Minggu, 27 September 2026

 

Sepatu dalam Tragedi 1965

David T. Hill :  Profesor emeritus studi Asia Tenggara di Indo-Pacific Research Centre, Murdoch University, Australia.

TEMPO HARIAN,  26 September 2026

 

 

 

·      Dalam perjalanan bersepeda di sejumlah negara Eropa, penulis mendapati banyak tugu untuk mengenang korban kekejaman Nazi dalam Perang Dunia II.

 

·      Penulis mempertanyakan mengapa memorial serupa tak ada di Indonesia untuk mengingat korban tragedi 1965.

 

·      Dorongan publik lebih diutamakan untuk membangun memorial korban pembantaian massal di masa lalu.

 

DI tepi Sungai Danube, tidak jauh dari Gedung Parlemen Hungaria di pusat Kota Budapest, ada puluhan sepatu berbaris satu per satu. Tercecer tanpa pemilik. Seakan-akan empunya baru beberapa detik lalu melepaskannya.

 

Terbuat dari besi, patung-patung kecil ini menarik banyak pengunjung setiap hari ke tepi sungai yang oleh masyarakat lokal disebut Donau itu. Ada yang menyalakan lilin, mengikat pita berwarna, berdoa, dan sekadar duduk merenungkan masa lalu yang kelam.

 

Prasasti sederhana di dekatnya menyebutkan, “Untuk mengenang para korban yang ditembak ke Sungai Donau oleh milisi Salib Panah pada 1944-1945. Dibangun pada 16 April 2005.” Milisi Salib Panah adalah sekutu Nazi. Lebih dari 3.500 orang, dengan setidaknya 800 di antaranya kaum Yahudi, ditembak dan dicemplungkan ke sungai itu oleh rezim fasis Hungaria dalam Perang Dunia II.

 

Sekitar 100 kilometer ke arah barat laut, di Slovakia ada prasasti lain, juga di tepi Sungai Donau. Sederhana. Berbentuk persegi, dengan panjang setiap sisi sekitar 1 meter. Dipahat pada lempeng marmer dan dipasang di batu besar oleh komunitas Yahudi di Kota Komárno pada 2017, prasasti tertulis dalam empat bahasa, Slovak/Ceko, Hungaria, Inggris, dan Ibrani: “Untuk mengenang para korban Holocaust yang ditembak dan dilempar ke Sungai Donau pada 1944-45.”

 

Berbeda dengan memorial sepatu di Budapest, tugu batu di Komárno tidak mencatat siapa pelaku pembunuhan massal itu. Masyarakat sudah tahu. Mereka berfokus pada korban, bukan penjagalnya.

 

Ketika belum lama ini mendatangi kedua prasasti dalam perjalanan bersepeda keliling Eropa, tidak bisa tidak saya mengingat pembuangan mayat korban pembunuhan massal tragedi 1965 ke Sungai Brantas di Jawa Timur dan sungai-sungai lain. Saya juga teringat pada gua-gua dan kuburan massal yang digali sendiri oleh para korban yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

 

Ada persamaan mencolok antara pemusnahan kaum kiri oleh Orde Baru di Indonesia selepas 1965 serta pembinasaan kaum Yahudi dan penentang naziisme dalam Perang Dunia II. Kamp konsentrasi Dachau di Jerman, tempat puluhan ribu penentang Nazi ditahan dan dibunuh sejak 1933 hingga dibebaskan tentara Amerika Serikat pada 1945, baru dijadikan memorial pada 1965 setelah para penyintas berkampanye kuat agar kekejaman di situs itu tak terlupakan.

 

Di Austria, di kamp konsentrasi Mauthausen dan tempat-tempat penahanan satelitnya, sedikitnya 90 ribu orang meninggal akibat kekejaman Nazi sejak 1938 hingga 1945. Sejak 1960-an, kompleks itu menjadi lokasi memorial. Di sana terdapat Kamar Nama yang mencatat nama-nama korban. Dalam kamar yang gelap itu, nama 81 ribu korban yang diketahui identitasnya dituliskan dalam huruf kecil yang diterangi lampu. Deretan nama itu tampak seperti bintik-bintik pada permukaan geometris, menggugah rasa haru para pengunjung.

 

Di Pusat Dokumentasi Ideologi Naziisme di Muenchen, faktor-faktor yang menyebabkan munculnya militerisme hingga berkuasa di Jerman dianalisis secara grafis. Ideologi itu disoroti dan dibongkar dari segala aspek agar masyarakat lebih menyadari bagaimana totalitarianisme merangkak dan menular hingga merampas kekuasaan negara.

 

Dokumentasinya lengkap, berlandaskan penelitian dan analisis para sejarawan. Pameran menampilkan benda-benda pribadi para korban dan penyintas, dari tas dan nomor penahanan, boneka yang dibuat di kamp, hingga sendok dan garpu milik para penjaga kamp.

 

Di Budapest, ada instalasi yang didedikasikan kepada mereka yang berani menolong korban fasisme. Di sebuah dinding di kawasan Yahudi, terpasang prasasti dalam bahasa Inggris dengan pernyataan, “Barang siapa menyelamatkan satu nyawa, seakan-akan ia telah menyelamatkan seluruh dunia. (Talmud) untuk mengenang mereka yang pada 1944, di bawah kepemimpinan Konsul Swiss, Carl Lutz (1895-1975), menyelamatkan ribuan orang dari penganiayaan rezim Sosialis Nasional.”

 

Di sebelahnya ada patung seseorang—atau malaikat (?)—yang mengulurkan selendang kepada seorang yang berbaring di tanah di bawahnya. Patung ini menjadi simbol bagi mereka yang berupaya mengangkat, menyembunyikan, dan menyelamatkan korban fasisme, tanpa menghiraukan bahaya bagi diri mereka sendiri.

 

Kenangan Tragedi 1965

 

Lain di Eropa, lain di Indonesia. Ada ratusan tugu untuk tujuh perwira militer yang dibunuh pada 1 Oktober 1965—lebih dikenal sebagai Gerakan 30 September—tapi belum ada memorial nasional yang secara khusus mengenang para korban tragedi 1965

 

Organisasi-organisasi penyintas rajin mendokumentasikan pembunuhan massal tersebut. Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 dan organisasi sejenisnya mencatat paling sedikit 346 lokasi kuburan massal pada 2019. Lembaga berskala nasional, seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, juga melakukannya.

 

Namun cuma segelintir memorial yang mencatat nama korbannya, seperti di Taman 65 di Denpasar, Bali, dan kuburan massal Plumbon di Semarang, Jawa Tengah. Upaya lain dijalankan Pramoedya Ananta Toer dengan menuliskan “Daftar Teman-Teman yang Telah Meninggal di Buru” dalam buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu pada 1988.

 

Saya membayangkan jajaran nama itu digabungkan dan diabadikan dalam memorial seperti pada Kamar Nama di Mauthausen. Akan terpampang banyaknya korban tragedi 1965.

 

Sejak 2018, Indonesia Trauma Testimony Project berusaha melestarikan materi-materi dan merekam lebih dari 300 wawancara para penyintas, saksi mata, bahkan pelaku genosida 1965-1966. Tujuannya, rekaman beserta transkripsinya dapat diarsipkan secara etis dan dilestarikan untuk publik.

 

Hikmah Perang Dunia II

 

Apa lagi yang dapat dipetik dari Perang Dunia II? Pertama, “penyembuhan” atau “penerimaan kebenaran” memerlukan waktu lama. Memorial sepatu di tepi sungai di Budapest baru dipasang pada 2005, enam puluh tahun setelah kejadian. Prasasti di Komárno lebih lama lagi, baru dipasang pada 2017 atau lebih dari 70 tahun kemudian.

 

Kedua, pemerintah segan menghadapi aspek sejarah yang dapat membelah masyarakat dan hanya bertindak kalau terdorong oleh gerakan publik. Memorial kamp konsentrasi, baik Dachau maupun Mauthausen, baru dibuat setelah mendapat tekanan dari organisasi penyintas dan wakilnya.

 

Ketiga, bukan pemerintah yang sering menjadi penggerak pembuatan memorial, melainkan organisasi masyarakat atau perorangan. Sepatu di tepi sungai merupakan hasil jerih payah dua individu, hanya mendapat restu, tapi tidak diinisiasi oleh pemerintah.

 

Keempat, walaupun dalam kasus pelanggaran berat hak asasi manusia serta pelaku perlu diidentifikasi dan dijatuhkan hukuman setimpal, hal yang diutamakan dalam memorialisasi ialah mengangkat kisah para korban dan penyintas. Prasasti di Komárno, misalnya, tidak perlu menyebutkan siapa pembunuhnya. Yang penting korban dikenang.

 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Meskipun itu kelam seperti kisah pemilik sepatu yang terserak di tepi Sungai Danube. ●

                                                                                

Sumber :  https://www.tempo.co/teroka/sepatu-dalam-tragedi-1965-2288623

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar