|
Cara
Kerja Alat Penyerap Emisi Karbon buatan BRIN Fachri Hamzah
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 25 Oktober 2026
|
· Peneliti Pusat Riset Limnologi dan
Sumber Daya Air BRIN membudidayakan mikroalga di Laboratorium Fotobioreaktor,
Cibinong, Bogor. · Kultur mikroalga dari Laboratorium
Fotobioreaktor menjadi modal BRIN untuk membangun perangkat penangkapan,
pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS). · Pemanfaatan mikroalga masih minim
kendati potensi biodiversitasnya sangat besar di Indonesia. Riset pemanfaatan
tumbuhan renik ini juga dilakukan tim peneliti UGM. SEPINTAS,
tak ada yang istimewa di Laboratorium Fotobioreaktor milik Pusat Riset
Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Seperti gambaran aktivitas makmal pada umumnya, ruangan berukuran 90 meter
persegi di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Kabupaten Bogor,
Jawa Barat, tersebut senyap. Pada Kamis siang, 15 Oktober 2026, itu hanya ada
dua peneliti yang sibuk dengan mikroskop dan komputer di hadapan mereka. Namun
lakon utama di fasilitas riset itu tersimpan di lima botol duran yang
berjejer di sudut kanan ruangan. Botol-botol berkapasitas 5 liter tersebut
berisi cairan hijau kebiruan karena kaya mikroalga atau sianobakteri
Spirulina platensis. Instalasi lampu di atas botol itu tak pernah berhenti
menyala karena sinarnya dibutuhkan mikroalga untuk berfotosintesis. “Kami
harus memantau secara berkala metabolit primer dan sekunder mikroalga itu,”
kata peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Awalina Satya. Awalina
baru dikukuhkan sebagai Profesor Riset BRIN pada akhir Juli 2026. Lima tahun
terakhir, ia memimpin 11 peneliti lintas bidang keahlian untuk mengembangkan
penangkapan karbon berbasis mikroalga di instalasi fotobioreaktor. Riset ini
berupaya mengoptimalkan besarnya kemampuan tumbuhan renik atau mikroskopik
tersebut untuk menyerap karbon dioksida (CO₂) dan menghasilkan oksigen. Selama
riset itu pula para peneliti mencari formula untuk menghasilkan kultur
mikroalga dengan kemampuan terbaik. Mereka harus melakukan studi kinetika
sistem untuk menganalisis laju pertumbuhan, waktu penggandaan, fiksasi
karbon, dan biomassa mikroalga dalam reaktor. Setiap dua-tiga minggu,
peneliti memindahkan kultur tersebut ke rumah kaca di belakang gedung. Di
sana pengamatan beralih ke perkembangbiakan mikroalga dalam kolam baskom
persegi berbagai ukuran. Mikroalga
dari Laboratorium Fotobioreaktor itulah yang menjadi jantung Olimpus Apollo
1.0, perangkat teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon
(CCUS) yang diluncurkan BRIN pada Kamis, 8 Oktober 2026. BRIN mengembangkan
alat ini sejak tahun lalu bekerja sama dengan PT Alam Semesta Integra. Dalam
kerja sama itu, BRIN bertanggung jawab pada aspek validasi ilmiah, pengujian
kinerja penangkapan karbon, penyempurnaan desain teknis, dan jaminan mutu.
“Sementara itu, PT Alam Semesta Integra berfokus pada tahap rekayasa
manufaktur, fabrikasi skala industri, dan komersialisasi produk,” ujar Kepala
BRIN Arif Satria kepada Tempo pada Kamis, 22 Oktober 2026. ••• OLIMPUS
Apollo 1.0 dibangun berbekal prototipe fotobioreaktor FCB2022 yang
dikembangkan di Laboratorium Fotobioreaktor. Hasil riset pengembangan
prototipe tersebut diterbitkan di Journal of Environmental Chemical
Engineering pada Juni 2024 dalam laporan bertajuk “Cultivation of Spirulina
platensis for carbon dioxide bio sequestration in hybrid photobioreactor with
real-time monitoring system”. Menurut
Awalina Satya, hasil pengujian biosekuestrasi menunjukkan prototipe
fotobioreaktor FCB2022 mampu menangkap dan menyimpan CO₂ hingga 89,8 persen serta mengeliminasi
karbon sebesar 65 persen. Kemampuan itu merupakan buah kombinasi pemilihan
strain unggul Spirulina platensis serta pemantauan formula nutrisi, cahaya,
keasaman cairan, dan suhu secara real-time. “Konsep ini kemudian dikembangkan
bersama mitra industri menjadi Olimpus,” kata Awalina. Olimpus
Apollo 1.0 kini berdiri di depan pintu bagian belakang Gedung Widya Graha
BRIN di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Berbeda dengan fotobioreaktor
di Cibinong, Bogor, yang terdiri atas botol duran, Olimpus Apollo 1.0 lebih
mirip halte dengan sebuah akuarium besar yang airnya tak pernah diganti
karena berwarna hijau. Awalina menyebut akuarium itu sebagai kultivator.
Warna hijau di dalamnya berasal dari Spirulina platensis. “Alat ini menyerap
emisi karbon dan mengeluarkan oksigen, bahkan juga PM2.5,” tutur Awalina. Tempo
berupaya meminta penjelasan manajemen PT Alam Semesta Integra ihwal rekayasa
manufaktur Olimpus Apollo 1.0 serta rencana fabrikasi dan komersialisasinya.
Namun mereka belum bersedia memberikan keterangan lebih lanjut. Sebelumnya,
ketika ditemui seusai peluncuran Olimpus Apollo 1.0, Direktur Utama PT Alam
Semesta Integra Eddy Setyawan menjelaskan bahwa perangkat itu dilengkapi alat
penarik udara yang terpasang di bagian bawah. Uni aerasi itu terhubung dengan
sistem yang mengalirkan udara ke fotobioreaktor. “Jadi cara penangkapan
Olimpus ini ada dua sistem. Satu di dalam air, satu lagi di permukaan air,”
kata Eddy. Di dalam
fotobioreaktor itu mikroalga—atau biasa juga disebut
fitoplankton—berfotosintesis dengan sinar matahari. Alga menyerap karbon
dioksida lalu melepaskan oksigen ke udara, yang dialirkan keluar melalui
saluran di sisi kiri perangkat. Olimpus
Apollo 1.0 memakai 14 sensor untuk memantau seluruh proses tersebut, mencatat
datanya setiap lima detik—termasuk menyimpannya. Sensor gas mengukur CO₂ dan oksigen. Sedangkan sensor air
mengukur sejumlah parameter, termasuk tingkat keasaman atau kebasaan dan
oksigen terlarut. Ada pula sensor untuk mendeteksi partikel PM2.5. Karena
dipasang di luar ruangan, Olimpus Apollo 1.0 yang ditempatkan di kantor BRIN
di Jalan Gatot Subroto menggunakan panel surya untuk memasok listrik yang
dibutuhkan buat menggerakkan seluruh sistem. Menurut Eddy, versi
fotobioreaktor dalam ruangan tidak memerlukan panel surya. “Kami juga
menyiapkan perangkat listrik dari jaringan Perusahaan Listrik Negara,”
ujarnya. Merujuk
pada laporan TÜV SÜD, perusahaan penguji asal Jerman, satu unit Olimpus
Apollo 1.0 menyerap 5,56 ton CO₂ ekuivalen per tahun. Ketika Tempo menengok perangkat itu pada
Selasa, 13 Oktober 2026, layar monitor yang terpasang di sisi kanan Olimpus
Apollo 1.0 mencatat sebanyak 86,43 kilogram CO₂ telah terserap dalam lima hari sejak
peluncuran. Pada periode yang sama, alat ini juga tercatat menghasilkan
oksigen sebanyak 29.141 kilogram dan menangkap PM2.5 sebesar 12,34 mikrogram
per kubik. Awalina
Satya menuturkan, Olimpus Apollo 1.0 juga menghasilkan biomassa mikroalga
yang kelak dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai produk turunan,
seperti pupuk hayati dan bahan baku bioenergi. “Jadi alat ini multimanfaat,”
tuturnya. Karena itu, menurut Awalina, kerja-kerja riset di Laboratorium
Fotobioreaktor Cibinong belum rampung kendati lembaganya telah meluncurkan
perangkat penangkap karbon. ••• ILMU
pengetahuan belum mengenal sepertiga dari perkiraan total 100 ribu spesies
mikroalga dunia. Pemanfaatan tumbuhan kecil tak berbunga yang hidup di air
ini pun terbatas, kurang dari 20 jenis yang telah dieksploitasi. Indonesia,
yang didominasi perairan dan disinari matahari tropis sepanjang tahun,
merupakan salah satu surga bagi sumber daya alam hayati yang tersembunyi
tersebut. Bagi
Awalina Satya, potensi mikroalga semestinya bisa dimanfaatkan secara optimal.
Dia mengingatkan, kemampuan mikroalga menangkap karbon dioksida jauh lebih
efisien. Tumbuhan darat umumnya menyerap 4-9 ton CO₂ per hektare per tahun. Sedangkan
mikroalga 50-100 ton CO₂ per hektare per tahun. Produktivitas biomassa mikroalga juga
lebih besar: 100 ton per hektare per tahun atau tiga-sepuluh kali lipat
tumbuhan darat. Menurut
dia, potensi itu bisa menjawab tuntutan penurunan emisi karbon—biang krisis
iklim. “Inilah yang menjadi pangkal tolak kami, tim pengembang
fotobioreaktor, untuk lebih tertarik mengembangkan teknologi fotobioreaktor
mikroalga,” kata Awalina. Awalina
serta peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional lain tidak sendiri. Tim
peneliti Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Microalgae Biorefinery
pada Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, juga
memanfaatkan mikroalga Spirulina sp. untuk alat penyerap karbon yang mereka
namakan Algaetree. Perangkat fotobioreaktor tertutup yang diluncurkan pada
2023 itu berukuran lebih kecil. Direktur
Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Microalgae Biorefinery UGM
Arief Budiman menuturkan, skala Algaetree dibuat lebih kecil karena menyasar
karbon dioksida di ruang tertutup. “Satu set berkapasitas sekitar 100 liter
dan bisa digandakan sesuai dengan kebutuhan,” ujar Arief, yang juga Guru
Besar Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM. Saat
ini, kata Arief, timnya juga mengembangkan Algaepond. Perangkat
fotobioreaktor ini berkapasitas 150 ribu liter untuk skala industri. Arief
menuturkan, mikroalga bisa tumbuh alami. Meski bukan tumbuhan parasit,
mikroalga berisiko tumbuh tak terkendali. Hal itu ia temukan di sejumlah
embung di Yogyakarta. Di sana mikroalga tumbuh alami karena kecukupan
nutrisi, tapi malah memicu ledakan populasi (blooming) yang menurunkan
kualitas air. ● Sumber :
https://www.tempo.co/sains/penangkap-emisi-karbon-berbasis-mikroalga-2301808 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar