|
LRT Jakarta Sampai Manggarai, Tonggak
Integrasi Transportasi Redaktur
Editorial : Redaksi Kompas. |
KOMPAS, 21 September 2026
|
LRT Kelapa Gading-Manggarai tak sekadar tonggak integrasi
transportasi publik, tetapi juga pesan harmoni politik yang komitmen nyatanya
harus dikawal bersama. Peresmian pengoperasian penuh Lintas Raya Terpadu (LRT) Jakarta
rute Kelapa Gading–Manggarai, Rabu 16 September 2026, menandai transformasi
peradaban transportasi publik kota itu benar terjadi. Lintasan yang kini membentang 12,2 kilometer ini tidak sekadar
memperpendek waktu tempuh lintas kawasan menjadi hanya sekitar 28 menit,
tetapi juga menjadi urat nadi baru yang membebaskan warga dari kepenatan
macet. Lebih dari sekadar pencapaian infrastruktur fisik, tersambungnya
LRT hingga Stasiun Manggarai mempertegas visi integrasi antarmoda di
Jabodetabek. Stasiun Manggarai kini menjadi simpul transportasi raksasa yang
diproyeksikan menampung pergerakan 1,2 juta hingga 1,3 juta orang setiap
harinya. Bertemunya LRT dengan KRL Commuter Line, Transjakarta, hingga kereta
bandara di satu titik mempermudah mobilitas masyarakat. Di sisi lain, kebijakan pengenaan tarif promosi Rp 8 selama
delapan hari pertama, yang nantinya dilanjutkan dengan tarif tetap Rp 5.000,
merupakan langkah afirmatif yang patut diapresiasi untuk menarik minat publik
secara luas. Namun, hal yang tak kalah penting dari peresmian ini adalah pesan
harmoni politik yang mengemuka di ruang publik. Pujian terbuka Presiden
Prabowo Subianto terhadap kinerja Gubernur Jakarta Pramono Anung, meski
keduanya berasal dari latar belakang partai politik yang berbeda, membawa
kesejukan tersendiri. Sikap ini pengingat bahwa panggung persaingan pemilihan
umum harus usai ketika tiba saatnya melayani kepentingan rakyat. Semoga
memang demikianlah adanya, bukan sekedar drama politik yang sengaja
dipertontonkan ke publik dan sekedar janji kosong belaka. Sinergi yang solid antara pemerintah pusat dan daerah ini sangat
krusial untuk menuntaskan berbagai pekerjaan rumah berikutnya. Ke depan,
pengembangan jaringan transportasi massal tidak boleh berdiri sendiri,
melainkan harus beriringan dengan pembangunan hunian terjangkau berorientasi
transit bagi kelas pekerja dan generasi muda. Selain itu, rencana pelibatan entitas seperti Danantara untuk
mendanai perpanjangan rute LRT menuju Dukuh Atas, Jakarta International
Stadium (JIS), hingga Stasiun Halim menunjukkan komitmen pendanaan strategis
untuk mempercepat perluasan akses. Lagi-lagi, soal pendanaan ini diharapkan
diikuti kesepakatan serius yang mengikat tanggungjawab antarpihak terkait
agar pembangunan angkutan umum memadai benar-benar bisa dipercepat
realisasinya. Pembangunan fisik yang megah harus dibarengi dengan kepekaan
terhadap kebutuhan manusiawi para penggunanya. Pembenahan infrastruktur mikro
seperti fasilitas pejalan kaki di jembatan penyeberangan orang (JPO),
kejelasan petunjuk arah perpindahan moda, serta penyediaan fasilitas yang
benar-benar inklusif bagi penyandang disabilitas dan kelompok lanjut usia
tidak boleh dikesampingkan. Transportasi massal yang terjangkau, aman, dan berkeadilan adalah
pilar penting bagi ekonomi kerakyatan. Mari kita kawal bersama visi besar ini
agar transformasi menuju peradaban kota yang modern dan asri benar-benar
terwujud. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar