|
Laut Bercerita: Penculikan
Mahasiswa dan Kekerasan 1998 Hikmat Darmawan : Pengamat film
dan komik. |
TEMPO MINGGUAN, 25 Oktober 2026
|
· Laut Bercerita menghidupkan kembali
ingatan tentang kekerasan rezim Orde Baru melalui narasi verbal dan atmosfer
visual yang mencekam. · Meski kuat membangkitkan trauma
sejarah, film karya Yosep Anggi Noen ini meminimalkan penggambaran penyiksaan
dan kurang mengurai pengorganisasian gerakan perlawanan. · Laut Bercerita menjadi pengingat
penting agar masyarakat tidak melupakan kekerasan negara. DALAM
Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen, kata-kata tak mendapat istirahat. Laut
di sini tidak berbicara dalam bahasa debur ombak atau sunyi ruri luas samudra
seperti, misalnya, dalam Jermal karya Ravi Bharwani pada 2008. Alih-alih,
bahasa Laut adalah bahasa verbal yang disuarakan tokoh utama yang diperankan
Reza Rahadian, nyaris tak memberi ruang kosong di seantero film. Pilihan
menggunakan voice-over untuk menuturkan bahasa batin dalam film memang
selalu riskan meringkus kapasitas sinematik sang film. Apa yang semestinya
bisa menjadi jelajah visual dalam menafsir yang batin, atau yang ada dalam
benak penutur kisah, rentan menjadi naratif yang mendikte dan searah.
Film-film Anggi Noen sebelumnya mampu menjelajahi kapasitas puisi sinematik. Film-film
Anggi Noen sebelumnya mampu menjelajahi kapasitas puisi sinematik. Vakansi
yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012), Istirahatlah Kata-Kata (2016), dan
Hiruk-Pikuk si Alkisah (2019) dipenuhi long take dan depth of field
ruang-ruang sunyi. Mise en scène (hal-hal yang sengaja ditempatkan
dalam “panggung” sinematik atau segala yang ada dan terlihat dalam frame)
jadi tumpuan. Keaktoran dalam ketiga film itu bertumpu pada kehadiran tubuh
untuk dilihat, bukan pada kata-kata yang meminta disimak. Laut
Bercerita terasa lebih prosaik. Jika kita perhatikan, 24 Jam Bersama Gaspar
(2023) berwatak serupa. Sesama alih wahana dari novel, sama-sama didominasi
kata-kata. Tapi, dalam Gaspar, Anggi berhasil mengeksploitasi mise en scène
berupa tata-artistik, setting, kostum, sinematografi, dan wewarna untuk
membangun sebuah dunia distopia di sebuah Indonesia yang entah. Dalam
Laut Bercerita, Indonesia di layar adalah sebuah dunia dalam dominasi warna
sepia yang sering tampak kusam, semacam kenangan dalam cetakan foto 1990-an
yang terancam pudar. Apakah ini bisa kita baca sebagai metafora visual
ancaman menguapnya kenangan kolektif kita pada rezim Orde Baru yang bengis
itu? Komposisi
gambar jarang ada dalam wide shot atau extreme wide shot. Jikapun ada, sering
kali itu untuk adegan penuh orang (demonstrasi) atau barang dan dinding (di
dalam ruang tertutup, seperti markas mahasiswa dan penjara rahasia tempat
Laut disiksa). Karena itu, secara keseluruhan, film ini sering terasa
klaustrofobik. Apakah ini sebuah metafora visual betapa rakyat pada periode
itu begitu tersekap dan sesak? Film ini
adalah sebuah konsekuensi logis posisi penting novel Laut Bercerita karya
Leila S. Chudori. Novel ini pertama kali dicetak pada 2017. Saat film ini
tayang, bukunya telah dicetak 124 kali. Angka itu sendiri telah mengukuhkan
posisi penting novel tersebut: praktis ini novel Indonesia yang paling banyak
dicetak ulang sepanjang sejarah sastra modern kita. Lebih
dari itu, novel tersebut makin sering dianggap sebagai pemantik percakapan
tentang orang hilang dan kekerasan terhadap warga oleh negara selama masa
kekuasaan Presiden Soeharto. Sering melintas di laman media sosial saya, “gen
Z” menyatakan baru tahu adanya kekejaman Orde Baru dari novel itu. Saya
kira film ini bisa lebih efektif daripada novelnya dalam mensimulasi cekam
kejam Orde Baru. Semata soal medium. Dalam gelap bioskop, tata suara dalam
pelantang Dolby Stereo atau Surround, slow motion, dan editing yang kadang
serba mengejutkan, adegan seperti penangkapan Biru Laut Wibisana—nama lengkap
Laut—di rumah susun dan penyiksaan di penjara rahasia bisa terasa amat
menghantam indra penonton. Walau
demikian, hemat saya, kekerasan dalam film ini masih terasa agak menahan
diri. Durasi penyiksaan dan keadaan buron penuh kecemasan sebelum penangkapan
terlalu singkat untuk bisa melesap menjadi pengalaman tubuh penonton. Film
ini lebih banyak mengisahkan rangkaian peristiwa sebelum dan sesudah
penghilangan Laut dan tiga kawannya. Sedangkan adegan-adegan penyiksaan itu
diperlunak oleh begitu banyak stilisasi. Misalnya sudut pandang kamera dari
balik kain penutup wajah Laut saat ia dibawa ke ruang penyiksaan. Meski
demikian, memori tubuh saya yang hidup pada era Orde Baru langsung tersentuh.
Ya, saya ingat, itu adalah rezim yang menormalisasi kekerasan lewat
penembakan misterius atau petrus, penumpasan jemaah Amir Biki di Tanjung
Priok, dan penghilangan orang yang berdemo. Saya membaca dari jauh perlawanan
rakyat Kedung Ombo serta perburuan aktivis seusai kerusuhan 27 Juli 1996. Saya
ingat 1998. Saya ingat negara lebih kejam dari yang digambarkan Laut
Bercerita. Sedangkan
bagi gen Z serta semua yang lahir setelah 1998 dan tak memiliki memori tubuh
warga Orde Baru, bagaimanakah tubuh mereka merespons gambaran kekerasan
negara di film ini? Saya
ingat juga, suatu ketika, dalam sebuah acara Ikatan Penerbit Indonesia,
sebelum masa pandemi Covid-19—saya lupa persisnya kapan—A.M. Fatwa, tokoh
oposisi rezim Soeharto yang dicekal dan dipenjara, berkata bahwa “waktu itu
Soeharto hanya khilaf”. Betapa mudahnya kita melupakan. Betapa mudahnya
ingatan akan gelombang penghilangan dan kekerasan terhadap korban dibeli
dengan jabatan agar dilupakan. Film ini
mengingatkan bahwa ada perlawanan terorganisasi pada saat itu. Sayangnya,
film ini menyodorkan gerakan itu sebagai sesuatu yang terberi. Laut memasuki
arsitektur gerakan yang telah menjadi bangunan rapi. Dia seakan-akan begitu
saja paham bagaimana berfungsi dalam sebuah gerakan yang tampak begitu sibuk. Kinanti
(Dian Sastrowardoyo) hadir di layar sudah “jadi” sebagai orang gerakan
jagoan, dan tersenyum-senyum simpul ala pendekar ketika seorang peserta
diskusi bertanya, “Ada apa di Blangguan?” Kinanti merekrut Laut di warung
mahasiswa dengan sebuah kalimat gagah, “Yang membedakan senjata mahasiswa dengan
senjata wartawan… adalah: tin-dak-an.” Apakah
menulis bukan “tindakan”? Tokoh pergerakan masa kolonial sejak Tirto Adhi
Soerjo, Tjokroaminoto, Tan Malaka, Sukarno, Mohammad Hatta, dan banyak
lainnya tak pernah mempertentangkan menulis dengan aksi massa. Menulis adalah
mengorganisasi pikiran, sebuah bagian organik dari organisasi perlawanan. Tentu
saja kita tak bisa membebani sebuah film secara berlebihan. Apalagi film ini
dengan tegas menempatkan diri sebagai fiksi. Ini memunculkan semacam déjà vu,
seperti ketika saya menonton Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008): novelis dan
para pembuat filmnya menari di antara keleluasaan fiksi menekuk realitas, dan
kekuatan klaim “kisah nyata” untuk “menginspirasi”. Leila
menegaskan dalam sebuah preview terbatas, novelnya dan film ini adalah fiksi.
Tapi petikan berita Soeharto lengser di bagian akhir film menjangkarkan
kembali film ini pada sejarah dekat kita pada 1998. Reformasi
1998, meminjam istilah Jean Baudrillard tentang 11 September 2001 dalam Le
Monde edisi 2 November 2001, adalah “peristiwa absolut” atau “ibu dari segala
peristiwa sesudahnya” bagi orang Indonesia. Hampir setara dengan tragedi
1965. Yang
jelas, film ini mengingatkan bahwa pernah ada situasi ketika negara memiliki
kuasa mutlak atas kekerasan terhadap warganya. Sedemikian rupa kemutlakan itu
sehingga, untuk mendapatkan kebebasan minimum dalam mengupayakan perubahan
sosial-politik, warga harus mengorganisasi diri sebagai “Organisasi tanpa
Bentuk”. Akan halnya kebengisan negara ketika itu, laporan
jurnalistik-menyelidik dan reflektif edisi khusus Tempo, “5 Tahun Reformasi”
(2003), patut dibaca lagi sebagai salah satu rujukan setelah menonton film
ini. Apakah
kita dalam situasi demikian saat ini? Mungkin belum, tapi nyaris. Saya merasa
kenyataan kita kini mirip situasi pra-Malari (Malapetaka Lima Belas Januari,
peristiwa demonstrasi dan kerusuhan besar di Jakarta pada 15-16 Januari
1974). Saat itu rezim telah melakukan pemusatan ekonomi dan politik, tapi
katup-katup ekspresi dan kritik masih terbuka walau telah penuh ancaman hukum
ataupun pembungkaman di bawah meja. Seusai Malari, mahasiswa dan organisasi
kemasyarakatan, juga seniman, dilarang berpolitik secara mutlak dan militer
menerapkan larangan itu dengan ketat. Film ini
menjadi penting dalam konteks tersebut: upaya melawan lupa, agar kita
tersadar sedang di tubir kembalinya situasi itu. ● Sumber : https://www.tempo.co/hiburan/laut-bercerita-penculikan-mahasiswa-dan-kekerasan-1998-2301216 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar