Jumat, 30 Oktober 2026

 

Laut Bercerita: Penculikan Mahasiswa dan Kekerasan 1998

Hikmat Darmawan :  Pengamat film dan komik.

TEMPO MINGGUAN,  25 Oktober 2026

 

 

 

·      Laut Bercerita menghidupkan kembali ingatan tentang kekerasan rezim Orde Baru melalui narasi verbal dan atmosfer visual yang mencekam.

 

·      Meski kuat membangkitkan trauma sejarah, film karya Yosep Anggi Noen ini meminimalkan penggambaran penyiksaan dan kurang mengurai pengorganisasian gerakan perlawanan.

 

·      Laut Bercerita menjadi pengingat penting agar masyarakat tidak melupakan kekerasan negara.

 

DALAM Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen, kata-kata tak mendapat istirahat. Laut di sini tidak berbicara dalam bahasa debur ombak atau sunyi ruri luas samudra seperti, misalnya, dalam Jermal karya Ravi Bharwani pada 2008. Alih-alih, bahasa Laut adalah bahasa verbal yang disuarakan tokoh utama yang diperankan Reza Rahadian, nyaris tak memberi ruang kosong di seantero film.

 

Pilihan menggunakan voice-over untuk menuturkan bahasa batin dalam film memang selalu riskan meringkus kapasitas sinematik sang film. Apa yang semestinya bisa menjadi jelajah visual dalam menafsir yang batin, atau yang ada dalam benak penutur kisah, rentan menjadi naratif yang mendikte dan searah. Film-film Anggi Noen sebelumnya mampu menjelajahi kapasitas puisi sinematik.

 

Film-film Anggi Noen sebelumnya mampu menjelajahi kapasitas puisi sinematik. Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012), Istirahatlah Kata-Kata (2016), dan Hiruk-Pikuk si Alkisah (2019) dipenuhi long take dan depth of field ruang-ruang sunyi. Mise en scène (hal-hal yang sengaja ditempatkan dalam “panggung” sinematik atau segala yang ada dan terlihat dalam frame) jadi tumpuan. Keaktoran dalam ketiga film itu bertumpu pada kehadiran tubuh untuk dilihat, bukan pada kata-kata yang meminta disimak.

 

Laut Bercerita terasa lebih prosaik. Jika kita perhatikan, 24 Jam Bersama Gaspar (2023) berwatak serupa. Sesama alih wahana dari novel, sama-sama didominasi kata-kata. Tapi, dalam Gaspar, Anggi berhasil mengeksploitasi mise en scène berupa tata-artistik, setting, kostum, sinematografi, dan wewarna untuk membangun sebuah dunia distopia di sebuah Indonesia yang entah.

 

Dalam Laut Bercerita, Indonesia di layar adalah sebuah dunia dalam dominasi warna sepia yang sering tampak kusam, semacam kenangan dalam cetakan foto 1990-an yang terancam pudar. Apakah ini bisa kita baca sebagai metafora visual ancaman menguapnya kenangan kolektif kita pada rezim Orde Baru yang bengis itu?

 

Komposisi gambar jarang ada dalam wide shot atau extreme wide shot. Jikapun ada, sering kali itu untuk adegan penuh orang (demonstrasi) atau barang dan dinding (di dalam ruang tertutup, seperti markas mahasiswa dan penjara rahasia tempat Laut disiksa). Karena itu, secara keseluruhan, film ini sering terasa klaustrofobik. Apakah ini sebuah metafora visual betapa rakyat pada periode itu begitu tersekap dan sesak?

 

Film ini adalah sebuah konsekuensi logis posisi penting novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Novel ini pertama kali dicetak pada 2017. Saat film ini tayang, bukunya telah dicetak 124 kali. Angka itu sendiri telah mengukuhkan posisi penting novel tersebut: praktis ini novel Indonesia yang paling banyak dicetak ulang sepanjang sejarah sastra modern kita.

 

Lebih dari itu, novel tersebut makin sering dianggap sebagai pemantik percakapan tentang orang hilang dan kekerasan terhadap warga oleh negara selama masa kekuasaan Presiden Soeharto. Sering melintas di laman media sosial saya, “gen Z” menyatakan baru tahu adanya kekejaman Orde Baru dari novel itu.

 

Saya kira film ini bisa lebih efektif daripada novelnya dalam mensimulasi cekam kejam Orde Baru. Semata soal medium. Dalam gelap bioskop, tata suara dalam pelantang Dolby Stereo atau Surround, slow motion, dan editing yang kadang serba mengejutkan, adegan seperti penangkapan Biru Laut Wibisana—nama lengkap Laut—di rumah susun dan penyiksaan di penjara rahasia bisa terasa amat menghantam indra penonton.

 

Walau demikian, hemat saya, kekerasan dalam film ini masih terasa agak menahan diri. Durasi penyiksaan dan keadaan buron penuh kecemasan sebelum penangkapan terlalu singkat untuk bisa melesap menjadi pengalaman tubuh penonton. Film ini lebih banyak mengisahkan rangkaian peristiwa sebelum dan sesudah penghilangan Laut dan tiga kawannya. Sedangkan adegan-adegan penyiksaan itu diperlunak oleh begitu banyak stilisasi. Misalnya sudut pandang kamera dari balik kain penutup wajah Laut saat ia dibawa ke ruang penyiksaan.

 

Meski demikian, memori tubuh saya yang hidup pada era Orde Baru langsung tersentuh. Ya, saya ingat, itu adalah rezim yang menormalisasi kekerasan lewat penembakan misterius atau petrus, penumpasan jemaah Amir Biki di Tanjung Priok, dan penghilangan orang yang berdemo. Saya membaca dari jauh perlawanan rakyat Kedung Ombo serta perburuan aktivis seusai kerusuhan 27 Juli 1996. Saya ingat 1998. Saya ingat negara lebih kejam dari yang digambarkan Laut Bercerita.

 

Sedangkan bagi gen Z serta semua yang lahir setelah 1998 dan tak memiliki memori tubuh warga Orde Baru, bagaimanakah tubuh mereka merespons gambaran kekerasan negara di film ini?

 

Saya ingat juga, suatu ketika, dalam sebuah acara Ikatan Penerbit Indonesia, sebelum masa pandemi Covid-19—saya lupa persisnya kapan—A.M. Fatwa, tokoh oposisi rezim Soeharto yang dicekal dan dipenjara, berkata bahwa “waktu itu Soeharto hanya khilaf”. Betapa mudahnya kita melupakan. Betapa mudahnya ingatan akan gelombang penghilangan dan kekerasan terhadap korban dibeli dengan jabatan agar dilupakan.

 

Film ini mengingatkan bahwa ada perlawanan terorganisasi pada saat itu. Sayangnya, film ini menyodorkan gerakan itu sebagai sesuatu yang terberi. Laut memasuki arsitektur gerakan yang telah menjadi bangunan rapi. Dia seakan-akan begitu saja paham bagaimana berfungsi dalam sebuah gerakan yang tampak begitu sibuk.

 

Kinanti (Dian Sastrowardoyo) hadir di layar sudah “jadi” sebagai orang gerakan jagoan, dan tersenyum-senyum simpul ala pendekar ketika seorang peserta diskusi bertanya, “Ada apa di Blangguan?” Kinanti merekrut Laut di warung mahasiswa dengan sebuah kalimat gagah, “Yang membedakan senjata mahasiswa dengan senjata wartawan… adalah: tin-dak-an.”

 

Apakah menulis bukan “tindakan”? Tokoh pergerakan masa kolonial sejak Tirto Adhi Soerjo, Tjokroaminoto, Tan Malaka, Sukarno, Mohammad Hatta, dan banyak lainnya tak pernah mempertentangkan menulis dengan aksi massa. Menulis adalah mengorganisasi pikiran, sebuah bagian organik dari organisasi perlawanan.

 

Tentu saja kita tak bisa membebani sebuah film secara berlebihan. Apalagi film ini dengan tegas menempatkan diri sebagai fiksi. Ini memunculkan semacam déjà vu, seperti ketika saya menonton Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008): novelis dan para pembuat filmnya menari di antara keleluasaan fiksi menekuk realitas, dan kekuatan klaim “kisah nyata” untuk “menginspirasi”.

 

Leila menegaskan dalam sebuah preview terbatas, novelnya dan film ini adalah fiksi. Tapi petikan berita Soeharto lengser di bagian akhir film menjangkarkan kembali film ini pada sejarah dekat kita pada 1998.

 

Reformasi 1998, meminjam istilah Jean Baudrillard tentang 11 September 2001 dalam Le Monde edisi 2 November 2001, adalah “peristiwa absolut” atau “ibu dari segala peristiwa sesudahnya” bagi orang Indonesia. Hampir setara dengan tragedi 1965.

 

Yang jelas, film ini mengingatkan bahwa pernah ada situasi ketika negara memiliki kuasa mutlak atas kekerasan terhadap warganya. Sedemikian rupa kemutlakan itu sehingga, untuk mendapatkan kebebasan minimum dalam mengupayakan perubahan sosial-politik, warga harus mengorganisasi diri sebagai “Organisasi tanpa Bentuk”. Akan halnya kebengisan negara ketika itu, laporan jurnalistik-menyelidik dan reflektif edisi khusus Tempo, “5 Tahun Reformasi” (2003), patut dibaca lagi sebagai salah satu rujukan setelah menonton film ini.

 

Apakah kita dalam situasi demikian saat ini? Mungkin belum, tapi nyaris. Saya merasa kenyataan kita kini mirip situasi pra-Malari (Malapetaka Lima Belas Januari, peristiwa demonstrasi dan kerusuhan besar di Jakarta pada 15-16 Januari 1974). Saat itu rezim telah melakukan pemusatan ekonomi dan politik, tapi katup-katup ekspresi dan kritik masih terbuka walau telah penuh ancaman hukum ataupun pembungkaman di bawah meja. Seusai Malari, mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan, juga seniman, dilarang berpolitik secara mutlak dan militer menerapkan larangan itu dengan ketat.

 

Film ini menjadi penting dalam konteks tersebut: upaya melawan lupa, agar kita tersadar sedang di tubir kembalinya situasi itu. ●

                                                                                

Sumber : https://www.tempo.co/hiburan/laut-bercerita-penculikan-mahasiswa-dan-kekerasan-1998-2301216

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar