Rabu, 02 November 2016

Dampak Media Sosial terhadap Politisi dan Partai

Dampak Media Sosial terhadap Politisi dan Partai
Firman Noor ;   Peneliti Puslit Politik LIPI;
Research Fellow CSSIS, University of Exeter
                                                    KOMPAS, 01 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kasus diunggahnya video pernyataan kontroversial Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu ataupun kata-kata tidak senonoh Donald Trump pada tahun 2005, yang kemudian membuat kehebohan politik, memperlihatkan betapa besar peran media sosial dalam kehidupan politik.

Secara umum, kemajuan teknologi telah memberikan dampak luar biasa terhadap institusi dan perilaku politik dewasa ini. Meski belum dapat menggantikan peran media konvensional dan bersifat melengkapi (Zeh and Holtz-Bacha 2015), secara umum kehidupan politik saat ini telah makin bergerak dalam bentuk respons terhadap perkembangan media sosial (medsos) yang semakin tidak dapat dihindari itu.

Saat setiap kata terekam

Salah satu pihak yang terkena dampaknya adalah jelas para aktor politik atau politisi. Di satu sisi, medsos memberikan kesempatan yang luas bagi politisi untuk tidak saja eksis dalam kehidupan politik, tetapi juga melakukan sebuah akselerasi mobilitas vertikal secara cepat.

Dengan dukungan dan pengakuan publik yang luas itu, mereka mampu menerabas struktur partai sehingga memungkinkan seseorang yang tidak terlalu kuat kedudukannya dalam partai politik mampu meraih posisi puncak dalam pemerintahan, dengan melewati banyak senior dan tokoh penting dalam dunia politik, termasuk dalam partainya.

Kemenangan Barack Obama pada Pilpres AS 2008, seorang yang bahkan beberapa bulan menjelang Konvensi Partai Demokrat adalah sosok yang tidak dikenal, menandai kemenangan monumental medsos yang menandai era baru peran medsos dalam kehidupan politik AS.

Sementara dalam konteks kontemporer di Tanah Air, keberhasilan Jokowi dalam menapaki tangga politik juga merupakan bukti peran medsos yang mampu ”memaksa” petinggi dan senior partainya memberikan jalan kepadanya, yang dalam konteks keanggotaan partai politik masih relatif ”hijau” untuk menjadi kandidat gubernur dan presiden. Kasus yang sama juga terjadi di Kanada ketika Justin Trudeau—sosok politisi muda— mampu memenangi kursi pimpinan Partai Liberal Kanada. Itu kemudian memberikannya jalan untuk memegang tampuk pemerintahan tertinggi di negara tersebut. Medsos, sebagaimana dikatakan Guy Lachapelle (2015), memberikan pengaruh dukungan yang kuat dalam soal kepemimpinan politik dewasa ini, tidak saja dalam level partai, tetapi juga pemerintahan.

Namun, di sisi lain, medsos juga memiliki dampak lain bagi aktor politik. Dengan semakin terbukanya peluang setiap warga negara untuk menelaah dan menyaksikan sepak terjang seorang politisi secara lebih transparan, para politisi tidak dapat lagi menutupi jati dirinya. Bahkan, setiap pilihan kata, ekspresi, atau bahasa tubuh akan terekspos dan akhirnya menjadi pertimbangan publik dalam menentukan sikap dan pilihannya.

Terkait dengan hal ini, medsos sejatinya memaksa politisi lebih arif dan bijak, termasuk dalam bersikap dan memilih kata-kata. Kebutuhan ini jadi semakin mendesak karena masyarakat kerap menginginkan sosok yang demikian idealnya sebagai pemimpin mereka. Karena itu, kegagalan seorang kandidat dalam menjaga persoalan ini jelas akan memberikan konsekuensi yang akan merugikan dirinya. Menurunnya popularitas atau dukungan menjadi salah satu konsekuensi tersebut.

Dengan demikian, medsos dapat menjadi pisau bermata dua bagi seorang politisi. Di satu sisi, dia memberikan peluang untuk mengangkat derajat seorang politisi, tetapi di sisi lain dapat pula menghancurkannya.

Berakhirnya partai?

Dampak medsos kepada partai bersifat lebih kompleks. Di satu sisi, medsos memberikan kesempatan luas bagi setiap kader untuk membangun basis kekuatannya secara individual, yang pada akhirnya lebih dibutuhkan dalam meraih suara publik. Orientasi keluar inilah, ditambah dengan sistem pemilihan terbuka, mendorong munculnya individualisme dan mematikan kolektivisme internal.

Tidak itu saja, aktivitas politik individual-impersonal-pragmatis ini pada akhirnya berpotensi menyudutkan aktivitas standar yang wajib dilakukan seorang anggota partai sebagai bagian dari kaderisasi dan penjenjangan karier. Sebagai akibatnya, kaderisasi dan aktivitas kolektif dalam partai berpotensi meredup seiring makin maraknya pemanfaatan media sosial. Begitu pula dengan aktivitas politik door to door (Montigny, 2015). Selain itu, orientasi atas popularitas menjadi semakin berkembang di antara anggota partai ketimbang upaya mematangkan kualitas mereka. Tujuan meraih popularitas secara instan pada gilirannya dapat mematikan proses penjenjangan karier, yang dirancang sebenarnya justru untuk meningkatkan kualitas kader itu sendiri.

Lebih dari itu, pengedepanan individu menyebabkan masyarakat lebih terbiasa melihat figur ketimbang institusi (partai). Di Barat, fenomena ini terlihat, misalnya, dengan disebutnya pemerintahan dengan nama pimpinan pemerintahan, seperti, ”pemerintahan Blair”, ”pemerintahan Obama”, ketimbang disebut sebagai pemerintahan Partai Buruh atau pemerintahan Partai Demokrat. Dengan sejumlah fenomena ini, pertanyaannya, apakah memang era partai-partai akan segera berakhir?

Tampaknya tidak juga. Meskipun memberikan dampak negatif, keberadaan medsos juga dapat memberikan banyak keuntungan bagi eksistensi partai. Tidak saja medsos dapat membantu akselerasi karier kader-kader partai yang brilian, tetapi juga dapat mereduksi ketergantungan partai pada segelintir orang (oligarki).

Hal ini bisa terjadi mengingat medsos dapat menekan biaya sosialisasi dan kampanye menjadi semakin terjangkau oleh kader sehingga mengurangi beban pembiayaan politik, baik untuk dirinya maupun untuk partai. Kader pun pada akhirnya tidak terlalu bergantung pada elite partai, tetapi pada jaringan atau komunitas yang dimilikinya.

Kemudian, kedekatan pada masyarakat akan membantu menyebarluaskan ide-ide bernas kepada khalayak, yang menunjukkan ada kepedulian politisi dan partai kepada mereka. Pemanfaatan medsos yang cerdas jelas dapat juga membantu efektivitas komunikasi, seperti yang dikembangkan beberapa figur kepala daerah ternama, yang membantu membangun ikatan emosional yang kuat. Selain itu, medsos juga mendorong konten dari agenda politik menjadi lebih teruji secara rasional karena akan dikritisi khalayak.

Terlepas dari itu semua, keberadaan medsos di masa datang akan semakin memaksa partai-partai melakukan banyak perubahan dan penyesuaian. Keberadaannya jelas harus disambut dengan lebih terbuka dan profesional mengingat dampak positif yang mungkin dihasilkannya.

Kode etik

Di balik sejumlah dampaknya kepada politisi dan partai, medsos juga menimbulkan hal lain yang amat patut diperhatikan. Maraknya political buzzer yang (bahkan bersedia) terbeli juga jadi salah satu bagian lain dari fenomena medsos. Sayangnya, kerap hal ini dimanfaatkan partai secara salah. Belum lagi para political bullying yang bergentayangan menebar permusuhan dan tak mencerdaskan.

Akibatnya tidak saja kian redupnya etika berkata demi memengaruhi opini, tetapi juga menyebabkan masyarakat menjadi segan turut serta menyatakan pandangannya, atau malah terjebak konten-konten sampah dan manipulatif. Di masa datang, tampaknya perlu diatur sebuah kode etik agar maraknya aktivitas medsos lebih patut dan tak menghilangkan makna substansi demokrasi itu sendiri. Agar demokrasi dapat justru berkembang dengan sehat dan bukan tercederai keberadaan fenomena yang akan kian menjadi bagian dari kehidupan ini.