Rabu, 16 November 2016

Trump dan Negara Berkembang

Trump dan Negara Berkembang
Muhamad Chatib Basri  ;   Guru Besar Tamu di Australian National University, Canberra, Australia
                                                    KOMPAS, 15 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

“If the world were clear, art would not exist", begitu tulis filsuf dan sastrawan Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus. Camus tentu tak menulis itu untuk menggambarkan ketidakpastian dunia saat ini. Ia bicara tentang hidup yang tak pasti.

Camus benar: tak ada jawaban tunggal untuk dunia yang gamang saat ini. Apalagi ketika ekonomi dunia-mungkin-memasuki keseimbangan baru. Saya sebut "mungkin" karena saya tak pandai benar untuk menyimpulkan.

Kita mencatat begitu banyak ketidakpastian: kemandekan ekonomi (secular stagnation) di negara maju, Brexit di Britania Raya, dampak kemenangan Trump, dan pelemahan ekonomi Tiongkok. Yang lebih memprihatinkan lagi, pertumbuhan perdagangan dunia diperkirakan hanya 1,7 persen tahun ini. Lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan 3,1 persen tahun ini. Ini merupakan yang terendah sejak krisis keuangan global tahun 2009.

Rentetan kejadian ini mengajak kita berpikir ulang tentang ekonomi dunia saat ini. Bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Beberapa minggu lalu, selepas memberikan kuliah tamu di Harvard University, saya berdiskusi panjang dengan Dani Rodrik, Guru Besar Harvard University. Rodrik adalah salah satu ekonom yang dianggap paling berpengaruh di dunia saat ini. Diskusi kami terfokus kepada situasi ekonomi di emerging markets (EM), termasuk Indonesia. Rodrik memang memuji Indonesia yang masih tumbuh 5 persen. Ia berharap Indonesia tetap menjadi a beacon for the region.

Keseimbangan baru

Mungkin ini mengejutkan karena di sini kita mengeluh soal pertumbuhan yang rendah. Namun, ia melanjutkan, ada risiko ekonomi dunia akan memasuki keseimbangan baru. Implikasinya, ekonomi di EM mungkin hanya tumbuh paling tinggi 4-5 persen. Mungkin Rodrik terlalu suram. Bukankah India dan Vietnam masih bisa tumbuh 7 persen? Tentu, kita tak harus sepenuhnya setuju dengan pesimisme ini, tetapi ia tak sepenuhnya salah. Saya kira ada beberapa hal yang memang harus kita perhatikan dan antisipasi jika benar dunia memasuki keseimbangan baru.

Pertama, sejarah mengajarkan: sebagian besar EM yang mampu naik kelas menjadi negara maju-terutama di Asia- menyandarkan dirinya pada strategi perdagangan dan industrialisasi, khususnya ekspor manufaktur. Sebut saja Jepang, Korea, Singapura, Taiwan, dan Tiongkok. Sedikit sekali negara penghasil sumber daya alam naik kelas-Australia dan Cile adalah kekecualian. Alasannya, industrialisasi memungkinkan satu negara menyerap teknologi secara cepat dengan cara meniru atau menerapkan teknologi sederhana.

Tengok saja apa yang terjadi pada revolusi industri di Inggris atau industrialisasi di Asia Timur: pekerja subsisten di pedesaan meningkat produktivitasnya karena transformasi ke sektor industri yang didukung teknologi dan keterampilan sederhana, seperti industri pakaian. Implikasinya, produktivitas melompat akibat adaptasi teknologi sederhana melalui industri manufaktur.

Kedua, di tengah situasi ini, Donald Trump terpilih sebagai presiden AS. Trump, jika benar ia akan membatasi perdagangan dengan Tiongkok dan beberapa negara lain, akan membuat perdagangan global semakin menyusut. Data menunjukkan, AS adalah negara pengimpor terbesar di dunia, diikuti Uni Eropa dan Tiongkok. Jika AS mengurangi permintaannya terhadap produk impor dunia, sementara Uni Eropa dan Tiongkok mengalami perlambatan ekonomi, permintaan terhadap ekspor dari EM akan menurun drastis. Artinya, sulit bagi EM, termasuk Indonesia, menerapkan strategi yang dulu membawa negara-negara Asia Timur naik kelas. Jika dunia kehilangan lokomotif perdagangannya, sumber pertumbuhan harus mengacu kepada sumber ekonomi domestik.

Tentu perlu dicatat: terlalu pagi untuk menyimpulkan bahwa Trump nantinya akan benar-benar menerapkan kebijakan proteksionis ini. Saya selalu percaya, setiap presiden setelah beberapa waktu berkuasa akan menjadi presiden yang "normal" karena realitas ekonomi akan memaksanya menjadi rasional secara ekonomi. Kita mulai mendengar kabar bahwa Trump akan mempertahankan Obamacare yang dulu dikecamnya.

Ketiga, Trump berencana mendorong pertumbuhan ekonomi AS melalui ekspansi fiskal dengan cara memotong pajak dan mendorong belanja. Bisa diduga: defisit anggaran akan membengkak. Akibatnya, pemerintahan Trump harus berutang dengan mengeluarkan obligasi, yang akan menaikkan tingkat bunga di masa depan. Saya percaya, dalam jangka pendek, The Fed belum akan menaikkan bunga, setidaknya secara drastis. Namun, jangka menengah, kenaikan bunga tak terhindarkan apabila ekspansi fiskal dilakukan.

Di sini kita harus berhati-hati, terutama jika dalam kondisi bunga rendah saat ini banyak perusahaan Indonesia yang mencari pinjaman luar negeri. Dalam diskusi dengan ekonom Carmen Reinhart di Harvard, ia mengingatkan saya akan risiko dari pinjaman yang berlebihan (overborrowing) pada saat bunga rendah. Karena ketika tingkat bunga di AS meningkat dan rupiah melemah, karena arus modal pulang kembali ke AS, utang-terutama utang swasta- yang terlalu besar akan membahayakan perekonomian kita.

Keempat, akibatnya, tak banyak ruang bagi EM, termasuk Indonesia, bergantung pada ekonomi global. Tak hanya itu, ada kecenderungan sumber pertumbuhan bergeser dari manufaktur ke jasa. Di sini kita perlu mencatat: berbeda dengan manufaktur, sektor jasa butuh keterampilan dan institusi yang jauh lebih tinggi. Rodrik, misalnya, menyebut, sangat mudah bagi negara EM berkompetisi dengan negara Eropa dalam produk-produk manufaktur, tetapi membutuhkan waktu yang panjang sekali bagi negara EM untuk mampu berkompetisi dalam produk jasa karena keterampilan dan institusi di Eropa sudah jauh berkembang.

Oleh karena itu, sektor jasa bukan substitusi yang sempurna terhadap ekspor manufaktur. Sektor jasa-di luar pariwisata, atau jasa sederhana-umumnya perlu keterampilan yang tinggi dan institusi yang kuat. Dan inilah kelemahan utama negara EM: modal manusia dan institusi. Bahkan, India yang saat ini tumbuh begitu kuat punya persoalan kualitas sumber daya manusia. Argumen ini tak sepenuhnya konklusif karena Eichengreen dan Gupta (2011) menunjukkan, dalam kasus India, produktivitas sektor jasa mungkin akan membawa dampak yang cukup signifikan di masa depan.

Perbaikan produktivitas

Lepas dari perdebatan ini, saya kira kita sepakat, solusi utama untuk mengatasi situasi ini adalah perbaikan produktivitas. Mengapa produktivitas penting? Coba tengok angka-angka berikut: pertumbuhan ekonomi 5 persen saat ini dengan rasio investasi/PDB sebesar 32-33 persen. Artinya, untuk 1 persen pertumbuhan ekonomi, dibutuhkan tambahan rasio investasi atau modal terhadap PDB 6,4-6,6 (diperoleh dari 32 persen atau 33 persen dibagi 5 persen).

Inilah yang disebut incremental capital output ratio (ICOR). Jika kita menginginkan pertumbuhan ekonomi 6 persen, dibutuhkan rasio investasi/PDB sebesar 38,4 persen-39,6 persen (dihitung dari 6 persen x 6,4 atau 6 persen x 6,6). Investasi ini tentu harus dibiayai tabungan domestik. Sayangnya, menurut angka Bank Dunia, rasio tabungan domestik/PDB kita saat ini hanya 30-31 persen. Ini jelas jauh di bawah kebutuhan investasi yang 38-40 persen. Apabila kita memaksakan, defisit transaksi berjalan akan melompat.
Untuk mengatasinya, ada tiga pilihan. Pertama, menarik arus modal asing untuk menambah tabungan dometik sehingga kekurangan tabungan domestik dapat ditutupi. Kedua, meningkatkan produkitivitas atau efisiensi agar untuk menghasilkan output yang sama hanya dibutuhkan investasi atau modal yang lebih kecil (menurunkan ICOR). Jika ICOR dapat diturunkan, misalnya menjadi 5, untuk pertumbuhan ekonomi 6 persen, hanya dibutuhkan rasio investasi/PDB sebesar 30 persen. Angka ini cocok dengan besarnya rasio tabungan domestik/PDB yang kita miliki saat ini. Dengan demikian, kita mampu membiayai investasi, tanpa membahayakan perekonomian. Ketiga, kombinasi dari kedua opsi di atas.

Perhitungan yang saya sampaikan ini tentu terlalu menyederhanakan persoalan. Kita perlu perhitungan yang lebih rinci dan akurat. Namun, perhitungan ini setidaknya dapat membantu kita memahami langkah yang harus diambil.

Perbaikan efisiensi dan produktivitas dapat dilakukan melalui deregulasi ekonomi, perbaikan kualitas SDM, serta perbaikan institusi dan infrastruktur. Ini membutuhkan reformasi yang lugas dari sisi penawaran. Kebijakan pemerintah saat ini saya kira sudah pada arah yang tepat. Masalahnya, kebijakan-kebijakan yang baik ini membutuhkan waktu yang panjang. Itu sebabnya-seperti yang pernah saya tulis di harian ini-ia harus dikombinasikan dengan kebijakan jangka pendek dari sisi permintaan, dengan cara mendorong daya beli dan permintaan domestik, misalnya program padat karya.

Solusi ini mungkin tak sepenuhnya menghilangkan ketidakpastian. Ia mungkin sedikit menenteramkan. Hidup memang tak sepenuhnya bisa ditebak. If the world were clear, art would not exist, itu kata Camus.