|
Bagaimana Cina Menumbuhkan
Disiplin Jalanan dan Gairah Buku Agus Dermawan T : Pengamat Seni. |
TEMPO HARIAN, 26 September 2026
|
· Di sebuah rest area terpencil di Cina,
pelanggar lalu lintas—dari crazy rich hingga sopir truk—dipajang lengkap
dengan foto, nama, dan dendanya, sebagai pengingat yang ternyata ampuh
menekan angka kecelakaan. · Di Dujiangyan, kecanduan gawai
dibelokkan ke dunia buku lewat toko buku bergaya lorong sihir yang menjulang
hingga langit-langit cermin. · Toko buku unik dengan model berbeda
terdapat di sejumlah kota di Cina. DALAM
perjalananwisata di Cinapada pertengahan Agustus 2026, bus yang saya tumpangi
mampir di toilet stop Weilong Service Area. Suatu tempat yang jauh di luar
kota, di tengah dataran membentang dan kosong. Toilet
stop itu luasnya dua lapangan bola. Di sebelah sini tampak terminal pengisian
bahan bakar minyak. Di sebelah sana untuk pengisian baterai mobil listrik.
Persis di tengahnya adalah bangunan segede gaban, yang di dalamnya ada toko
makanan kecil dan sejumlah warung rapi jali untuk menyantap makanan besar. Di
sekitarnya tertata banyak meja dan kursi untuk mereka yang bersantai minum
teh, kopi, atau apa saja, kecuali minuman beralkohol. Di beberapa pojok
terdapat sofa nyaman untuk mereka yang mau beristirahat sambil tiduran. Dari
fasilitas yang tersedia, toilet stop itu bukan untuk para wisatawan saja,
melainkan juga untuk istirahat para pengemudi yang menempuh perjalanan jauh.
Indikasinya, di belakang gedung tampak beberapa truk tronton yang sedang
berlabuh. Sopirnya entah di mana atau, tepatnya, sedang tiduran di mana. Yang
menarik, sebelum masuk bangunan toilet stop itu, semua orang dihadang papan
besar yang memajang teks bergambar dengan infografik berdesain menawan. Teks
bergambar itu isinya informasi ihwal pelanggaran lalu lintas yang dilakukan
oleh sejumlah orang. Kasusnya ditulis, dendanya dicantumkan, dan foto para
pelanggar juga dimaktubkan. Bahkan nama si pelanggar juga disiarkan. Siapa
yang diekspos? Tidak pandang bulu! Di situ ada seorang hartawan yang
menyeringai di samping mobil mewahnya di pinggir jalan. Ia dikenai denda
6.000 yuan (hampir Rp 18 juta) plus dilarang menyetir dua tahun. Ada juga
sopir truk yang pasrah dan kusut karena truknya tertangkap overload. Pelajaran
untuk Pelanggar Lalu Lintas Begini
terjemahan salah satu teks bergambar itu: “Ini kejadian pada 6 Maret 2026
sekitar pukul 16.00. Saat melakukan pemeriksaan di gerbang tol Tonglian
Utara, petugas dari Brigade Polisi Lalu Lintas Tonglian melihat kendaraan
dengan nomor pelat YU A*** terparkir mencurigakan di gerbang tol. Pengendara
mobil itu tampak bertukar pengemudi. Setelah diselidiki, petugas menemukan
bahwa Meng, yang baru saja berganti kursi pengemudi ke kursi penumpang, telah
dicabut SIM-nya karena diketahui pernah menyetir dalam keadaan mabuk. Ia
ternyata telah mengemudi jauh memasuki pintu masuk gerbang tol Tonglian
Utara. Setelah melihat pos pemeriksaan polisi di depannya, karena takut
terbongkar menyetir tanpa SIM, ia berhenti tak jauh dari gerbang tol untuk
berganti tempat duduk dan berusaha menghindari deteksi. Tindakan
Meng melanggar Pasar 18 ayat 1 Undang-Undang Keselamatan Lalu Lintas Jalan.
Berdasarkan Pasal 99 ayat 1 butir 1 dan 2 Undang-Undang Keselamatan Lalu
Lintas Jalan, ia dikenai denda 1.000 yuan.” Dari
informasi yang saya dapat, panil pameran pelanggaran semacam ini ada di
ratusan toilet stop lain di sekujur Tiongkok, dengan desain berbeda, dengan
kasus berbeda, dengan waktu berbeda, dan tentu dengan “tokoh” yang berbeda
pula. Mirip dengan pemerintah Cina kala menangkap koruptor, yang dipamerkan
ke publik, sebelum didor. Tujuan
dari pameran ini jelas, yakni untuk mengingatkan para pengemudi agar tidak
melakukan perbuatan yang semacam. Hasil pengingatan itu nyata! Kecelakaan
lalu lintas di jalur suburban sangat jarang terjadi sejak lima tahun terakhir
dan angka kecelakaan lalu lintas di perkotaan terus menurun. Salah satunya di
Chongqing, yang berpenduduk 31,87 juta jiwa dan memiliki 9,91 juta unit
kendaraan bermotor. Di kota raksasa ini, berdasarkan data pada 2025, (hanya)
terjadi 4.448 kasus kecelakaan lalu lintas. Itu pun sangat sedikit yang
fatal. Menurut
Biro Komunikasi Statistik Republik Rakyat Cina, pada 2025, korban jiwa akibat
kecelakaan lalu lintas di seluruh negara (hanya) 1,25 orang untuk per 10 ribu
kendaraan. Hitungan ini terus turun rata-rata 4,6 persen setiap tahun. “Kami
sudah menyediakan jutaan kilometer jalanan yang luas dan mulus. Rakyat harus
menggunakannya dengan keterampilan dan mentalitas yang bagus,” kata Li
Guozhong, juru bicara Kementerian Keamanan Publik. Bandingkan
dengan di Indonesia. Di Jakarta saja, sebagaimana dilaporkan Kepolisian
Daerah Metropolitan Jakarta Raya, pada 2025 terjadi 13.184 kecelakaan lalu
lintas, yang memakan korban jiwa 740 orang. Itu yang tercatat, lho. Sebab,
banyak kecelakaan yang menguap lantaran polisi menghapus kasus setelah
disuap. Masuk ke
Dunia Buku Dari
toilet stop Weilong Service Area, perjalanan diteruskan ke Kota Dujiangyan.
Di kota ini, budaya pengajaran dan penghajaran dunia jalanan tampak merambat
ke dunia perbukuan. Saya
mampir ke toko buku unik, spektakuler, ajaib, bahkan lucu di lantai 2 Sunac
Mall atau Rongchuang Mall. Karena mal ini ada di Kota Dujiangyan, toko buku
itu bernama Zhongshuge Dujiangyan (Zhongshuge artinya jaringan toko buku
milik taipan Zhong Shuhao). Mengapa toko buku ini dibangun dengan unik,
spektakuler, ajaib, dan cenderung lucu? Ada persoalan yang memicu. Syahdan,
sejak 15 tahun lalu, pemerintah Cina sudah mewaspadai kemajuan teknologi
komunikasi yang mengalir deras lewat telepon seluler atau gawai. Terutama
gawai yang dipegang anak-anak, remaja, dan anak muda. Pemerintah menganggap
gawai sangat mudah mengantarkan platform konten yang bikin kecanduan, berita
dan pengetahuan melenceng, hoaks, dan provokasi. Semua hal itu perlu dicegah. Pemerintah
Cina lantas menguatkan peran Cyberspace Administration of China (CAC).
Lembaga ini menerapkan aturan yang sangat ketat terkait dengan akses anak dan
remaja terhadap Internet, yang mudah diakses dengan gawai. Untuk melaksanakan
itu, pemerintah menciptakan aplikasi yang membatasi durasi pengaksesan secara
otomatis. Karena
itu, anak di bawah usia 8 tahun hanya bisa mengakses Internet maksimal selama
8 menit saja. Sebelum akhirnya menjadi 40 menit, setelah pemerintah
menawarkan konten-konten menghibur dan edukatif. Sedangkan yang berusia 8-16
tahun bisa mengakses maksimal satu jam. Untuk yang berusia 16-18 tahun
maksimal dua jam. Pada pukul 10 malam sampai pukul 6 pagi, semua Internet
dibikin mati! Untuk
mengetahui usia pengguna, perusahaan layanan Internet menerapkan sistem login
dengan identitas asli si anak, si remaja, dan si anak muda. Semua itu untuk
memastikan usia dan kepatuhan batas waktu pemilik serta pengguna gawai. CAC
yakin aturan yang diterapkan itu bakal menyelamatkan masyarakat agar tak
termakan berita bodong dan provokasi para garong. Sementara itu, tujuan
akhirnya adalah mencegah anak-anak, remaja, dan anak muda agar tidak
kecanduan Internet. Fenomena gawat yang sudah melanda generasi dini di
seluruh dunia. Namun
Cina tak hanya melarang, juga memberi kompensasi dan perimbangan. Antisipasi
agresivitas Internet itu dihadang secara strategis dan didaktik dengan cara
membelokkan masyarakat ke dunia buku cetak, yang terbukti lebih berperadaban.
Caranya, pemerintah mengajak generasi baru makin masuk ke dalam dunia kitab.
Maka ribuan judul buku bermutu dengan harga terjangkau dicetak dan ramai
dipromosikan. Kemudian,
agar generasi dini ramai-ramai menatap dan menangkap buku, ribuan judul buku
yang dibikin estetik itu ditawarkan lewat aneka toko buku dengan arsitektur
serta interior yang sangat menarik. Salah satu toko dahsyat itu adalah
Zhongshuge Dujiangyan. Interior
toko buku ini selintas mengimajinasikan ruang-ruang sekolah sihir Hogwarts,
kastil Harry Potter. Denahnya meliuk-liuk dengan warna kecokelatan. Pilar dan
tangganya melintir dan melingkar. Dindingnya bisa datar, mendadak lempeng,
tiba-tiba melengkung atau mematah bagai lorong kaku labirin. Ada pula yang
terkesan berputar bagai gambar surealis Escher. Berbagai meja yang terhampar
kelihatan ganjil bentuknya. Oh ya, langit-langit toko ini berupa cermin
sehingga pantulan rak dan buku yang ada di bawahnya tergambar menjulang riuh.
Seolah buku-buku itu terpajang sampai ke langit ketujuh! Namun,
jangan tertipu, tidak semua buku yang ada di situ adalah buku betulan. Pada
bagian-bagian “rak” yang hampir menyentuh plafon, buku yang terjajar adalah
hasil fotografi, dengan sudut pengambilan dan kualitas cetak yang benar-benar
menipu ilusi. Walhasil, toko ini bukan sekadar ruang penjualan dan ruang
bacaan, melainkan juga karya seni. Toko buku adalah panggung pertunjukan. Interior
ini menarik perhatian anak-anak, remaja, anak muda, bahkan para orang tua.
Mereka berdatangan. Banyak yang ingin berlama-lama untuk kemudian duduk di
ruang-ruang yang memang disediakan untuk membaca. Sampai ujungnya mereka
antre di konter pembayaran berundak, dengan kasir yang terposisi bak ratu di
bagian puncak. Meriah,
tenang, seru, meditatif, hening, dan magis bercampur dalam suasana
petualangan yang menakjubkan. Sayangnya, 80 persen buku yang berdesain
menarik itu berbahasa Mandarin sehingga banyak wisatawan mancanegara yang
mati kutu membacanya. Sayangnya juga, di antara beribu-ribu buku itu, tidak
ada satu pun buku karangan saya. Namun
Zhongshuge Dujiangyan tidak sendirian. Cina—untuk terus memupuk minat baca
generasi muda—juga membangun toko seperti ini di banyak kota dengan model
berbeda. Zhongshuge Shanghai pada 2013 sebagai yang pertama. Kemudian
Zhongshuge Chongqing, Zhongshuge Shenzhen, Pioneer (Avant-Garde)
Songyang-Zhejiang, dan sebagainya. Termasuk Zhongshuge Beijing rancangan biro
arsitektur X-Living. Satu toko ikonik yang ada dalam Galeries Lafayette
Beijing dan diberi gelar “Toko Buku Terindah” oleh Departemen Publisitas
Komite Kota Beijing. Namun,
sebagus-bagusnya berbagai Zhongshuge di banyak kota, Zhongshuge Dujiangyan
masih bercokol sebagai yang terbaik. Hal ini terbukti dengan reputasi yang
dicatat selama ini. Toko ini meraih medali emas dari Desain A Italia pada
2020-2021, penghargaan Architizer A+Awards 2021 untuk desain ruang retail
komersial, penghargaan dari Best of Year Awards Amerika pada 2021 sebagai
toko buku berdesain interior paling mencengangkan, medali perak dari
International Federation Interior pada 2022, predikat “Toko Buku Tercantik”
di Chengdu pada 2022, dan gelar “Sepuluh Toko Buku Paling Artistik di Dunia”
oleh lembaga internasional 1000 Libraries pada 2025. ● Sumber : https://www.tempo.co/hiburan/perjalanan-menjelajahi-toko-buku-unik-di-cina-2287745
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar