Jumat, 04 November 2016

Dua Penunggang Kuda

Dua Penunggang Kuda
M Subhan SD ;   Wartawan Senior KOMPAS
                                                    KOMPAS, 03 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dua penunggang kuda menjadi buah bibir. Bertopi laken, mirip koboi pada era wild west. Sama-sama banyak melempar senyum. Joko Widodo menunggang kuda putih bernama Salero dan Prabowo Subianto menunggang kuda coklat bernama Principe. Persis di pengujung Oktober, Senin (31/10), Presiden Jokowi bertemu Prabowo di kediaman Ketua Umum Partai Gerindra itu di Padepokan Garuda Yaksa di Bukit Hambalang, Kabupaten Bogor. Tak tersisa lagi rivalitas bebuyutan pada Pilpres 2014. Berbeda adalah dinamika demokrasi, tetapi kebersamaan adalah elan vital bangsa ini.

"Komunikasi berkuda" menyedot perhatian. Berkuda memang hobi Prabowo, mantan Danjen Kopassus pada era Orde Baru. Kuda (Equus caballus) adalah perlambang kekuatan dan keperkasaan. Secara kultural, kuda adalah simbol kebebasan dan kecerdasan. Secara filosofis, kuda melambangkan pengendalian. Penunggang kuda adalah pemegang kendali tali kekang. Para motivator kerap menyebut spirit kuda adalah kesetiaan, kepekaan, multifungsi, kerja tim, tidak meremehkan.

Dua penunggang kuda itu adalah pemilik dua kekuatan politik sah saat ini. Kekuatan-kekuatan politik lainnya yang terserak di mana-mana pada gilirannya bermuara pada dua kekuatan tersebut. Dalam tiga tahun ini, dua tokoh itu sudah tiga kali bertemu. Pada 17 Oktober 2014, sebelum dilantik menjadi presiden, Jokowi menemui Prabowo di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Giliran Prabowo menemui Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat, 29 Januari 2015. Kebersamaan mereka memberi teladan bagi praktik demokrasi.

Dari Hambalang, dua tokoh itu memberi pesan jelas. "Saya berharap tokoh-tokoh agama ikut mendinginkan suasana, memberikan kesejukan. Tokoh politik juga sama, mendinginkan suasana, memberi kesejukan," kata Presiden Jokowi. Prabowo menimpali, "Kita negara majemuk. Banyak suku, agama, ras. Kalau ada masalah, kita selesaikan dengan sejuk dan damai." Pesan ini jelas terkait rencana aksi unjuk rasa pada Jumat, 4 November untuk menuntut Basuki Tjahaja Purnama yang dituding menista agama, terkait ucapannya di Kepulauan Seribu.

Basuki yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat adalah petahana yang ikut Pilkada DKI Jakarta. Basuki-Djarot ditantang pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Suhu Jakarta pun terasa makin panas. Bisa jadi menyulut panggung nasional. Jokowi pun cepat bergerak. Selepas bertemu Prabowo, esok harinya, Jokowi bertemu tokoh-tokoh MUI, NU, Muhammadiyah. Prabowo juga bergerak dengan menemui tokoh politik seperti Presiden PKS, sekutu Gerindra di panggung politik nasional.

Hari yang sama mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyo- no bertemu Menko Polhukam Wiranto. Malamnya, Ketua Umum Partai Demokrat itu bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla. Rumor pun bertebaran. Apakah SBY mengklarifikasi karena diduga ada di balik rencana aksi besok? Jusuf Kalla tak percaya keterlibatan SBY. Esok harinya, SBY mengatakan, unjuk rasa terjadi karena protes soal Basuki tidak didengar. "Kalau (pendemo) sama sekali tidak didengar, diabaikan, sampai Lebaran kuda masih ada unjuk rasa itu," kata SBY.

Terminologi "kuda" lagi-lagi mencuat. Di Bukit Hambalang; dua penunggang kuda, yang satu Pemegang Kekuasaan Tertinggi TNI dan satu lagi mantan Panglima Kostrad, mengirim pesan: jaga persatuan bangsa. Mereka yang tidak peka, tidak setia, mau menang sendiri, suka meremehkan, malafungsi, bisa terdepak kaki-kaki kekar kuda. Mengutip Alice Walker, novelis dan aktivis pemenang Pulitzer 1983, bukankah, "Kuda membuat pemandangan terlihat begitu indah."