|
Investasi Perdamaian di Sekolah Febby Gracela Lusikooy : Senior master teacher (SMT) advokasi dan
pemberdayaan masyarakat Sekolah Sukma Bangsa Sigi, Sulawesi Tengah. |
MEDIA INDONESIA, 21 September 2026
|
PADA 21 September 2026, dunia kembali
memperingati Hari Perdamaian Internasional. Kali ini dengan tema Investing
in peace — for everyone, everywhere, every day. Kata 'berinvestasi'
menarik untuk direnungkan. Investasi berarti menanam sesuatu hari ini
meskipun hasilnya belum tentu terlihat dalam waktu dekat. Ada proses merawat,
menunggu, memperbaiki, dan bahkan menerima kenyataan bahwa tidak semua yang
ditanam tumbuh sesuai dengan harapan. Perdamaian pun demikian. Selama ini, perdamaian sering dibicarakan sebagai
sesuatu yang besar dan jauh, agenda global seperti SDGs tujuan ke-16 tentang
Peace, justice, and strong institutions, atau tugas Blue Helmets di wilayah
konflik. Padahal, konflik juga hadir di ruang yang jauh lebih dekat: sekolah. Sekolah ialah tempat anak-anak menghabiskan
bertahun-tahun dari hidup mereka. Di sana mereka tidak hanya belajar
matematika, sains, atau bahasa, tetapi juga berbicara dengan orang lain,
menghadapi perbedaan, menerima aturan, meminta maaf, dan hidup berdampingan.
Sekolah ialah miniatur masyarakat: ada aturan, kepemimpinan, kepentingan,
relasi kuasa, perbedaan, konflik, dan kompromi. Namun, apakah sekolah yang
tenang selalu berarti sekolah yang damai? SEKOLAH DAMAI Rasanya hampir klise mengatakan sekolah harus
menjadi tempat yang aman hanya karena sekolah ialah institusi pendidikan.
Faktanya, tidak semua persoalan di sekolah selalu terlihat sebagai bentuk
kekerasan. Siswa dapat bertengkar karena salah paham, merasa diperlakukan
tidak adil, atau memilih diam karena merasa pendapatnya tidak akan didengar.
Teguran guru dapat meninggalkan luka. Aturan yang dianggap biasa dapat terasa
menekan. Bahkan, orang dewasa di sekolah pun dapat memiliki perbedaan yang
tidak terselesaikan. Di sinilah pemikiran Johan Galtung (1969) menjadi
relevan. Perdamaian, menurut Galtung, bukan hanya ketiadaan kekerasan
langsung atau negative peace, melainkan juga positive peace, yaitu kondisi
yang memungkinkan hubungan sosial yang lebih adil dan kehidupan yang
bermartabat. Kekerasan pun tidak hanya berbentuk tindakan yang terlihat. Ia
dapat hadir secara langsung, secara struktural, dan secara kultural. Jika seorang siswa dipukul, kekerasan itu jelas
terlihat. Namun, bagaimana dengan siswa yang dipermalukan di depan kelas,
anak yang berhenti berbicara karena tidak didengar, atau aturan yang diterapkan
tanpa ruang adil? Semua itu mungkin tidak menimbulkan keributan, tetapi tetap
meninggalkan luka. Sekolah yang tenang belum tentu damai sebab konflik yang
tidak memiliki ruang untuk dibicarakan tidak akan hilang—ia dapat berubah
menjadi kekerasan. Karena itu, mungkin persoalannya bukan bagaimana
membuat sekolah bebas dari konflik. Bukankah konflik memang bagian dari
kehidupan bersama? Warga sekolah memiliki latar belakang, karakter,
kebutuhan, kepentingan, dan cara berpikir yang berbeda-beda. Konflik hampir
tidak mungkin dihilangkan. Yang lebih penting ialah bagaimana warga sekolah
belajar mengelolanya. Sekolah yang damai bukan sekolah yang menutup-nutupi
konflik, melainkan sekolah yang menyediakan ruang aman untuk mengenali,
membicarakan, dan menyelesaikannya. MENANAM BENIH PERDAMAIAN Di Sekolah Sukma Bangsa Sigi, upaya itu hadir
melalui manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS). Warga sekolah diajak
mengenali konflik, memahami kekerasan, melihat persoalan dari berbagai
perspektif, serta mengelola perbedaan secara konstruktif. Kepala sekolah
memastikan nilai perdamaian tecermin pada kebijakan dan pengambilan
keputusan. Guru dan staf menerapkan kemampuan mendengarkan, berkomunikasi
secara nirkekerasan, dan menciptakan ruang belajar aman. Siswa rutin belajar
berdialog, berempati, dan memperbaiki kesalahan. Sekolah Sukma Bangsa Sigi memastikan ruang kelas,
kantin, gerbang sekolah, ruang guru, dan lapangan olahraga menjadi tempat
perdamaian yang selalu dihidupi melalui percakapan sederhana yang dirawat,
baik antarsesama siswa, guru, dan staf, maupun antara sekolah dan orangtua,
agar setiap warga belajar merasakan rasa aman dan damai. Inilah wujud ‘for everyone, everywhere, every
day’: perdamaian yang tidak menunggu bangunan megah atau kesempatan istimewa,
tetapi hadir di ruang-ruang itu—setiap hari, untuk semua. Warga belajar di
Sekolah Sukma Bangsa Sigi selalu diingatkan bahwa perdamaian sebenarnya
tumbuh dari hal-hal yang sering dianggap kecil, tetapi rutin diterapkan. Dari
kepala sekolah yang mau mendengarkan keberatan guru. Dari cara guru dan staf
pendukung merespons salam siswa. Dari kesediaan guru untuk memberikan
kesempatan kepada siswa menjelaskan kesalahannya sebelum menjatuhkan
keputusan. Dari siswa yang tidak hanya meminta maaf, tetapi juga bersedia
memperbaiki kesalahannya. Dari kolaborasi antara sekolah dan orangtua ketika
sekolah menyelesaikan masalah bersama. Namun, dengan dinamika manusia, tidak selalu
semuanya berjalan lancar. Sekolah Sukma Bangsa Sigi juga menghadapi masalah.
Di sinilah tantangannya sebenarnya. Praktik everyday peace diuji
ketika masalah datang saat mereka sedang lelah dan tugas menumpuk, atau
ketika ada yang mengulangi kesalahan yang sama. Warga belajar di Sekolah
Sukma Bangsa Sigi memahami bahwa pemahaman tentang manajemen konflik tidak
secara otomatis membuat mereka selalu mampu mengelola konflik. Pada situasi
seperti itulah pengetahuan berhenti menjadi teori dan mulai diuji sebagai
kebiasaan. Proses menghidupi nilai-nilai perdamaian menjadi jauh lebih
menantang, tetapi juga lebih bermakna. Itulah everyday peace. REFLEKSI Investasi perdamaian bukan hanya berupa anggaran,
gedung, atau fasilitas pendidikan. Lebih penting lagi, investasi itu ada pada
manusia, hubungan, dan budaya yang dibangun setiap hari. Justru sekolah yang
membangun perdamaian ialah sekolah yang berani melihat masalah,
membicarakannya, memperbaiki cara meresponsnya, lalu mencobanya lagi. Tidak ada investasi yang tumbuh hanya karena
ditanam sekali, tetapi perlu dipelihara dan ditumbuhkan. Setiap percakapan,
keputusan, dan cara menyelesaikan konflik tanpa kekerasan di sekolah ialah
benih—bukan benih yang tumbuh dalam semalam, melainkan benih yang akan
berakar dalam karakter dan suatu hari menaungi kehidupan bersama. Jika
dirawat terus-menerus, benih itu dapat tumbuh menjadi kebiasaan, karakter,
dan budaya hidup bersama yang menghasilkan masyarakat yang human dan
berkeadilan. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/935567/investasi-perdamaian-di-sekolah
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar