Jumat, 30 Oktober 2026

 

Disrupsi Digital di Indonesia

Ahmad Najib Burhani :  Akademisi.

KOMPAS, 29 Oktober 2026

 

 

                                                           

Dua dekade yang lalu, barangkali tak banyak yang membayangkan bahwa ojek akan menjadi fondasi dari perusahaan unicorn, perusahaan yang memiliki nilai valuasi lebih dari 14 triliun, di Indonesia. Namun, sejak berdirinya Gojek pada 2010, yang memadukan antara teknologi digital dan sistem jasa angkutan publik informal bagi masyarakat urban Indonesia dengan menggunakan motor, maka sesuatu yang dipandang sepele dan sebelah mata itu ternyata memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Inilah salah satu dampak dari disrupsi digital dalam kehidupan sehari-hari.

 

Gojek adalah contoh yang paling kentara tentang perubahan sosial dan budaya akibat perkembangan teknologi. Contoh lain dapat dengan mudah ditemukan di sekitar kita. Dalam bidang ekonomi, keberadaan industri teknologi finansial (fintech) yang berupa layanan pembayaran dan peminjaman online telah meningkatkan e-commerce. Dalam bidang agama, dakwah melalui media sosial telah melahirkan ulama atau tokoh agama baru yang tak lahir melalui jalur pendidikan tradisional seperti pesantren. Teknologi digital juga memunculkan beberapa praktik keagamaan baru yang tak ditemukan dalam praktik konvensional, seperti pastorgram, bukan hanya mengalihkan yang konvensional menjadi digital (Harmakaputra 2026).

 

Politik dan pemerintahan adalah bidang yang paling banyak mengalami disrupsi dengan kehadiran teknologi digital. Kemenangan Partai Islam Se-Malaysia (PAS) di Malaysia dan Prabowo Subianto di Indonesia disebut sebagai pengaruh dari Tiktok, Musim Semi Arab (Arab Spring) diperantarai oleh Facebook dan Twitter, dan berbagai demonstrasi besar dieskalasi dan difasilitasi oleh berbagai platform sosial media. Intinya, demokrasi mengalami perubahan signifikan dengan kehadiran sosial media.

 

Pengaruh dari teknologi digital tidak hanya terkait demokrasi dan aksi protes, tetapi juga dalam pemerintahan dan layanan publik. Ini misalnya muncul dalam platform Lapor.go.id, Data Tunggal Nasional, Satu Peta Nasional, Satu Platform Beasiswa Nasional, Digitalisasi Sekolah dan Madrasah, Smart Cities, dan Palapa Ring atau Tol Langit.

 

Termasuk yang paling ingar-bingar dengan kehadiran teknologi digital adalah industri kreatif seperti film, musik, dan game. Industri film animasi melahirkan berbagai film yang ramai ditonton masyarakat, seperti Nissa Rara dan Jumbo.

 

Dunia pendidikan tentu tak terlewatkan dari gempuran pengaruh teknologi; dalam cara kita mengajar dan belajar, meneliti, dan kehidupan akademik lainnya. Berbagai teori dan metodologi baru dalam penelitian terus bermunculan, seperti participatory mapping, social media network analysis, dan algorithmic ethnography. Belakangan, dengan kehadiran Kecerdasan Buatan (AI), makna plagiarisme, kepengarangan, dan kreativitas dalam menulis buku mengalami perubahan dan menjadikan sebagian mengalami disorienting dilemma, persoalan yang mengubah cara kita melihat dunia.

 

Pendeknya, kehidupan kita tak lagi sama dengan kondisi sebelum teknologi digital hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Interaksi sosial telah berubah dengan keberadaan berbagai perangkat digital. Ibadah dan ritual keagamaan yang dilakukan sehari-hari pun mengalami transformasi di era digital ini. Inilah di antaranya yang ditulis dalam buku Digital Disruptions: How Digital Technologies Change Social and Cultural Life in Indonesia (ISEAS, 2026).

 

Secara khusus, tulisan ini akan membawa tema disrupsi digital kepada satu identitas budaya dan kebanggaan bangsa Indonesia, yaitu Borobudur, Candi Buddha terbesar di dunia. Kita tak memandang kehadiran teknologi digital sebagai disrupsi dalam arti negatif, tapi justru sebagai penyelamat dari eksistensi warisan budaya yang telah menjadi bagian dari UNESCO tersebut.

 

Borobudur didirikan oleh Dinasti Sailendra dari Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8 (antara 778 hingga 842 Masehi). Ini berarti bahwa Borobudur telah berumur lebih dari 12 abad. Sebagian reliefnya rusak dan ada bagian tertentu yang tidak bisa diakses karena tertimbun tanah. Bangunan keseluruhannya juga berpotensi rusak atau hancur karena usianya yang memang sudah tua. Namun bencana alam, seperti gempa bumi atau letusan gunung berapi, dan ulah tangan manusia bisa mempercepat kerusakan warisan budaya tersebut.

 

Ketika Katedral Notre Dame di Paris mengalami kebakaran pada 2019 lalu, restorasi dan pembangunannya kembali bisa dilakukan berkat tersedianya digitalisasi seluruh struktur dari bangunan tersebut. Borobudur memiliki 2.672 panel relief (1.460 panel naratif dan 1.212 panel dekoratif). Jika diukur, pahatan relief di Borobudur itu mencapai 2.500 meter. Relief-relief itu bercerita tentang enam doktrin atau manuskrip keagamaan Buddha, yaitu Karmavibhangga, Lalitavistara, Jatakas, Avadanas, Gandavyuha, dan Bhadrachari (Gunarto 2007). Bisa dikatakan, ”Candi Borobudur melambangkan sepuluh tingkatan dalam kehidupan seorang Bodhisattva yang harus dikembangkan untuk mencapai pencerahan sempurna dan utuh sebagai seorang Buddha” (Primadi 1998).

 

Borobudur pernah tertimbun abu dan pasir gunung berapi selama lebih dari 10 abad, hingga ia ditemukan oleh Sir Thomas Stanford Raffles tahun 1814 dan kemudian dilakukan ekskavasi besar-besaran. Beberapa panel dari Borobudur itu sudah ada yang rusak, di antaranya yang terkait Lalitavistara. Sementara itu, relief tentang Karmavibhangga, hanya empat panel dari 160 panel relief yang bisa diakses. Sisanya, 156 panel relief, terpendam di bawah tembok (Gunarto 2007; Jiao Pan dkk 2021). Pemerintah pernah berusaha menjaga Borobudur dari kerusakan dengan cara membatasi pengunjung dan tarif masuknya dinaikkan. Namun, cara ini tentu justru membatasi rakyatnya melihat, menikmati, beribadah, dan mempelajari warisan budaya yang dimiliki. Di sinilah digitalisasi bisa menjadi alternatif.

 

Sejak 2002 lalu, setidaknya sudah ada empat institusi yang melakukan digitalisasi Borobudur, yaitu Australian National University, Ritsumeikan University (Jepang) yang bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Balai Konservasi Borobudur, CAMLab  dari Fakultas Seni dan Sains Universitas Harvard (Amerika Serikat), dan Dewan Riset Belanda (NWO) yang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

 

Namun, berbeda dari kasus Gojek, digitalisasi Borobudur ini baru sebatas mengubah foto 2D historis menjadi model 3D, pengarsipan, visualisasi, reproduksi, dan sejenisnya. Belum bisa membuat orang beralih dari fisik Borobudur ke versi virtualnya dan transformasi ke bentuk digital dari Borobudur belum menjadi fondasi ekonomi. Jika medsos telah menjadi landasan lahirnya otoritas keagamaan baru, medsos mengubah landscape dari demokrasi di dunia, fintech menjadi roh dari e-commerce, maka digitalisasi Borobudur masih banyak berada pada fungsi preservasi.

 

Jika berkunjung ke Sanchi Stupa di India, kita menyaksikan digitalisasi kompleks Buddha itu telah menjadikan sejarah perkembangan Buddha di Madhya Pradesh itu dan juga pembangunan Sanchi Stupa menjadi terasa hidup nyata dalam film yang ditayangkan dengan melibatkan bangunan Stupa. Kita melihat Raja Asoka berdiri dan memerintahkan pembangunan Stupa. Kita melihat bagaimana batu-batu besar didatangkan ke kompleks Stupa.

 

Proses menghidupkan kembali Borobudur itu sebetulnya sudah mulai terasa dari digitalisasi yang dilakukan NWO dan BRIN, seperti yang ditampilkan saat Road to Talent Fest Manajemen Talenta Nasional (MTN) pada 24 September 2026. Meskipun demikian, itu baru permulaan, belum membuat setiap pahatan di relief Borobudur menjadi bergerak dan hidup. Jika itu sudah terjadi, disrupsi digital yang mengubah Borobudur akan kita saksikan. ●

 

Sumber : https://www.kompas.id/artikel/disrupsi-digital-di-indonesia?open_from=Jeda_Page

Tidak ada komentar:

Posting Komentar