Kamis, 17 November 2016

Meredam Ketidakpastian

Meredam Ketidakpastian
Anton Hendranata ;   Chief Economist PT Bank Danamon Indonesia, Tbk
                                                    KOMPAS, 16 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam 10 tahun terakhir, dunia diwarnai berbagai kejutan dan cenderung melawan arus logika yang dianggap rasional. Kenapa ini bisa terjadi?

Berbagai prediksi cenderung meleset, walau itu dilakukan oleh lembaga riset yang kredibel dan mapan. Metode statistik dan ekonometrik yang sudah teruji bertahun-tahun, akurasinya seakan- akan sudah usang dan terjebak dalam kubangan kesalahan. Tak heran berbagai prediksi perekonomian terpaksa harus direvisi lebih sering, menunjukkan betapa kompleks dan dinamisnya ekonomi dunia bergerak.

Tahun ini, paling tidak ada empat kejadian yang menghebohkan dunia. Pertama, terpilihnya Duterte sebagai Presiden Filipina yang, maaf, eksentrik dan kontroversial. Selanjutnya Inggris keluar dari Uni Eropa. Indonesia, September spektakuler, periode I amnesti pajak tersukses di dunia dengan uang tebusan 0,8 persen terhadap PDB. Dan, yang terakhir dan spektakuler: Donald Trump terpilih sebagai presiden ke-45 AS. Menurut penelitian The Economist Intelligence (EIU), kemenangan Trump merupakan salah satu dari 10 risiko tertinggi yang dihadapi dunia.

Bukan suatu kebetulan

Krisis ekonomi dan moneter global 2008 meluluhlantakkan tatanan perekonomian global. Negara-negara maju yang sudah mapan satu per satu berjatuhan: dimulai dari AS, diikuti Jepang, Uni Eropa, dan Rusia. Tiongkok, yang biasanya pertumbuhan ekonominya pada level dua digit, terperangkap dengan pertumbuhan yang terus melambat.

Melihat deretan krisis ekonomi yang bertubi-tubi tersebut, ada baiknya kita sadar dan jangan mengeraskan hati bahwa serangkaian kejadian yang tidak masuk nalar adalah bukan kejadian yang kebetulan. Mungkin kita akan kembali dihadapkan kejutan dan keanehan berikutnya.

Paradigma dan fenomena dunia mulai bergeser menuju keseimbangan baru yang sulit terbayangkan oleh kita saat ini. Perekonomian dunia sedang bergerak menuju keseimbangan lain akibat suku bunga rendah dan negatif, disertai gencarnya mencetak uang melalui kebijakan quantitative easing (QE) di negara maju. Tak ada yang menduga dan terpaksa melanggar kaidah teori ekonomi, di mana suku bunga deposito negatif sudah terjadi di Jepang, Uni Eropa, dan Swiss. Bukan tidak mungkin, suatu saat suku bunga kredit yang negatif, artinya orang yang meminjam dapat insentif, di mana pengembalian utangnya akan berkurang dari nominal pinjaman awalnya.

Sudah delapan tahun kita beranjak dari krisis ekonomi global 2008, sayangnya pemulihan perekonomian dunia, terutama negara maju, jauh dari yang kita harapkan. Bahkan ada kecenderungan mereka ikut menekan perekonomian di belahan dunia lain di emerging markets.

Negara maju tampaknya akan sulit meraih kembali masa kejayaannya karena terjebak dalam hidup yang telanjur boros. Produksi negara maju menuju titik jenuh serta tidak mampu membiayai pengeluaran yang sudah telanjur tinggi.

Tenaga kerja sebagai salah satu komponen krusial dari input produksi makin sulit, mahal, dan langka. Penduduk usia produktif jauh lebih rendah daripada penduduk usia nonproduktif.

Utang yang seharusnya digunakan untuk membiayai kegiatan produktif tidak berjalan seperti yang diharapkan alias ”gali lubang tutup lubang”.

Menarik kita simak bersama pembengkakan utang negara maju. Dalam 10 tahun terakhir, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) negara maju sudah di atas 100 persen. Ini artinya, hasil produksi tidak mencukupi untuk membayar utang yang terus membengkak.

AS sebagai perekonomian terbesar di dunia, rasio utangnya tercatat 104 persen pada 2015, meningkat pesat dibandingkan tahun 2005, yaitu hanya 61 persen. Jepang sudah sejak lama rasio utangnya di atas 100 persen, Tahun 2005 tercatat 158 persen, terus melonjak menjadi 230 persen pada 2015. Lain lagi dengan zona Eropa, walaupun rasio utangnya terhadap PDB masih di bawah 100 persen, tren utangnya juga terus mengalami kenaikan dari 69 persen (2005) menjadi 91 persen (2015).

Mesti superwaspada

Tren kenaikan utang yang mengkhawatirkan tersebut makin membuat kita harus superwaspada jika melihat kemampuan membayar utang negara-negara maju tersebut, yang diproksi dengan rumus Z = (PDB + cadangan devisa) - utang luar negeri. Kemampuan bayar utang semakin lemah dan menuju kebangkrutan.

Pada 2005, AS nilai Z-nya 3.664 miliar dollar AS, turun signifikan 91 persen jadi 323 miliar dollar AS pada 2015. Jepang, nilai Z sekitar 2.386 miliar dollar AS tahun 2015, berkurang jauh dari 3.886 miliar dollar AS pada 2005. Paling mengkhawatirkan zona Eropa. Jika disuruh membayar utangnya saat ini, kawasan ini akan bangkrut karena utang luar negerinya melebihi PDB plus cadangan devisanya, di mana nilai Z-nya tercatat -1.888 miliar dollar AS pada 2015 dan ini sudah berlangsung sejak 2007 dengan nilai Z = -1.050 miliar dollar AS.

Dengan kondisi ini, menarik disimak kondisi perekonomian tahun depan. Saya kira perekonomian global masih lemah dan fluktuasi pasar finansial diperkirakan tidak jauh berbeda dari tahun ini. Berbagai prediksi menunjukkan tren hampir sama. AS diperkirakan semakin membaik pada 2017, dengan pertumbuhan ekonomi 2 persen-2,2 persen dari 1,5 persen pada 2016. Sementara Uni Eropa masih mengalami pelambatan, hanya tumbuh 1,3 persen dari 1,7 persen pada 2016. Sementara Jepang masih terlihat stagnan dengan pertumbuhan ekonomi 0,8 persen pada 2017.

Pada 2017, kelihatannya hanya AS yang jadi motor penggerak perekonomian global. Tiongkok masih berkutat dengan pelambatan ekonominya. Pertanyaan yang menarik adalah mampukah AS jadi pemimpin pemulihan perekonomian global dengan presiden barunya? Menurut hemat saya, rasanya agak berat hanya bertumpu pada AS, pundak AS tak sekuat 10 tahun lalu. Kekuatan ekonomi AS kian lemah, ini terlihat dari peranan PDB AS terhadap dunia yang menurun, dari 28 persen pada 2005 jadi 24 persen pada 2015. Hal ini berkebalikan dengan Tiongkok yang pengaruhnya makin besar, jadi 15 persen pada 2015 dari 5 persen pada 2005. Makin lemahnya peranan AS dibandingkan Tiongkok juga terlihat dari rasio PDB AS terhadap PDB Tiongkok, yaitu 6 persen pada 2005, menurun menjadi 2 persen pada 2015.

Oleh karena itu, jika perekonomian global ingin pulih lebih cepat, perekonomian Tiongkok harus menggeliat bersama-sama dengan AS. Kebijakan moneter dan fiskal serta perdagangan tiap negara harus sinkron satu dengan yang lainnya dan harus diikuti oleh negara lainnya. Harmonisasi dan sinkronisasi kebijakan menjadi syarat mutlak antarnegara. Ego kebijakan dari suatu negara yang hanya berpihak pada perekonomian domestik, rasa-rasanya akan makin membawa aib kehancuran perekonomian global.

Mari kita tunggu keseimbangan baru perekonomian dunia, yang saling menguntungkan semua pihak ataukah dunia makin terpuruk karena termakan egosentris? Sudah saatnya dominasi politik dikurangi yang cenderung menghambat ruang gerak ekonomi dan mendistorsi pemulihan ekonomi dunia.