Kamis, 10 November 2016

Memahami Bahasa Agama

Memahami Bahasa Agama
Nasaruddin Umar  ;   Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta
                                         MEDIA INDONESIA, 08 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SUATU ketika Nabi akan memimpin salat magrib. Tiba-tiba salah seorang makmum kentut. Baunya sangat menusuk hidung. Nabi menunda takbir ihram lalu berbalik meminta sahabat yang kentut supaya segera keluar mengambil air wudu. Berkali-kali Nabi mengulangi perintahnya tetapi tidak juga ada yang keluar. Nabi tentu bisa saja mengetahui siapa di antara sahabatnya yang kentut, tetapi ia tidak ingin mempermalukan sahabatnya di depan umum.

Bau kentut itu seperti bau daging unta karena memang sorenya ada pesta di rumah salah seorang sahabat yang menyuguhkan daging unta. Waktu magrib sangat singkat, sementara belum ada yang mau keluar berwudu, akhirnya Nabi menggunakan bahasa diplomasi, "Siapa yang makan daging unta silakan keluar berwudu." Maka semua jemaah yang hadir dalam undangan pesta makan daging unta tadi ramai-ramai keluar berwudu.

Kalau hadis itu dipegang hanya teksnya, 'Siapa yang makan daging unta harus mengambil air wudu', tidak dihubungkan dengan konteksnya, maknanya bisa berarti unta najis karena membatalkan wudu. Malapetaka bagi masyarakat padang pasir ketika itu jika unta dinyatakan najis. Satu-satunya alat transportasi efektif ketika itu ialah unta. Jika dinyatakan najis atau membatalkan wudu bagi yang memakan atau menyentuhnya, sama dengan anjing atau babi, tentu itu merugikan umat.

Di sinilah pentingnya mengkritisi sebuah dalil. Apakah teks dalil agama itu memiliki historical background atau tidak? Apakah menggunakan lafaz umum atau khusus? Kalau hadis, apakah tidak bertentangan dengan ayat-ayat Alquran? Apakah teks dalil agama itu sudah di-mansukh atau dihapus hukumnya lalu digantikan hukum lain dalam dalil lain? Bagaimana kualitas kesahihan dalil agama (hadis) itu? Hal yang tak kalah penting ialah apa konteks munasabah dalil agama itu? Setelah mamahami ini semua, baru kita mendeklarasikan maksud dalil agama itu kepada publik.

Dalam Alquran, selalu kita diingatkan untuk menggunakan bahasa santun, bijaksana, dan penuh kearifan. Bahasa yang baik akan melahirkan masyarakat yang baik. Sebaliknya, bahasa yang buruk akan melahirkan masyarakat yang buruk. Itulah sebabnya tidak kurang dari delapan tempat di dalam Alquran mengingatkan kita agar menggunakan bahasa yang santun, jelas, proporsional, dan terukur.

Terhadap kedua orang tua atau yang kita anggap sebagai senior kita, Alquran mengingatkan kita untuk menggunakan bahasa yang mulia (qaulan kariman), '... ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia' (QS al-Isra'/17:23). Terhadap anak-anak dan para junior, kita menggunakan bahasa yang baik dan populer (qaulan ma'rufan), '... ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik' (QS al-Nisa'/4:5). Untuk pengungkapan data dan fakta, kita diminta untuk menggunakan bahasa yang tepat dan valid (qaulan sadidan): '... hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar' (QS al-Nisa'/4:9).

Terhadap kelompok oposisi atau kaum munafik, kita diminta menggunakan bahasa yang komunikatif (qaulan baligan), '... katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka' (QS al-Nisa'/463). Terhadap orang yang kasar dan jahat, tetap kita diminta menggunakan bahasa lemah lembut (qaulan layyinan), '... maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut' (QS Thaha/20:44).

Terhadap kelompok yang dianggap musuh pun, kita tetap diminta untuk menggunakan bahasa yang pantas (qaulan maisuran), '... katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas' (QS al-Isra'/17:28). Tuhan meminta kita untuk menghindari bahasa yang keras (qaulan ‘adhiman), '... Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya)' (QS al-Isra'/17:40). Hanya Tuhan yang berhak menggunakan bahasa yang berat (qaulan tsaqilan), '... Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat' (QS al-Muzzammil/73:5).

Jika petunjuk Alquran ini diindahkan kita semua, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat, warga bangsa, apalagi pemimpin, ketenangan dan ketenteraman serta kenyamanan dalam hidup kita akan terasa. Akan tetapi, jika sebaliknya, bila semua orang sudah terbiasa dengan bahasa yang tidak santun, bahkan cenderung kasar, mengadili, menghakimi, kurang ajar, menghina, dan memfitnah, atmosfer kehidupan bermasyarakat akan terasa sumpek dan membosankan. Seolah-olah tidak ada lagi space yang tenang bagi kita karena di mana-mana sudah terjangkau oleh alat komunikasi. Di sini perlunya pengaturan bahasa di dalam kehidupan masyarakat yang berbasis teknologi.

Sungguh sangat menyedihkan, katanya kita bangsa yang beragama, bangsa yang santun, bangsa yang beradab, tetapi bahasa komunikasi kita sedemikian kasarnya, sedemikian menyakitkannya, dan sedemikian vulgarnya. Seolah-olah kita sudah kehilangan kosakata santun, beradab, indah, dan bijaksana. Kosakata kasar jauh lebih laris daripada kosakata santun. Apa yang salah di dalam masyarakat kita? Mengapa di negeri yang mayoritas beragama Islam, tuntunan berbahasa di dalam ayat-ayat Alquran yang sedemikian rigid tidak diindahkan?

Bahasa agama mempunyai power luar biasa untuk pengembangan warga bangsa. Bahasa agama mampu membangkitkan andrenalin yang memungkinkan seseorang bisa mengoptimalkan kekuatan kerja yang dimilikinya. Akan tetapi, bahasa agama juga berpotensi menjadi pemicu yang amat dahsyat di dalam masyarakat, terutama jika salah mengutip atau mendiskreditkan dalil-dalil agama. Tentu lebih berbahaya lagi jika orang menyudutkan ayat-ayat suatu kitab suci yang bukan pegangan agamanya. Apa yang terjadi baru-baru ini semoga menjadi pelajaran bagi semua pihak.

Kita harus berhati-hati menyinggung kitab suci, apalagi kitab sucinya orang lain, demi merawat kerukunan antarumat beragama. Kita berharap kejadian yang baru lalu itulah peristiwa pertama dan terakhir di negeri ini. Jika seandainya ada kejadian serupa, sebaiknya pemerintah tidak boleh terlambat menanganinya dan masyarakat juga perlu mengendalikan diri dan mempersilakan pemerintah untuk mengambil langkah antisipasi. Masyarakat agar tetap menahan diri serta menyerahkan sepenuhnya kasus itu kepada pihak berwajib. Inilah arti sekaligus ciri sebuah masyarakat modern.