|
Koboi
Baru Kasir Presiden Anton Septian : Redaktur Eksekutif Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 20 September 2026
|
· Presiden Jacob Zuma mencopot Pravin
Gordhan dengan dalih anak buahnya itu berkolaborasi dengan antek-antek asing. · Purbaya Yudhi Sadewa terlempar dari
kabinet bukan karena menolak proyek anak emas Presiden Prabowo Subianto. · Berbeda dengan Pravin Gordhan,
pencopotan Purbaya jauh dari heroik. SAMA-SAMA
dipecat dari kursi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa dan Pravin Jamnadas
Gordhan memiliki riwayat yang berbeda selama menjadi pembantu presiden. Di
Afrika Selatan pada 2017, Presiden Jacob Zuma mencopot Pravin Gordhan dengan
dalih anak buahnya itu berkolaborasi dengan “antek-antek asing” untuk
mendongkel pemerintahannya berdasarkan laporan intelijen yang ia terima.
Gordhan, yang sedang berada di London, Inggris, untuk menggaet investor agar
menanamkan modal di Afrika Selatan, dipanggil pulang tanpa sempat
menyelesaikan misinya. Beberapa hari kemudian, pada tengah malam, dia resmi
dipecat. Semua
orang di Afrika Selatan tahu alasan itu dibuat-buat. Gordhan sudah lama tak
disukai Presiden Zuma lantaran kerap menolak permintaan tak masuk akal bosnya
itu. Gordhan berulang kali memblokir kontrak pengadaan yang ia anggap bakal
merugikan negara meski yang menjadi calon mitra adalah sekutu Zuma. Dia pun
bergeming ketika ditekan Zuma supaya mengintervensi bank-bank yang menutup
rekening bisnis keluarga Gupta—konglomerat pendukung Zuma—karena dugaan
pencucian uang dan korupsi penguasaan negara (state capture). Sebagai
Menteri Keuangan, Gordhan mengatur belanja dengan ketat. Dia enggan menambah
defisit fiskal dan berkukuh mempertahankan peringkat kredit Afrika Selatan.
Berpegang pada prinsip tersebut, dia menentang proyek energi nuklir senilai 1
triliun rand atau lebih dari Rp 1.000 triliun yang akan digarap Rusia.
Gordhan menolak program yang habis-habisan didukung Zuma itu karena negara
tidak mampu membiayainya. Inilah puncak perselisihan Gordhan dengan Zuma yang
berujung pada pemecatan sang Menteri. Di
Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa terlempar dari kabinet bukan karena menolak
proyek anak emas Presiden Prabowo Subianto. Sebaliknya, dia justru mengikuti
semua kemauan Prabowo tanpa protes. Dia, misalnya, tak mempersoalkan proyek
makan bergizi gratis yang menelan anggaran ratusan triliun rupiah meskipun
hasilnya disangsikan (dan belakangan terbukti banyak masalah). Dia pun
mengikuti perintah Prabowo memotong dana desa dan mengalihkannya untuk
pembangunan koperasi merah putih. Demikian halnya dalam pemotongan dana
transfer ke daerah agar pemerintah pusat punya duit untuk belanja proyek
favorit Presiden yang lain. Purbaya
tak menjadi rem ambisi Prabowo meskipun dia tahu anggaran kita babak-belur.
Belakangan, dia malah turut menjadi sumber masalah dengan menahan dana bagi
hasil daerah dan pengembalian restitusi pajak. Akibatnya, kas daerah yang
pemasukannya sudah dipotong pusat makin kering. Sementara itu, pihak swasta
yang kepayahan karena dananya tertahan harus mencari sumber pendanaan lain.
Boleh dibilang angka penerimaan negara saat ini sebenarnya ditopang oleh dua
komponen yang bukan hak pemerintah pusat tersebut. Walhasil,
Purbaya banyak dikeluhkan pemerintah daerah dan pengusaha. Tapi bukan
pelbagai komplain tersebut yang membuat dia tersingkir. Seperti tertulis
dalam laporan utama majalah Tempo edisi pekan ini, hubungan tak harmonis
Purbaya dengan anak buahnya menimbulkan riak sampai ke Istana. Maka dia pun
dicopot saat sedang mewakili pemerintah dalam rapat dengan Dewan Perwakilan
Daerah meskipun sudah menuruti semua kemauan Prabowo. Karena
itu, berbeda dengan Pravin Gordhan, pencopotan Purbaya jauh dari heroik.
Purbaya, yang mengklaim sebagai “koboi” pada awal menjadi menteri, tak
berlagak koboi ketika diminta ini-itu oleh Presiden walaupun hasrat tersebut
membuat kondisi fiskal merana. Gaya komunikasi publiknya saja yang omong
besar, tapi tak berani menyanggah permintaan Presiden yang tak masuk akal. Penggantinya,
Suahasil Nazara, sekilas memberikan harapan bahwa tata kelola fiskal akan
lebih teknokratis. Latar belakangnya cukup mendukung: guru besar Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia; mantan Kepala Badan Kebijakan
Fiskal; dan, terakhir, Wakil Menteri Keuangan. Tapi, sepanjang masalahnya
adalah Prabowo sendiri, siapa pun Menteri Keuangannya, problem serupa akan
terus berulang. Suahasil,
atau bahkan seorang koboi sekalipun, pada akhirnya hanya berperan sebagai
kasir Presiden. ● Sumber :
https://www.tempo.co/prelude/reshuffle-menteri-keuangan-prabowo-2288108 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar