Kamis, 17 November 2016

Fundamentalisme di Amerika

Fundamentalisme di Amerika
Budiarto Danujaya ;   Pengajar Filsafat Politik dan Diskursus Ideologi
pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia
                                                    KOMPAS, 16 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Akhirnya, kita mafhum betapa samar pemahaman kita mengenai politik Amerika Serikat. Media massa terlalu sibuk mencatat praktik dan pekik retorik mereka, terlalu khusyuk menghiraukan politik ”permukaan” mereka, sehingga luput memahami—pinjam istilah Slavoj Zizek (2008)—”suplemen arus bawah yang karut” (obscene underside supplement) dari realitas sosio-politik nyata mereka.

Kita kecele. Kepala kita dipenuhi retorika ilusif mengenai bangsa AS sebagai pemercaya individualisme-normatif sehingga lalu juga penggiat politik kebebasan dan keterbukaan, pluralisme, serta demokrasi. Nyatanya, Donald Trump jualah yang akhirnya memenangi pemilihan presiden pada 8 November lalu. Padahal, banyak pihak, dengan cemas dan gusar, terus mencatat celotehan kampanyenya yang rasis, menyudutkan pemeluk Islam, merendahkan kaum minoritas dan anti imigran, bias jender, bahkan isolasionis dan proteksionis.

Sehubungan dengan paradoks ini, bagai disambar petir kita mendengar penegasan Zizek hanya beberapa hari sebelum pilpres bahwa seandainya warga AS, dia akan memilih Trump. Bagi filsuf, yang dijuluki ”Elvis teori budaya” saking populernya ini, Trump memang cenderung fasis.

Pemanggungannya saja, baginya, sudah lelucon. Betapapun, dengan memungkinkan manusia semacam Trump menjadi calon presiden saja, bagi Zizek, sudah bukti nyata betapa politik AS sekarang memang sudah konyol. Seturutitu, baginya, kalaupun terbukti fatal nanti, kekonyolan ini justru akan menyadarkan segenap pihak dalam politik AS, betapa mendesaknya melakukan perubahan mendasar menuju politik yang lebih emansipatoris.

Hipermaskulin koboi putih

Terlepas dari sinismenya yang kental, kita menyaksikan kecemasan Zizek akan gelombang pasang politik kanan radikal di AS yang berkecenderungan fasis itu, setidaknya telah terbukti memenangi pilpres. Bagai hendak menertawakan lembaga-lembaga survei, pembalikan diametral hasil gelombang pasang ini bahkan seolah tak tersidik siapa pun sampai ke detik-detik terakhir menjelang pilpres.

Betapapun, kiranya perlu dicatat, sesungguhnya gelombang pasang tersebut bukanlah gejala baru ataupun sepenuhnya tak disadari. Setidaknya, William E Connolly, profesor ilmu politik terkemuka dari Universitas Johns Hopkins, telah jauh hari mengingatkannya. Connolly menggambarkannya sebagai gejala fundamentalisme hipermaskulin koboi (cowboy) urban kulit putih.

Dalam The Ethos of Pluralization (1995), tempat judul tulisan ini meminjam salah satu judul babnya, Fundamentalism in America, Connolly memperlihatkan embrio proses panjang terbentuknya gejala ini. Di satu sisi, perasaan dikhianati dan dendam bersama kaum Gereja Baptis Selatan muncul setelah kekalahan dalam perang saudara 1861-1865. Di sisi lain, dendam sosial dan hipermaskulinitas terbentuk pada kalangan pekerja pria kulit putih utara lantaran politik liberalisme kesejahteraan mulai akhir 1960-an cenderung meninggalkan kepentingan mereka.

Sejumlah peristiwa sejak awal 1970-an, seperti kekalahan di Vietnam, gerakan hak-hak sipil dan aksi afirmatif dalam ras dan jender, perubahan program negara kesejahteraan menjadi Great Society, serta peralihan paradigmatis pekerjaan industrial menjadi jasa, dengan berbagai akibat masing-masing memukul beruntun mereka. Kesemuanya mengganggu kesetimbangan ketersediaan-kebutuhan (supply- demand) lapangan kerja.

Ketersediaan lapangan kerja menciut sehingga bukan hanya menipiskan rasa aman kerja, melainkan juga meningkatkan ancaman pengangguran. Ini jelas mengacaukan idolatry kaum pekerja lelaki kulit putih akan bayangan mereka sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab.

Bagi Connolly, kedua anasir sosiopolitik ini mudah mengalami konvergensi lantaran persamaan sosok ”lawan”-nya. Inilah yang terus dieksploitasi kalangan presiden konservatif, mulai dari Richard Nixon, Ronald Reagan, sampai George Bush. Mereka cuma terus memoles lebih halus retorika rasialis kebijakan terhadap kaum ”keteter” itu.

Sebagai contoh, kebijakan serangan terhadap program sosial dari rezim kesejahteraan demokrat lalu dipoles jadi ”kecurangan kesejahteran”, ”kaum miskin yang bertanggung jawab”, atau ”ketakefisienan pemerintah”. Sementara Partai Republik, mereka sebut sendiri sebagai partai ”orang Amerika yang normal”.

Maksud sofistikasi itu sangat gamblang. Mereka merasa berhadapan dengan liyan (the other) miskin yang tak bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri. Liyan miskin ini hanya mengandalkan bantuan negara, dan karena itu curang lantaran menimpakan bebannya kepada kaum kaya yang harus bayar pajak lebih progresif. Sehubungan dengan itulah, mereka lalu juga dituding membuat pemerintah tak efisien. Liyan semacam ini, bagi mereka, tidak mencerminkan perilaku masyarakat AS yang wajar.

Politik ketakutan

Dalam latar gelombang pasang fundamentalisme hipermaskulin koboi urban berkulit putih inilah, kita lalu bisa sedikit lebih memahami kemenangan ”mendadak” Trump, yang seolah tak nyambung dengan kecenderungan diametral ramalan sejumlah survei ataupun amatan.

Tentu saja, juga banyak unsur Hillary Clinton yang secara tak langsung ikut membuat Trump menang. Kita bisa menyebut mulai perkara surel yang menggoyahkan kredibilitasnya, tudingan kecenderungannya sebagai penjaga status quo, politik luar negerinya yang dikhawatirkan telengas, ataupun kedekatannya dengan jejaring pengusaha besar serta konglomerasi finansial dan pasar. Betapapun, kiranya gamblang, kemenangan Trump bukanlah sebuah peristiwa keberuntungan, apalagi kebetulan.

Donald Trump, dengan sikap rasis, seksis, isolasionis, dan proteksionis, serta dengan tingkah kasar, ceplas-ceplos, dan konyol lain, yang semula bahkan dianggap membuatnya tak pantas menjadi sosok publik, terbukti merupakan sosok metaforis dari pemampatan anasir arus bawah yang karut dari sosiopolitik AS. Trump menang lantaran gelombang pasang banyaknya para pihak yang mengira akan bisa terwakili aspirasinya.

Mereka adalah pihak yang cemas rasa aman kerjanya akan tergerogoti, yang takut keamanan jiwanya sewaktu-waktu bisa terancam, yang bingung para elitenya lebih mengurusi pelosok jauh ketimbang nasib mereka sebagai warga negara, yang khawatir ”tetangga sebelah pagar” atau ”tetamu dari seberang” akan mencuri kesempatan hidup layak keluarganya. Jadi, mereka boleh jadi para pihak yang sudah lama merasa jenuh atas deraan kecemasan akan keselamatan diri dan/atau kesulitan ekonomidalam dasawarsa-dasawarsa belakangan.

Seturut itu, betapapun mengidap banyak anasir politik kemarahan, barangkali gejala ini lebih merupakan sebentuk politik ketakutan dalam berbagai wujud negatifnya. Terprovokasi sikap dan tingkah Trump, barangkali banyak pihak geleng-geleng kepala seraya bergumam menyebut kemenangannya sebagai irasional.

Namun, apa boleh buat, kemenangan itu absah adanya. Itulah demokrasi sebagai sekadar permainan angka, yang juga terjadi di mana-mana, termasuk di negeri kita. Oleh karena itu, barangkali, lalu yang terpenting adalah kesadaran kita atas moral cerita dari peristiwa ini: berhati-hatilah terhadap suplemen arus bawah yang karut dari sosiopolitik kita sendiri. Tidakkah kita kerap kali merasa betapa di negeri ini juga terdapat sementara pihak yang terkadang tersesat meniti di jalan yang bermiripan: diskriminatif, rasis, dan bias jender?