|
Guru(h) Bunyi Indonesia Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 27 September 2026
|
Guruh bukan
cuma menciptakan lagu. Ia mengajar Indonesia mendengar, bergerak, berpikir,
dan mencintai dirinya sendiri. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Guruh Soekarnoputra telah berpulang. Sabtu dinihari, 26 September 2026, sang
maestro mengembalikan ruhnya kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan. Kabar duka
itu segera menyebar. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan belasungkawa. Para seniman, murid, sahabat, dan
banyak orang yang pernah tumbuh bersama karya-karyanya ikut kehilangan.
Tetapi kehilangan Guruh bukan sekadar kehilangan seorang pencipta lagu.
Indonesia kehilangan seorang guru. Namanya memang Guruh. Tetapi kalau
kita nakalkan sedikit penulisannya, ia bisa menjadi "Guru(h)".
Huruf "h" kita masukkan ke dalam kurung. Guruh tetap Guruh. Guru
tetap guru. Dua makna bertemu dalam satu nama. Dan memang begitulah perjalanan
hidupnya. Guruh tak sekadar membuat lagu untuk
dinyanyikan. Ia membuat lagu untuk mengajar. Ia mengajar penyanyi tepat
berdendang. Ia mengajar penari menerjemahkan bunyi menjadi gerak. Ia mengajar
seniman memandang tradisi tanpa merasa rendah diri. Ia mengajar anak muda bahwa kebudayaan
tidak harus tampil seperti benda museum. Bahkan ia mengajar bangsa Indonesia
untuk mencintai dirinya sendiri. Itulah sebabnya karya Guruh tidak cukup kita
dengarkan. Kita perlu membacanya. Kita belajar lirik-liriknya menarik.
Banyak yang pendek. Tak jarang ia membuat lirik satu kalimat hanya terdiri
dari dua kata. Tak banyak kalimat beranak-pinak pada lirik lagunya. Ia tidak
seperti penyair yang ingin memenangkan lomba jumlah kata. Guruh justru sering
meninggalkan ruang kosong. “Zamrud Khatulistiwa” (1979). Dua
kata. Tetapi Indonesia langsung terbentang. “Lenggang Puspita.” Dua kata lagi.
Kali ini Indonesia bergerak. “Melati Suci.” Bukan kuliah tentang
kesucian. Cukup dua kata. Imajinasi segera bekerja. Di sinilah kekuatan lirik Guruh. Ia
tidak selalu memberi penjelasan. Ia memberi tanda. Setelah itu pendengar
bekerja sendiri. Kata-kata pendek menjadi seperti pintu
kecil. Kita membukanya, lalu menemukan ruangan yang lebih besar di
belakangnya. Guruh tampaknya memahami satu rahasia
pendidikan: guru yang baik tidak memenuhi kepala murid dengan seluruh isi
buku. Ia memberi beberapa kata, lalu memberi jeda. Murid diberi waktu
berpikir. Pendengar pun kemudian memahami. Jeda itu penting. Dalam musik, jeda
memberi napas. Dalam tari, jeda memberi ruang bagi gerak. Dalam bahasa, jeda
memberi kesempatan bagi kata untuk menetap. Dalam pendidikan, jeda memberi
kesempatan bagi pikiran untuk tumbuh. Maka pendeknya lirik Guruh tidak
otomatis berarti sederhananya gagasan. Justru sebaliknya. Ia membuat kata
sedikit supaya makna bisa bergerak lebih jauh. Ini berbeda dari kebiasaan kita
sekarang. Kita sering menulis panjang-panjang karena takut pembaca tidak
mengerti. Akhirnya pembaca memang tidak mengerti, tetapi sudah telanjur lelah. Guruh mengambil jalan lain. Ia percaya
pada daya sebuah kata. Ia juga percaya pada daya musik. Keduanya ia padu
begitu indah. -000- Ketika kembali dari Amsterdam,
Belanda, pada pertengahan 1970-an, Guruh pulang bukan membawa ijazah untuk
dipajang di ruang tamu. Ia pulang membawa kegelisahan artistik. Bersama
Keenan Nasution, Roni Harahap, Oding Nasution, Abadi Soesman, dan para musisi
lain, ia melahirkan proyek yang kemudian dikenal sebagai "Guruh
Gipsy". Di sana terjadi pertemuan yang pada
waktu itu terdengar seperti perkawinan lintas planet: progressive rock
bertemu gamelan Bali. Musik Barat tidak ia biarkan menjadi
penjajah. Tradisi juga tidak ia jadikan fosil. Keduanya ia suruh duduk
bersama. Hasilnya bukan sekadar campuran. Ia mencari bunyi baru yang tetap
mempunyai sidik jari Indonesia. Inilah salah satu kelebihan Guruh. Ia
tidak bertanya, “Haruskah saya memilih tradisi atau modernitas?” Pertanyaan
itu terlalu miskin untuk seorang seniman sebesar dia. Ia justru bertanya,
“Bagaimana tradisi masuk ke modernitas tanpa kehilangan martabatnya?” Pertanyaan itu melahirkan karya. Dan
karya itu kemudian melahirkan perguruan. Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan
Swara Mahardhika. Dari sana, musik, tari, busana, koreografi, dan panggung
bertemu. Banyak talenta kemudian tumbuh dari lingkungan tersebut: Titi DJ,
Memes, Denny Malik, dan banyak lagi. Guruh tidak hanya menciptakan produk
seni. Ia membangun ekosistem. Ini yang sering luput ketika orang membuat
daftar warisan seorang seniman. Kita sibuk menghitung lagu, album,
penghargaan, dan piala. Padahal warisan terbesar seorang guru sering tidak
tercetak dalam katalog. Warisan itu bernama murid. Mereka
menyimpan cara guru mereka bekerja. Murid membawa disiplin gurunya. Murid
meneruskan keberanian gurunya. Bahkan ketika nama sang guru mulai memudar
dari poster, metode kerjanya masih berjalan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Kris Dayanti, mewakili keluarga,
memberi kesaksian yang menarik setelah pemakaman Guruh. Ia mengenangnya
sebagai sosok yang sangat detail dan teliti. Ia juga mengingat perhatian
Guruh kepada para seniman dan muridnya. Bahkan di hari-hari terakhir, pesan
Guruh padanya tetap berkisar pada seni, budaya, dan cinta tanah air. Kesaksian itu terasa penting. Sebab
Guruh ternyata tidak berhenti mengajar ketika tubuhnya mulai lemah. Ia masih
mengajar sampai ujung. Lagu menjadi salah satu ruang kelasnya. Panggung
menjadi ruang kelas yang lain. Tari menjadi papan tulisnya. Dan Indonesia
menjadi mata pelajarannya. Guruh mengajar penari bahwa lagu
mempunyai tubuh. Musik bukan hanya suara. Musik bisa menjelma langkah,
lenggang, putaran tangan, kain, warna, cahaya, dan ruang. Ia mengajar penyanyi bahwa lagu bukan
sekadar nada. Ada karakter yang harus ditemukan. Ada kata yang harus
dihormati. Ada rasa yang harus disampaikan. Ia mengajar penonton bahwa budaya
tradisional tidak harus tampil lusuh agar disebut tradisional. Ini penting.
Sebab pada masa tertentu, kebudayaan tradisional sering mendapat perlakuan
seperti paman jauh yang hanya dipanggil ketika ada acara resmi. Setelah
upacara selesai, ia kembali disimpan di lemari. Guruh membongkar lemari itu. Ia
membawa tradisi ke panggung besar. Ia memberi musik tradisional pertemuan
dengan teknologi. Ia memberi tari ruang pertunjukan modern. Ia menggabungkan
busana, musik, koreografi, dan drama menjadi satu pengalaman. Budaya tidak lagi sekadar dipelihara.
Budaya dibuatnya hidup. Di situlah Guruh menjadi guru bagi bangsa. Ia tidak menyuruh anak muda mencintai
Indonesia melalui ceramah. Ia membuat Indonesia tampak menarik. Ini sungguh
cara mengajar yang cerdas. Anak muda biasanya tidak alergi
terhadap budaya. Mereka alergi terhadap cara orang tua menyajikan budaya.
Kalau budaya disajikan sebagai kewajiban, mereka menguap. Kalau budaya hadir
sebagai pengalaman yang indah, mereka mendekat. Guruh memahami itu. Karena itu ia bisa
bergerak dari progressive rock ke pop, dari gamelan ke elektronik, dari
panggung besar ke musik film, dari karya tari ke campursari. Ia dapat bekerja
dengan banyak warna tanpa kehilangan warna dirinya sendiri. -000- Dari situlah muncul paradoks yang
menarik. Guruh adalah anak Soekarno. Secara sosial, ia memiliki jalan yang
sangat mudah menuju politik praktis. Nama keluarganya sudah membuka banyak
pintu. Ia tidak perlu mengetuk terlalu keras. Namun ia memilih seni dalam waktu yang
panjang. Ia memilih panggung sebelum kursi kekuasaan. Ia memilih studio
sebelum ruang sidang. Ia memilih mendidik manusia sebelum mengurus suara
pemilih. Belakangan Guruh memang masuk politik.
Kita perlu membaca langkah itu dengan hati-hati. Jangan buru-buru
menyimpulkan bahwa seniman akhirnya menyerah kepada godaan kekuasaan. Alasan
personal dan pemikiran Guruh sendiri tentang politik perlu kita lihat dari
jejak pernyataannya. Yang jelas, pilihan itu memperlihatkan
satu hal. Bagi Guruh, kebudayaan dan politik tidak pernah benar-benar
berjauhan. Bung Karno, ayahnya, sejak lama menempatkan kebudayaan sebagai
bagian penting dari proyek kebangsaan. Guruh tumbuh dalam atmosfer itu. Ia
kemudian menempuh jalannya sendiri. Ia tidak membawa kebudayaan ke politik
sebagai hiasan. Setidaknya dari jejak panjang karyanya, kita melihat bahwa
kebudayaan memang menjadi pusat perhatiannya jauh sebelum ia mengenal gedung
parlemen. Itulah sebabnya kita mungkin keliru
jika mengenang Guruh hanya sebagai “anak Bung Karno yang menjadi seniman”.
Justru sebaliknya. Ia anak Bung Karno yang memilih menjadi Guruh. Guruh yang
guru. Ia menerima warisan sejarah, tetapi
tidak berhenti sebagai pewaris. Ia mengolahnya menjadi karya. Dan karya itu
memiliki satu ciri yang sangat kuat: "Indonesia selalu hadir tanpa harus
berteriak bahwa ia Indonesia." Dengarkan “Indonesia Maharddhika”.
Lihat “Zamrud Khatulistiwa”. Renungkan “Melati Suci”. Nikmati “Lenggang
Puspita”. Ingat “Kembalikan Baliku”. Telusuri “Kala Sang Surya Tenggelam”,
“Gita Cinta dari SMA”, “Cinta Indonesia”, dan karya-karya lainnya. Ada Indonesia di sana. Tetapi bukan
Indonesia yang dipasang sebagai spanduk. Indonesia hadir sebagai pengalaman. Itulah kecerdikan Guruh. Ia tidak
selalu menyebut nasionalisme secara keras. Ia membuat orang merasa memiliki
negeri ini melalui keindahan. Mungkin di situlah letak kekuatan
lirik pendeknya. Ia tidak menutup pintu dengan kesimpulan. Ia membukanya
dengan imaji. Ia tidak selalu mengatakan apa yang
harus kita pikirkan. Ia memberi kita sesuatu untuk dipikirkan. Ia tidak
memenuhi seluruh ruang. Ia menyisakan jeda. Dan dalam jeda itu, Indonesia
masuk. Karena itu Guruh dapat disebut unik di
antara para seniman Indonesia. Ia bisa bergerak dari rock progresif Bali ke
campursari. Dari panggung megah ke jalanan. Dari orkestra hingga bunyi
sintetis. Dari tradisi hingga modernitas. Ia boleh berganti pakaian musikal.
Tetapi ia tidak kehilangan suara. Guruh tetap terdengar sebagai Guruh.
Barangkali karena ia tidak pernah sekadar mencari genre. Ia mencari
Indonesia. Genre bisa berubah. Teknologi bisa
berubah. Selera pasar bisa berubah. Penyanyi berganti. Penari berganti.
Generasi berganti. Tetapi pencarian itu tetap. Maka setelah Guruh pergi, pekerjaan
gurunya belum selesai. Murid-muridnya masih ada. Karya-karyanya masih ada.
Lirik-lirik pendeknya masih menunggu dibaca ulang. Musiknya masih menunggu
didengar dengan telinga generasi baru. Dan bangsa ini masih mempunyai
pekerjaan rumah yang dulu diam-diam ia ajarkan: bagaimana mencintai Indonesia
tanpa menjadi norak, bagaimana menjadi modern tanpa menjadi tercerabut, dan
bagaimana merawat tradisi tanpa menjadikannya fosil. Guruh telah memberi contoh. Ia tidak
mengajar Indonesia dengan buku teks. Ia mengajar dengan bunyi. Mungkin karena
itu namanya memang tepat. Guru(h). Guruh telah pergi. Innalillah wa
inna ilayhi raji'un. Tetapi perguruannya belum selesai. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar