|
Lawan
Fasisme Sukidi :
Pemikir kebinekaan. Ia meraih Master of Arts
di Ohio University pada 2004, Master of Theological Studies di Harvard
Divinity School, Harvard University pada 2006, dan Doctor of Philosophy di
the Graduate School of Arts and Sciences, Harvard University pada 2019. |
TEMPO MINGGUAN, 19 September 2026
|
· Fasisme Eropa berkembang dari praktik
kolonialisme yang dibawa pulang ke negeri penjajah. · Menurut Pramoedya, fasisme Jawa tumbuh
dan berkembang dengan sangat subur pada masa Soeharto. · Artikel ini mengurai gejala-gejala
fasisme yang sedang terjadi di Indonesia hari ini. SETELAH
menyaksikan peristiwa kebakaran gedung parlemen Reichstag di Berlin pada 27
Februari 1933, Hannah Arendt berkata: “Sejak saat itu, saya merasa
bertanggung jawab. Saya tidak lagi beranggapan bahwa seseorang bisa sekadar
menjadi penonton.” Menjadi
warga biasa yang hanya menonton dan bersikap netral di tengah kebangkitan
fasisme yang membunuh demokrasi adalah mustahil untuk dipertahankan. Karena
itu, Arendt menunjukkan sikap dan tanggung jawab intelektual untuk melawan.
Kemampuan berpikir kritis ia hadirkan melalui karya dan percakapan
intelektual di ruang akademik dan publik sebagai tindakan perlawanan atas
fasisme. Perjuangan
Arendt melawan fasisme bukanlah hal unik yang hanya terjadi di Eropa. Dalam
karyanya yang berpengaruh luas—The Origins of Totalitarianism (1951)—ia
sendiri menyadari penuh bahwa fasisme Eropa dapat diuraikan melalui praktik
brutal kolonialisme yang berkembang di tanah jajahan Eropa, yang kemudian
dibawa pulang ke pusat-pusat kekuasaan Eropa melalui “efek bumerang
imperialisme”. Karena
itu, “Fasisme adalah bentuk kolonialisme yang dibawa pulang ke Eropa,” kata
Aimé Césaire dalam Discourse on Colonialism (1950). Penindasan rasial,
penyimpangan kekuasaan, perampasan hak asasi manusia, dan birokrasi kolonial
yang tak berperikemanusiaan, yang dipraktikkan kepada orang non-kulit putih
selama ratusan tahun di tanah jajahan sebagai bentuk kolonialisme, ternyata
pulang kembali ke rumah Eropa dengan jubah fasisme. Fasisme diterapkan untuk
menjajah sendiri orang Eropa kulit putih. Sebagaimana
Arendt di Eropa, perjuangan intelektual melawan fasisme terefleksikan secara
kuat pada Pramoedya Ananta Toer di Indonesia—bekas tanah jajahan Belanda
selama hampir 350 tahun (1600-1942) dan pendudukan Jepang selama tiga
setengah tahun (1942-1945). Dalam buku perbincangan dengan André Vltchek dan
Rossie Indira berjudul Saya Terbakar Amarah Sendirian! (2006), Pram berkata,
“Menulis buat saya adalah perlawanan. Di semua buku saya, saya selalu
mengajak untuk melawan. Saya dibesarkan untuk menjadi seorang pejuang.”
Ajakan Pram kepada kita untuk melawan ternyata ditujukan secara spesifik pada
Jawanisme dan fasisme Jawa di masa Orde Baru. Ketika
ditanya tentang apa sebenarnya Jawanisme, Pram menjawabnya secara lugas:
“Jawanisme adalah taat dan setia kepada atasan, yang pada akhirnya menjurus
kepada fasisme. Kita namakan fasisme Jawa saja, ya, dan sistem ini tumbuh dan
berkembang dengan sangat subur pada masa Suharto.” Ternyata fasisme
bermetamorfosis dengan kebudayaan Jawa yang feodal, yang menuntut kepatuhan
dan loyalitas buta kepada atasan. Pram sendiri sadar betul tentang berlakunya
hukum yang tak tertulis bahwa “perintah atasan harus selalu dipatuhi”. Tentang
fasisme Jawa, Pram menguraikannya secara lebih detail: “Prinsipnya taat dan
setia yang membabi-buta kepada atasan dan tidak memikirkan pihak lain sama
sekali. Inilah mengapa Pulau Jawa ini dijajah oleh berbagai bangsa asing
selama berabad-abad, karena kaum elite Jawa berkolusi dengan kekuatan
kolonial yang mencari rempah-rempah. Rakyat tidak berani menentang kaum
elitenya maupun para penjajahnya. Sudah sejak awal kaum elite disuap oleh
para penjajah, dan Jawa jatuh ke tangan penjajah itu tanpa perang.” Hierarki
dalam bahasa Jawa menjadi instrumen yang efektif untuk merawat tradisi
kepatuhan kepada atasan. Keterkaitan antara hierarki bahasa dan fasisme yang
menuntut kepatuhan menjadi perhatian serius Pram: “Bahasa Jawa juga bertingkat-tingkat,
dan diciptakan untuk memuliakan atasan. Ketika diterjemahkan dalam politik,
jadilah fasisme. Fasisme tidak memperbolehkan adanya oposisi atau
perlawanan.” Sebagaimana
seruan Pram melawan fasisme, demikian pula Wiji Thukul yang menjadi korban
penghilangan paksa di pengujung masa kekuasaan fasisme Orde Baru. Ia
mewariskan “hanya satu kata” kepada kita: lawan! Kata yang menggerakkan
dirinya dan kita untuk melawan fasisme. “Kamu tidak akan mengerti arti
fasisme sebelum sepatu tentara menempel di jidat,” dia menegaskan. Tak
sekadar memahami fasisme secara fasih, ia juga mengalami sendiri praktik
kejahatan fasisme yang merenggut hidupnya melalui berbagai intimidasi, teror,
represi, dan akhirnya penghilangan paksa. Karena
itu, peringatan dia dalam Pers Führer (Mei 1995) tentang kepemimpinan fasis
menemukan relevansi kebenarannya pada Indonesia hari ini dan tahun-tahun ke
depan: “Prinsip kepemimpinan fasis menunjukkan betapa ekstrimnya konsep
pemerintahan yang elitis. Ia sepenuhnya mencerminkan sifat yang tidak
rasional dari politik fasis, yakni pemimpin dianggap tidak mungkin bersalah.
Dalam suatu konflik antara pendapat umum dan pendapat pemimpin fasis, kemauan
terakhirlah yang harus dimenangkan.” Seiring
dengan generasi pejuang melawan fasisme, dari Hannah Arendt, Pramoedya Ananta
Toer, hingga Wiji Thukul, berlalu menjadi bagian dari sejarah, tugas untuk
melanjutkan perjuangan anti-fasisme kini berada di pundak kita. Bersama para
peraih Hadiah Nobel, ilmuwan, filsuf, penulis, dan warga dunia yang telah
mendeklarasikan perjuangan melawan ancaman kebangkitan kembali fasisme pada
2025, kita pun terpanggil untuk melawan cengkeraman fasisme dalam segala
bentuknya yang sedang menjajah Indonesia melalui delapan strategi:
militerisme dan paramiliter, tirani kekuasaan, propaganda, pembelahan antara
“kita” dan “mereka”, tradisi kultus kepada Führer, anti-intelektualisme,
tekno-fasisme, serta politik pasca-kebenaran. Delapan
panduan fasisme ini nyata terjadi di Republik Indonesia. Sejarah akan merekam
jejak perjuangan kita: berdiri bersama kepemimpinan fasis yang gagal atau
berjuang bersama masyarakat sipil dalam gerakan melawan fasisme. Hanya ada
dua kata yang tersisa: lawan fasisme! ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/lawan-fasisme-fasis-jawa-2287950 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar