|
Perang Selamatan Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 30 Oktober 2026
Apakah
kedatangan Menlu Singapura ke Jakarta Rabu lalu bisa meredakan ketegangan
hubungan kedua negara?
Tergantung.
Yang pasti,
yang bisa meredakan dengan cepat adalah hujan. Tanda-tanda musim hujan sudah
terlihat. Beberapa daerah di Indonesia sudah mulai turun hujan.
Di Singapura
sendiri juga sudah ada hujan. Siapa tahu Kalimantan akan lebih banyak dapat
hujan --agar tidak ada lagi asap yang sampai tenggorokan warga Singapura.
Tapi isunya
sudah telanjur tidak hanya soal asap. Ketegangan itu sudah merembet ke pasokan
gas: Indonesia memangkas pasok gas ke Singapura --sebanyak 30 juta kaki kubik.
Dari Singapura berkembang isu balasan: akses internet ke Indonesia akan
dihambat.
Pemotongan
pasok gas tidak akan membuat warga Singapura terpengaruh. Apalagi sampai
marah-marah ke pemerintah mereka. Pasok gas dari Indonesia hanya setara 200 MW
listrik. Tidak sampai dua persen kebutuhan negara itu.
Tapi kalau
Singapura benar-benar akan memangkas akses internet itu akan membuat rakyat
Indonesia marah ke kedua arah: ke pemerintah Indonesia sendiri dan ke
Singapura.
Indonesia tidak
takut akses internet dihalangi. Di bidang internet orang Indonesia pun bisa
marah: kabel bawah laut dari Australia ke Singapura lewatnya laut Indonesia:
diputus saja.
Akhirnya
seperti anak kecil yang sedang bertengkar. "Bapakmu nanti tidak diundang
selamatan di rumahku," kata teman kecil saya dulu saat bertengkar soal
kecurangan dalam bermain kelereng.
Selamatan
adalah memperingati meninggalnya leluhur. Biasanya ada potong ayam. Hanya di
saat selamatanlah orang desa zaman itu punya kesempatan makan daging ayam.
Orang tua yang
diundang selamatan akan pulang dengan membawa sisa makanan --sebagian orang tua
sengaja tidak banyak makan di tempat agar bisa membawa pulang makanan lebih
banyak untuk anak istri. Yang di rumah pun menunggu-nunggu kepulangan ayah dari
selamatan.
Perang isu
Indonesia-Singapura langsung reda kalau hujan turun merata di Kalimantan dan
Sumatera Selatan. Atau jangan-jangan justru dijaga agar ketegangan itu tidak
reda --daripada mereka memusuhi pemerintahnya sendiri.
Asap, gas,
internet hanyalah yang muncul di permukaan. Asap akan reda dengan sendirinya.
Gas Indonesia tidak berarti bagi Singapura. Internet saling sandera. Hubungan
internet kita ke Amerika, Eropa, dan Australia memang harus lewat Singapura.
Kabel fiber optic kita tidak ada yang langsung ke negara lain selain lewat
Singapura.
Sejak dulu
begitu.
Saya pernah
mencoba membuat terobosan: patungan dengan orang Hong Kong untuk bikin
perusahaan kabel bawah laut dari Surabaya langsung ke Hong Kong. Tanpa lewat
Singapura.
Tugas saya
mengurus izin landing fiber optic di pantai dekat Surabaya. Juga membuat
jaringan fiber optic dari lokasi itu ke Surabaya --dan kelak ke seluruh
Indonesia.
Tugas partner
saya di Hong Kong mengurus izin landing kabel di Hong Kong. Juga
menyambungkannya ke jaringan di Hong Kong --yang akan otomatis sampai ke
Amerika.
Saya sudah
melaksanakan apa yang menjadi kewajiban saya. Izin landing sudah saya dapat.
Jaringan fiber optic sudah saya bangun. Pun di kota Surabaya. Sampai sekarang
masih ada. Masih berfungsi. Tapi partner saya di Hong Kong mengalami kesulitan
keuangan.
Saya sendiri
lantas sakit parah: kena kanker hati. Urusan dengan partner di Hong Kong macet.
Setelah sembuh saya sibuk jadi sesuatu. Proyek itu telantar.
Saya sudah
membayangkan saat itu: kita tidak boleh terlalu tergantung pada satu negara
lain. Saya tidak menyangka ancaman seperti itu akhirnya benar-benar datang
kelak di bulan Oktober 2026.
Singapura
sendiri juga belajar dari ketegangan asap dan gas itu: tidak mau lagi
tergantung pada gas Indonesia --bahkan juga gas dari Timur Tengah. Kalau
terjadi perang di Timteng --seperti yang baru saja terjadi di Iran-- Singapura
ikut terancam.
Maka perdana
menteri Lawrence Wong menegaskan: Singapura perlu membangun pembanglkit listrik
tenaga nuklir sendiri. Saya belum bisa membayangkan di mana lokasinya. Mungkin
di Jurong.
Dulu Singapura
bereaksi negatif ketika mendengar selentingan bahwa Indonesia akan membangun
pembangkit listrik nuklir di Bangka. Itu dianggap membahayakan Singapura. Maka
begitu mendengar Singapura justru akan membangun nuklir di wilayahnya sendiri
pejabat Indonesia bereaksi: akan bangun nuklir lebih dekat lagi ke Singapura.
Jangan-jangan
ada perusuh Disway yang bertaruh: siapa yang akan lebih cepat selesai;
nuklirnya Singapura atau Indonesia.
Kalau ada
perusuh yang pegang Singapura bukan berarti meremehkan kemampuan Indonesia.
Membangun pembangkit nuklir tidak hanya ditentukan oleh siapa yang lebih cepat
memulai. Yang lebih menentukan adalah lembaga nuklir internasional. Harus ada
izin dari mereka.
Izin itu sangat
ketat: akan dilihat juga kesiapan pengamanannya. Termasuk kesiapan prosedur dan
disiplinnya. Juga track record negara itu.
Kasus monyet
masuk gardu induk di Batam akan jadi faktor penyulit. Kasus pencurian isotop
dari uranium di Batan --dua tahun lalu-- telah dicatat sebagai keanehan kok
bisa terjadi. Saat itu ditemukan radiasi di berbagai lokasi di perumahan
karyawan yang mencuri isotop.
Saya tetap pada
harapan semula: musim hujan segera tiba. Musim demo juga berakhir --karena
aspirasi mahasiswa didengarkan baik-baik.
Harapan adalah
masa depan --meski mungkin masa depan yang agak jauh. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/976423/perang-selamatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar