Senin, 07 November 2016

Penistaan

Penistaan
Putu Setia  ;   Wartawan Senior TEMPO
                                                  TEMPO.CO, 05 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Penistaan agama dampaknya bisa besar. Agama punya ajaran yang merupakan wahyu dari Tuhan, dengan nama apa pun Tuhan itu disebutkan. Kalau itu dinistakan, jutaan umat akan membela. Mungkin benar Tuhan tak perlu dibela, Tuhan Maha Agung yang tak bisa tersentuh oleh kekotoran duniawi. Tapi pengikut-Nya wajib menjaga ke-maha-agungan Beliau.

Pemimpin redaksi tabloid Monitor, Arswendo Atmowiloto, masuk bui gara-gara "menghina Islam, menghina Nabi Muhammad". Wendo—ini kasus sudah lama—dalam kegairahannya bercanda, membuat survei yang isinya siapa tokoh yang paling populer. Nama Nabi Muhammad ada yang memilih dan masuk ranking bawah. Di atasnya ada nama Arswendo. Umat Islam marah, Wendo didemo dan ditahan, Monitor dibredel. Harga yang mahal untuk survei candaan.

Apakah Wendo punya niat menghina? Barangkali seperti Basuki Tjahaja Purnama dalam kasus yang paling anyar sekarang ini, tak ada niat. Namun umat Islam tak harus mengusut ada niat atau tidak—sesuatu yang sulit juga untuk dilacak. Ahok pun didemo besar-besaran, meski sudah minta maaf.

Saya menduga, Wendo waktu itu, tak tahu bagaimana memposisikan Nabi Muhammad yang begitu dimuliakan, meski ada buku yang menulis Muhamad Manusia Biasa. Tapi dalam hal Ahok saya menduga ia tahu ayat-ayat Al-Quran yang disebutkan itu. Ia menyebutnya dengan lancar. Patut disesalkan, kenapa Ahok menyebut-nyebut ayat itu padahal ia bukan muslim?

Penistaan agama akhirnya menjadi hal rumit kalau berdalih "tak punya niat menista". Bisa benar bisa tidak. Tukul Arwana, presenter doyan bercanda, pernah dianggap menghina umat Hindu ketika dia masuk pura dan berkoar-koar menyebut ada hantu dan sejenisnya. Saya percaya Tukul hanya melucu dan ia tak tahu apa-apa kalau pura itu adalah tempat ibadat umat Hindu yang disucikan. Seperti halnya dulu—sekarang sudah berkurang—orang sering menyebut umat Hindu menyembah patung atau menyembah berhala. Saya setuju memaafkan Tukul dengan alasan ia tak tahu apa-apa, hanya sok berceloteh. Ketimbang main gugat-gugatan yang pasti ada luka di kedua pihak, lebih baik diselesaikan dengan damai. Adem rasanya.

Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, penistaan agama tak cuma lewat ucapan, juga tindakan atau perilaku. Saya jadi ingat bagaimana patung Buddha di atas sebuah vihara di Tanjung Balai, Sumatera Utara, terpaksa diturunkan baru-baru ini karena sejumlah orang menyebutkan kota itu jadi "kurang islami" dengan adanya patung Buddha. Vihara itu punya izin resmi. Apakah ini bukan sebuah penistaan, bagaimana mungkin memisahkan vihara dengan patung Buddha? Syukurlah tak ada ketegangan karena pendeta Buddha setempat mengambil satu ayat "sarva prani hitan karah" (semua makhluk berbahagia). Kalau patung itu turun menjadikan semua orang berbahagia, ya, bukankah kedamaian itu yang dicari dalam prilaku beragama?

Toleransi di negeri ini mutlak diperlukan dan itu harus dilalui dengan saling mengenal perbedaan yang ada. Dalam hal ini saya luar biasa kagum dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang mengharuskan semua sekolah punya ruangan untuk tempat bersembahyang murid-murid dari seluruh agama yang ada. Saling mengenal ini membuat murid yang Islam tahu kalau murid Hindu tidak menyembah berhala walau di depannya ada patung kecil, sementara murid Hindu tahu kalau murid Islam bukan mencium lantai tetapi bersujud pada Allah. Meskipun begitu, tetap saja kita harus lebih hati-hati mengomentari agama lain, yang tidak kita lakoni. Agamamu agamamu, agamaku agamaku.