilur, Buya Said Aqil Siroj dan dua kiai utama lainnya agak berbeda soal
penerimaan uang itu. "Buya dan dua kiai lainnya menerima uang setelah
proses pemilihan berlangsung. Bukan sebelumnya," ujarnya. Dua yang
dimaksud adalah Kiai Anwar Manshur dan Kiai Nurul Huda.
Gus Lilur kini
berumur 49 tahun.
"Punya
anak berapa Gus?"
"Saya malu
kalau bercerita tentang keluarga," katanya.
"Maafkan
saya Gus," kata saya.
"Gak
apa-apa ..."
"Kenapa
malu Gus?"
"Istri
saya empat. Satu di Situbondo, yang istri keempat di Shenzhen," katanya.
"Santri itu bodoh kalau berzina. Maka istri saya empat," katanya.
Istri
pertamanya orang Palembang, sesama teman di UIN Jakarta. Yang kedua juara
dangdut di Indosiar. Yang keempat orang Tiongkok yang tinggal di Shenzhen.
Gus Lilur
memang lama tidak beredar di kepala saya. Coba saja saya tahu ia punya rumah di
Shenzhen saya bisa sering numpang menginap di rumahnya. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/970438/debat-muktamar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar