Minggu, 27 September 2026

 

Bagaimana Cina Menumbuhkan Disiplin Jalanan dan Gairah Buku

Agus Dermawan T :  Pengamat Seni.

TEMPO HARIAN,  26 September 2026

 

 

 

·      Di sebuah rest area terpencil di Cina, pelanggar lalu lintas—dari crazy rich hingga sopir truk—dipajang lengkap dengan foto, nama, dan dendanya, sebagai pengingat yang ternyata ampuh menekan angka kecelakaan.

 

·      Di Dujiangyan, kecanduan gawai dibelokkan ke dunia buku lewat toko buku bergaya lorong sihir yang menjulang hingga langit-langit cermin.

 

·      Toko buku unik dengan model berbeda terdapat di sejumlah kota di Cina.

 

DALAM perjalananwisata di Cinapada pertengahan Agustus 2026, bus yang saya tumpangi mampir di toilet stop Weilong Service Area. Suatu tempat yang jauh di luar kota, di tengah dataran membentang dan kosong.

 

Toilet stop itu luasnya dua lapangan bola. Di sebelah sini tampak terminal pengisian bahan bakar minyak. Di sebelah sana untuk pengisian baterai mobil listrik. Persis di tengahnya adalah bangunan segede gaban, yang di dalamnya ada toko makanan kecil dan sejumlah warung rapi jali untuk menyantap makanan besar. Di sekitarnya tertata banyak meja dan kursi untuk mereka yang bersantai minum teh, kopi, atau apa saja, kecuali minuman beralkohol. Di beberapa pojok terdapat sofa nyaman untuk mereka yang mau beristirahat sambil tiduran.

 

Dari fasilitas yang tersedia, toilet stop itu bukan untuk para wisatawan saja, melainkan juga untuk istirahat para pengemudi yang menempuh perjalanan jauh. Indikasinya, di belakang gedung tampak beberapa truk tronton yang sedang berlabuh. Sopirnya entah di mana atau, tepatnya, sedang tiduran di mana.

 

Yang menarik, sebelum masuk bangunan toilet stop itu, semua orang dihadang papan besar yang memajang teks bergambar dengan infografik berdesain menawan. Teks bergambar itu isinya informasi ihwal pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh sejumlah orang. Kasusnya ditulis, dendanya dicantumkan, dan foto para pelanggar juga dimaktubkan. Bahkan nama si pelanggar juga disiarkan.

 

Siapa yang diekspos? Tidak pandang bulu! Di situ ada seorang hartawan yang menyeringai di samping mobil mewahnya di pinggir jalan. Ia dikenai denda 6.000 yuan (hampir Rp 18 juta) plus dilarang menyetir dua tahun. Ada juga sopir truk yang pasrah dan kusut karena truknya tertangkap overload.

 

Pelajaran untuk Pelanggar Lalu Lintas

 

Begini terjemahan salah satu teks bergambar itu: “Ini kejadian pada 6 Maret 2026 sekitar pukul 16.00. Saat melakukan pemeriksaan di gerbang tol Tonglian Utara, petugas dari Brigade Polisi Lalu Lintas Tonglian melihat kendaraan dengan nomor pelat YU A*** terparkir mencurigakan di gerbang tol.

 

Pengendara mobil itu tampak bertukar pengemudi. Setelah diselidiki, petugas menemukan bahwa Meng, yang baru saja berganti kursi pengemudi ke kursi penumpang, telah dicabut SIM-nya karena diketahui pernah menyetir dalam keadaan mabuk. Ia ternyata telah mengemudi jauh memasuki pintu masuk gerbang tol Tonglian Utara. Setelah melihat pos pemeriksaan polisi di depannya, karena takut terbongkar menyetir tanpa SIM, ia berhenti tak jauh dari gerbang tol untuk berganti tempat duduk dan berusaha menghindari deteksi.

 

Tindakan Meng melanggar Pasar 18 ayat 1 Undang-Undang Keselamatan Lalu Lintas Jalan. Berdasarkan Pasal 99 ayat 1 butir 1 dan 2 Undang-Undang Keselamatan Lalu Lintas Jalan, ia dikenai denda 1.000 yuan.”

 

Dari informasi yang saya dapat, panil pameran pelanggaran semacam ini ada di ratusan toilet stop lain di sekujur Tiongkok, dengan desain berbeda, dengan kasus berbeda, dengan waktu berbeda, dan tentu dengan “tokoh” yang berbeda pula. Mirip dengan pemerintah Cina kala menangkap koruptor, yang dipamerkan ke publik, sebelum didor.

 

Tujuan dari pameran ini jelas, yakni untuk mengingatkan para pengemudi agar tidak melakukan perbuatan yang semacam. Hasil pengingatan itu nyata!

 

Kecelakaan lalu lintas di jalur suburban sangat jarang terjadi sejak lima tahun terakhir dan angka kecelakaan lalu lintas di perkotaan terus menurun. Salah satunya di Chongqing, yang berpenduduk 31,87 juta jiwa dan memiliki 9,91 juta unit kendaraan bermotor. Di kota raksasa ini, berdasarkan data pada 2025, (hanya) terjadi 4.448 kasus kecelakaan lalu lintas. Itu pun sangat sedikit yang fatal.

 

Menurut Biro Komunikasi Statistik Republik Rakyat Cina, pada 2025, korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh negara (hanya) 1,25 orang untuk per 10 ribu kendaraan. Hitungan ini terus turun rata-rata 4,6 persen setiap tahun. “Kami sudah menyediakan jutaan kilometer jalanan yang luas dan mulus. Rakyat harus menggunakannya dengan keterampilan dan mentalitas yang bagus,” kata Li Guozhong, juru bicara Kementerian Keamanan Publik.

 

Bandingkan dengan di Indonesia. Di Jakarta saja, sebagaimana dilaporkan Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya, pada 2025 terjadi 13.184 kecelakaan lalu lintas, yang memakan korban jiwa 740 orang. Itu yang tercatat, lho. Sebab, banyak kecelakaan yang menguap lantaran polisi menghapus kasus setelah disuap.

 

Masuk ke Dunia Buku

 

Dari toilet stop Weilong Service Area, perjalanan diteruskan ke Kota Dujiangyan. Di kota ini, budaya pengajaran dan penghajaran dunia jalanan tampak merambat ke dunia perbukuan.

 

Saya mampir ke toko buku unik, spektakuler, ajaib, bahkan lucu di lantai 2 Sunac Mall atau Rongchuang Mall. Karena mal ini ada di Kota Dujiangyan, toko buku itu bernama Zhongshuge Dujiangyan (Zhongshuge artinya jaringan toko buku milik taipan Zhong Shuhao). Mengapa toko buku ini dibangun dengan unik, spektakuler, ajaib, dan cenderung lucu? Ada persoalan yang memicu.

 

Syahdan, sejak 15 tahun lalu, pemerintah Cina sudah mewaspadai kemajuan teknologi komunikasi yang mengalir deras lewat telepon seluler atau gawai. Terutama gawai yang dipegang anak-anak, remaja, dan anak muda. Pemerintah menganggap gawai sangat mudah mengantarkan platform konten yang bikin kecanduan, berita dan pengetahuan melenceng, hoaks, dan provokasi. Semua hal itu perlu dicegah.

 

Pemerintah Cina lantas menguatkan peran Cyberspace Administration of China (CAC). Lembaga ini menerapkan aturan yang sangat ketat terkait dengan akses anak dan remaja terhadap Internet, yang mudah diakses dengan gawai. Untuk melaksanakan itu, pemerintah menciptakan aplikasi yang membatasi durasi pengaksesan secara otomatis.

 

Karena itu, anak di bawah usia 8 tahun hanya bisa mengakses Internet maksimal selama 8 menit saja. Sebelum akhirnya menjadi 40 menit, setelah pemerintah menawarkan konten-konten menghibur dan edukatif. Sedangkan yang berusia 8-16 tahun bisa mengakses maksimal satu jam. Untuk yang berusia 16-18 tahun maksimal dua jam. Pada pukul 10 malam sampai pukul 6 pagi, semua Internet dibikin mati!

 

Untuk mengetahui usia pengguna, perusahaan layanan Internet menerapkan sistem login dengan identitas asli si anak, si remaja, dan si anak muda. Semua itu untuk memastikan usia dan kepatuhan batas waktu pemilik serta pengguna gawai. CAC yakin aturan yang diterapkan itu bakal menyelamatkan masyarakat agar tak termakan berita bodong dan provokasi para garong. Sementara itu, tujuan akhirnya adalah mencegah anak-anak, remaja, dan anak muda agar tidak kecanduan Internet. Fenomena gawat yang sudah melanda generasi dini di seluruh dunia.

 

Namun Cina tak hanya melarang, juga memberi kompensasi dan perimbangan. Antisipasi agresivitas Internet itu dihadang secara strategis dan didaktik dengan cara membelokkan masyarakat ke dunia buku cetak, yang terbukti lebih berperadaban. Caranya, pemerintah mengajak generasi baru makin masuk ke dalam dunia kitab. Maka ribuan judul buku bermutu dengan harga terjangkau dicetak dan ramai dipromosikan.

 

Kemudian, agar generasi dini ramai-ramai menatap dan menangkap buku, ribuan judul buku yang dibikin estetik itu ditawarkan lewat aneka toko buku dengan arsitektur serta interior yang sangat menarik. Salah satu toko dahsyat itu adalah Zhongshuge Dujiangyan.

 

Interior toko buku ini selintas mengimajinasikan ruang-ruang sekolah sihir Hogwarts, kastil Harry Potter. Denahnya meliuk-liuk dengan warna kecokelatan. Pilar dan tangganya melintir dan melingkar. Dindingnya bisa datar, mendadak lempeng, tiba-tiba melengkung atau mematah bagai lorong kaku labirin. Ada pula yang terkesan berputar bagai gambar surealis Escher. Berbagai meja yang terhampar kelihatan ganjil bentuknya. Oh ya, langit-langit toko ini berupa cermin sehingga pantulan rak dan buku yang ada di bawahnya tergambar menjulang riuh. Seolah buku-buku itu terpajang sampai ke langit ketujuh!

 

Namun, jangan tertipu, tidak semua buku yang ada di situ adalah buku betulan. Pada bagian-bagian “rak” yang hampir menyentuh plafon, buku yang terjajar adalah hasil fotografi, dengan sudut pengambilan dan kualitas cetak yang benar-benar menipu ilusi. Walhasil, toko ini bukan sekadar ruang penjualan dan ruang bacaan, melainkan juga karya seni. Toko buku adalah panggung pertunjukan.

 

Interior ini menarik perhatian anak-anak, remaja, anak muda, bahkan para orang tua. Mereka berdatangan. Banyak yang ingin berlama-lama untuk kemudian duduk di ruang-ruang yang memang disediakan untuk membaca. Sampai ujungnya mereka antre di konter pembayaran berundak, dengan kasir yang terposisi bak ratu di bagian puncak.

 

Meriah, tenang, seru, meditatif, hening, dan magis bercampur dalam suasana petualangan yang menakjubkan. Sayangnya, 80 persen buku yang berdesain menarik itu berbahasa Mandarin sehingga banyak wisatawan mancanegara yang mati kutu membacanya. Sayangnya juga, di antara beribu-ribu buku itu, tidak ada satu pun buku karangan saya.

 

Namun Zhongshuge Dujiangyan tidak sendirian. Cina—untuk terus memupuk minat baca generasi muda—juga membangun toko seperti ini di banyak kota dengan model berbeda. Zhongshuge Shanghai pada 2013 sebagai yang pertama. Kemudian Zhongshuge Chongqing, Zhongshuge Shenzhen, Pioneer (Avant-Garde) Songyang-Zhejiang, dan sebagainya. Termasuk Zhongshuge Beijing rancangan biro arsitektur X-Living. Satu toko ikonik yang ada dalam Galeries Lafayette Beijing dan diberi gelar “Toko Buku Terindah” oleh Departemen Publisitas Komite Kota Beijing.

 

Namun, sebagus-bagusnya berbagai Zhongshuge di banyak kota, Zhongshuge Dujiangyan masih bercokol sebagai yang terbaik. Hal ini terbukti dengan reputasi yang dicatat selama ini. Toko ini meraih medali emas dari Desain A Italia pada 2020-2021, penghargaan Architizer A+Awards 2021 untuk desain ruang retail komersial, penghargaan dari Best of Year Awards Amerika pada 2021 sebagai toko buku berdesain interior paling mencengangkan, medali perak dari International Federation Interior pada 2022, predikat “Toko Buku Tercantik” di Chengdu pada 2022, dan gelar “Sepuluh Toko Buku Paling Artistik di Dunia” oleh lembaga internasional 1000 Libraries pada 2025. ●

                                                                                

Sumber :  https://www.tempo.co/hiburan/perjalanan-menjelajahi-toko-buku-unik-di-cina-2287745

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar