|
Katanya
Whoosh Sudah Untung. Tapi, Cek Dulu Faktanya... Ghoida Rahmah
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 27 September 2026
|
· Pertumbuhan angka kunjungan wisatawan
mancanegara mendorong jumlah penumpang Whoosh. · Hampir tiga tahun beroperasi, Whoosh
sudah melayani lebih dari 17,9 juta penumpang. · KCIC mengklaim EBITDA sudah positif,
tapi beban bagi induk perusahaan belum berkurang. FATIMAH
Azzahra tak lagi pusing memilih moda angkutan setiap kali hendak berlibur ke
Bandung. Pada Jumat, 25 September 2026, wisatawan asal Malaysia itu datang ke
Stasiun Kereta Cepat Halim, Jakarta Timur, bersama suami dan putrinya. Ini
adalah perjalanan ketiganya ke Bandung dalam dua tahun terakhir menggunakan
kereta cepat Jakarta-Bandung yang diberi nama Whoosh. Biasanya,
dari Kuala Lumpur, Fatimah terbang ke Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang,
Banten. Dari sana dia naik taksi menuju Stasiun Halim untuk menumpang Whoosh
dan tiba di Stasiun Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat, 40 menit kemudian.
Untuk menuju pusat Kota Bandung, Fatimah dan para penumpang Whoosh lain hanya
perlu naik kereta pengumpan atau feeder dengan durasi perjalanan setengah
jam. “Tidak perlu khawatir kena macet di jalan tol,” katanya. Sebelum
Whoosh beroperasi, perempuan 36 tahun itu biasa menyewa mobil dari Bandara
Soekarno-Hatta menuju Bandung. Waktu perjalanannya bisa lebih dari empat jam
apabila lalu lintas padat pada akhir pekan. Dengan Whoosh, dia mengungkapkan,
momen berlibur di Bandung bisa lebih lama. Bahkan kini ada biro perjalanan
yang menawarkan paket wisata dari Kuala Lumpur ke Bandung dengan menumpang
Whoosh. “Saya tahu dari media sosial,” ujar Fatimah. Berdasarkan
data PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), wisatawan asal Malaysia menjadi
kelompok penumpang asing terbesar. Pada awal September 2026 saja, sebanyak
2.300 tiket Whoosh dibeli pelancong asal negeri jiran itu. Sepanjang
Januari-Agustus 2026, KCIC mencatat 105.095 penumpang asal Malaysia atau 40
persen dari 262.369 penumpang warga negara asing pada periode tersebut. Hampir
tiga tahun beroperasi, hingga 22 September 2026, Whoosh telah melayani 17,9
juta penumpang. Sepanjang 2025, jumlah penumpangnya 6,2 juta orang, naik 2,4
persen dibanding pada tahun sebelumnya. Sedangkan selama Januari sampai 22
September 2026, Whoosh telah melayani 4,5 juta penumpang. Pertumbuhan
jumlah penumpang diikuti penambahan frekuensi perjalanan. General Manager
Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan jumlah perjalanan Whoosh
meningkat dari 14 per hari ketika mulai beroperasi menjadi 62 per hari.
Adapun tingkat ketepatan waktu perjalanan pada semester I 2026 mencapai 99,4
persen dan jumlah penumpang harian 17-18 ribu. “Kami masih membidik jumlah
penumpang hingga 30 ribu orang per hari,” tuturnya. Untuk
mencapai target itu, KCIC mempermudah akses menuju stasiun dan mengandalkan
integrasi dengan moda transportasi lain. Menurut Eva, KCIC juga memperluas
kanal penjualan tiket dan merancang sejumlah program untuk mendorong
perjalanan berulang. Sebagai contoh, ada program Frequent Whoosher Card untuk
pelanggan rutin, layanan rombongan, program edutrip dan wisata, serta Value+
yang menggabungkan tiket kereta dengan berbagai fasilitas, seperti restoran,
pusat belanja, dan penginapan. Eva
mengatakan kerja sama dengan biro perjalanan juga menjadi salah satu cara
menjaring wisatawan asing. Sejak Oktober 2023 hingga Agustus 2026, KCIC
mencatat 944 ribu perjalanan penumpang warga negara asing. Di bawah wisatawan
Malaysia, ada warga Singapura sebanyak 113 ribu, Cina 82 ribu, Jepang 45
ribu, dan Korea Selatan 31 ribu yang menumpang kereta cepat. Meski
jumlah penumpang terus bertumbuh, KCIC masih harus menggenjot pendapatan agar
bisa menutup beban operasi hingga utang. Sebab, struktur pendapatannya masih
sangat bergantung pada penjualan tiket. Eva mengatakan sekitar 96 persen
pendapatan perusahaan berasal dari tiket, sementara pendapatan nontiket cuma
4 persen. “KCIC berusaha memperbesar porsi pendapatan dari periklanan,
penyewaan ruang retail, hak penamaan, hingga optimalisasi aset,” katanya. Saat ini
KCIC memiliki 180 titik media periklanan yang tersebar di Stasiun Halim,
Karawang, Padalarang, dan Tegalluar Summarecon. Titik iklan ini juga ada di
area penghubung Stasiun Halim dengan Lintas Raya Terpadu atau LRT Jabodebek.
Sebanyak 117 tenant atau penyewa dan fasilitas komersial juga telah mengisi
stasiun-stasiun Whoosh. Ihwal
kinerja keuangan, Eva mengatakan mulai tampak adanya perbaikan. Indikatornya
adalah penerimaan operasi sebelum pajak dan depresiasi amortisasi atau EBITDA
positif sejak 2024 dan nilainya meningkat pada 2025. “Kami juga melakukan
efisiensi melalui evaluasi kontrak dan biaya pendukung, peningkatan
produktivitas, serta optimalisasi sumber daya,” tuturnya. Gambaran
berbeda terlihat ketika kinerja Whoosh masuk ke laporan keuangan badan usaha
milik negara yang menjadi induknya, seperti PT Kereta Api Indonesia (Persero)
atau KAI. Dalam
rapat dengar pendapat dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat yang antara
lain membidangi BUMN pada Rabu, 23 September 2026, Direktur Utama KAI Bobby
Rasyidin mengatakan laba perusahaan anjlok 74,12 persen (secara tahunan)
setelah memperhitungkan kinerja KCIC. KAI adalah pemegang 58,53 persen saham
PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia atau PSBI yang menggenggam 60 persen saham
KCIC. Ekonom
senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan EBITDA positif
belum cukup untuk menyimpulkan bahwa persoalan finansial Whoosh telah
teratasi. Indikator tersebut, menurut dia, baru menunjukkan kegiatan
operasional mampu menghasilkan surplus sebelum memperhitungkan beban seperti
depresiasi dan amortisasi aset, beban bunga, utang, dan kewajiban lain. “Jadi
secara keseluruhan masih negatif,” ujarnya. Depresiasi
memang bukan pengeluaran kas yang dibayarkan setiap tahun. Namun Wijayanto
mengingatkan, aset kereta, rel, sistem persinyalan, dan infrastruktur
pendukung pada akhirnya membutuhkan peremajaan dan belanja modal
pemeliharaan. “Sehingga kemampuan mencetak EBITDA positif belum otomatis menunjukkan
perusahaan sanggup membiayai seluruh kebutuhan jangka panjangnya,” katanya. Managing
Director Lembaga Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
Toto Pranoto menambahkan, selain pendapatan penjualan tiket, ada potensi
besar yang belum dioptimalkan. Potensi itu antara lain pengembangan kawasan
transit-oriented development, pemanfaatan lahan komersial, dan kerja sama
pengelolaan properti di sekitar stasiun. “Ini bisa menjadi tumpuan sebagai
sumber pemasukan,” tuturnya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/benarkah-whoosh-sudah-mencetak-laba-2294286 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar