|
Apa Metode Paling Efektif
Memadamkan Kebakaran Hutan Friski Riana : Jurnalis Tempo |
TEMPO HARIAN, 27 September 2026
|
· Pemadaman kebakaran hutan mengandalkan
pasukan darat karena helikopter water bombing tak maksimal memadamkan api. · Suharyanto membantah dugaan bahwa
efisiensi anggaran berdampak pada penanganan bencana. · Ia menilai Presiden Prabowo Subianto
menaruh perhatian serius pada penanganan bencana. DI
tengah berbagai bahala yang melanda Indonesia, tak mudah menemui Kepala Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto. Tentara berpangkat letnan
jenderal itu lebih sering berada di wilayah bencana. Selama September 2026,
misalnya, ia bolak-balik dari Jakarta ke Kalimantan dan Sumatera untuk
memantau penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Semula
Suharyanto berada di Kalimantan Barat pada Rabu, 16 September 2026. Rencana
Tempo mewawancarai dia di sana berubah karena tiba-tiba ia pergi ke
Palembang, Sumatera Selatan, akibat kebakaran hutan dan lahan yang membesar.
Ia sempat ke Jakarta untuk menghadiri rapat bersama Menteri Koordinator
Politik dan Keamanan Djamari Chaniago, lalu kembali ke Palembang pada hari
yang sama. Ditemui
di Pos Koordinasi Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di
Kota Palembang, Jumat pagi, 18 September 2026, ia bercerita bahwa semula luas
kebakaran di Sumatera Selatan hanya sekitar 20 hektare. Namun, pada
pertengahan bulan, luasnya mencapai 639 hektare. “Tadinya Sumatera Selatan
tenang-tenang saja,” katanya. Kepada
jurnalis Tempo, Friski Riana, dan fotografer Tony Hartawan, alumnus Akademi
Militer di Magelang, Jawa Tengah, pada 1989 itu mengungkapkan bahwa upaya
pemadaman kini berkejaran dengan munculnya titik kebakaran baru dan lama yang
kembali hidup. Ia juga mengklaim penanggulangan kebakaran tahun ini lebih
baik dibanding sebelumnya. Pada
saat bersamaan, Suharyanto juga masih menangani bencana lain, seperti banjir
bandang Sumatera yang terjadi pada akhir 2025 dan gempa bumi di Nusa Tenggara
Timur pada 15 Agustus 2026. Ia pun mengurus persoalan erupsi sejumlah gunung
api. Suharyanto juga menjelaskan keterbatasan anggaran bencana yang dihadapi
BNPB. Seberapa
parah kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan? Hari ini
(Jumat, 18 September 2026) dan beberapa hari lalu, kebakaran hutan dan lahan
Sumatera Selatan paling luas di seluruh Indonesia. Kemarin (Kamis, 17
September 2026) ada 639 hektare yang terbakar. Kami bisa memadamkan 200-an
hektare lewat operasi darat dan 26 hektare dengan operasi udara melalui water
bombing. Per 18 September 2026, yang masih terbakar 440 hektare di seluruh
Sumatera Selatan. Sebelumnya
area kebakaran di Kalimantan Barat menjadi yang paling luas. Ini
bergantian. Kalau sekarang Sumatera Selatan yang paling luas, besok bisa saja
Kalimantan. Bagaimana
menanganinya? Kami
cenderung mengandalkan satuan tugas darat. Untuk memadamkan lewat udara,
hasilnya minim karena sumber airnya jauh. Helikopter water bombing tidak bisa
maksimal memadamkan satu titik api di lahan gambut. Tanpa
pemadaman lewat udara, pasukan darat bisa sangat kelelahan.... Kondisi
pasukan darat harus kami maintain. Sekarang dibikin tiga sif karena banyak
kebakaran terjadi pada malam. Sebelumnya dua sif. Kalau nanti pasukan di
Sumatera Selatan kurang, bisa minta dari luar provinsi. Di Sumatera Selatan
baru saja terbentuk delapan batalion teritorial pembangunan yang diorganisasi
panglima komando daerah militer untuk membentuk tiga sif. Operasi
modifikasi cuaca masih berjalan? Efektif memadamkan api? Operasi
modifikasi cuaca yang mendatangkan hujan sebetulnya sangat efektif. Hanya,
akhir-akhir ini di Sumatera Selatan operasi sulit dihadirkan secara masif
karena pertumbuhan awan hujan minim. Makanya pasukan darat ini betul-betul
bekerja ekstra memadamkan. Dalam
hitungan Anda, berapa lama pemadaman berlangsung? Kami
masih harus bertempur paling tidak satu setengah bulan karena prediksi BMKG
(Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) untuk musim hujan alami di
Sumatera Selatan baru normal atau lebat lagi pada awal November 2026. Bagaimana
dengan daerah lain yang lahannya juga terbakar? Sama.
Tim satuan tugas darat di mana-mana berusaha maksimal supaya titik kebakaran
baru dan kebakaran lama yang hidup lagi tak sebesar hasil pemadaman hari itu.
Luas lahan yang terbakar memang fluktuatif. Data hariannya tidak sampai 1.500
hektare setelah kami lakukan pendampingan. Tapi bukan berarti kondisinya
biasa-biasa saja. Apinya padam, tapi asapnya masih keluar terus seperti di
lahan gambut. Asapnya
sampai ke negara tetangga.... Kondisi
per hari ini memang belum tertangani secara keseluruhan. Masih banyak asap di
Kalimantan Barat, juga ada beberapa penerbangan yang tutup. Prosesnya masih
berjalan. Tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menghilangkan asap seketika.
Harus kita cegah agar jangan sampai meluas. Kebakaran
hutan diperparah El Niño. Seberapa besar sumbangannya? Banyak
faktor. Kalau dibanding pada 2019-2023, El Niño lebih kuat sekarang. El Niño
tahun ini persis pada 2015. Sekarang penanganannya jauh lebih baik. Bukan
berarti pemerintah membela diri. Tetap saja semua kejadiannya harus kami
tangani dengan maksimal. Apa
perbedaan penanganan kebakaran tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya? Saya
menjadi Kepala BNPB sejak 2021. Pada 2023 juga terjadi El Niño. Pengerahan
sumber daya tahun ini luar biasa dan lebih masif. Sekarang ada 64 pesawat
yang dikerahkan menangani kebakaran. Dulu paling 40 pesawat. Kementerian
Pertahanan mengerahkan bantuan ratusan mobil tangki untuk satu provinsi.
Kalau hanya mengandalkan BPBD (badan penanggulangan bencana daerah) dan
pemerintah daerah, ya penanganannya terbatas. Keterbatasan
ini akibat efisiensi anggaran? Dari
segi peralatan, BPBD bergantung pada BNPB saat terjadi kondisi tanggap
darurat. Efisiensi di BNPB terkait dengan anggaran rutin. Di BNPB ada
contingency anggaran, dana siap pakai. Sifatnya fleksibel. Kalau ada bencana
seperti ini, anggarannya tidak dibatasi. Misalnya untuk menyewa pesawat, kami
minta ke Kementerian Keuangan. Pengajuan permohonannya melalui proses audit.
Nanti BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) melihat. Selama ini
tidak ada masalah karena proses penganggaran didasarkan pada kerja di
lapangan. Pendanaan
hanya bergantung pada negara? Untuk
penanggulangan bencana, pendanaan tidak hanya berasal dari alokasi dana
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Skema pendanaan juga berasal dari
berbagai sumber, misalnya bantuan hibah. Kami juga membuka ruang kerja sama
dan bantuan internasional ketika dibutuhkan. Dalam kondisi darurat,
masyarakat juga dapat berkontribusi melalui donasi apa pun. Ada
rencana penambahan anggaran? Setiap
saat. Dalam satu tahun, dana siap pakai bisa bertambah beberapa kali,
tergantung situasi. Selama lima tahun saya menjabat, mulai Januari sampai
Desember, pengajuan permohonan tidak pernah kurang dari dua kali. Bagaimana
Anda menyiasati kekurangan anggaran? Penanggulangan
bencana merupakan tanggung jawab bersama. BNPB terus memperkuat koordinasi
dan mobilisasi sumber daya dari kementerian/lembaga serta pemerintah daerah.
Kami juga membuka ruang kerja sama dan bantuan internasional ketika
dibutuhkan. Selain itu, Indonesia memiliki pooling fund bencana sebagai salah
satu instrumen pendanaan bersama untuk memperkuat pembiayaan penanggulangan
bencana secara lebih berkelanjutan. Menurut
Anda, berapa anggaran kebencanaan yang ideal untuk wilayah rawan bencana
seperti Indonesia? Kebutuhannya
sangat dinamis dan berbeda menurut jenis ancaman, wilayah, tingkat risiko,
dan kapasitas daerah. Kami tak bisa mengatakan angka tertentu akan membuat
Indonesia aman dari bencana. Yang penting adalah memastikan pendanaan
tersedia sepanjang siklus penanggulangan bencana, dari mitigasi dan
kesiapsiagaan sampai tanggap darurat dan pemulihan. Presiden
Prabowo Subianto menaruh perhatian terhadap bencana? Presiden
sangat peduli. Untuk kebakaran hutan dan lahan saja, paling tidak sudah
empat-lima kali beliau memimpin langsung. Sebelum terjadi kebakaran, kami
mengadakan rapat terbatas. Beliau juga datang sendiri mengecek kondisi
kebakaran di lapangan. Khusus kebakaran hutan dan lahan serta bencana di Nusa
Tenggara Barat, ada video conference dua kali. Bagaimana
mitigasi bencana selama ini berjalan? Mitigasi
kerja semua unsur. Kalau mau membela diri, BNPB bertanggung jawab dalam
penanggulangan, bukan penanganan. Walau menangani penanggulangan, BNPB juga
harus ikut dalam pencegahannya. Kalau hanya salah satu institusi, siapa yang
bisa mencegah terjadinya bencana di sekian luas wilayah? Terkadang juga ada
yang menyampaikan, “BNPB kan punya pengalaman, kenapa enggak bisa mencegah
bencana itu terjadi?” Enggak bisa. Bencana itu dari Yang Maha Kuasa. Tapi
kebakaran hutan dan lahan kan bisa diperkirakan.... Ketika
musim kemarau tiba, kami lihat eskalasinya. Tidak mungkin sama sekali hilang.
Lihat saja, ada perubahan atau tidak dari tahun ke tahun. Luas lahan yang
terbakar meningkat, tetap, atau turun. Program
mitigasi tak efektif? Efektivitas
mitigasi tidak bisa hanya diukur dari program BNPB, tapi juga dari seberapa
baik semua pihak menjalankan tanggung jawab untuk mengurangi risiko sebelum
bencana terjadi. Program mitigasi bencana selama ini terus diperkuat dan
hasilnya perlu dilihat sebagai upaya bersama. BNPB
kelabakan menghadapi berbagai bencana dalam waktu berdekatan? Saya
kira semuanya ditangani. Kekurangan dan kelemahan pasti ada. Tapi paling
tidak semuanya berjalan dalam penanganan. Ada tiga trouble spot. Bencana di
Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat belum selesai, tiba-tiba terjadi
gempa bumi dengan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur. Kemudian kebakaran
hutan dan lahan. Seperti
apa perkembangan penanganan banjir dan tanah longsor di Sumatera? Di
Sumatera, sekarang dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Masuk ke tahap
rumah-rumah di hunian sementara, lalu pindah ke hunian tetap. Ada 29 ribu
rumah di sana dibagi dua. Sebanyak 15 ribu komunal, relokasinya jadi satu,
akan dibangun Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman. Sisanya 14 ribu, itu
satu-satu, sesuai dengan permintaan masyarakat yang terkena dampak, dalam
proses pembangunan. Sekarang sudah seribu rumah. Target tahun ini jadi 5.000 rumah
relokasi mandiri. Penanganan
gempa bumi Nusa Tenggara Timur masih berjalan? Terus
berjalan. Kondisi tanggap darurat ada di sebagian dari tujuh kabupaten.
Manggarai Barat, Ngada, Sika, dan Ende masuk tahap rehabilitasi dan
rekonstruksi. Tinggal Manggarai Timur, Manggarai, dan Nagekeo. Pengungsi juga
dari 170-an ribu sekarang mungkin tak sampai 50 ribu. Yang rumahnya rusak
ringan dan sudah kembali. Pendataan rumah rusak sudah 91 persen. Pekan ini
kami selesaikan. Sejumlah
gunung api aktif dengan level siaga. Seperti apa kesiapan BNPB? Untuk
yang berstatus level III atau siaga, penanganan didasarkan pada perkembangan
aktivitas dan rekomendasi PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi). Saat ini Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
mencatat empat gunung api berada pada level III, yaitu Anak Krakatau,
Sinabung, Semeru, dan Merapi. Kami mewaspadai bahaya sekunder pascaerupsi,
seperti ancaman banjir lahar yang membesar ketika musim hujan tiba. Apa saja
potensi bencana yang akan dihadapi dalam waktu dekat? Indonesia
perlu mewaspadai bencana hidrometeorologi kering, terutama kebakaran hutan
dan lahan, serta kekeringan di wilayah yang masih mengalami kondisi kering.
Pada saat yang sama, memasuki masa peralihan menuju musim hujan, potensi
banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem juga perlu diantisipasi. Sedangkan
erupsi gunung api dan gempa bumi dapat terjadi sewaktu-waktu. Menurut
Anda, bencana apa yang sering diremehkan masyarakat atau pemerintah daerah? Bencana
yang terjadi secara perlahan atau dampaknya tidak langsung terlihat, seperti
kekeringan dan krisis ketersediaan air. Dibanding bencana yang berlangsung
tiba-tiba, seperti gempa atau banjir besar, bencana seperti ini sering kali
baru mendapat perhatian ketika dampaknya sudah dirasakan masyarakat. ● Sumber : https://www.tempo.co/wawancara/kepala-bnpb-kebakaran-hutan-sumatera-kalimantan-2294307 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar