Jumat, 30 Oktober 2026

 

Cara Kerja Alat Penyerap Emisi Karbon buatan BRIN

Fachri Hamzah :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 25 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN membudidayakan mikroalga di Laboratorium Fotobioreaktor, Cibinong, Bogor.

 

·      Kultur mikroalga dari Laboratorium Fotobioreaktor menjadi modal BRIN untuk membangun perangkat penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS).

 

·      Pemanfaatan mikroalga masih minim kendati potensi biodiversitasnya sangat besar di Indonesia. Riset pemanfaatan tumbuhan renik ini juga dilakukan tim peneliti UGM.

 

SEPINTAS, tak ada yang istimewa di Laboratorium Fotobioreaktor milik Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Seperti gambaran aktivitas makmal pada umumnya, ruangan berukuran 90 meter persegi di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tersebut senyap. Pada Kamis siang, 15 Oktober 2026, itu hanya ada dua peneliti yang sibuk dengan mikroskop dan komputer di hadapan mereka.

 

Namun lakon utama di fasilitas riset itu tersimpan di lima botol duran yang berjejer di sudut kanan ruangan. Botol-botol berkapasitas 5 liter tersebut berisi cairan hijau kebiruan karena kaya mikroalga atau sianobakteri Spirulina platensis. Instalasi lampu di atas botol itu tak pernah berhenti menyala karena sinarnya dibutuhkan mikroalga untuk berfotosintesis. “Kami harus memantau secara berkala metabolit primer dan sekunder mikroalga itu,” kata peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Awalina Satya.

 

Awalina baru dikukuhkan sebagai Profesor Riset BRIN pada akhir Juli 2026. Lima tahun terakhir, ia memimpin 11 peneliti lintas bidang keahlian untuk mengembangkan penangkapan karbon berbasis mikroalga di instalasi fotobioreaktor. Riset ini berupaya mengoptimalkan besarnya kemampuan tumbuhan renik atau mikroskopik tersebut untuk menyerap karbon dioksida (CO₂) dan menghasilkan oksigen.

 

Selama riset itu pula para peneliti mencari formula untuk menghasilkan kultur mikroalga dengan kemampuan terbaik. Mereka harus melakukan studi kinetika sistem untuk menganalisis laju pertumbuhan, waktu penggandaan, fiksasi karbon, dan biomassa mikroalga dalam reaktor. Setiap dua-tiga minggu, peneliti memindahkan kultur tersebut ke rumah kaca di belakang gedung. Di sana pengamatan beralih ke perkembangbiakan mikroalga dalam kolam baskom persegi berbagai ukuran.

 

Mikroalga dari Laboratorium Fotobioreaktor itulah yang menjadi jantung Olimpus Apollo 1.0, perangkat teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS) yang diluncurkan BRIN pada Kamis, 8 Oktober 2026. BRIN mengembangkan alat ini sejak tahun lalu bekerja sama dengan PT Alam Semesta Integra.

 

Dalam kerja sama itu, BRIN bertanggung jawab pada aspek validasi ilmiah, pengujian kinerja penangkapan karbon, penyempurnaan desain teknis, dan jaminan mutu. “Sementara itu, PT Alam Semesta Integra berfokus pada tahap rekayasa manufaktur, fabrikasi skala industri, dan komersialisasi produk,” ujar Kepala BRIN Arif Satria kepada Tempo pada Kamis, 22 Oktober 2026.

 

•••

 

OLIMPUS Apollo 1.0 dibangun berbekal prototipe fotobioreaktor FCB2022 yang dikembangkan di Laboratorium Fotobioreaktor. Hasil riset pengembangan prototipe tersebut diterbitkan di Journal of Environmental Chemical Engineering pada Juni 2024 dalam laporan bertajuk “Cultivation of Spirulina platensis for carbon dioxide bio sequestration in hybrid photobioreactor with real-time monitoring system”.

 

Menurut Awalina Satya, hasil pengujian biosekuestrasi menunjukkan prototipe fotobioreaktor FCB2022 mampu menangkap dan menyimpan CO₂ hingga 89,8 persen serta mengeliminasi karbon sebesar 65 persen. Kemampuan itu merupakan buah kombinasi pemilihan strain unggul Spirulina platensis serta pemantauan formula nutrisi, cahaya, keasaman cairan, dan suhu secara real-time. “Konsep ini kemudian dikembangkan bersama mitra industri menjadi Olimpus,” kata Awalina.

 

Olimpus Apollo 1.0 kini berdiri di depan pintu bagian belakang Gedung Widya Graha BRIN di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Berbeda dengan fotobioreaktor di Cibinong, Bogor, yang terdiri atas botol duran, Olimpus Apollo 1.0 lebih mirip halte dengan sebuah akuarium besar yang airnya tak pernah diganti karena berwarna hijau. Awalina menyebut akuarium itu sebagai kultivator. Warna hijau di dalamnya berasal dari Spirulina platensis. “Alat ini menyerap emisi karbon dan mengeluarkan oksigen, bahkan juga PM2.5,” tutur Awalina.

 

Tempo berupaya meminta penjelasan manajemen PT Alam Semesta Integra ihwal rekayasa manufaktur Olimpus Apollo 1.0 serta rencana fabrikasi dan komersialisasinya. Namun mereka belum bersedia memberikan keterangan lebih lanjut.

 

Sebelumnya, ketika ditemui seusai peluncuran Olimpus Apollo 1.0, Direktur Utama PT Alam Semesta Integra Eddy Setyawan menjelaskan bahwa perangkat itu dilengkapi alat penarik udara yang terpasang di bagian bawah. Uni aerasi itu terhubung dengan sistem yang mengalirkan udara ke fotobioreaktor. “Jadi cara penangkapan Olimpus ini ada dua sistem. Satu di dalam air, satu lagi di permukaan air,” kata Eddy.

 

Di dalam fotobioreaktor itu mikroalga—atau biasa juga disebut fitoplankton—berfotosintesis dengan sinar matahari. Alga menyerap karbon dioksida lalu melepaskan oksigen ke udara, yang dialirkan keluar melalui saluran di sisi kiri perangkat.

 

Olimpus Apollo 1.0 memakai 14 sensor untuk memantau seluruh proses tersebut, mencatat datanya setiap lima detik—termasuk menyimpannya. Sensor gas mengukur CO₂ dan oksigen. Sedangkan sensor air mengukur sejumlah parameter, termasuk tingkat keasaman atau kebasaan dan oksigen terlarut. Ada pula sensor untuk mendeteksi partikel PM2.5.

 

Karena dipasang di luar ruangan, Olimpus Apollo 1.0 yang ditempatkan di kantor BRIN di Jalan Gatot Subroto menggunakan panel surya untuk memasok listrik yang dibutuhkan buat menggerakkan seluruh sistem. Menurut Eddy, versi fotobioreaktor dalam ruangan tidak memerlukan panel surya. “Kami juga menyiapkan perangkat listrik dari jaringan Perusahaan Listrik Negara,” ujarnya.

 

Merujuk pada laporan TÜV SÜD, perusahaan penguji asal Jerman, satu unit Olimpus Apollo 1.0 menyerap 5,56 ton CO₂ ekuivalen per tahun. Ketika Tempo menengok perangkat itu pada Selasa, 13 Oktober 2026, layar monitor yang terpasang di sisi kanan Olimpus Apollo 1.0 mencatat sebanyak 86,43 kilogram CO₂ telah terserap dalam lima hari sejak peluncuran. Pada periode yang sama, alat ini juga tercatat menghasilkan oksigen sebanyak 29.141 kilogram dan menangkap PM2.5 sebesar 12,34 mikrogram per kubik.

 

Awalina Satya menuturkan, Olimpus Apollo 1.0 juga menghasilkan biomassa mikroalga yang kelak dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai produk turunan, seperti pupuk hayati dan bahan baku bioenergi. “Jadi alat ini multimanfaat,” tuturnya. Karena itu, menurut Awalina, kerja-kerja riset di Laboratorium Fotobioreaktor Cibinong belum rampung kendati lembaganya telah meluncurkan perangkat penangkap karbon.

 

•••

 

ILMU pengetahuan belum mengenal sepertiga dari perkiraan total 100 ribu spesies mikroalga dunia. Pemanfaatan tumbuhan kecil tak berbunga yang hidup di air ini pun terbatas, kurang dari 20 jenis yang telah dieksploitasi. Indonesia, yang didominasi perairan dan disinari matahari tropis sepanjang tahun, merupakan salah satu surga bagi sumber daya alam hayati yang tersembunyi tersebut.

 

Bagi Awalina Satya, potensi mikroalga semestinya bisa dimanfaatkan secara optimal. Dia mengingatkan, kemampuan mikroalga menangkap karbon dioksida jauh lebih efisien. Tumbuhan darat umumnya menyerap 4-9 ton CO₂ per hektare per tahun. Sedangkan mikroalga 50-100 ton CO₂ per hektare per tahun. Produktivitas biomassa mikroalga juga lebih besar: 100 ton per hektare per tahun atau tiga-sepuluh kali lipat tumbuhan darat.

 

Menurut dia, potensi itu bisa menjawab tuntutan penurunan emisi karbon—biang krisis iklim. “Inilah yang menjadi pangkal tolak kami, tim pengembang fotobioreaktor, untuk lebih tertarik mengembangkan teknologi fotobioreaktor mikroalga,” kata Awalina.

 

Awalina serta peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional lain tidak sendiri. Tim peneliti Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Microalgae Biorefinery pada Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, juga memanfaatkan mikroalga Spirulina sp. untuk alat penyerap karbon yang mereka namakan Algaetree. Perangkat fotobioreaktor tertutup yang diluncurkan pada 2023 itu berukuran lebih kecil.

 

Direktur Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Microalgae Biorefinery UGM Arief Budiman menuturkan, skala Algaetree dibuat lebih kecil karena menyasar karbon dioksida di ruang tertutup. “Satu set berkapasitas sekitar 100 liter dan bisa digandakan sesuai dengan kebutuhan,” ujar Arief, yang juga Guru Besar Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM.

 

Saat ini, kata Arief, timnya juga mengembangkan Algaepond. Perangkat fotobioreaktor ini berkapasitas 150 ribu liter untuk skala industri.

 

Arief menuturkan, mikroalga bisa tumbuh alami. Meski bukan tumbuhan parasit, mikroalga berisiko tumbuh tak terkendali. Hal itu ia temukan di sejumlah embung di Yogyakarta. Di sana mikroalga tumbuh alami karena kecukupan nutrisi, tapi malah memicu ledakan populasi (blooming) yang menurunkan kualitas air. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/sains/penangkap-emisi-karbon-berbasis-mikroalga-2301808

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar