Jumat, 11 November 2016

Trump dan Awal Kemunduran Amerika

Trump dan Awal Kemunduran Amerika
I Basis Susilo  ;   Dosen Mata Ajaran Sistem Politik AS
pada Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga
                                                    KOMPAS, 10 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Keberhasilan Donald Trump memenangi kontestasi dalam Pilpres Amerika Serikat, Selasa (8/11/2016), mengkhawatirkan masa depan bangsa Amerika. Kemenangan itu bisa jadi tanda dari awal proses kemunduran bangsa yang jadi adidaya sejak akhir Perang Dunia II itu karena dalam menghadapi tantangan zamannya mereka tak bersikap dan tak bertindak sesuai dengan nilai-nilai dasar yang dipegang, dianut, dan diperjuangkan oleh bangsa itu. Sebutlah seperti pluralisme, individualisme, demokratis, kebebasan beragama, dan meritokrasi.

Dengan bicara kasar, rasis, serta menyudutkan penganut agama Islam dan anti-imigran, seperti akan membuat tembok bagi imigran dan melarang warga Suriah masuk negerinya, Trump pada dasarnya melanggar khitah bangsa Amerika sebagai bangsa imigran yang berslogan: ”siapa pun boleh, bebas hidup dan berjuang di Amerika tanpa melihat agama, ras, golongan, warna kulit, dan asal-usul”.

Bangkit dan jatuh

Bagi orang yang belajar sejarah dunia, bangkit dan jatuhnya suatu bangsa itu wajar. Negara dominan atau adidaya atau imperium sudah ada silih berganti. Ada imperium Mesir, Turki, Yunani, Romawi, Inggris dan sekarang ini Amerika Serikat.

Banyak sudah teori tentang faktor bangkit dan jatuhnya suatu bangsa. Arnold Toynbee, sejarawan Inggris yang terkenal dengan teori challenge and response, menjelaskan bangsa yang secara cepat dan tepat merespons setiap tantangan zamannya akan bangkit. Yang tidak mampu merespons tantangan akan jatuh dan tersingkir.

Montesquieu, filsuf Perancis yang terkenal dengan teori evaluasi-diri, menjelaskan bangsa Romawi jadi kuat ketika mempunyai mekanisme evaluasi-diri yang berfungsi baik, sehingga kesalahan dan kekurangan segera bisa diketahui dan diatasi sehingga tidak menjadi penyakit yang melemahkan diri-bangsa itu. Ketika mekanisme evaluasi-diri tidak jalan, maka bangsa itu melemah, mundur, dan mudah dikalahkan oleh bangsa-bangsa lain.

AFK Organski, sarjana hubungan internasional yang terkenal dengan teori transisi kekuasaan (power transition theory), menjelaskan kemajuan suatu bangsa itu ditentukan tiga faktor utama: jumlah penduduk, tingkat teknologi, dan kapasitas politik. Namun yang lebih penting, menurut Organski, kemajuan bangsa lebih bersifat endogen (berasal dari dalam diri sendiri). Faktor dari luar (eksogen) hanya bersifat membantu, bukan menentukan.

Dengan semangat dari dalam diri sendiri (endogenous) itu, suatu bangsa bangkit dan maju, kendati harus mengalami kalah perang seperti halnya Jerman dan Jepang. Kata Organski, rekonstruksi kekalahan perang paling hanya berlangsung satu generasi, setelah itu maju dan berkembang cepat.

Reputasi Amerika

Bangsa Amerika dikenal punya rekam jejak hebat dan reputasi dalam mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapinya. Menghadapi ancaman perang saudara di pertengahan abad ke-19, dipimpin Abraham Lincoln bangsa itu tak hancur, tetapi justru lebih kuat dan bersatu.

Menghadapi masa depresi tahun 1930-an, bangsa itu tidak limbung, tetapi bahkan berhasil mengendalikan kapitalisme dengan memperkuat jejaring pengamanan sosial dalam program New Deal-nya Franklin D Roosevelt dan social security number.Menghadapi tantangan komunisme Uni Soviet, dipimpin Dwight Eisenhower, John F Kennedy dan Ronald Reagan, bangsa Amerika berhasil mengatasinya sehingga menjadi pemenang Perang Dingin pada akhir 1980-an.

Semua pemimpin Amerika Serikat itu menghadapi tantangan dengan sikap kritis, berani, dan terutama mengandalkan nilai-nilai dasar bangsa Amerika. Hasilnya, Amerika muncul sebagai adidaya saat ini.

Namun, Trump justru kini hadir dalam dinamika politik dengan tawaran solusi yang tidak didasari nilai-nilai dasar bangsa Amerika itu. Sikap, apalagi tindakan, yang berlawanan dengan nilai-nilai dasar bangsanya itu berpotensi melemahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa. Nah, ketika sendi-sendi dasar kehidupan bangsa itu tergerus atau terganggu, bisa dipastikan bangsa itu akan goyah. Ketika sendi-sendi dasar goyah, proses pelemahan dari dalam yang akan berlangsung.

Kalau mengikuti teori Toynbee, tampaknya bangsa Amerika saat ini keliru dalam melihat akar permasalahan yang menantang bangsa Amerika sehingga memunculkan respons yang tidak tepat seperti yang ditawarkan Trump. Mengikuti teori Montesquieu, bangsa Amerika saat ini juga sedang kehilangan kemampuan evaluasi-diri sehingga tidak jernih dalam melihat akar tantangan yang sedang dihadapi bangsanya. Mengikuti teori transisi kekuasaan Organski, kekuatan endogen bangsa Amerika sedang melemah karena mereka membiarkan sikap dan tindakannya dari calon pemimpinnya bertentangan dengan nilai-nilai dasar bangsanya.

Apakah kemenangan Trump ini menunjukkan bahwa bangsa Amerika sedang membiarkan dirinya masuk ke proses kemunduran dan pelemahan dari dalam? Bangsa adidaya itu tidak memilih untuk menjaga reputasinya selama ini sebagai bangsa yang selalu mampu mengatasi setiap tantangan yang dihadapinya saat ini dengan evaluasi-diri yang kritis dan dengan mengandalkan khitah bangsanya. Maka, pantaslah kalau kemenangan Trump ini menimbulkan pertanyaan: apakah memang bangsa Amerika sedang memasuki awal proses kemundurannya?