Jumat, 30 Oktober 2026

 

Pakta Pertahanan Mekah untuk Apa?

Dian Wirengjurit :  Mantan Duta Besar RI untuk Iran dan analis geopolitik dan hubungan internasional.

TEMPO MINGGUAN,  25 Oktober 2026

 

 

 

·      Pakta Pertahanan Mekah dibentuk pada 7 Agustus 2026 dengan anggota Arab Saudi, Pakistan, dan Turki.

 

·      Perjanjian trilateral ini mengadopsi prinsip keamanan kolektif ala NATO.

 

·      Hubungan ketiga negara itu dengan Iran menjadi krusial bagi keberlanjutan Pakta Pertahanan Mekah.

 

BELUM lagi jelas kapan perang Iran-Amerika Serikat dan Houthi-Arab Saudi usai, geopolitik Timur Tengah dihebohkan oleh terbentuknya pakta pertahanan Arab Saudi-Turki-Pakistan. Padahal, dalam perang itu, ketiga negara tersebut berada dalam pihak yang berbeda. Saudi menjadi pihak yang paling jauh terlibat karena bersama Amerika, Israel, dan negara Teluk mengeroyok Iran dan memerangi Houthi di Yaman.

 

Traktat pertahanan kolektif ini ditandatangani Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada 7 Agustus 2026 di Mekah. Pakta ini didasarkan pada strategic mutual defence agreement (SMDA) bilateral yang ditandatangani Arab Saudi dan Pakistan di Riyadh pada 17 September 2025.

 

Ketiga pemimpin itu mengakui Pakta Pertahanan Mekah mengadopsi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), wabilkhusus Pasal 5 yang menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap semua negara anggota.

 

Pakta Pertahanan Gotong-Royong

 

Pakta Pertahanan Mekah didasarkan pada tiga pilar strategis. Yang pertama adalah keamanan kolektif. Yang kedua adalah penangkalan yang diperluas, ketika untuk pertama kalinya sebuah kekuatan regional non-Arab yang memiliki kemampuan nuklir (Pakistan) menyediakan payung penangkalan yang terpisah dari payung keamanan Amerika Serikat. Yang ketiga adalah integrasi militer yang memperkuat pertukaran intelijen, produksi industri pertahanan, dan koordinasi operasional militer.

 

Pakta ini bersifat defensif dan terbuka serta tidak diarahkan untuk menyerang atau melakukan agresi kepada negara tertentu. Sekretariat aliansi ini berbasis di Riyadh dengan Letnan Jenderal (Purnawirawan) Nauman Mahmood dari Pakistan sebagai sekretaris jenderal pertamanya.

 

Dengan total penduduk sekitar 370 juta jiwa, 3,1 juta personel militer, serta 3.300 pesawat tempur dan 5.500 tank, setiap anggota aliansi memberikan kontribusi yang khusus dan tidak tumpang-tindih. Arab Saudi—peringkat ke-25 militer dunia—sebagai anggota The Trillion Dollar Club menjadi andalan di sektor ekonomi dengan produk domestik bruto sekitar US$ 83,20 miliar. Saudi menargetkan mengalokasikan separuh belanja militernya untuk peralatan sesuai dengan visi bersama serta membantu mendanai penelitian, manufaktur, dan logistik bersama.

 

Turki—peringkat kesembilan militer dunia—memiliki industri senjata yang canggih dan kekuatan konvensional yang masif yang mampu memproduksi jet tempur Kaan, tank Altay dan Kaplan, kapal cepat, rudal, serta drone. Sebagai satu-satunya anggota NATO dalam aliansi ini, Turki berharap mendapatkan akses pasar dan investasi yang masif dari Arab Saudi dan memperkuat industri militer Turki di pasar global.

 

Sementara itu, Pakistan—peringkat ke-14 militer dunia—memiliki populasi terbesar dengan 1,71 juta personel tentara dan keunggulan jumlah alat utama sistem persenjataan dengan 1.397 pesawat tempur dan 2.677 tank serta merupakan satu-satunya negara pemilik senjata nuklir. Pakistan sangat berhati-hati mengenai isu senjata nuklir ini, meskipun Menteri Pertahanan Mohammad Asif pernah menyatakan bahwa program nuklir Pakistan “will be made available” bagi Arab Saudi apabila diperlukan di bawah SMDA (The Diplomat, 14 Agustus 2026).

 

Realitas di lapangan menunjukkan pakta ini menjadi instrumen pencegahan terhadap ancaman dari Israel—yang “diapit” Saudi dan Turki—serta Iran. Bagi Israel, aliansi ini mengirim pesan kuat untuk tidak memperluas konfrontasi militernya ke negara-negara muslim lain, apalagi mewujudkan mimpi Israel Raya dari Sungai Yordan hingga Laut Tengah. Kehadiran Pakistan dengan senjata nuklirnya serta Turki yang memiliki militer terkuat kedua di NATO memberikan efek penggentar yang besar agar Israel tidak bertindak gegabah di Timur Tengah.

 

Strategi Baru Amerika Serikat?

 

Terhadap Iran, yang berbatasan darat atau laut secara langsung dengan ketiga negara itu, terbentuknya pakta ini dapat dilihat sebagai jawaban atas ketegangan regional yang melibatkan Teheran dan proksinya. Pemicu utama diaktifkannya pakta ini pada 5 Oktober 2026 adalah serangan milisi Houthi (yang didukung Iran) dari Yaman ke Arab Saudi.

 

Turki dan Pakistan memang mengirimkan pasukan ke Arab Saudi, tapi batasannya ketat: bersifat defensif untuk melindungi wilayah teritorial sekutu mereka dan bukan untuk bertempur di Yaman. Secara diplomatik, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan Pakistan agar tidak mengintervensi urusan Yaman. Pakistan, yang berbatasan langsung dengan Iran sepanjang 900 kilometer, tentunya tidak ingin merusak posisinya sebagai mediator diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat.

 

Dalam konteks ini, kesepakatan itu tidak boleh dipandang sekadar sebagai kerja sama tiga negara, tapi juga sebagai bagian dari strategi Amerika untuk membentuk koalisi regional guna melawan Iran. Selama konfrontasi antara Iran dan Amerika terus berlanjut, dan negara-negara Arab merasa makin terancam oleh Iran beserta sekutunya, aliansi keamanan regional menghadirkan tantangan besar bagi Teheran.

 

Dari sudut pandang Washington, Pakta Mekah dinilai melengkapi kepentingan Amerika. Sebab, traktat ini melibatkan para sekutu regional, yaitu Turki dan Pakistan, untuk memikul tanggung jawab pertahanan mereka sendiri sehingga mengurangi beban militer langsung Amerika di Timur Tengah.

 

Perkembangan ini menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan makin keras mengupayakan fleksibilitas strategis dengan memperkuat kapabilitas militer mereka sendiri sembari tetap menjaga hubungan dengan negara besar. Diversifikasi pertahanan telah menjadi bagian penting dari kebijakan keamanan negara-negara Teluk. Mereka merespons ketidakpastian dengan mengembangkan berbagai hubungan keamanan sehingga Arab Saudi menggagas pengaturan pertahanan trilateral yang baru.

 

Di pihak lain, kesepakatan tersebut dipandang sebagai pergeseran yang lebih luas dalam arsitektur keamanan kawasan, yaitu sebuah transisi dari ketergantungan pada Amerika menuju jaringan aliansi yang lebih beragam dan fleksibel. Stabilitas kawasan yang langgeng dapat dicapai melalui kesepakatan komprehensif yang mengarah pada normalisasi hubungan antara Iran dan Amerika, serta pembentukan tatanan baru yang membuat keamanan Iran terintegrasi dengan negara-negara tetangganya.

 

Iran Bisa Bergabung

 

Iran tetap menjadi elemen sentral dalam setiap analisis mengenai keamanan di Timur Tengah, khususnya kawasan Teluk. Hingga sekarang, teks lengkap traktat ini masih bersifat rahasia. Namun, secara pragmatis dan berdasarkan hukum internasional, Iran bisa saja bergabung dengan Pakta Mekah. Sebab, traktat ini bersifat terbuka dan dirancang sebagai pertahanan defensif negara-negara kawasan untuk meninggalkan ketergantungan pada payung keamanan Amerika Serikat.

 

Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan aliansi tersebut tidak boleh menjadi “klub eksklusif”, sementara Menteri Luar Negeri Ishaq Dar menegaskannya sebagai aliansi yang “bersifat murni untuk pertahanan” (The Media Line, 2026). Adapun Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan (Al Jazeera, 8 Agustus 2026), “Tidak ada ancaman bersama yang telah kami tuangkan secara tertulis dan bahwa negara-negara yang tidak menyerang pihak-pihak penanda tangan tidak akan dianggap sebagai sasaran.”

 

Di tengah gempuran Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Iran, hubungan diplomatik Arab Saudi dengan Iran tetap dipertahankan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyambut baik kesepakatan tersebut dengan menyerukan persatuan yang lebih erat serta kemandirian di antara negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, bebas dari pengaruh Amerika.

 

Pemulihan hubungan antara Arab Saudi dan Iran pada Maret 2023 telah membuka jalan bagi keterlibatan diplomatik yang lebih luas, meskipun Washington telah memanfaatkan pangkalan militernya untuk menyerang Iran. Meski demikian, persaingan terus ada karena Arab Saudi dan Iran terus berupaya meningkatkan pengaruh di kawasan Teluk.

 

Karena itulah Pakta Pertahanan Mekah dapat menciptakan bentuk baru penyeimbangan kekuatan regional. Hal ini memang dapat meningkatkan kekhawatiran keamanan bagi Iran. Namun pakta ini tidak serta-merta menjadi aliansi militer anti-Iran. Perbedaan ini penting untuk dicatat karena pakta tersebut tidak secara formal menetapkan Iran sebagai musuh (IISTJ, September 2026).

 

Timur Tengah memang dibentuk oleh persaingan, intervensi asing, dan pergeseran aliansi. Amerika tetap menjadi penjamin keamanan eksternal utama di kawasan strategis ini. Namun negara-negara di sana makin getol berupaya menjalin kemitraan yang lebih luas dengan Cina, Rusia, dan negara-negara besar lain. Perubahan ini menciptakan lingkungan keamanan yang lebih kompleks, yang cenderung didasarkan pada kemitraan yang tumpang-tindih alih-alih satu sistem aliansi yang dominan. Dalam kerangka ini, mungkin perang Houthi-Arab Saudi dapat menjadi batu ujian bagi arah perjalanan Pakta Pertahanan Mekah. ●

                                                                                

Sumber : https://www.tempo.co/internasional/pakta-pertahanan-mekah-arab-pakistan-turki-nato-2301627

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar