|
Pakta Pertahanan Mekah untuk Apa? Dian Wirengjurit : Mantan Duta Besar RI untuk Iran dan
analis geopolitik dan hubungan internasional. |
TEMPO MINGGUAN, 25 Oktober 2026
|
· Pakta Pertahanan Mekah dibentuk pada 7
Agustus 2026 dengan anggota Arab Saudi, Pakistan, dan Turki. · Perjanjian trilateral ini mengadopsi
prinsip keamanan kolektif ala NATO. · Hubungan ketiga negara itu dengan Iran
menjadi krusial bagi keberlanjutan Pakta Pertahanan Mekah. BELUM
lagi jelas kapan perang Iran-Amerika Serikat dan Houthi-Arab Saudi usai,
geopolitik Timur Tengah dihebohkan oleh terbentuknya pakta pertahanan Arab
Saudi-Turki-Pakistan. Padahal, dalam perang itu, ketiga negara tersebut
berada dalam pihak yang berbeda. Saudi menjadi pihak yang paling jauh
terlibat karena bersama Amerika, Israel, dan negara Teluk mengeroyok Iran dan
memerangi Houthi di Yaman. Traktat
pertahanan kolektif ini ditandatangani Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin
Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, dan Perdana Menteri Pakistan
Shehbaz Sharif pada 7 Agustus 2026 di Mekah. Pakta ini didasarkan pada
strategic mutual defence agreement (SMDA) bilateral yang ditandatangani Arab
Saudi dan Pakistan di Riyadh pada 17 September 2025. Ketiga
pemimpin itu mengakui Pakta Pertahanan Mekah mengadopsi Pakta Pertahanan
Atlantik Utara (NATO), wabilkhusus Pasal 5 yang menyatakan bahwa serangan
bersenjata terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap
semua negara anggota. Pakta
Pertahanan Gotong-Royong Pakta
Pertahanan Mekah didasarkan pada tiga pilar strategis. Yang pertama adalah
keamanan kolektif. Yang kedua adalah penangkalan yang diperluas, ketika untuk
pertama kalinya sebuah kekuatan regional non-Arab yang memiliki kemampuan
nuklir (Pakistan) menyediakan payung penangkalan yang terpisah dari payung
keamanan Amerika Serikat. Yang ketiga adalah integrasi militer yang memperkuat
pertukaran intelijen, produksi industri pertahanan, dan koordinasi
operasional militer. Pakta
ini bersifat defensif dan terbuka serta tidak diarahkan untuk menyerang atau
melakukan agresi kepada negara tertentu. Sekretariat aliansi ini berbasis di
Riyadh dengan Letnan Jenderal (Purnawirawan) Nauman Mahmood dari Pakistan
sebagai sekretaris jenderal pertamanya. Dengan
total penduduk sekitar 370 juta jiwa, 3,1 juta personel militer, serta 3.300
pesawat tempur dan 5.500 tank, setiap anggota aliansi memberikan kontribusi
yang khusus dan tidak tumpang-tindih. Arab Saudi—peringkat ke-25 militer
dunia—sebagai anggota The Trillion Dollar Club menjadi andalan di sektor
ekonomi dengan produk domestik bruto sekitar US$ 83,20 miliar. Saudi
menargetkan mengalokasikan separuh belanja militernya untuk peralatan sesuai
dengan visi bersama serta membantu mendanai penelitian, manufaktur, dan
logistik bersama. Turki—peringkat
kesembilan militer dunia—memiliki industri senjata yang canggih dan kekuatan
konvensional yang masif yang mampu memproduksi jet tempur Kaan, tank Altay
dan Kaplan, kapal cepat, rudal, serta drone. Sebagai satu-satunya anggota
NATO dalam aliansi ini, Turki berharap mendapatkan akses pasar dan investasi
yang masif dari Arab Saudi dan memperkuat industri militer Turki di pasar
global. Sementara
itu, Pakistan—peringkat ke-14 militer dunia—memiliki populasi terbesar dengan
1,71 juta personel tentara dan keunggulan jumlah alat utama sistem
persenjataan dengan 1.397 pesawat tempur dan 2.677 tank serta merupakan
satu-satunya negara pemilik senjata nuklir. Pakistan sangat berhati-hati
mengenai isu senjata nuklir ini, meskipun Menteri Pertahanan Mohammad Asif
pernah menyatakan bahwa program nuklir Pakistan “will be made available” bagi
Arab Saudi apabila diperlukan di bawah SMDA (The Diplomat, 14 Agustus 2026). Realitas
di lapangan menunjukkan pakta ini menjadi instrumen pencegahan terhadap
ancaman dari Israel—yang “diapit” Saudi dan Turki—serta Iran. Bagi Israel,
aliansi ini mengirim pesan kuat untuk tidak memperluas konfrontasi militernya
ke negara-negara muslim lain, apalagi mewujudkan mimpi Israel Raya dari
Sungai Yordan hingga Laut Tengah. Kehadiran Pakistan dengan senjata nuklirnya
serta Turki yang memiliki militer terkuat kedua di NATO memberikan efek
penggentar yang besar agar Israel tidak bertindak gegabah di Timur Tengah. Strategi
Baru Amerika Serikat? Terhadap
Iran, yang berbatasan darat atau laut secara langsung dengan ketiga negara
itu, terbentuknya pakta ini dapat dilihat sebagai jawaban atas ketegangan
regional yang melibatkan Teheran dan proksinya. Pemicu utama diaktifkannya
pakta ini pada 5 Oktober 2026 adalah serangan milisi Houthi (yang didukung
Iran) dari Yaman ke Arab Saudi. Turki
dan Pakistan memang mengirimkan pasukan ke Arab Saudi, tapi batasannya ketat:
bersifat defensif untuk melindungi wilayah teritorial sekutu mereka dan bukan
untuk bertempur di Yaman. Secara diplomatik, Presiden Iran Masoud Pezeshkian
memperingatkan Pakistan agar tidak mengintervensi urusan Yaman. Pakistan,
yang berbatasan langsung dengan Iran sepanjang 900 kilometer, tentunya tidak
ingin merusak posisinya sebagai mediator diplomatik antara Iran dan Amerika
Serikat. Dalam
konteks ini, kesepakatan itu tidak boleh dipandang sekadar sebagai kerja sama
tiga negara, tapi juga sebagai bagian dari strategi Amerika untuk membentuk
koalisi regional guna melawan Iran. Selama konfrontasi antara Iran dan
Amerika terus berlanjut, dan negara-negara Arab merasa makin terancam oleh
Iran beserta sekutunya, aliansi keamanan regional menghadirkan tantangan
besar bagi Teheran. Dari
sudut pandang Washington, Pakta Mekah dinilai melengkapi kepentingan Amerika.
Sebab, traktat ini melibatkan para sekutu regional, yaitu Turki dan Pakistan,
untuk memikul tanggung jawab pertahanan mereka sendiri sehingga mengurangi
beban militer langsung Amerika di Timur Tengah. Perkembangan
ini menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan makin keras mengupayakan
fleksibilitas strategis dengan memperkuat kapabilitas militer mereka sendiri
sembari tetap menjaga hubungan dengan negara besar. Diversifikasi pertahanan
telah menjadi bagian penting dari kebijakan keamanan negara-negara Teluk.
Mereka merespons ketidakpastian dengan mengembangkan berbagai hubungan
keamanan sehingga Arab Saudi menggagas pengaturan pertahanan trilateral yang
baru. Di pihak
lain, kesepakatan tersebut dipandang sebagai pergeseran yang lebih luas dalam
arsitektur keamanan kawasan, yaitu sebuah transisi dari ketergantungan pada
Amerika menuju jaringan aliansi yang lebih beragam dan fleksibel. Stabilitas
kawasan yang langgeng dapat dicapai melalui kesepakatan komprehensif yang
mengarah pada normalisasi hubungan antara Iran dan Amerika, serta pembentukan
tatanan baru yang membuat keamanan Iran terintegrasi dengan negara-negara
tetangganya. Iran
Bisa Bergabung Iran
tetap menjadi elemen sentral dalam setiap analisis mengenai keamanan di Timur
Tengah, khususnya kawasan Teluk. Hingga sekarang, teks lengkap traktat ini
masih bersifat rahasia. Namun, secara pragmatis dan berdasarkan hukum
internasional, Iran bisa saja bergabung dengan Pakta Mekah. Sebab, traktat
ini bersifat terbuka dan dirancang sebagai pertahanan defensif negara-negara
kawasan untuk meninggalkan ketergantungan pada payung keamanan Amerika
Serikat. Menteri
Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan aliansi tersebut tidak boleh
menjadi “klub eksklusif”, sementara Menteri Luar Negeri Ishaq Dar
menegaskannya sebagai aliansi yang “bersifat murni untuk pertahanan” (The
Media Line, 2026). Adapun Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan
(Al Jazeera, 8 Agustus 2026), “Tidak ada ancaman bersama yang telah kami
tuangkan secara tertulis dan bahwa negara-negara yang tidak menyerang
pihak-pihak penanda tangan tidak akan dianggap sebagai sasaran.” Di
tengah gempuran Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Iran, hubungan
diplomatik Arab Saudi dengan Iran tetap dipertahankan. Menteri Luar Negeri
Iran Abbas Araghchi menyambut baik kesepakatan tersebut dengan menyerukan
persatuan yang lebih erat serta kemandirian di antara negara-negara berpenduduk
mayoritas muslim, bebas dari pengaruh Amerika. Pemulihan
hubungan antara Arab Saudi dan Iran pada Maret 2023 telah membuka jalan bagi
keterlibatan diplomatik yang lebih luas, meskipun Washington telah
memanfaatkan pangkalan militernya untuk menyerang Iran. Meski demikian,
persaingan terus ada karena Arab Saudi dan Iran terus berupaya meningkatkan
pengaruh di kawasan Teluk. Karena
itulah Pakta Pertahanan Mekah dapat menciptakan bentuk baru penyeimbangan
kekuatan regional. Hal ini memang dapat meningkatkan kekhawatiran keamanan
bagi Iran. Namun pakta ini tidak serta-merta menjadi aliansi militer
anti-Iran. Perbedaan ini penting untuk dicatat karena pakta tersebut tidak
secara formal menetapkan Iran sebagai musuh (IISTJ, September 2026). Timur
Tengah memang dibentuk oleh persaingan, intervensi asing, dan pergeseran
aliansi. Amerika tetap menjadi penjamin keamanan eksternal utama di kawasan
strategis ini. Namun negara-negara di sana makin getol berupaya menjalin
kemitraan yang lebih luas dengan Cina, Rusia, dan negara-negara besar lain.
Perubahan ini menciptakan lingkungan keamanan yang lebih kompleks, yang
cenderung didasarkan pada kemitraan yang tumpang-tindih alih-alih satu sistem
aliansi yang dominan. Dalam kerangka ini, mungkin perang Houthi-Arab Saudi
dapat menjadi batu ujian bagi arah perjalanan Pakta Pertahanan Mekah. ● Sumber : https://www.tempo.co/internasional/pakta-pertahanan-mekah-arab-pakistan-turki-nato-2301627 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar