|
Dari Gontor ke Prenduan Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 30 Oktober 2026
|
Dari Gontor
ke Prenduan Madura, dari rumah kontrakan ke sebuah sejarah pendidikan. Kiai
Jejen memilih jalan pengabdian ketika masa depan pesantren masih berupa
cita-cita. Mendengar kabar wafatnya Kiai Jejen,
Kamis dinihari kemarin, pikiran saya langsung melayang ke Gontor. Sekitar
1970, KH. Imam Zarkasyi yang biasa disapa Pak Zar menawarkan sesuatu ke para
santri dan asatidz. “Siapa di antara kalian yang bersedia
mengabdi beberapa tahun untuk membantu Idris Jauhari?” tanya Pak Zar. Tanpa
basa-basi, Moh. Zaeni Zaenuddin, yang belakangan akrab disapa Kiai Jejen,
menyatakan siap. Bersama empat orang kawannya, ia
bersedia berangkat meninggalkan Gontor untuk membantu adik kelasnya, KH.
Muhammad Idris Jauhari, merintis sebuah lembaga pendidikan Islam modern di
Prenduan, Sumenep, Madura. Kiai Jejen ingat betul keberangkatan
mereka diiringi seruan takbir membahana. “Allahu Akbar, selamat jalan
anak-anakku," seru Pak Zar di corong masjid. "Allahu Akbar, selamat
berjuang anak-anakku.” Seruan dan doa para kiai itulah yang
menjadi bekal batin bagi para santri muda tersebut. Mereka berangkat dengan
membawa amanah besar di pundak, dibarengi keyakinan penuh akan keberhasilan. Setelah enam bulan berada di Prenduan,
cerita Kiai Jejen (21/12/2021), Pesantren TMI pun dimulai. Mereka mulai
menggunakan rumah kontrakan milik Pak Parto sebagai tempat belajar sekaligus
tempat tidur santri. Pondok Pesantren Tarbiyatul Muallimin
al-Islamiyah (TMI) membuka kegiatan pendidikannya pada awal 1971, dengan
sekitar 40 murid. Dari ruang-ruang sederhana itulah perjuangan pendidikan
mulai mengambil bentuk. Kiai Jejen dan Kiai Idris telah
bersahabat sejak sama-sama menimba ilmu di Ma'had Gontor. Namun, tugas
pengabdian yang mempertemukan mereka di Madura berakar pada cita-cita KH.
Ahmad Djauhari Chotib. Kyai Djauhari adalah seorang ulama
besar, ayahanda Kiai Idris, pengasuh Pondok Tegal di Prenduan sekaligus
mursyid Tarekat Tijaniyah. Ia telah mengasuh pesantren dengan tradisi
pendidikan Islam yang kuat. Namun, ia menginginkan putra-putranya
mengembangkan model pendidikan modern sebagaimana Gontor. Karena itulah, ia
memondokkan ketiga putranya di sana, untuk menyiapkan kader penerus
perjuangannya. Ketika KH. Muhammad Tijani Djauhari,
sang kakak, dan kemudian KH. Muhammad Idris Djauhari kembali dari Gontor,
ayahanda mereka langsung memberikan amanah: mendirikan pesantren modern. Ia telah menyediakan lahan lebih dari
tiga hektare, untuk kampus. Cita-cita telah menemukan tempat berpijak. Kini,
mereka membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja mewujudkannya. Maka, tawaran KH. Imam Zarkasyi itu
menjadi bagian penting dari ikhtiar tersebut. Lima santri berangkat. Mereka
meninggalkan Gontor untuk ikut menanam benih yang kelak tumbuh menjadi TMI
Al-Amien Prenduan. Bayangkan perjalanan mereka sekitar
tahun 1970. Gontor di Ponorogo belum memiliki kemegahan seperti yang kita
kenal sekarang. Sementara Prenduan terletak jauh di ujung timur Madura. Mereka harus menempuh perjalanan darat
yang panjang, menyeberangi laut, lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat
pengabdian. Belum ada kemudahan komunikasi seperti sekarang. Segalanya harus
diputuskan sendiri. -000- Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kabar wafatnya KH. Moh. Zaeni Zaenuddin, yang akrab disapa Kiai Jejen, pada
Kamis, 29 Oktober 2026, membawa duka bagi keluarga besar pesantren, dan
sahabat seperjuangannya. Seorang ulama telah menuntaskan
perjalanan hidupnya. Seorang pejuang pendidikan telah meletakkan senjata
pengabdiannya. Namun, medan perjuangan yang ia tinggalkan masih terbentang
luas. Saya mengenang sosok Kiai Jejen
melalui gambar-gambar pertemuan terakhir yang beredar. Beliau mengenakan
kopiah hitam, jas hitam, dan baju putih. Sebuah selendang bermotif melingkar
di lehernya. Wajahnya menyimpan keteguhan seorang
lelaki yang telah melewati banyak musim perjuangan. Keriput di wajahnya
seperti garis-garis perjalanan panjang, sementara sorot matanya memancarkan
ketenangan orang yang telah lama mengukur hidup dengan pengabdian. Tubuhnya memang telah menua. Tongkat
yang menopang langkahnya menjadi tanda bahwa waktu terus bekerja pada setiap
manusia, tanpa kecuali. Namun, jangan buru-buru mengira semangatnya ikut
merunduk bersama tubuhnya. Orang-orang yang mengenalnya tahu
bahwa suara Kiai Jejen tetap tegar, tegas, dan penuh tenaga. Ketika
berbicara, ia bisa menggebu-gebu. Kalimat-kalimatnya meluncur dengan api
keyakinan, seperti seorang komandan yang masih berdiri di garis depan,
meskipun rambut zaman telah memutihkan kepalanya. Kiai Jejen termasuk generasi ulama
yang memahami bahwa mendirikan pesantren membutuhkan lebih dari sekadar
bangunan, papan nama, dan seremoni peresmian. Pesantren lahir dari kesediaan
seseorang menyerahkan tenaga, waktu, pikiran, dan sebagian besar hidupnya
untuk mendidik manusia. Ia harus tahan menghadapi kekurangan,
sanggup bekerja tanpa sorotan, dan tetap percaya ketika hasil perjuangan
belum terlihat. Kiai Jejen telah memilih jalan itu sejak muda. Salah satu jejak penting perjuangannya
tercatat dalam sejarah awal perintisan Pondok Pesantren TMI, yang kini
berubah nama menjadi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Kisah ini memperlihatkan betapa sebuah
lembaga pendidikan besar dapat bermula dari keputusan sederhana yang menuntut
keberanian luar biasa: kesediaan berangkat, mengabdi, dan membangun dari
keadaan yang serba terbatas. Pada masa itu, KH. Imam Zarkasyi
mengajak para santrinya untuk membantu Muhammad Idris Jauhari, santrinya,
merintis lembaga pendidikan di Prenduan. Ajakan Pak Zar untuk mengabdi menuntut
pengorbanan. Mereka yang bersedia harus meninggalkan lingkungan yang telah
akrab, menempuh perjalanan jauh, dan memasuki kehidupan baru yang belum
menjanjikan kenyamanan. Mereka belum tahu betul seberapa
panjang jalan yang harus ditempuh. Mereka hanya tahu bahwa seseorang harus
bersedia berjalan lebih dahulu agar orang lain kelak mempunyai jalan. Saat TMI dimulai, tak ada kemewahan
yang membanggakan. Yang tersedia ialah ruang kontarakan yang harus disulap
menjadi kelas, kehidupan yang harus diatur bersama, dan cita-cita yang
menuntut kesetiaan setiap hari. Di sinilah arti seorang perintis
memperoleh bentuk paling nyata. Ia tidak menunggu semua fasilitas lengkap
untuk mulai mendidik. Ia memanfaatkan apa yang tersedia, lalu bekerja agar
keadaan terus membaik. Sebuah rumah kontrakan, di luar arena
pondok, dapat berubah menjadi ruang pembibitan generasi. Empat puluh murid
dapat menjadi awal sebuah komunitas pendidikan. Dari langkah-langkah kecil yang
konsisten, sejarah menemukan jalannya sendiri. Kini, Al-Amien Prenduan telah
berkembang menjadi kompleks pendidikan pesantren luas dengan berbagai jenjang
mulai dari taman kanak-kanan hingga perguruan tinggi. Perkembangan itu tentu melibatkan
banyak orang, banyak generasi, dan kerja kolektif yang panjang. Namun, setiap
pohon besar mempunyai akar yang bekerja dalam gelap. Nama-nama para perintis patut kita ingat
karena mereka menanam ketika orang lain belum dapat berteduh di bawah
rindangnya. Kiai Jejen juga pernah mengenang
kedekatannya dengan KH. Muhammad Idris Jauhari, sahabat seperjuangan yang
memimpin perintisan TMI. Dalam kesaksiannya, ia menyoroti
karakter Kiai Idris yang turun langsung mengawasi kehidupan santri,
memperhatikan bahasa mereka, dan terlibat dalam berbagai urusan pendidikan. Kiai Jejen mengakui bahwa teladan
kepemimpinan seperti itu terus melekat dalam ingatannya. Kesaksian tersebut mengungkap sesuatu
yang penting tentang dunia pesantren. Pendidikan tidak selesai ketika seorang
guru berdiri di depan kelas, menyampaikan pelajaran, lalu pulang. Pendidikan berlangsung ketika pengasuh
memperhatikan kebiasaan santri, mengawasi disiplin, membimbing perilaku, dan
menunjukkan contoh melalui tindakannya sendiri. Ilmu mengisi pikiran, sedangkan
keteladanan membentuk watak. Keduanya membutuhkan kehadiran seorang pendidik
yang sungguh-sungguh. Barangkali pengalaman itulah yang
turut membentuk jalan pengabdian Kiai Jejen setelah masa perintisan di
Madura. Ia kemudian dikenal sebagai pimpinan
Pondok Pesantren Daaruttaqwa dan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren
Terpadu Al-Madinah di Melati, Bogor. Di lingkungan pendidikan yang berbeda,
semangat membina generasi terus menemukan rumahnya. Saya membayangkan betapa panjang
daftar urusan yang harus ia hadapi selama puluhan tahun mengasuh pesantren. Ia harus memikirkan santri, guru,
kurikulum, kedisiplinan, pembiayaan, fasilitas, dan masa depan lembaga. Di balik sebuah pesantren yang tampak
tenang dari luar, selalu ada banyak persoalan yang menuntut keputusan. Pengasuh yang baik memikul semuanya
sambil berusaha menjaga agar cita-cita pendidikan tidak tenggelam oleh urusan
sehari-hari. Kiai Jejen menjalani pengabdian itu
hingga usia 83 tahun. Pada usia ketika banyak orang mulai mengurangi kegiatan
dan menikmati hasil kerja masa lalu, ia masih tampil di tengah masyarakat
pesantren. Kopiah hitamnya menjadi bagian dari
sosok yang mudah dikenali. Suaranya yang tegas dan gaya bicaranya yang
berapi-api memberi kesan bahwa urusan pendidikan selalu mempunyai tempat
khusus di dalam dirinya. Kini, suara itu telah berhenti. Kita
tidak lagi dapat menunggu nasihatnya keluar dari mulutnya, menyaksikan gerak
tangannya ketika menjelaskan sesuatu, atau merasakan langsung energi yang
mengiringi perkataannya. Foto-foto yang tersisa akan menjadi
jendela kenangan. Kita melihat seorang kiai berdiri di antara sahabat dan
keluarga, ditopang tongkat, tetapi tetap hadir dengan martabatnya. Kematian memang memutus percakapan
langsung, tetapi manusia masih dapat meneruskan percakapan melalui karya. Para santri yang telah belajar darinya
dapat membawa nilai-nilai pendidikan ke tempat masing-masing. Para guru dapat
melanjutkan tradisi keteladanan. Para pengelola pesantren dapat menjaga
lembaga dengan integritas. Generasi muda dapat mempelajari kembali kisah para
perintis agar mereka memahami bahwa kemajuan tidak tumbuh dari gedung megah
saja. Di sinilah amanah terbesar setelah
kepergian seorang ulama pejuang. Kita perlu menjaga pesantren sebagai
tempat pembentukan manusia, bukan sekadar lembaga yang sibuk mengejar angka
penerimaan santri, luas bangunan, atau banyaknya program. Semua itu berguna, tetapi tujuan
pendidikan jauh melampauinya. Pesantren harus melahirkan manusia berilmu,
berakhlak, mandiri, dan sanggup memberikan manfaat bagi masyarakat. Kiai Jejen telah memberikan bagian
hidupnya untuk cita-cita tersebut. Kita mungkin tidak mengetahui seluruh
pengorbanannya. Kita juga tidak mampu menghitung berapa banyak murid yang
kelak meneruskan kebaikan melalui ilmu yang mereka terima. Namun, justru di situlah keindahan
pengabdian seorang pendidik: hasil terbaiknya sering tumbuh jauh dari
pandangannya, bahkan setelah ia sendiri tiada. Selamat jalan, Kiai Jejen. Perjuangan
Anda di dunia telah mencapai batasnya, tetapi jejak pengabdian Anda masih
berjalan bersama para santri, guru, dan keluarga besar pesantren yang Anda
cintai. Semoga Allah menerima segala amal
saleh, mengampuni segala kekhilafan, melapangkan alam kubur, dan menempatkan
almarhum di tempat yang mulia di sisi-Nya. Amin ya
Rabbal ‘alamin. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar