|
“IA JENIUS DAN BERMASALAH SECARA MORAL, TETAPI AKU MASIH
MENCINTAINYA” - Kisah
Cinta Dua Pemikir Besar: Hannah Arendt dan Martin Heidegger Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 26 September 2026
|
Pada
Februari 1950, Hannah Arendt kembali berjumpa Martin Heidegger. Hampir dua
puluh tahun telah berlalu. Tetapi beberapa cinta rupanya mempunyai kalender
sendiri. Di
antara mereka terbentang sejarah yang mengerikan. Hitler berkuasa. Eropa
terbakar. Jutaan orang Yahudi dibunuh. Arendt sendiri pernah hidup sebagai
pengungsi. Heidegger
pernah mendukung Nazisme. Arendt seorang Yahudi. Namun ketika mereka berjumpa
kembali, sesuatu yang lama terkubur ternyata belum sepenuhnya mati. Bayangkan
keguncangan itu. Bagaimana mungkin hati masih bergetar kepada seseorang yang
pernah berpihak kepada kekuasaan yang mengancam keberadaan bangsamu sendiri? Barangkali
di situlah cinta menjadi misteri sekaligus ujian moral. Hati dapat memeluk
kenangan, sementara nurani berdiri beberapa langkah di belakangnya. Judul
tulisan ini bukan kutipan Hannah Arendt. Ia cara saya merumuskan paradoks
yang terbaca dari perjalanan panjang hubungan dua manusia luar biasa itu. -000- Dua Pikiran Besar, Satu Cinta yang Rumit Mereka
bertemu di Universitas Marburg pada 1924. Hannah Arendt baru berusia delapan
belas tahun. Heidegger tiga puluh lima tahun, telah menikah dan memiliki
anak. Arendt
datang untuk belajar filsafat. Ia menemukan pengajar yang membuat pertanyaan mengenai
keberadaan terasa bukan sebagai teori, melainkan pengalaman yang
mengguncangkan hidup. Heidegger
sedang bergerak menuju karya besarnya, Being and Time. Baginya, manusia bukan
benda yang sekadar hadir. Manusia adalah keberadaan yang mempertanyakan
keberadaannya. Ia
berbicara tentang kecemasan, kematian, keaslian, keterlemparan, dan waktu.
Filsafat di tangannya seperti cermin yang tiba-tiba memaksa manusia melihat
kedalamannya sendiri. Arendt
kelak tumbuh menjadi pemikir politik besar abad kedua puluh. Ia menulis
tentang totalitarianisme, kebebasan, tindakan politik, tanggung jawab, dan
“banalitas kejahatan.” Jika
Heidegger bertanya apa artinya ada, Arendt bertanya apa artinya hidup
bersama. Di antara dua pertanyaan besar itulah hubungan mereka memperoleh
kedalamannya. Mereka
bukan hanya dua orang yang jatuh cinta. Mereka adalah dua pikiran yang
kemudian menempuh jalan sejarah berbeda, tetapi tak sepenuhnya kehilangan
satu sama lain. -000- Ketika Sang Murid Mencintai Gurunya Hubungan
romantis berkembang pada 1925. Surat-surat mereka menunjukkan kedekatan yang
intens, tetapi harus disembunyikan karena Heidegger telah berkeluarga dan
Arendt adalah mahasiswinya. Namun,
romantisme ini juga menyimpan manipulasi terselubung: Heidegger memanfaatkan
pesona intelektual dan posisi dominannya untuk mengikat batin mahasiswinya,
membentuk ketimpangan relasi kuasa yang melampaui sekadar cinta biasa. Pertemuan
diatur secara rahasia. Isyarat sederhana menjadi bahasa. Cinta mereka tumbuh
seperti bunga malam, indah karena hampir tidak boleh terlihat matahari. Heidegger
memiliki keluarga, kedudukan, dan otoritas akademik. Arendt memasuki hubungan
itu sebagai perempuan muda yang sekaligus sedang terpesona oleh kecemerlangan
intelektual gurunya. Mengakui
ketimpangan tersebut tidak membuktikan bahwa perasaan mereka palsu. Pengakuan
itu hanya membuat kita membaca cinta mereka dengan mata yang lebih dewasa. Arendt
kemudian meninggalkan Marburg. Pada 1926, ia belajar kepada Karl Jaspers di
Heidelberg, menemukan mentor sekaligus persahabatan intelektual yang jauh
lebih sehat. Kepergian
itu penting. Arendt tidak selamanya menjadi bulan yang memantulkan cahaya
gurunya. Perlahan, ia menemukan bahwa dirinya memiliki matahari intelektual
sendiri. Ia
menikahi Günther Stern pada 1929. Perkawinan itu kemudian berakhir. Tahun
1940, Arendt menikah dengan Heinrich Blücher, pasangan hidupnya selama
puluhan tahun. Heidegger
tetap bersama Elfride, istrinya. Maka hubungan Arendt dan Heidegger bukanlah
kisah dua kekasih yang akhirnya hidup di bawah satu atap. Sebaliknya,
mereka menjalani kehidupan masing-masing. Namun sebuah ruang rahasia di dalam
ingatan tampaknya tidak pernah benar-benar ditutup. -000- Ketika Sejarah Masuk ke Kamar Kemudian
datang tahun 1933. Sejarah yang sebelumnya berada di luar jendela mendadak
masuk ke kamar, duduk di antara mereka, dan mengubah segalanya. Heidegger
menjadi rektor Universitas Freiburg dan bergabung dengan Partai Nazi.
Dukungan publiknya terhadap gerakan itu kini terdokumentasi kuat dalam kajian
mengenai dirinya. Ia
mengundurkan diri dari jabatan rektor pada 1934. Namun keanggotaannya dalam
Partai Nazi berlanjut sampai rezim tersebut runtuh pada 1945. Arendt
bergerak ke arah berlawanan. Sebagai perempuan Yahudi, ia sempat ditahan
Gestapo, lalu meninggalkan Jerman pada 1933, hidup di Paris, dan pada 1941
melarikan diri ke Amerika Serikat. Di
sinilah kisah cinta mereka berubah menjadi tragedi intelektual. Lelaki yang
memikirkan hakikat keberadaan gagal membaca kebiadaban politik yang tumbuh di
hadapannya. Kecerdasan
ternyata tidak memberikan kekebalan terhadap kesalahan moral. Seseorang dapat
melihat sangat jauh ke kedalaman metafisika, tetapi gagal melihat jurang di
depan kakinya. Namun
ketepatan tetap penting. Mendukung Nazisme tidak identik dengan menjadi
pelaksana langsung Holocaust. Kritik moral tidak memerlukan pembesaran fakta
agar terasa mengerikan. Yang
memberatkan adalah fakta sebenarnya. Heidegger memberikan dukungan dan
prestise intelektual kepada Nazisme, lalu tidak pernah meninggalkan kepada
dunia suatu penyesalan publik yang tegas. Bahkan
setelah wafatnya, beban itu bertambah. Sejak 2014, terbitnya Schwarze Hefte,
buku catatan pribadinya, memperlihatkan jejak antisemitisme dalam
pemikirannya sendiri. Di
sinilah filsafat menghadapi pertanyaan yang menakutkan. Apa gunanya pikiran
mencapai kedalaman keberadaan jika ia tersesat ketika manusia konkret sedang
kehilangan kemanusiaannya? -000- Reuni di Freiburg Yang
membuat reuni 1950 begitu mengejutkan adalah apa yang terjadi sebelumnya.
Arendt tidak datang ke Freiburg dengan mata tertutup. Pada
1946, ia menulis esai “What Is Existential Philosophy?” dan mengkritik
Heidegger dengan keras. Arendt
mengkritik Heidegger karena mengubah keterasingan manusia menjadi filsafat
yang menjauh dari dunia bersama. Kecemerlangan
berpikir, baginya, dapat berubah berbahaya ketika kehilangan tanggung jawab
terhadap manusia konkret dan kehidupan politik. Dalam
surat kepada Jaspers pada tahun yang sama, ia bahkan menyebut Heidegger
“pembunuh potensial.” Arendt
saat itu mempercayai kabar bahwa Heidegger telah melaporkan Husserl, mantan
gurunya yang Yahudi, kepada Nazi sebagai orang yang dianggap berbahaya. Tuduhan
yang kemudian terbukti keliru itu membuatnya menyebut Heidegger “pembunuh
potensial.” Kata
sekeras itu keluar dari perempuan yang pernah mencintainya. Kekaguman telah
retak. Penilaian moral telah dijatuhkan. Lalu
datang Februari 1950. Arendt berada di Eropa untuk urusan penyelamatan
warisan budaya Yahudi yang dijarah Nazi. Pada malam 7 Februari, di Freiburg,
ia bertemu Heidegger untuk percakapan panjang pertama setelah hampir dua
dasawarsa. Keesokan
harinya, percakapan berlanjut di hadapan Elfride, istri Heidegger, yang
dikenal sebagai pendukung Nazisme yang teguh. Seorang pengungsi Yahudi duduk
di ruangan yang sama dengan suami dan istri yang pernah berpihak kepada rezim
yang memburunya. Pertemuan
tersebut tidak menghapus sejarah. Tidak pula menjadikan mereka kembali
sebagai pasangan dalam pengertian biasa. Kehidupan keduanya telah berkembang
terlalu jauh. Namun
surat-surat sesudahnya memperlihatkan kedekatan yang bertahan. Korespondensi
mereka berlangsung, dengan berbagai jeda dan perubahan intensitas, sampai
menjelang akhir kehidupan. Heidegger
pada Maret 1950. Setelah rekonsiliasi mereka, ia menulis kepada Arendt: “I
need your love,” dan menyebut cinta Arendt sebagai sesuatu yang secara
misterius tetap terpelihara sejak benih awalnya. Arendt
bahkan menjalin hubungan dengan Elfride. Kenyataan ini membuat kisah mereka
sukar dimasukkan ke kotak sederhana bernama perselingkuhan, rekonsiliasi,
ataupun persahabatan. Mungkin
memang ada hubungan manusia yang terlalu kompleks untuk satu kata. Cinta
dapat berubah bentuk tanpa sepenuhnya kehilangan jejak dari bentuk
pertamanya. Tetapi
Arendt sendiri yang membuat misteri itu semakin besar. Ia bukan perempuan
tanpa perangkat intelektual untuk memahami kejahatan politik ataupun tanggung
jawab moral. Ia
telah mengalami pengungsian. Ia mempelajari totalitarianisme. Kelak ia
memikirkan Eichmann dan mempertanyakan bagaimana manusia biasa dapat terlibat
dalam mesin kejahatan luar biasa. Lalu
mengapa perempuan setajam itu tetap menyediakan ruang emosional bagi
Heidegger? Surat-surat memberi petunjuk, tetapi tidak memberikan kunci
terakhir menuju batinnya. Di
situlah kita harus berhati-hati. Memahami Arendt tidak berarti mengarang isi
hatinya. Sebagian wilayah cinta memang tetap menjadi kamar yang kuncinya
dibawa mati pemiliknya. Seusai
bertemu Heidegger kembali, Arendt menulis bahwa perjumpaan mereka merupakan
“peneguhan seluruh kehidupan.” Ia mengaku hampir melakukan “ketidaksetiaan
yang tak terampuni” jika membiarkan hubungan mereka benar-benar terputus. -000- Cinta Paradoks Bernurani Saya
ingin menyebut pola hubungan semacam ini Cinta Paradoks Bernurani. Bukan
diagnosis terhadap batin Arendt, melainkan cara memahami kontradiksi yang
ditinggalkan kisah mereka. Ia
adalah cinta yang bertahan ketika kekaguman telah retak. Mata telah terbuka.
Penilaian moral berubah. Namun keterikatan emosional ternyata menolak
sepenuhnya menghilang. Ada
tiga variabel yang membentuk Cinta Paradoks Bernurani. Pertama, kasih yang
bertahan, bahkan setelah kehidupan membawa dua manusia menuju dunia yang
sangat berbeda. Arendt
telah membangun kehidupan sendiri. Ia memiliki Blücher, sahabat, pekerjaan,
pemikiran, dan dunia intelektualnya. Heidegger bukan pusat tunggal
kehidupannya. Namun
cinta masa muda dapat menyerupai tinta yang meresap ke kertas. Tulisan lain
boleh ditambahkan, tetapi bekas huruf pertama tidak sepenuhnya hilang. Kedua,
kekaguman yang retak oleh penilaian moral. Orang yang pernah dikagumi
ternyata mampu mengambil keputusan yang meruntuhkan gambaran kita mengenai
dirinya. Arendt
tidak berhenti menilai setelah reuni itu. Dalam buku catatan pemikirannya,
Denktagebuch, sekitar 1953 ia menulis fabel “Heidegger si Rubah.” Rubah
itu, tulisnya, begitu kurang cerdik sehingga terus terjebak perangkap. Ia
lalu membangun perangkap sebagai liangnya sendiri, mengira itu rumah, dan
mengundang orang lain masuk. Fabel
itu getir sekaligus jernih. Ia ditulis oleh perempuan yang masih menyimpan
kasih, tetapi tidak lagi bersedia menutup mata. Di
sinilah kedewasaan diuji. Kita tidak harus mengubah orang yang dicintai
menjadi malaikat agar kenangan terhadapnya tetap mempunyai tempat. Manusia
dapat sekaligus cemerlang dan gagal. Ia dapat memberikan pencerahan kepada
dunia, tetapi tersesat ketika sejarah meminta keberanian moral yang paling
sederhana. Ketiga,
cinta tidak menjadi amnesti. Inilah unsur terpenting. Memaafkan luka pribadi
berbeda dengan menghapus tanggung jawab seseorang terhadap penderitaan
manusia lainnya. Kita
berhak berdamai dengan orang yang melukai diri kita. Tetapi kita tidak
mempunyai kuasa mengampuni, atas nama korban, kesalahan sejarah yang menimpa
mereka. Cinta
Paradoks Bernurani mencapai kedewasaannya ketika kasih tetap diperbolehkan
hidup, tetapi fakta tidak dipalsukan dan kesalahan tidak diputihkan demi
menyelamatkan orang tercinta. -000- Ujian Terberat: Esai 1969 Namun
variabel ketiga itu sendiri pernah diuji, dan Arendt tidak sepenuhnya lulus. Pada
1969, untuk ulang tahun kedelapan puluh Heidegger, Arendt menulis esai
“Martin Heidegger at Eighty.” Ia memuji Heidegger sebagai “raja tersembunyi”
di kerajaan pemikiran. Tentang
keterlibatan Heidegger dengan Nazisme, Arendt menyebutnya sebagai kekeliruan.
Ia mengingatkan pada Thales, filsuf Yunani yang jatuh ke sumur karena terlalu
asyik menatap bintang. Ia
juga menyinggung Plato yang pergi ke Syracuse untuk menasihati seorang tiran.
Seolah-olah para filsuf besar memang rentan tergoda kekuasaan tirani, dan
Heidegger hanyalah satu lagi di antara mereka. Banyak
pembaca menilai esai itu sebagai pembelaan. Metafora Thales terlalu lembut
untuk seorang rektor yang dengan sadar meminjamkan wibawanya kepada rezim
pembunuh. Di
titik ini, jujur kepada Arendt berarti berani berbeda dengannya. Kasih boleh
hidup. Tetapi pada 1969, kasih itu tampaknya ikut memilihkan kata. Ironinya
menjadi pelajaran. Bahkan pemikir yang paling tajam tentang tanggung jawab
dapat melunak ketika yang dinilai adalah orang yang pernah ia cintai. Maka
Cinta Paradoks Bernurani bukan capaian yang sekali diraih lalu selesai. Ia
disiplin yang harus diulang, justru ketika hati paling ingin memaafkan. -000- Dua Buku untuk Memahami Mereka Buku
pertama adalah Letters, 1925-1975, karya Hannah Arendt dan Martin Heidegger,
disunting Ursula Ludz, diterjemahkan Andrew Shields, dan diterbitkan Harcourt
pada 2004. Buku
ini membuka jendela paling intim kepada hubungan mereka. Kita melihat kerinduan,
jarak, kekaguman intelektual, keterputusan, dan pertemuan kembali setelah
bencana sejarah. Yang
paling menggetarkan bukan romantismenya, melainkan perubahan waktu. Dua
manusia berbicara melalui surat sementara dunia mereka bergerak dari
universitas menuju totalitarianisme dan pengasingan. Keduanya
telah meninggal ketika surat-surat itu akhirnya berbicara. Dua tubuh telah
menjadi sejarah, tetapi suara yang tersimpan dalam kertas ternyata belum
selesai bercakap-cakap. Surat-surat
itu tidak ditemukan sekaligus dalam sebuah peti rahasia. Dokumennya tersimpan
terpisah dalam peninggalan Arendt dan Heidegger di Deutsches Literaturarchiv
Marbach. Ursula
Ludz kemudian menghimpun dan menyunting jejak yang terserak itu. Sejarah
mempertemukan kembali dua manusia yang semasa hidupnya tak pernah sungguh
hidup bersama. Letters,
1925-1975 akhirnya menyerupai kotak hitam sebuah hubungan. Perjalanannya
telah selesai, tetapi rekamannya membuat generasi kemudian mendengar kembali
suara dari ruang tersembunyi. Buku
kedua, Hannah Arendt: For Love of the World, ditulis Elisabeth Young-Bruehl.
Edisi keduanya diterbitkan Yale University Press pada 2004. Young-Bruehl,
bekas murid Arendt, menempatkan hubungan tersebut dalam bentang kehidupan
yang lebih luas: pengungsian, persahabatan, perkawinan, politik, karya, dan
pergulatan intelektual. Buku
ini penting karena mencegah Heidegger menelan seluruh biografi Arendt.
Perempuan itu jauh lebih besar daripada kisah cintanya dengan seorang filsuf
terkenal. Arendt
tumbuh menjadi pemikir yang menunjukkan bagaimana kejahatan dapat melibatkan
manusia biasa, birokrasi, kegagalan penilaian, serta ketidakmampuan melihat
dari sudut manusia lain. Ironinya
mengguncangkan. Perempuan yang memikirkan tanggung jawab manusia ketika
berhadapan dengan kekuasaan tetap memelihara hubungan pribadi dengan lelaki
yang kegagalan politiknya begitu serius. -000- Tetapi Bukankah Ini Hanya Romantisasi? Ada
kontra-argumen serius. Mengapa hubungan antara profesor menikah dan mahasiswi
muda, ditambah sejarah Nazisme Heidegger, masih perlu diceritakan menggunakan
bahasa cinta? Bukankah
romantisasi dapat memperhalus ketimpangan kuasa, mengaburkan penderitaan
korban Nazisme, bahkan mengubah kegagalan moral menjadi dekorasi bagi kisah
cinta kaum intelektual? Keberatan
itu penting. Bahkan diperlukan. Tanpa kewaspadaan tersebut, kisah Arendt dan
Heidegger mudah berubah menjadi melodrama mengenai cinta yang konon
mengalahkan segala sesuatu. Tetapi
itulah yang tidak boleh kita simpulkan. Kisah mereka menarik bukan karena
cinta mengalahkan moralitas, melainkan karena kasih dan penilaian moral dapat
bertahan bersamaan. Kita
dapat mengakui keterikatan tanpa membenarkan pilihan politik Heidegger. Kita
juga dapat memahami Arendt tanpa menganggap setiap sikapnya terhadap
Heidegger pasti benar, termasuk esai 1969 itu. Memahami
manusia bukan berarti membebaskannya. Pemahaman justru memperbesar tanggung
jawab, sebab setelah seluruh alasan diketahui, kita tetap harus menilai
tindakannya dengan jernih. -000- Membacanya Kembali Empat Puluh Tahun Kemudian Saya
pertama mengenal kisah Arendt dan Heidegger ketika mulai serius membaca
filsafat pada 1980-an. Ketika muda, perhatian terutama tertuju kepada
kecemerlangan pikiran mereka. Heidegger
terasa seperti gunung. Arendt seperti sungai yang berani mencari jalannya
sendiri. Dunia filsafat ketika itu tampak sebagai petualangan gagasan besar. Empat
puluh tahun kemudian, saya membuka kembali surat-surat mereka. Kisah yang
sama datang lagi. Tetapi pembacanya bukan lagi orang yang sama seperti empat
dasawarsa sebelumnya. Dulu
yang memukau adalah kecerdasan. Kini yang terasa lebih penting adalah
karakter. Dulu pikiran besar membuat kagum. Kini pertanyaan moral datang
lebih dahulu. Usia
mengajarkan sesuatu yang buku filsafat kadang terlambat ajarkan. Tidak semua
manusia cemerlang layak dijadikan kompas untuk seluruh wilayah kehidupan. Kita
dapat belajar metafisika dari seseorang tanpa menyerahkan kepadanya penilaian
moral kita. Kita dapat mengagumi karya tanpa menyucikan pembuatnya. Membaca
kembali Arendt dan Heidegger karena itu seperti membuka surat lama dengan
mata baru. Hurufnya sama. Tetapi pembacanya telah membawa kehidupan berbeda. Mungkin
begitulah waktu bekerja. Ia tidak selalu mengubah masa lalu. Kadang ia hanya
memberikan kepada kita mata yang akhirnya cukup matang untuk melihatnya. -000- Cinta yang Tidak Mengusir Nurani Arendt
meninggal pada Desember 1975. Heidegger menyusul pada Mei 1976. Mereka tidak
pernah hidup bersama, tetapi sejarah menyimpan percakapan mereka. Yang
tertinggal bukan kisah cinta sempurna. Ketidaksempurnaannya itulah yang
membuat hubungan mereka terus mengganggu pikiran, bahkan setelah kedua
pelakunya lama meninggalkan dunia. Kisah
mereka memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu dapat dimasukkan ke kotak
sederhana: baik atau jahat, mencintai atau membenci, mengagumi atau menolak. Namun
kompleksitas bukan relativisme. Ada tindakan yang tetap harus disebut salah.
Ada korban yang tidak boleh dihapus hanya karena orang yang bersalah adalah
jenius. Barangkali
kedewasaan bukan kemampuan berhenti mencintai manusia yang mengecewakan kita.
Kedewasaan adalah kemampuan mencintai tanpa harus berbohong mengenai siapa
dirinya. Pada
akhirnya, cinta bukan pengadilan terakhir. Ia hanya salah satu ruang dalam
jiwa manusia. Di sebelahnya harus selalu tersedia sebuah ruang bernama
nurani. Sebab
kita boleh menyimpan seseorang di dalam hati, tetapi jangan pernah, demi
memberinya tempat, kita mengusir nurani dari dalam diri. ● REFERENSI Hannah
Arendt dan Martin Heidegger. Letters, 1925-1975. Disunting Ursula Ludz.
Diterjemahkan Andrew Shields. Harcourt, 2004. Elisabeth
Young-Bruehl. Hannah Arendt: For Love of the World. Second Edition. Yale
University Press, 2004. Elżbieta
Ettinger. Hannah Arendt/Martin Heidegger. Yale University Press, 1995. Hannah
Arendt. “Martin Heidegger at Eighty.” Diterjemahkan Albert Hofstadter. The
New York Review of Books, 21 Oktober 1971. Terbit pertama dalam bahasa Jerman
di Merkur, 1969. Hannah
Arendt dan Karl Jaspers. Correspondence, 1926-1969. Disunting Lotte Köhler
dan Hans Saner. Harcourt Brace, 1992. Martin
Heidegger. Ponderings II–VI: Black Notebooks 1931–1938. Translated by Richard
Rojcewicz. Indiana University Press, 2016. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar