Kamis, 10 November 2016

Menista Langit

Menista Langit
(Tanggapan atas tulisan Amien Rais)
Abdillah Toha  ;   Pemerhati Sospolek
                                                REPUBLIKA, 01 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Beberapa hari lalu, Amien Rais (AR) menulis di harian ini (Republika, 28/10) dengan judul "Bung Jokowi, Selesaikan Skandal Ahok". Menurut dia, ada dua jenis penistaan. Menista yang berdimensi duniawi dan menista langit. Antara lain, AR menulis berikut ini.

"Ketika hukum dilaksanakan secara tebang-pilih atau diskriminatif, rakyat marah, tetapi tetap tidak bergerak. Ketika korupsi berskala raksasa jelas-jelas dilindungi, sejak dari skandal BLBI, Bank Century, deforestasi (penghancuran hutan), sampai yang terbaru skandal Sumber Waras dan reklamasi Teluk Jakarta, rakyat hanya berkeluh-kesah, geram, marah, nyaris putus asa. Tetapi, mereka tidak bergerak. Sabar dan tetap sabar."

"Nah, Bung Jokowi, kasus Ahok merupakan skandal dari jenis yang sangat berbeda. Berbagai skandal yang saya sebutkan di atas, cuma skandal berdimensi dunia, walaupun sangat menohok rasa keadilan rakyat."

"Bung Jokowi, kasus Ahok mengguncangkan Indonesia karena Ahok sudah menyodok kesucian langit. Ahok sudah benar-benar kelewatan."

Di awal tulisannya, AR mengatakan, "Saya, sebagai seorang Muslim, sangat-sangat tersinggung dan terhina dengan ucapan Ahok bahwa ayat 51 surah al-Maidah digunakan untuk membohongi masyarakat." Kemudian, AR mewanti-wanti Jokowi agar segera turun tangan, atau menghadapi situasi yang bisa "menjadi bom waktu yang daya ledak sosial-politiknya dapat mengguncangkan sendi-sendi stabilitas nasional dan persatuan bangsa." (lengkapnya di sini: http:m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/10/28/ ofqben385-amien-rais-bung-jokowi-selesaikan-skandal-ahok).

Tulisan ini tidak akan membahas, apakah Ahok benar bermaksud menghina Islam dan kitab suci Alquran atau tidak, karena ada paling sedikit dua pendapat yang berbeda. Juga penulis tidak akan masuk ke dalam kontroversi tafsir ayat al-Maidah 51 karena ada berbagai pandangan dan penafsiran yang berbeda. Ini juga bukan tulisan yang akan berargumentasi tentang benar tidaknya sinyalemen AR tentang berbagai "kegagalan" Pemerintahan Jokowi. Yang ingin disoroti di sini adalah pandangan AR tentang penistaan agama secara umum, Islam khususnya.

Sangat disayangkan bahwa tokoh sekaliber AR dengan pendidikan tinggi dan pernah menduduki jabatan-jabatan sangat terhormat di negeri ini, mempunyai kesamaan dengan banyak Muslimin awam dalam cara memandang yang, menurut saya, tidak tepat tentang esensi Islam.

Pertama, AR lebih marah dan lebih tidak sabar ketika ada yang menghujat Tuhan daripada penyebab timbulnya ketidakadilan di masyarakat. Hal ini memang telah menjadi ciri dari berbagai ulama dan awam pengikutnya, yang menyebut diri sebagai pembela Islam. Kita nyaris tidak pernah menyaksikan gerakan-gerakan pembela Islam yang membela kaum miskin, kaum buruh, para penganggur, pendidikan yang mahal, atau menentang koruptor dan berbagai ketimpangan lain, tapi gerakan-gerakan itu rajin berontak ketika hal-hal yang diharamkan dalam Islam, seperti minuman keras, pornografi, prostitusi, dan sejenisnya muncul ke permukaan. Buat para "pembela" itu, biarkan rakyat miskin dan menderita asalkan minuman keras dan sejenisnya dilarang di negeri ini. Pandangan AR tak jauh berbeda. Sabarlah dan jangan cepat marah terhadap adanya ketimpangan dan ketidak adilan, tapi segera bertindak bila ada yang menghujat agamamu.

Kedua, AR rupanya ingin mewakili fungsi pengadilan dunia dan akhirat. Bukankah ketika yang dinista langit seharusnya kita biarkan langit yang menghukum? Apalagi, bila penistaan itu bukan dalam bentuk perbuatan, melainkan dalam kata-kata atau tulisan. Apakah si penista akan selamat di dunia dan akhirat, biarkan langit yang memutuskan. Itu sudah bukan urusan kita lagi. Tugas kita sebagai khalifah di bumi adalah untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera, damai, dan tenteram di bumi. Bukan untuk menghukum mereka yang tidak beriman atau menista Allah. Benar kita punya Pasal 156A KUHP tentang Penodaan Agama, tetapi menurut banyak ahli, undang-undang itu adalah sebuah kecelakaan hukum yang berisi pasal karet yang bisa disalahgunakan oleh berbagai pihak untuk kepentingan kelompoknya. Sama seperti di Eropa dulu, ketika diberlakukan hukuman berat terhadap apa yang disebut sebagai blasphemy (penistaan agama), yang kemudian dalam sejarah kita tahu telah memicu gerakan reformasi agama Kristen besar-besaran.

Ketiga, AR, seperti banyak Muslimin lainnya, telah cenderung mempersonifikasikan (memanusiakan) Tuhan seakan Tuhan punya sifat-sifat makhluk-Nya yang mudah tersinggung, marah jika dinista, dan tidak sabaran. Seakan-akan Tuhan dirugikan dengan adanya orang yang menista kemuliaan-Nya. Tuhan yang Mahakaya tidak sedikit pun butuh pujian, sembahan, atau bahkan ibadah apa pun dari manusia. Kewajiban shalat, umpamanya, dalam Islam bukan untuk kepentingan Tuhan melainkan untuk kemaslahatan manusia sendiri. Begitu pula, Tuhan sedikit pun tidak akan berkurang kemuliaan-Nya dan tidak akan merasa dirugikan bila ada makhluk-Nya yang mencerca atau menghina-Nya. Kalau sudah begitu, mengapa kita harus menempatkan diri kita sebagai pengganti Tuhan dan marah-marah serta bernafsu menghukum penista, seakan kita diberi wewenang untuk mewakili Tuhan. Begitu pula, junjungan nabi kita Muhammad SAW dengan akhlaknya yang agung, tidak pernah membalas hinaan bahkan lemparan batu hingga berdarah-darah terhadapnya, akan tetapi justru berdoa memohon Allah mengampuni pelakunya karena mereka dianggap termasuk golongan orang yang tidak tahu hakikat kebenaran.

Keempat, salah satu masalah besar agamawan termasuk sebagian Muslimin adalah menjadikan agama sebagai bagian dari identitas diri, lebih dari sekadar sarana untuk mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa. Ketika orang lain yang tidak paham, kemudian mencela atau mencerca agamanya maka dia akan merasa dirinya atau kelompoknya telah dihina. Itulah yang terjadi dalam kasus-kasus pembunuhan para penista agama Islam di Negeri Belanda, Prancis, Swedia, dan lain-lain yang kemudian mencederai citra Islam dan menganggap Islam sebagai agama yang penuh kekerasan. Begitu juga, fatwa mati Imam Khomeini terhadap penulis Inggris Salman Rushdi, yang dibela oleh pendukungnya sebagai pelaksanaan hukum terhadap seorang Muslim yang murtad dan menista agama, telah ditolak oleh berbagai pihak karena telah merusak citra Islam. Ucapan Allahu Akbar yang sangat agung telah menjadi teriakan yang mengerikan bagi banyak pihak, karena kebiasaan teroris meneriakkannya sebelum menggorok leher orang tak bersalah atau melakukan bom bunuh diri, atau dalam khotbah-khotbah yang penuh kebencian.

Kelima, andai kata benar di negeri ini atau di tempat lain banyak pembenci Islam, bagaimana mungkin dakwah kita akan berhasil bila kita membalas kebencian itu juga dengan kebencian dan kemarahan. Islam adalah agama akhlak dan damai. Penggunaan kekerasan dalam Islam hanya dibolehkan sebagai upaya defensif terakhir, ketika  musuh menyerang lebih dahulu dan ketika semua jalan untuk berdamai telah buntu. Islam adalah agama pemaaf, seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika menaklukkan kafir Quraish di Makkah dan memberi maaf kepada semua bekas musuh-musuhnya.             (baca: http:m.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/05/23/llmh0m-sikap-agung-rasulullah-menghadapi-pembenci-islam)

Saya tidak bisa berharap banyak kepada berbagai ustaz dan ulama 'karbitan' yang banyak beredar di negeri kita. Namun, bila orang sangat terhormat setingkat Pak Amien Rais, seorang Muslim yang taat dan terpelajar, gagal menyampaikan pesan-pesan Islam yang universal dan benar, siapa lagi yang dapat kita harapkan untuk membimbing umat Islam yang mayoritas di negeri tercinta ini. Mudah-mudahan Allah memberi hidayah dan membukakan jalan terbaik bagi kita semua. Aamiin.