|
Sepatu dalam Tragedi 1965 David T. Hill : Profesor
emeritus studi Asia Tenggara di Indo-Pacific Research Centre, Murdoch
University, Australia. |
TEMPO HARIAN, 26 September 2026
|
· Dalam perjalanan bersepeda di sejumlah
negara Eropa, penulis mendapati banyak tugu untuk mengenang korban kekejaman
Nazi dalam Perang Dunia II. · Penulis mempertanyakan mengapa memorial
serupa tak ada di Indonesia untuk mengingat korban tragedi 1965. · Dorongan publik lebih diutamakan untuk
membangun memorial korban pembantaian massal di masa lalu. DI tepi
Sungai Danube, tidak jauh dari Gedung Parlemen Hungaria di pusat Kota
Budapest, ada puluhan sepatu berbaris satu per satu. Tercecer tanpa pemilik.
Seakan-akan empunya baru beberapa detik lalu melepaskannya. Terbuat
dari besi, patung-patung kecil ini menarik banyak pengunjung setiap hari ke
tepi sungai yang oleh masyarakat lokal disebut Donau itu. Ada yang menyalakan
lilin, mengikat pita berwarna, berdoa, dan sekadar duduk merenungkan masa
lalu yang kelam. Prasasti
sederhana di dekatnya menyebutkan, “Untuk mengenang para korban yang ditembak
ke Sungai Donau oleh milisi Salib Panah pada 1944-1945. Dibangun pada 16
April 2005.” Milisi Salib Panah adalah sekutu Nazi. Lebih dari 3.500 orang,
dengan setidaknya 800 di antaranya kaum Yahudi, ditembak dan dicemplungkan ke
sungai itu oleh rezim fasis Hungaria dalam Perang Dunia II. Sekitar
100 kilometer ke arah barat laut, di Slovakia ada prasasti lain, juga di tepi
Sungai Donau. Sederhana. Berbentuk persegi, dengan panjang setiap sisi sekitar
1 meter. Dipahat pada lempeng marmer dan dipasang di batu besar oleh
komunitas Yahudi di Kota Komárno pada 2017, prasasti tertulis dalam empat
bahasa, Slovak/Ceko, Hungaria, Inggris, dan Ibrani: “Untuk mengenang para
korban Holocaust yang ditembak dan dilempar ke Sungai Donau pada 1944-45.” Berbeda
dengan memorial sepatu di Budapest, tugu batu di Komárno tidak mencatat siapa
pelaku pembunuhan massal itu. Masyarakat sudah tahu. Mereka berfokus pada
korban, bukan penjagalnya. Ketika
belum lama ini mendatangi kedua prasasti dalam perjalanan bersepeda keliling
Eropa, tidak bisa tidak saya mengingat pembuangan mayat korban pembunuhan
massal tragedi 1965 ke Sungai Brantas di Jawa Timur dan sungai-sungai lain.
Saya juga teringat pada gua-gua dan kuburan massal yang digali sendiri oleh
para korban yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Ada
persamaan mencolok antara pemusnahan kaum kiri oleh Orde Baru di Indonesia
selepas 1965 serta pembinasaan kaum Yahudi dan penentang naziisme dalam
Perang Dunia II. Kamp konsentrasi Dachau di Jerman, tempat puluhan ribu
penentang Nazi ditahan dan dibunuh sejak 1933 hingga dibebaskan tentara
Amerika Serikat pada 1945, baru dijadikan memorial pada 1965 setelah para
penyintas berkampanye kuat agar kekejaman di situs itu tak terlupakan. Di
Austria, di kamp konsentrasi Mauthausen dan tempat-tempat penahanan
satelitnya, sedikitnya 90 ribu orang meninggal akibat kekejaman Nazi sejak
1938 hingga 1945. Sejak 1960-an, kompleks itu menjadi lokasi memorial. Di
sana terdapat Kamar Nama yang mencatat nama-nama korban. Dalam kamar yang
gelap itu, nama 81 ribu korban yang diketahui identitasnya dituliskan dalam
huruf kecil yang diterangi lampu. Deretan nama itu tampak seperti
bintik-bintik pada permukaan geometris, menggugah rasa haru para pengunjung. Di Pusat
Dokumentasi Ideologi Naziisme di Muenchen, faktor-faktor yang menyebabkan
munculnya militerisme hingga berkuasa di Jerman dianalisis secara grafis.
Ideologi itu disoroti dan dibongkar dari segala aspek agar masyarakat lebih
menyadari bagaimana totalitarianisme merangkak dan menular hingga merampas
kekuasaan negara. Dokumentasinya
lengkap, berlandaskan penelitian dan analisis para sejarawan. Pameran
menampilkan benda-benda pribadi para korban dan penyintas, dari tas dan nomor
penahanan, boneka yang dibuat di kamp, hingga sendok dan garpu milik para
penjaga kamp. Di
Budapest, ada instalasi yang didedikasikan kepada mereka yang berani menolong
korban fasisme. Di sebuah dinding di kawasan Yahudi, terpasang prasasti dalam
bahasa Inggris dengan pernyataan, “Barang siapa menyelamatkan satu nyawa,
seakan-akan ia telah menyelamatkan seluruh dunia. (Talmud) untuk mengenang
mereka yang pada 1944, di bawah kepemimpinan Konsul Swiss, Carl Lutz
(1895-1975), menyelamatkan ribuan orang dari penganiayaan rezim Sosialis
Nasional.” Di
sebelahnya ada patung seseorang—atau malaikat (?)—yang mengulurkan selendang
kepada seorang yang berbaring di tanah di bawahnya. Patung ini menjadi simbol
bagi mereka yang berupaya mengangkat, menyembunyikan, dan menyelamatkan
korban fasisme, tanpa menghiraukan bahaya bagi diri mereka sendiri. Kenangan
Tragedi 1965 Lain di
Eropa, lain di Indonesia. Ada ratusan tugu untuk tujuh perwira militer yang
dibunuh pada 1 Oktober 1965—lebih dikenal sebagai Gerakan 30 September—tapi
belum ada memorial nasional yang secara khusus mengenang para korban tragedi
1965 Organisasi-organisasi
penyintas rajin mendokumentasikan pembunuhan massal tersebut. Yayasan
Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 dan organisasi sejenisnya mencatat paling
sedikit 346 lokasi kuburan massal pada 2019. Lembaga berskala nasional,
seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, juga melakukannya. Namun
cuma segelintir memorial yang mencatat nama korbannya, seperti di Taman 65 di
Denpasar, Bali, dan kuburan massal Plumbon di Semarang, Jawa Tengah. Upaya
lain dijalankan Pramoedya Ananta Toer dengan menuliskan “Daftar Teman-Teman
yang Telah Meninggal di Buru” dalam buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu pada 1988. Saya
membayangkan jajaran nama itu digabungkan dan diabadikan dalam memorial
seperti pada Kamar Nama di Mauthausen. Akan terpampang banyaknya korban
tragedi 1965. Sejak
2018, Indonesia Trauma Testimony Project berusaha melestarikan materi-materi
dan merekam lebih dari 300 wawancara para penyintas, saksi mata, bahkan
pelaku genosida 1965-1966. Tujuannya, rekaman beserta transkripsinya dapat
diarsipkan secara etis dan dilestarikan untuk publik. Hikmah
Perang Dunia II Apa lagi
yang dapat dipetik dari Perang Dunia II? Pertama, “penyembuhan” atau
“penerimaan kebenaran” memerlukan waktu lama. Memorial sepatu di tepi sungai
di Budapest baru dipasang pada 2005, enam puluh tahun setelah kejadian.
Prasasti di Komárno lebih lama lagi, baru dipasang pada 2017 atau lebih dari
70 tahun kemudian. Kedua,
pemerintah segan menghadapi aspek sejarah yang dapat membelah masyarakat dan
hanya bertindak kalau terdorong oleh gerakan publik. Memorial kamp
konsentrasi, baik Dachau maupun Mauthausen, baru dibuat setelah mendapat
tekanan dari organisasi penyintas dan wakilnya. Ketiga,
bukan pemerintah yang sering menjadi penggerak pembuatan memorial, melainkan
organisasi masyarakat atau perorangan. Sepatu di tepi sungai merupakan hasil
jerih payah dua individu, hanya mendapat restu, tapi tidak diinisiasi oleh
pemerintah. Keempat,
walaupun dalam kasus pelanggaran berat hak asasi manusia serta pelaku perlu
diidentifikasi dan dijatuhkan hukuman setimpal, hal yang diutamakan dalam
memorialisasi ialah mengangkat kisah para korban dan penyintas. Prasasti di
Komárno, misalnya, tidak perlu menyebutkan siapa pembunuhnya. Yang penting
korban dikenang. Bangsa
yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Meskipun itu kelam
seperti kisah pemilik sepatu yang terserak di tepi Sungai Danube. ● Sumber : https://www.tempo.co/teroka/sepatu-dalam-tragedi-1965-2288623
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar