Senin, 21 September 2026

 

Lawan Fasisme

Sukidi :  Pemikir kebinekaan. Ia meraih Master of Arts di Ohio University pada 2004, Master of Theological Studies di Harvard Divinity School, Harvard University pada 2006, dan Doctor of Philosophy di the Graduate School of Arts and Sciences, Harvard University pada 2019.

TEMPO MINGGUAN, 19 September 2026

 

 

                                                           

·      Fasisme Eropa berkembang dari praktik kolonialisme yang dibawa pulang ke negeri penjajah.

 

·      Menurut Pramoedya, fasisme Jawa tumbuh dan berkembang dengan sangat subur pada masa Soeharto.

 

·      Artikel ini mengurai gejala-gejala fasisme yang sedang terjadi di Indonesia hari ini.

 

SETELAH menyaksikan peristiwa kebakaran gedung parlemen Reichstag di Berlin pada 27 Februari 1933, Hannah Arendt berkata: “Sejak saat itu, saya merasa bertanggung jawab. Saya tidak lagi beranggapan bahwa seseorang bisa sekadar menjadi penonton.”

 

Menjadi warga biasa yang hanya menonton dan bersikap netral di tengah kebangkitan fasisme yang membunuh demokrasi adalah mustahil untuk dipertahankan. Karena itu, Arendt menunjukkan sikap dan tanggung jawab intelektual untuk melawan. Kemampuan berpikir kritis ia hadirkan melalui karya dan percakapan intelektual di ruang akademik dan publik sebagai tindakan perlawanan atas fasisme.

 

Perjuangan Arendt melawan fasisme bukanlah hal unik yang hanya terjadi di Eropa. Dalam karyanya yang berpengaruh luas—The Origins of Totalitarianism (1951)—ia sendiri menyadari penuh bahwa fasisme Eropa dapat diuraikan melalui praktik brutal kolonialisme yang berkembang di tanah jajahan Eropa, yang kemudian dibawa pulang ke pusat-pusat kekuasaan Eropa melalui “efek bumerang imperialisme”.

 

Karena itu, “Fasisme adalah bentuk kolonialisme yang dibawa pulang ke Eropa,” kata Aimé Césaire dalam Discourse on Colonialism (1950). Penindasan rasial, penyimpangan kekuasaan, perampasan hak asasi manusia, dan birokrasi kolonial yang tak berperikemanusiaan, yang dipraktikkan kepada orang non-kulit putih selama ratusan tahun di tanah jajahan sebagai bentuk kolonialisme, ternyata pulang kembali ke rumah Eropa dengan jubah fasisme. Fasisme diterapkan untuk menjajah sendiri orang Eropa kulit putih.

 

Sebagaimana Arendt di Eropa, perjuangan intelektual melawan fasisme terefleksikan secara kuat pada Pramoedya Ananta Toer di Indonesia—bekas tanah jajahan Belanda selama hampir 350 tahun (1600-1942) dan pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun (1942-1945). Dalam buku perbincangan dengan André Vltchek dan Rossie Indira berjudul Saya Terbakar Amarah Sendirian! (2006), Pram berkata, “Menulis buat saya adalah perlawanan. Di semua buku saya, saya selalu mengajak untuk melawan. Saya dibesarkan untuk menjadi seorang pejuang.” Ajakan Pram kepada kita untuk melawan ternyata ditujukan secara spesifik pada Jawanisme dan fasisme Jawa di masa Orde Baru.

 

Ketika ditanya tentang apa sebenarnya Jawanisme, Pram menjawabnya secara lugas: “Jawanisme adalah taat dan setia kepada atasan, yang pada akhirnya menjurus kepada fasisme. Kita namakan fasisme Jawa saja, ya, dan sistem ini tumbuh dan berkembang dengan sangat subur pada masa Suharto.” Ternyata fasisme bermetamorfosis dengan kebudayaan Jawa yang feodal, yang menuntut kepatuhan dan loyalitas buta kepada atasan. Pram sendiri sadar betul tentang berlakunya hukum yang tak tertulis bahwa “perintah atasan harus selalu dipatuhi”.

 

Tentang fasisme Jawa, Pram menguraikannya secara lebih detail: “Prinsipnya taat dan setia yang membabi-buta kepada atasan dan tidak memikirkan pihak lain sama sekali. Inilah mengapa Pulau Jawa ini dijajah oleh berbagai bangsa asing selama berabad-abad, karena kaum elite Jawa berkolusi dengan kekuatan kolonial yang mencari rempah-rempah. Rakyat tidak berani menentang kaum elitenya maupun para penjajahnya. Sudah sejak awal kaum elite disuap oleh para penjajah, dan Jawa jatuh ke tangan penjajah itu tanpa perang.”

 

Hierarki dalam bahasa Jawa menjadi instrumen yang efektif untuk merawat tradisi kepatuhan kepada atasan. Keterkaitan antara hierarki bahasa dan fasisme yang menuntut kepatuhan menjadi perhatian serius Pram: “Bahasa Jawa juga bertingkat-tingkat, dan diciptakan untuk memuliakan atasan. Ketika diterjemahkan dalam politik, jadilah fasisme. Fasisme tidak memperbolehkan adanya oposisi atau perlawanan.”

 

Sebagaimana seruan Pram melawan fasisme, demikian pula Wiji Thukul yang menjadi korban penghilangan paksa di pengujung masa kekuasaan fasisme Orde Baru. Ia mewariskan “hanya satu kata” kepada kita: lawan! Kata yang menggerakkan dirinya dan kita untuk melawan fasisme. “Kamu tidak akan mengerti arti fasisme sebelum sepatu tentara menempel di jidat,” dia menegaskan. Tak sekadar memahami fasisme secara fasih, ia juga mengalami sendiri praktik kejahatan fasisme yang merenggut hidupnya melalui berbagai intimidasi, teror, represi, dan akhirnya penghilangan paksa.

 

Karena itu, peringatan dia dalam Pers Führer (Mei 1995) tentang kepemimpinan fasis menemukan relevansi kebenarannya pada Indonesia hari ini dan tahun-tahun ke depan: “Prinsip kepemimpinan fasis menunjukkan betapa ekstrimnya konsep pemerintahan yang elitis. Ia sepenuhnya mencerminkan sifat yang tidak rasional dari politik fasis, yakni pemimpin dianggap tidak mungkin bersalah. Dalam suatu konflik antara pendapat umum dan pendapat pemimpin fasis, kemauan terakhirlah yang harus dimenangkan.”

 

Seiring dengan generasi pejuang melawan fasisme, dari Hannah Arendt, Pramoedya Ananta Toer, hingga Wiji Thukul, berlalu menjadi bagian dari sejarah, tugas untuk melanjutkan perjuangan anti-fasisme kini berada di pundak kita. Bersama para peraih Hadiah Nobel, ilmuwan, filsuf, penulis, dan warga dunia yang telah mendeklarasikan perjuangan melawan ancaman kebangkitan kembali fasisme pada 2025, kita pun terpanggil untuk melawan cengkeraman fasisme dalam segala bentuknya yang sedang menjajah Indonesia melalui delapan strategi: militerisme dan paramiliter, tirani kekuasaan, propaganda, pembelahan antara “kita” dan “mereka”, tradisi kultus kepada Führer, anti-intelektualisme, tekno-fasisme, serta politik pasca-kebenaran.

 

Delapan panduan fasisme ini nyata terjadi di Republik Indonesia. Sejarah akan merekam jejak perjuangan kita: berdiri bersama kepemimpinan fasis yang gagal atau berjuang bersama masyarakat sipil dalam gerakan melawan fasisme. Hanya ada dua kata yang tersisa: lawan fasisme! ●

 

Sumber :    https://www.tempo.co/kolom/lawan-fasisme-fasis-jawa-2287950

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar