|
Disrupsi Digital di Indonesia Ahmad
Najib Burhani :
Akademisi. |
KOMPAS, 29 Oktober 2026
|
Dua dekade yang lalu, barangkali tak banyak yang membayangkan
bahwa ojek akan menjadi fondasi dari perusahaan unicorn, perusahaan yang
memiliki nilai valuasi lebih dari 14 triliun, di Indonesia. Namun, sejak
berdirinya Gojek pada 2010, yang memadukan antara teknologi digital dan
sistem jasa angkutan publik informal bagi masyarakat urban Indonesia dengan
menggunakan motor, maka sesuatu yang dipandang sepele dan sebelah mata itu
ternyata memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Inilah salah satu dampak
dari disrupsi digital dalam kehidupan sehari-hari. Gojek adalah contoh yang paling kentara tentang perubahan sosial
dan budaya akibat perkembangan teknologi. Contoh lain dapat dengan mudah
ditemukan di sekitar kita. Dalam bidang ekonomi, keberadaan industri
teknologi finansial (fintech) yang berupa layanan pembayaran dan peminjaman
online telah meningkatkan e-commerce. Dalam bidang agama, dakwah melalui
media sosial telah melahirkan ulama atau tokoh agama baru yang tak lahir
melalui jalur pendidikan tradisional seperti pesantren. Teknologi digital
juga memunculkan beberapa praktik keagamaan baru yang tak ditemukan dalam
praktik konvensional, seperti pastorgram, bukan hanya mengalihkan yang
konvensional menjadi digital (Harmakaputra 2026). Politik dan pemerintahan adalah bidang yang paling banyak
mengalami disrupsi dengan kehadiran teknologi digital. Kemenangan Partai
Islam Se-Malaysia (PAS) di Malaysia dan Prabowo Subianto di Indonesia disebut
sebagai pengaruh dari Tiktok, Musim Semi Arab (Arab Spring) diperantarai oleh
Facebook dan Twitter, dan berbagai demonstrasi besar dieskalasi dan
difasilitasi oleh berbagai platform sosial media. Intinya, demokrasi
mengalami perubahan signifikan dengan kehadiran sosial media. Pengaruh dari teknologi digital tidak hanya terkait demokrasi dan
aksi protes, tetapi juga dalam pemerintahan dan layanan publik. Ini misalnya
muncul dalam platform Lapor.go.id, Data Tunggal Nasional, Satu Peta Nasional,
Satu Platform Beasiswa Nasional, Digitalisasi Sekolah dan Madrasah, Smart
Cities, dan Palapa Ring atau Tol Langit. Termasuk yang paling ingar-bingar dengan kehadiran teknologi
digital adalah industri kreatif seperti film, musik, dan game. Industri film
animasi melahirkan berbagai film yang ramai ditonton masyarakat, seperti
Nissa Rara dan Jumbo. Dunia pendidikan tentu tak terlewatkan dari gempuran pengaruh
teknologi; dalam cara kita mengajar dan belajar, meneliti, dan kehidupan
akademik lainnya. Berbagai teori dan metodologi baru dalam penelitian terus
bermunculan, seperti participatory mapping, social media network analysis,
dan algorithmic ethnography. Belakangan, dengan kehadiran Kecerdasan Buatan
(AI), makna plagiarisme, kepengarangan, dan kreativitas dalam menulis buku
mengalami perubahan dan menjadikan sebagian mengalami disorienting dilemma,
persoalan yang mengubah cara kita melihat dunia. Pendeknya, kehidupan kita tak lagi sama dengan kondisi sebelum
teknologi digital hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Interaksi
sosial telah berubah dengan keberadaan berbagai perangkat digital. Ibadah dan
ritual keagamaan yang dilakukan sehari-hari pun mengalami transformasi di era
digital ini. Inilah di antaranya yang ditulis dalam buku Digital Disruptions:
How Digital Technologies Change Social and Cultural Life in Indonesia (ISEAS,
2026). Secara khusus, tulisan ini akan membawa tema disrupsi digital
kepada satu identitas budaya dan kebanggaan bangsa Indonesia, yaitu
Borobudur, Candi Buddha terbesar di dunia. Kita tak memandang kehadiran
teknologi digital sebagai disrupsi dalam arti negatif, tapi justru sebagai
penyelamat dari eksistensi warisan budaya yang telah menjadi bagian dari
UNESCO tersebut. Borobudur didirikan oleh Dinasti Sailendra dari Kerajaan Mataram
Kuno pada abad ke-8 (antara 778 hingga 842 Masehi). Ini berarti bahwa
Borobudur telah berumur lebih dari 12 abad. Sebagian reliefnya rusak dan ada
bagian tertentu yang tidak bisa diakses karena tertimbun tanah. Bangunan
keseluruhannya juga berpotensi rusak atau hancur karena usianya yang memang
sudah tua. Namun bencana alam, seperti gempa bumi atau letusan gunung berapi,
dan ulah tangan manusia bisa mempercepat kerusakan warisan budaya tersebut. Ketika Katedral Notre Dame di Paris mengalami kebakaran pada 2019
lalu, restorasi dan pembangunannya kembali bisa dilakukan berkat tersedianya
digitalisasi seluruh struktur dari bangunan tersebut. Borobudur memiliki
2.672 panel relief (1.460 panel naratif dan 1.212 panel dekoratif). Jika
diukur, pahatan relief di Borobudur itu mencapai 2.500 meter. Relief-relief
itu bercerita tentang enam doktrin atau manuskrip keagamaan Buddha, yaitu
Karmavibhangga, Lalitavistara, Jatakas, Avadanas, Gandavyuha, dan Bhadrachari
(Gunarto 2007). Bisa dikatakan, ”Candi Borobudur melambangkan sepuluh
tingkatan dalam kehidupan seorang Bodhisattva yang harus dikembangkan untuk
mencapai pencerahan sempurna dan utuh sebagai seorang Buddha” (Primadi 1998). Borobudur pernah tertimbun abu dan pasir gunung berapi selama
lebih dari 10 abad, hingga ia ditemukan oleh Sir Thomas Stanford Raffles
tahun 1814 dan kemudian dilakukan ekskavasi besar-besaran. Beberapa panel
dari Borobudur itu sudah ada yang rusak, di antaranya yang terkait
Lalitavistara. Sementara itu, relief tentang Karmavibhangga, hanya empat
panel dari 160 panel relief yang bisa diakses. Sisanya, 156 panel relief,
terpendam di bawah tembok (Gunarto 2007; Jiao Pan dkk 2021). Pemerintah
pernah berusaha menjaga Borobudur dari kerusakan dengan cara membatasi
pengunjung dan tarif masuknya dinaikkan. Namun, cara ini tentu justru
membatasi rakyatnya melihat, menikmati, beribadah, dan mempelajari warisan
budaya yang dimiliki. Di sinilah digitalisasi bisa menjadi alternatif. Sejak 2002 lalu, setidaknya sudah ada empat institusi yang
melakukan digitalisasi Borobudur, yaitu Australian National University,
Ritsumeikan University (Jepang) yang bekerja sama dengan Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Balai Konservasi Borobudur, CAMLab dari Fakultas Seni dan Sains Universitas
Harvard (Amerika Serikat), dan Dewan Riset Belanda (NWO) yang bekerja sama
dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Namun, berbeda dari kasus Gojek, digitalisasi Borobudur ini baru
sebatas mengubah foto 2D historis menjadi model 3D, pengarsipan, visualisasi,
reproduksi, dan sejenisnya. Belum bisa membuat orang beralih dari fisik
Borobudur ke versi virtualnya dan transformasi ke bentuk digital dari
Borobudur belum menjadi fondasi ekonomi. Jika medsos telah menjadi landasan
lahirnya otoritas keagamaan baru, medsos mengubah landscape dari demokrasi di
dunia, fintech menjadi roh dari e-commerce, maka digitalisasi Borobudur masih
banyak berada pada fungsi preservasi. Jika berkunjung ke Sanchi Stupa di India, kita menyaksikan
digitalisasi kompleks Buddha itu telah menjadikan sejarah perkembangan Buddha
di Madhya Pradesh itu dan juga pembangunan Sanchi Stupa menjadi terasa hidup
nyata dalam film yang ditayangkan dengan melibatkan bangunan Stupa. Kita
melihat Raja Asoka berdiri dan memerintahkan pembangunan Stupa. Kita melihat
bagaimana batu-batu besar didatangkan ke kompleks Stupa. Proses menghidupkan kembali Borobudur itu sebetulnya sudah mulai
terasa dari digitalisasi yang dilakukan NWO dan BRIN, seperti yang
ditampilkan saat Road to Talent Fest Manajemen Talenta Nasional (MTN) pada 24
September 2026. Meskipun demikian, itu baru permulaan, belum membuat setiap
pahatan di relief Borobudur menjadi bergerak dan hidup. Jika itu sudah
terjadi, disrupsi digital yang mengubah Borobudur akan kita saksikan. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/disrupsi-digital-di-indonesia?open_from=Jeda_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar