Rabu, 23 September 2026

 

ACT I – Prologomena Filsafat Ilmu

Elkata Agustinus Batistuta Atua  :  Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional.

KUMPARAN, 23 September 2026

 

 

 

Pertanyaan mengenai apa itu pengetahuan dan apa yang mendiferensiasikannya secara konseptual dari ilmu pengetahuan menjadi hal-hal yang bersemayam dalam pikiran saya sebelum membaca Filsafat Ilmu.

 

Karena saya yakin tentu itu bukan hanya tentang persoalan teknis pemilahan kosakata, tapi sebuah pergulatan ontologis dan epistemologis mendasar yang menentukan bagaimana manusia memposisikan dirinya di hadapan realitas.

 

Pengetahuan pada hakikatnya merupakan pencerapan empiris maupun mental yang hadir dalam kehidupan sehari-hari secara acak, subjektif, dan acap kali tidak teruji.

 

Sebaliknya, ilmu pengetahuan adalah struktur kognitif yang melampaui presensi pengalaman mentah, seban ia menuntut adanya demarkasi yang ketat, kerangka metodologis yang sistematis, bahkan mekanisme justifikasi yang sahih untuk menggapai apa yang kita sebut sebagai kebenaran ilmiah.

 

Namun, apakah kebenaran ilmiah itu? Bagaimana kita dapat mengklaim bahwa sebuah teori merepresentasikan realitas, sementara dalam trajektori historis dari peradaban manusia, teori-teori ilmiah kerap runtuh dan terkubur oleh penemuan baru?

 

Untuk melacak arsitektur filosofis ini, saya secara intensional menulis risalah ini untuk mengeksplorasi pikiran secara tertata dan mendalam lewat empat poros persoalan utama.

 

Pertama, fondasi ontologis ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu. Kedua, epistemologi, metodologi, dan dinamika kebenaran ilmiah. Ketiga, struktur historis, institusionalisasi, dan tanggung jawab sosial-politik komunitas ilmiah dan keempat, telaah kritis atas batas-batas naturalisme, teologi, mitos, hingga horizon epistemologi Timur.

 

Risalah ini merupakan kompilasi catatan yang saya rangkum ketika mengikuti Kelas Pengantar Filsafat Ilmu beberapa waktu yang lalu. Sebagai introduksi, dalam upaya mendefinisikan posisi filsafat ilmu di hadapan ilmu pengetahuan itu sendiri, kita bisa bertitik tolak dari pemikir pragmatis-naturalis W.V.O. Quine.

 

Bagi Quine, filsafat ilmu sejatinya bukanlah sebuah tribunal metafisis yang berdiri megah di luar laboratorium untuk mengadili sains, tapi menjadi kontinuitas logis dari sains itu sendiri dikala sains berefleksi dan menyadari keberadaan serta kerangka berpikirnya (science gone self-conscious).

 

Pada saat sains mulai menggugat asumsi-asumsi dasarnya, menguji batas kesahihannya, serta memikirkan struktur konseptual yang diadopsinya, pada saat itulah ia melangkah masuk ke dalam teritori filsafat ilmu.

 

Kejenutan yang stagnatis dalam mendefinisikan ilmu pengetahuan sering kali membuat para praktisi sains sendiri enggan terbelenggu dalam formula verbal yang kaku.

 

Saya teringat membaca Biografi Albert Einstein ketika ditanya mengenai apa itu metodologi ilmiah, ia memberikan jawaban yang penuh dengan ironi sublim, mata berputar, diam sejenak, dan mengaku bahwa ia hanya akan "mengarang-ngarang" (improvising)

 

Karena metodologi dalam praktik riil bukan seperangkat aturan dogmatis yang diturunkan dari langit, tapi sebuah desideratum, artinya konsensus heuristik tentang pilihan-pilihan terbaik yang diambil berdasarkan sasaran epistemis yang hendak dicapai.

 

Untuk memaknai bagaimana sains beroperasi sebagai sebuah proses kognitif spesies manusia, fisikawan Richard Feynman menawarkan sebuah fabel evolusioner yang sangat iluminatif dalam bukunya What is Science?. Feynman lalu melakukan thoughts experiment dimana melintasi rentang evolusi makhluk hidup.

 

Pada mulanya, muncul organisme yang mampu belajar dari pengalamannya sendiri maupun pengalaman makhluk lain. Akan tetapi, mekanisme akumulasi pengetahuan ini amat sangat tidak efisien; sebelum pengetahuan tersebut sempat ditransmisikan secara masif atau diwariskan ke generasi berikutnya, makhluk tersebut telah lebih dulu lenyap ditelan kematian.

 

Pada fase berikutnya, terjadi akselerasi kecepatan belajar pada kelompok spesies tertentu hingga pengetahuan yang didapat mampu diteruskan ke generasi penerus sebelum pemegangnya punah.

 

Di sinilah lahir simptom baru di muka bumi: akumulasi pengetahuan kolektif. Kendati demikian, akumulasi ini membawa kelemahan fatal, yakni terkumpulnya pula asumsi-asumsi keliru, prasangka irasional, dan kepercayaan tak berguna bahkan berbahaya yang diwariskan begitu saja sebagai dogma tak teruji.

 

Titik balik kelahiran sains modern terjadi dikala manusia bersua pada sebuah instrumen epistemis yang sangat radikal, yaitu keraguan (doubt). Hal ini juga menjadi episentrum analisis saya dalam beberapa risalah terdahulu.

 

Sains lahir persis ketika manusia berani meragukan kebenaran yang diwariskan dari masa lalu dan menyadari bahwa menguji kembali segala sesuatu melalui pengalaman serta observasi langsung yang dijalani sendiri jauh lebih berharga ketimbang hanya mempercayai otoritas leluhur secara membabi buta.

 

Dengan demikian, sains tidak menjadi sekadar kompilasi produk pengetahuan yang membeku dalam buku teks, tapi cara mengetahui yang berbasis pada kesangsian metodologis demi menggapai konklusi yang lebih teruji dan siap untuk dikonfrontasi oleh publik ilmiah secara intersubjektif.

 

Relativitas perspektif dalam mengobservasi realitas ini dapat saya ilustrasikan melalui sketsa terkenal dari ahli fisika Ernest Mach. Mach menggambarkan perspektif pengamatan dari sudut pandang subjektifnya saat berbaring, satu gambar dari mata kiri dan satu gambar dari mata kanan.

 

Ketika kita menutup salah satu mata secara bergantian, dunia yang kita lihat mengalami pergeseran sudut pandang. Sketsa sederhana ini mengandung amanat ontologis yang begitu dalam, bahwa perspektif epistemik yang dipakai oleh pengamat senantiasa menentukan struktur realitas yang ditangkapnya.

 

Berdiri di tengah dunia, manusia selalu dihadapkan pada tiga kuriositas fundamental yang pernah dirumuskan oleh Immanuel Kant:

 

1.    Apa yang dapat saya ketahui? Dimensi ini menghantarkan kita pada wilayah ontologi dan metafisika, sebuah perenungan kontemplatif terhadap struktur keberadaan, baik yang terjangkau oleh pencerapan indrawi (empiris) maupun yang berada di balik horizon fisik (metafisik).

 

2.    Bagaimana saya mengetahuinya? Fase ini menjadi ranah epistemologi, yang mendemarkasikan antara cara mengetahui spontan sehari-hari dengan cara mengetahui ilmiah yang tersistematisasi dalam filsafat ilmu.

 

3.    Apa yang harus saya lakukan? Pertanyaan ini mengarahkan kita pada teritori aksiologi, etika, dan nilai. Walaupun ilmu pengetahuan kerap kali diklaim bersifat value-free dalam tataran deskriptifnya, ia secara imperatif membawa implikasi nilai yang begitu masif begitu diterapkan dalam panggung kehidupan praktis.

 

Kekecewaan kerap menyelimuti saya karena bersua pada satu realitas bahwa sering terjadi anakhronisme sejarah manakala orang mengeklaim bahwa "ilmu pengetahuan" sudah ada sejak zaman Yunani Kuno atau Babilonia dalam bentuk yang persis sama seperti hari ini.

 

Apa yang kita kenal sebagai sains modern sejatinya merupakan buah dari Revolusi Ilmiah yang sarat akan spesifikasi historis khas, berbeda secara elementer dari konsep scientia pada Abad Pertengahan.

 

Pada kurikulum universitas-universitas Eropa abad pertengahan, scientia ditata dalam bingkai tujuh seni kebebasan (septem artes liberalis). Pendidikan ini terbagi menjadi dua tahapan utama:

 

1.    Trivium (tiga jalan keutamaan tata bahasa dan berpikir), diantaranya Gramatika (kelancaran berbahasa), Dialektika (ketajaman logika berpikir), dan Retorika (seni berargumen, membaca teks teologis, serta jurisprudensi).

 

2.    Quadrivium (empat jalan pengetahuan kuantitatif), yang terdiri dari Aritmatika (angka murni), Geometri (ruang), Musik (harmoni numerik), dan Astronomi (gerak kosmik/pengetahuan awam).

 

Tujuan akhir dari scientia dalam kurikulum liberal arts ini adalah pencapaian kebajikan moral dan kebijaksanaan. Dalam kerangka ini, nalar diskursif-analitik (ratio) hanyalah bagian kecil dari kapasitas akal budi yang jauh lebih luas (intellectus atau nus).

 

Sains modern sering kali terisolasi hanya pada tataran ratio yang analitik, sehingga kehilangan dimensi nus yang kritis, holistik, dan mampu mengambil jarak refleksif dari objek yang dikaji.

 

Dalam panggung sains modern hari ini, disiplin pengetahuan secara sistematis terbagi ke dalam dua ranah besar. Pertama, Ilmu Formal yang terkompilasikan dari Logika, matematika, statistik, dan ilmu komputer, menjadi ranah yang menguji kebenaran bentuk dan kaidah penalaran internal tanpa dependensi langsung pada bukti empiris lapangan.

 

Dan kedua, Ilmu Real (Empiris) yang terdiri atas Ilmu Kealaman (hayati dan non-hayati), Ilmu Sosial dan Keperilakuan, serta Humaniora (termasuk teologi dan filsafat). Dari ilmu-ilmu murni ini, lahir aplikasi praktis berupa ilmu terapan, rekayasa, dan teknologi.

 

Tapi mungkin anda akan bertanya, di manakah posisi filsafat ilmu? Filsafat ilmu beroperasi pada tataran pengembangan penelaahan konseptual, melakukan evaluasi metodologis, dan memvalidasi keabsahan eksperimental dan batasan-batasan teoritis yang digunakan oleh ilmu-ilmu riil tersebut.

 

Gagasan paling elementer dari filsafat ilmu lahir dari observasi bahwa manusia hidup dalam satu dunia yang dihuni oleh aneka ragam gejala, baik itu sosial, kultural, biologis, hingga kosmologis.

 

Para pemikir Vienna Circle di awal abad ke-20, seperti Moritz Schlick dan Rudolf Carnap yang mengusung positivisme logis, terdorong oleh sebuah ambisi besar, yaitu Unified Science (Ilmu Terpadu).

 

Mereka menggugat dan berdebat panjang tentang apakah ada sebuah bahasa ilmiah terpadu di mana seluruh cabang ilmu, mulai dari psikologi yang diturunkan ke biologi, biologi ke kimia, dan kimia ke fisika, dapat direduksi ke dalam bahasa fisikalistik yang tunggal.

 

Walaupun reduksionisme radikal ini menuai kritik tajam, pelacakan terhadap grand-theory yang terpadu tetap hidup, layaknya dalam fisika modern yang senantiasa berupaya mengintegrasikan elektrodinamika, mekanika kuantum, dan relativitas umum ke dalam satu Grand Unified Theory (GUT).

 

Keindahan ilmu pengetahuan yang memikat saya terletak pada kemampuannya menyatukan berbagai fenomena yang terlihat terpisah ke dalam satu bingkai konseptual.

 

Ambil contoh peristiwa gerhana matahari. Secara fisikal murni, gerhana merupakan konjungsi celestial mekanis antara matahari, bulan, dan bumi. Akan tetapi, peristiwa alam ini dalam sejarah manusia dapat ditafsirkan secara mutlak berbeda.

 

Pada Perang Lydia-Medes (atau Perang Troya), gerhana matahari total diyakini menghentikan pertempuran karena dianggap sebagai sinyal kemurkaan dewata. Ia menjadi tafsir politik.

 

Hal yang serupa terjadi pada tahun 1504, Christopher Columbus memanfaatkan prediksi gerhana bulan di Karibia untuk mengancam penduduk asli Indian bahwa "bulan akan ditelan dan berdarah" jika mereka tidak menyediakan bahan makanan bagi pasukannya, ini kan sebuah manipulasi pengetahuan astronomis menjadi alat pemeras politik (realpolitik).

 

Ia juga bisa menjadi Tafsir Kebudayaan. Misalnya pada saat terjadi gerhana matahari total tahun 2016 di Indonesia (hal ini sempat saya analisis dalam risalah sebelumhya, simptom alam itu tidak hanya diovservasi oleh teleskop ilmuwan, tetapi direspon oleh masyarakat melalui ritual adat, pembuatan perangko peringatan, serta konsensus simbolik kebudayaan.

 

Maka, sains tidak berdiri di ruang hampa; ia senantiasa berkelindan dengan struktur politik, sosial, dan budaya masyarakat yang menghidupinya.

 

Untuk menghindari pendangkalan epistemik pada zaman membanjirnya data hari ini, kita mesti mampu membedakan hierarki antara data, informasi, dan pengetahuan. Data mentah pada dirinya sendiri merupakan himpunan fakta yang belum memiliki makna logis.

 

Saya akan coba berikan ilustrasi historis, pada tahun 1927, astronom Edwin Hubble mengamati garis-garis spektrum cahaya dari galaksi-galaksi jauh seperti Andromeda dan Cepheus.

 

Data yang ia dapatkan hanyalah angka-angka pergeseran garis spektrum ke arah warna merah (redshift). Data ini tidak akan berarti apa-apa sampai Hubble menemukan relasi sistematisnya, dimana semakin jauh jarak suatu galaksi dari bumi, semakin besar pergeseran spektrum merahnya, yang mengindikasikan bahwa kecepatan gerak menjauh galaksi tersebut semakin tinggi.

 

Hubungan relasional antar-data inilah yang menghasilkan informasi. Informasi tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam bingkai konseptual fisika teoritis, diuji ulang melalui replikasi observasi, hingga melahirkan pengetahuan, yaitu teori pemuaian alam semesta (expanding universe) yang menjadi pilar utama Teori Big Bang.

 

Akan tetapi, kebenaran ilmiah bukanlah sesuatu yang kekal dan sakral. Henri Poincaré pernah menyatakan keprihatinannya melihat betapa teori-teori ilmiah yang terlihat begitu megah dan indah pada suatu era, dengan cepat gugur dan harus dikubur oleh penemuan baru.

 

Orang awam mungkin menjadi skeptis, kalau begitu apa gunanya sains bila ia hanya membangun tumpukan kuburan teori? Sebelum sempat dipastikan benar secara mutlak, sebuah teori sudah keburu mati digantikan oleh teori berikutnya.

 

Bagi Karl Popper, dinamika ini justru memperlihatkan keunggulan sains. Sains tidak mencapai "kebenaran mutlak", tapi mencapai koroborasi, yakni penguatan sementara terhadap sebuah hipotesis karena ia terus-menerus lolos dari pengujian ketat dan ditopang oleh akumulasi data empiris yang kian kaya.

 

Betapa rapuhnya kemapanan sains baru-baru ini kembali terbukti. Selama berdekade-dekade, standar fisika dipilari di atas empat gaya fundamental alam semesta, diantaranya gaya gravitasi, elektromagnetik, gaya nuklir lemah, dan gaya nuklir kuat.

 

Namun, baru saja pengumuman resmi dari Fermilab mengguncang dunia fisika dengan indikasi keberadaan The Fifth Force. Penemuan data baru ini berpotensi meruntuhkan dan merumuskan ulang seluruh standar teori fisika modern.

 

Sains senantiasa bersifat terbuka, tentatif, dan bersimpuh secara mutlak pada otoritas data empiris. Secara ontologis, realitas yang dipelajari oleh sains dapat dibedakan ke dalam tiga lapisan (sebagaimana dirumuskan dalam tradisi Critical Realism):

 

1.    Lapisan Empiris yakni peristiwa yang langsung kita alami dan amati lewat pencerapan indrawi atau instrumen sekunder/tersier (misalnya, menaiknya raksa pada termometer saat tubuh terasa hangat).

 

2.    Lapisan Aktual adalah peristiwa yang benar-benar terjadi di alam riil, kendati tidak ada manusia yang mengamatinya (misalnya, sebatang pohon tua yang tumbang di kedalaman hutan Kalimantan).

 

3.    Lapisan Real, merupakan mekanisme kausal, struktur terselubung, dan daya generative yang menyebabkan munculnya gejala di tingkat empiris dan aktual (misalnya, hukum gravitasi, gaya molekuler, atau struktur genetik).

 

Di luar tiga dimensi ini, terdapat wilayah Realitas Transenden, dimana ranah keberadaan yang melampaui ruang dan waktu. Dalam lintasan sejarah metodenya, sains modern beroperasi dengan cara bracketing atau menangguhkan keberadaan realitas transenden tersebut.

 

Sains tidak mengeklaim secara dogmatis bahwa yang transenden itu tidak ada, tapi menegaskan bahwa metode naturalistik sains tidak memiliki jangkauan epistemik untuk mengujinya.

 

Hal ini yang membuat saya selalu mempertagas demarkasi antara sains dan teologi/metafisika ini tidak terjadi secara serta-merta, tapi melalui sebuah perdebatan historis yang begitu dramatis pada abad ke-19 di Inggris.

 

Di zaman Isaac Newton, apa yang ia kerjakan masih dinamai Philosophia Naturalis (Filsafat Alam). Dalam karya agungnya, Principia (edisi ketiga) dan Opticks, Newton secara eksplisit menginfuskan refleksi teologis, ketika persamaan gravitasinya tidak mampu mengeksplanasikan bagaimana sistem tata surya tetap stabil dari bahaya kolaps kausal.

 

Newton merujuk pada omnipotensi Tuhan yang menjaga stabilitas kosmos. Ketegangan mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-19.

 

Dalam sebuah pertemuan megah The British Association for the Advancement of Science, William Whewell. seorang polimath ternama, berpidato di hadapan ratusan akademisi memaparkan kemajuan pesat "Filsafat Alam". Tiba-tiba, penyair metafisis Samuel Taylor Coleridge berdiri dan melontarkan protes yang sangat pedas.

 

"Anda semua tidak pantas menyebut diri Anda filsuf, apalagi metafisikus! Tangan Anda kotor oleh lumpur laboratorium dan benda-benda material. Anda tidak lagi merefleksikan realitas secara utuh, melainkan hanya mengulik fragmen-fragmen kecil dunia yang terpotong-potong!"

 

Ruangan seketika senyap. Whewell, yang dikenal brgitu cerdas dan cepat berpikir, tersenyum lalu merespon.

 

"Baik, jika kami tidak layak menyandang sebutan filsuf alam, maka sebagaimana dalam bidang art ada artist, maka di dalam sains kami adalah scientist."

 

Momen historis pada tahun 1823 lahirnya kata scientist ini dimanfaatkan secara agresif oleh kelompok ilmuwan muda yang dipelopori oleh Thomas Huxley.

 

Mereka menuntut universitas-universitas bereputasi seperti Oxford dan Cambridge untuk memisahkan sains secara institusional dari payung filsafat dan teologi. Lahirlah fakultas-fakultas sains yang mandiri, laboratorium khusus, gelar Sarjana Sains, serta konsensus metodologis baru yang disebut Naturalisme Metodologis dan Agnostisisme.

 

Para ilmuwan membatasi diri hanya pada analisis ruang-waktu, bukan karena membenci teologi, namun demi memisahkan wilayah kerja epistemik agar tidak terjadi kekacauan tafsir di masyarakat.

 

Di lanskap ini sangat krusial bagi kita untuk membedakan dua bentuk naturalisme. Pertama adalah Naturalisme Metodologis, yaitu sikap agnostik-operasional dalam penelitian ilmiah yang mengurung entitas supernatural tanpa perlu mengeklaim eksistensi atau nihilitas secara absolut.

 

Dan kedua, Naturalisme Ontologis/Filosofis yang bercskap tentang sikap ideologis-doktrinal yang dipeluk oleh pemikir seperti Richard Dawkins, Lawrence Krauss, dan Sam Harris.

 

Bagi Dawkins, agnostisisme tidaklah cukup, ia melakukan penyoretan radikal pada yang transenden dan mengeklaim bahwa satu-satunya realitas yang ada hanyalah realitas fisik-empiris.

 

Dawkins mencoba menerapkan metode sains untuk menghakimi persoalan penderitaan, moralitas, dan eksistensi Tuhan, sebuah posisi yang oleh filsafat ilmu dikritik sebagai bentuk reduksionisme scientistik yang melompati batas epistemiknya sendiri

 

Tapi mengapa penyelidikan filosofis terhadap ilmu pengetahuan mutlak dibutuhkan? Karena ilmu pengetahuan yang tersaji dalam jurnal-jurnal ilmiah hanyalah bangunan gedungnya yang telah berdiri megah, sementara perancah (scaffolding) yang digunakan untuk mendirikannya telah dilepaskan dan disembunyikan.

 

Perancah yang saya maksudkan adalah asumsi-asumsi metafisis yang tidak terbukti secara empiris, namun mutlak diperlukan supaya teori tersebut dapat dikonstruksikan.

 

Contoh paling nyata dalam sejarah fisika adalah Principle of Least Action yang dirumuskan oleh Maupertuis. Pertanyaan tentang peluru yang ditembakkan atau cahaya yang merambat senantiasa mengambil lintasan geometris paling efisien?

 

Diperluas Maupertuis dengan asumsi bahwa alam semesta ini rasional, hemat, dan tidak ada yang sia-sia, asumsi metafisis yang mendasari fisika Newtonian dan lalu dirumuskan ulang oleh Einstein dalam konsep geodesik ruang lengkung.

 

Namun, celakanya, bila asumsi metafisis tersembunyi ini tidak ditelaah secara kritis oleh filsafat ilmu, ia dapat bertransformasi menjadi ideologi yang sangat berbahaya. Asumsi Survival of the Fittest dari Charles Darwin misalnya, ketika dicabut dari ranah biologi dan ditransfer secara serampangan ke ranah sosiologi oleh Herbert Spencer, melahirkan Darwinisme Sosial.

 

Ideologi ini membidani lahirnya eugenika, gerakan rekayasa populasi manusia yang berujung pada kejahatan kemanusiaan.

 

Hal yang sama juga terjadi pada Ilmu Kraniologi (penukuran volume tengkorak) pada abad ke-19 dibangun di atas asumsi rasialis bahwa bentuk tengkorak ras Arya merupakan puncak evolusi (Übermensch), sementara ras berkulit gelap dianggap belum berevolusi secara utuh.

 

Bahkan bias gender membeku dalam trajektori sains, di mana kapasitas intelektual, logika, dan keterampilan menulis secara eksklusif dikonstruksikan sebagai atribuisi maskulin. Di sinilah muncul krusialnya persoalan etika dan tanggung jawab ilmiah.

 

Francis Bacon pernah mengumandangkan adagium tersohor, Knowledge is power. Tetapi, pengetahuan tidak berhenti sebagai kekuasaan, karena pada hakikatnya iabadalah penderitaan (knowledge is suffering).

 

Pemilik pengetahuan memikul beban moral yang amat berat atas implikasi dari apa yang diketahuinya. Sains dalam cita-cita idealnya bersifat demokratis, jujur, dan obyektif. Namun, dalam panggung realpolitik, produk murni laboratorium fisika atom dapat terkonversi menjadi pembantaian massal di Hiroshima dan Nagasaki.

 

Komunitas ilmiah tidak dapat mencuci tangan dengan bersembunyi di balik dalih "kesucian sains murni". Ilmuwan memiliki tanggung jawab etis individual dan kolektif terhadap dampak eksistensial dari penemuannya terhadap peradaban manusia.

 

Dalam diskursus publik, kerap terjadi kesemrawutan kategorisasi antara agama, teologi, mitos, dan ilmu pengetahuan.

 

Agama adalah sistem keimanan, peribadatan, dan komitmen eksistensial personal maupun komunal. Teologi (atau Filsafat Keilahian / Divinity) merupalan disiplin akademik yang ilmiah dan rasional. Ia memiliki ontologi (konsep keilahian dan relasinya dengan ciptaan), epistemologi (hermeneutika teks dan wahyu), serta metodologi yang ketat dalam menganalisis ajaran-ajaran iman.

 

Teologi berada di ranah humaniora, berbeda dari ajaran dogma agama itu sendiri. Mengenai Mitos, pemikiran kontemporer kerapkali memandangnya secara peyoratif sebagai bentuk prasangka irasional masyarakat primitif.

 

Namun, antropologi filsafat dan pemikir seperti Mircea Eliade menegaskan bahwa mitos memiliki logika naratif tersendiri. Mitos kosmologis menjadi cara masyarakat tradisional menghidupkan kembali peristiwa sakral masa lalu agar kehadiran mereka di masa kini menjadi bermakna dan berorientasi secara kosmologis.

 

Membaca mitos dengan logika positivisme modern merupakan sebuah falasitas hermeneutik, karena mitos harus dibaca lewat struktur kiasan dan logika simbolik masyarakat yang menghidupinya.

 

Bagaimana dengan Ilmu Hukum? Apakah hukum itu sebuah sains atau seni (art)? Karena banyak para ahli hukumpun mengemukakan ia sebagai sebuah Seni tapi tak jarang menempatkannya juga sebagai sains.

 

Diskursus epistemologi hukum mengindikasikan bahwa hukum merupakan sebuah disiplin yang unik (sui generis). Hukum memiliki ontologi yang jelas, yakni keadilan dan ketertiban sosial.

 

Ia juga memiliki epistemologi berupa hermeneutika hukum dan penafsiran positivistik serta memiliki metodologi pembentukan undang-undang dan penemuan hukum (rechtvinding).

 

Hukum bukanlah sains fisik, akan tetapi ia adalah ilmu normatif yang terstruktur secara rasional. Kendati demikian, sains dan filsafat modern mesti jujur mengakui limitasi epistemiknya.

 

Terdapat fenomena-fenomena empiris kultural, seperti fenomena kesurupan atau trans dalam pertunjukan ritual adat, yang hingga hari ini tidak mampu dieksplanasikan, dirumuskan, atau ditangkap oleh instrumen epistemologi ilmiah Barat modern.

 

Memaksa menjerat seluruh kekayaan pengalaman manusia ke dalam kisi-kisi rasionalisme sempit merupakan bentuk arogansi intelektual.

 

Untuk menutup risalah ini, pandangan yang ingin saya infuskan bertaut dengan prasangka kolonial-epistemik yang mengeklaim bahwa pemikiran Timur (termasuk kosmologi Nusantara) hanya berhenti sebagai kawruh, atau kebijaksanaan holistik yang tidak memiliki ketajaman epistemologi obyektif, tidak mengenal dikotomi subjek-objek, dan tidak memiliki kriteria ilmiah.

 

Pandangan reduktif ini harus ditolak secara tegas. Bagaimana mungkin leluhur Nusantara mampu mendirikan mahakarya arsitektural Candi Borobudur bila mereka tidak memiliki pengetahuan epistemik tingkat pertama (obyektif-faktual) terkait ketahanan material batu, presisi simetri geometris, dan teknik perekat batu?

 

Bagaimana mungkin suku Makassar-Bugis membangun Perahu Pinisi yang sanggup mengarungi samudera luas tanpa pemahaman yang sangat akurat mengenai hukum keseimbangan hidrodinamika?

 

Bagaimana masyarakat Jawa menyusun sistem Pranatamangsa, sebuah kalkulasi astronomis presisi atas peredaran benda langit untuk mendikte siklus agraris?

 

Epistemologi Timur, khususnya dalam amatan saya terhadap kosmologi Tanimbar kuno, beroperasi lewat tiga lapisan kesadaran yang sangat terintegrasi:

 

1.    Lapis Pertama (Epistemologi Subjek-Objek). Pengamatan objektif pada dunia luar secara rasional dan terukur, memisahkan pengamat dari objek demi manipulasi fisik (teknologi bangunan, pelayaran, dan pertanian).

 

2.    Lapis Kedua (Epistemologi Subjek-Subjek / Introspeksi Batin). Pengujian kritis terhadap dunia dalam baik itu memeriksa batin, emosi, kedewasaan moral, serta kehalusan rasa (rasa) sang pengamat itu sendiri.

 

3.    Lapis Ketiga (Epistemologi Kosmologis-Transendental). Kesadaran akan posisi diri di dalam tata kosmos yang mahaluas yang melibatkan Yang Maha Tunggal.

 

Kelemahan peradaban Timur tidak terletak pada ketiadaan epistemologi, tapi pada ketiadaan kodifikasi sistematis terhadap pengetahuan tingkat pertamanya ke dalam format buku teks formal sebagaimana yang dilakukan oleh Barat pasca-Renasans.

 

Sains untuk saya pada akhirnya merupakan sebuah teropong, satu dari sekian banyak teropong yang dimiliki manusia untuk membaca realitas.

 

Ia sangat perkasa dalam memetakan lapisan fisik ruang dan waktu, namun ia menjadi buta ketika dipaksa menghakimi makna eksistensial, kedalaman emosi, keindahan estetis, dan kerinduan transendental manusia.

 

Risalah ini saya jadikan sebuah prologomena bagi anda untuk memahami filsafat ilmu agar kita bisa tahu kapan kita harus menggunakan teropong sains dengan penuh ketelitian metodologis, sembari tetap menjaga kerendahan hati intelektual untuk mengakui bahwa di luar jangkauan lensa sains, membentang samudra realitas yang mahaluas dan penuh misteri.

 

Kebijaksanaan tertinggi seorang ilmuwan tidak hanya terletak pada seberapa banyak ia tahu, ia juga bertumpu pada kesadarannya yang jernih terkait batas-batas dari apa yang dapat diketahuinya.

 

Sumber :   https://kumparan.com/elkata-a-b-atua/act-i-prologomena-filsafat-ilmu-28CWcgtagEp/full   

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar