Senin, 11 Mei 2015

Kain dan Abil

Kain dan Abil

Trias Kuncahyono  ;  Penulis kolom “Kredensial” Kompas Minggu
KOMPAS, 10 Mei 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ini kisah tentang anak-anak Adam dan Hawa. Alkisah, pada suatu hari, Kain mencari cara untuk membunuh adiknya, Abil. Ia merasa sakit hati karena korban bakarannya tidak diterima Hyang Jagad Nata. Sebaliknya, asap korban bakaran Abil membubung tinggi mengangkasa, menembus langit sampai ke hadapan-Nya.

Iri dan sakit hati menguasai Kain. Ia benci pada Abil. Ia tidak mau hal itu terulang lagi. Untuk mencegah agar hal itu tidak berulang, hanya ada satu cara: Abil dihabisi. Maka, terjadilah apa yang diinginkan Kain. Ia membunuh Abil, adiknya.

Kain mengubur Abil di sebuah goa di puncak bukit dekat dengan parbatasan Suriah, Lebanon, dan Israel sekarang. Puncak bukit itu berada di Dataran Tinggi Golan. Dari sini, menurut sebuah kisah, nama Damaskus bermula.

Damaskus, ibu kota Suriah, dahulu kala bernama Damshak. Dam berarti darah, dan shak berarti terbelah, yang menunjuk pada tanah yang teraliri darah Abil menjadi terbelah. Pada kemudian hari, Damshak menjadi Damishk (dalam bahasa Arab) dan Damaskus (dalam bahasa Inggris). Jadi, kalau sekarang darah mengalir di bumi Damaskus (Suriah), tidak aneh.

Pembunuhan Abil menjadi pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia. Paus Yohanes Paulus II yang melacak budaya kematian hingga ke Kitab Kejadian menyatakan pembunuhan Abil bukan hanya pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia, tetapi juga pembunuhan primordial pertama sejak manusia diciptakan.

Setiap pembunuhan, sejak saat itu, merupakan sebuah pelanggaran terhadap pertalian keluarga spiritual yang menyatukan umat manusia dalam sebuah keluarga besar yang memiliki kesamaan martabat. Semua umat manusia adalah keturunan Adam dan Hawa. Karena itu, semua orang—terlepas dari apa ras, keyakinan, agama, suku, golongan, budaya, etnik mereka—adalah saudara.

Namun, budaya kematian yang diawali oleh Kain begitu kuat tertanam dalam kehidupan kita sekarang ini. Istilah ini, budaya kematian (lawan dari budaya kehidupan), mulai biasa digunakan setelah dikemukakan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1993.

Pengertian budaya kematian ini sangat luas. Namun, secara singkat dapat dikatakan sebagai budaya yang tidak hanya membolehkan, tetapi bahkan mendorong aborsi, eutanasia, pembunuhan, hukuman mati, pembalasan dendam, bunuh diri, perang, kloning manusia, sterilisasi manusia, dan masih banyak lagi yang menyangkut pada tindakan atau perilaku kejahatan, perilaku yang tidak mendorong budaya kehidupan.

Apa yang kita saksikan sekarang ini di Irak, Suriah, Nigeria, Somalia, Yaman, Ukraina, Afganistan, Palestina, dan beberapa bagian dunia lainnya—tempat kehidupan dan kemanusiaan tidak dihormati, tidak dijunjung tinggi—adalah contoh praktik budaya kematian. Hingga April lalu, paling kurang 31.000 orang tewas di Suriah sejak pecah perang pada tahun 2011.

Di Suriah dan Irak, kelompok bersenjata NIIS dengan kejam membunuh orang yang tidak sejalan dengan mereka. Di Nigeria, Boko Haram menculik perempuan-perempuan muda, menjual mereka, dan memperlakukan mereka secara tidak manusiawi. Di Somalia, Al-Shabab secara membabi-buta membunuh orang-orang tak berdosa. Di Afganistan dan juga Pakistan, kelompok-kelompok garis keras menebarkan bom serta kematian. Pesawat-pesawat tempur Israel mengebom Gaza.

Dan, darah Abil terus mengalir, mengejar keturunan Kain yang menebarkan kematian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar