Kamis, 17 November 2016

Alarm Neraca Perdagangan

Alarm Neraca Perdagangan
Muhammad Syarif Hidayatullah ;   Peneliti Wiratama Institute
                                                    KOMPAS, 16 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Melanjutkan tren 2016, neraca perdagangan Indonesia kembali surplus. Pada September 2016, neraca perdagangan Indonesia surplus 1.216 juta dollar AS. Angka tersebut merupakan surplus terbesar pada tahun 2016, meningkat sekitar 900 juta dollar AS dibandingkan Agustus 2016.

Walaupun surplus terjadi, ekspor dan impor mengalami kontraksi berturut-turut sebesar 1,84 persen (month-on-month/mom) dan 8,78 persen (mom). Dibandingkan September 2015, ekspor ataupun impor sama-sama mengalami penurunan, berturut- turut 0,59 persen dan 2,2 persen. Dengan demikian, bisa dibilang kinerja ekspor dan impor Indonesia pada tahun 2016 relatif rendah. Hal ini terlihat pada kinerja periode Januari-September 2016, yaitu ekspor mengalami kontraksi 0,59 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, sedangkan impor mengalami penurunan hingga 9,41 persen, sedangkan impor mengalami penurunan 8,61 persen.

Data menunjukkan bahwa surplus neraca perdagangan yang terjadi selama 9 bulan terakhir tidak menunjukkan perbaikan dari sektor ekspor Indonesia. Surplus lebih disebabkan kontraksi pada impor lebih besar dibandingkan dengan ekspor. Hal ini merupakan alarm bagi Indonesia. Turunnya impor merupakan salah satu sinyal permasalahan perekonomian. Impor pada umumnya pro siklikal karena impor elastis terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Neraca perdagangan dipengaruhi banyak faktor, seperti kondisi perekonomian negara mitra, pertumbuhan ekonomi negara, kurs, dan inflasi. Pertumbuhan PDB nasional yang tinggi biasanya akan menyebabkan defisit karena impor elastis terhadap pertumbuhan PDB. Hal ini dapat terjadi karena pertumbuhan PDB yang tinggi meningkatkan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya akan meningkatkan permintaan barang impor.

Faktor lain yang memengaruhi neraca perdagangan adalah kurs. Umumnya, apabila nilai tukar kuat, ekspor akan turun dan impor akan naik sehingga defisit akan semakin lebar. Kuatnya nilai tukar membuat daya saing dari produk nasional menjadi turun karena harganya akan lebih mahal.

Di sisi lain, kuatnya kurs membuat harga barang impor akan semakin murah sehingga permintaannya akan meningkat. Inflasi juga mengambil peran karena akan memengaruhi nilai riil dari mata uang.

Sinyal kuat pelemahan

Ekspor migas Indonesia mengalami pukulan telak pada periode September 2016. Ekspor migas mengalami kontraksi sebesar 6,79 persen (mom) dan 26,97 persen (year-on-year/yoy). Selama tahun 2016 (Januari-September), ekspor migas Indonesia turun 32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ekspor nonmigas Indonesia tidak jauh berbeda. Pertumbuhan tahunannya (yoy) memang mengalami kenaikan 2,85 persen, tetapi pertumbuhan bulanannya (mom) mengalami penurunan sebesar 1,35 persen dan pertumbuhan selama tahun 2016 (Januari-September) turun 6,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Impor mengalami penurunan yang lebih dalam dibandingkan ekspor. Impor migas Indonesia mengalami kontraksi sebesar 8,88 persen (yoy) dan 2,97 persen (mom). Sementara kinerja selama 2016 juga jauh dari harapan, mengalami penurunan 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas juga mengalami penurunan 0,95 persen (yoy) dan 9,77 (mom). Selama 2016, impor nonmigas turun 4,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Satu hal yang perlu menjadi perhatian dari sisi impor adalah besarnya kontraksi pada impor bahan baku penolong industri dan barang modal. Selama tahun 2016 (Januari-September), impor bahan baku penolong industri dan barang modal mengalami penurunan berturut-turut sebesar 9,8 persen dan 12,66 persen. Hal ini patut menjadi catatan serius bagi pemerintah karena merupakan sinyal lesunya industri di Indonesia.

Lesunya perekonomian global, turunnya permintaan domestik, menyebabkan industri menahan investasi dan mengurangi kapasitas produksi. Data lain yang menunjukkan tren ini adalah melambatnya pertumbuhan inventori korporasi di Indonesia. Pada periode 2010-2013, pertumbuhan inventori perusahaan di Indonesia 40-60 persen (yoy). Pada kuartal II-2016, pertumbuhan inventori perusahaan hanya sekitar 5 persen.

Mendongkrak ekspor

Ekspor Indonesia masih tertekan karena sejumlah faktor. Untuk mendongkrak kinerja ekspor bukanlah pekerjaan satu malam. Ada dua langkah yang dapat dilakukan. Pertama, memperbaiki kinerja industri, kedua melakukan diversifikasi.

Guna mendongkrak kinerja ekspor Indonesia perlu melakukan reformasi struktural dan memperbaiki kinerja sektor industri. Dalam jangka pendek dan menengah, pekerjaan utama pemerintah agar dapat memperbaiki kinerja sektor industri adalah dengan memperbaiki daya saing.

Peringkat daya saing Indonesia, sebagaimana yang tercantum pada Global Competitiveness Report (GCR), kembali mengalami penurunan, dari peringkat ke-37 turun menjadi peringkat ke-41. Artinya, selama dua tahun berturut-turut Indonesia mengalami penurunan peringkat. Sejumlah parameter mengalami penurunan drastis yang akhirnya membuat peringkat daya saing Indonesia turun.

Contohnya, peringkat pelayanan kesehatan yang turun 20 peringkat menjadi peringkat ke-100, dan peringkat pemanfaatan teknologi yang turun enam peringkat menjadi peringkat ke-91. Secara keseluruhan, peringkat Indonesia masih di bawah Malaysia (25) dan Thailand (38).

Meskipun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla telah menjadikan percepatan pembangunan infrastruktur sebagai program prioritas pemerintahannya, sejumlah indikator masih menunjukkan penurunan. Contohnya, peringkat logistik Indonesia, mengalami penurunan dari peringkat ke-53 tahun 2014, menjadi 63 tahun 2016 (Bank Dunia, 2016). Salah satu indikator yang mengalami penurunan terbesar adalah kualitas infrastruktur pendukung logistik, yang pada tahun 2014 mencapai 2,92 turun menjadi 2,65 pada tahun 2016.

Laporan GCR juga menunjukkan tren serupa, dengan peringkat infrastruktur Indonesia berada pada urutan ke-56 tahun 2014 dan posisi ke-60 pada 2016. Secara lebih detail, sejumlah parameter yang membentuk peringkat infrastruktur juga mengalami penurunan. Seperti kualitas jalan (turun tiga peringkat) dan kualitas pasokan listrik (turun lima peringkat).

Indonesia butuh menggenjot pembangunan infrastruktur guna mendorong pertumbuhan dan meningkatkan daya saing. Anggaran pemerintah pusat untuk belanja modal memang meningkat tajam seiring dikuranginya subsidi energi, tetapi kemampuan penyerapannya masih jauh dari harapan. Realisasi belanja modal pada APBN 2015 hanya mencapai 78 persen.

Jika melihat data realisasi, memang terjadi peningkatan hingga 46 persen dibandingkan tahun 2014, atau meningkat dari Rp 147 triliun menjadi Rp 215 triliun. Namun, peningkatan tajam ini lebih karena realisasi belanja modal 2014 yang kelewat rendah, atau mengalami kontraksi sebesar 18,33 persen dibandingkan realisasi 2013 yang mencapai Rp 180 triliun.

Jika dibandingkan tahun 2013, pertumbuhan realisasi belanja modal 2015 hanya sebesar 19,4 persen. Angka ini pada dasarnya cukup rendah, di bawah rata-rata pertumbuhan realisasi belanja infrastruktur pada periode 2010- 2013 mencapai 25,2 persen. Untuk tahun ini, hingga Juli 2016, realisasi belanja modal baru mencapai Rp 49 triliun, atau baru mencapai 16 persen dari APBN Perubahan 2016. Realisasi ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 18,9 persen.

Langkah kedua adalah diversifikasi. Pemerintah perlu melakukan diversifikasi dalam ekspor, baik pada sisi negara tujuan maupun produk. Selama ini Indonesia mengandalkan ekspor ke sejumlah pasar tradisional, seperti Amerika Serikat (12 persen), Tiongkok (10 persen), dan Jepang (10 persen).

Padahal, kondisi perekonomian ketiga negara tersebut yang masih jauh dari stabil membuat permintaan akan produk Indonesia akan terus tertekan. Oleh sebab itu, Indonesia perlu mengembangkan pasar ke negara-negara Amerika Latin dan Afrika.